Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 2

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 2)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:15

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Umat Kristen sering merasa sudah mencintai Yesus sebagaimana semestinya. Cobalah tanyakan orang Kristen di sekitarmu dengan pertanyaan ini, “Apakah engkau mengasihi Yesus?” Dengan mudah dan yakin ia akan menjawab, “saya mencintai Yesus.” Hal yang sama juga pernah engkau katakan bukan! Dengan datang ke gereja, engkau sudah merasa sebagai orang percaya. Dengan dilahirkan dalam keluarga Kristen, ada banyak orang merasa sudah secara otomatis sebagai orang Kristen. Dengan sesekali membaca Firman Tuhan sudah merasa bahwa ia sudah mencintai Yesus.

Dalam perdebatan dan perkumpulan umat Kristen, engkau sering menyombongkan kecintaanmu pada Yesus, seakan-akan memiliki cinta besar yang tak tergoyahkan. Dengan aktif dalam pelayanan, timbul suatu keyakinan besar bahwa engkau memiliki cinta lebih besar dari orang-orang yang melayani bersamamu. Dari caramu bicara dan memberikan komentar dan penilaian terhadap orang lain, engkau sering menunjukkan diri lebih hebat dan lebih mencintai Yesus. Tetapi apakah engkau sudah sungguh-sungguh mencintai Yesus? Tanyakanlah pertanyaan itu pada dirimu sendiri dan jangan sampai Yesus yang mempertanyakan hal itu kepadamu kelak.

Hal yang sama pernah terjadi dalam hidup Petrus. Ia merasa begitu mencintai Yesus. Memang benar ia sangat mencintai Yesus tetapi ia menyombongkan diri di hadapan rekan-rekannya dan juga di depan Yesus sendiri. Ia mempertontonkan suatu sikap bahwa ia tidak akan pernah mengingkari Yesus. Alkitab mencatat bahwa Petrus melakukan hal itu sebanyak dua kali. Pertama, dalam Yohanes 13:36-37 “Simon Petrus berakat, kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”

Dalam ayat di atas, terlihat jelas bahwa Petrus sedang menyombongkan cintanya pada Yesus di hadapan murid-murid lain. Ia berkata bahwa ia rela mati bagi Yesus, begitulah ekspresi kasihnya. Sungguh ia memang mencintai Yesus, dan Yesus tidak mengomentari pernyataannya. Ia tahu seberapa besar kasih murid-muridNya karena Yesus adalah Tuhan. Namun sebagai manusia biasa murid-muridNya harus tetap menyadari kelemahan dan kekuarangannya sehingga mereka harus tetap mendekatkan diri kepada Tuhan dalam doa agar mereka tetap kuat dalam segala situasi. Meskipun mereka sangat mencintai Yesus tetapi mereka tidak bisa kuat dari diri mereka sendiri. Mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Maka pada malam sebelum Yesus ditangkap Ia berkata kepada murid-muridNya demikian, “Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas 22:46). Selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah kunci untuk bisa tetap mencintai Yesus dalam masa-masa pencobaan dan masa-masa sulit.

Kedua, di kesempatan lain Yesus memberitahu prediksi kematianNya kepada murid-muridNya. Ketika mendengar hal itu, Petrus dengan tegas menunjukkan ketidakrelaannya jika Yesus harus mati. Lalu ia memamerkan keyakinannya bahwa ia mencintai Yesus melebihi nyawanya sendiri “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33).

Petrus di sini seakan-akan berkata, “Tuhan, Matius bisa saja gagal, Yohanes bisa saja gagal, Yakobus bisa saja gagal, dan semua murid-murid lain bisa saja gagal, tetapi saya tidak akan pernah gagal. Saya akan mempertaruhkan hidup dan nyawaku bagimu.” Inilah sikap bulat yang dimiliki Petrus. Yesus tahu betapa besar kasih Petrus kepadaNya tetapi Ia juga tahu kelemahannya. Lalu Yesus mengingatkan dan berkata kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (v. 34). Namun, pernyataan ini tidak membuat Petrus menyadari kesombongan kasihnya. Ia justru merespon dengan keyakinannya sendiri dengan berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (v. 35).

Saya yakin ada banyak orang percaya yang memiliki keyakinan sedemikian ketika masih dalam keadaan rohani yang membara. Tetapi jikalau kerohanian sedemikian tidak dipelihara dengan terus menerus mendekatkan diri kepada Tuhan dalam doa dan perenungan Firman Tuhan, ia bisa jatuh seperti Petrus. Hanya berjarak beberapa jam saja dari saat Yesus menyampaikan perkataan itu, Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Ingatlah ini, bahwa Petrus tidak menyangkal Yesus hanya satu kali saja tetapi tiga kali berturut-turut dalam waktu singkat. Ia membuktikan diri sebagai seorang yang gagal dan apa yang dikatakannya hanya omong kosong belaka. Semua ini terjadi ketika ia menghadapi ketakutan dan ancaman hidup dan mati. Ia tiba-tiba ingin menyelamatkan diri dan mementingkan dirinya sendiri ketimbang menepati janjinya untuk mati bagi Yesus.

Dalam sejarah gereja, ada seorang tokoh pra-reformasi yang bernama John Huss. Ia mengajarkan apa yang dicatat dalam Firman Tuhan denga penuh keyakinan dan kesungguhan. Namun penguasa gereja Katolik Roma pada masa itu mempermasalahkan ajarannya karena dianggap merendahkan otoritas Katolik Roma. Pada akhirnya ia dipencarakan dan kemudian diminta untuk mencabut semua ajarannya. Tetapi ia berdiri kokoh pada kebenaran Firman Tuhan dan menolak semua permintaan pimpinan gereja. Meskipun ia diperhadapkan dengan acaman dibakar hidup-hidup, ia tetap tidak mau menarik semua ajarannya. Kesempatan terakhir diberikan ketika ia sudah diikat pada sebuah tiang dan dikelilingi oleh kayu bakar yang sudah disipakan seperti api unggun. Kesempatan terakhir itu juga diabaikannya dan ia tidak mau mengingkari Tuhan dan kebenarannya. Ia memilih untuk dibakar hidup-hidup ketimbang menyelamatkan hidupnya namun harus mengingkari Tuhan Yesus dan kebenaranNya.

Saya mencoba merenungkan kejadian ini dan bertanya dalam hati, “Berapa banyakkah umat Kristen yang bersedia mati ketika penganiayaan datang dan ancaman mencekap? Mungkinkah saya setia dan berkata ‘saya akan tetap mencintai Yesus apapun yang terjadi’ dalam hidup ini?” Saya hanya bisa berdoa agar kiranya Tuhan menguatkan saya ketika ancaman dan penganiayaan datang agar saya tidak mengingkariNya dan agar saya tidak mencoba menyelamatkan diri lalu mengingkari Yesus. Saya mengingat kejadian tahun 1998 di Indonesia. Saat itu saya masih kuliah di Singapura. Dalam keheranan saya melihat ada begitu banyak ‘hamba-hamba Tuhan’ dari Jakarta meninggalkan gereja dan jemaat gembalaannya, dan mencoba menyeleamatkan hidupnya datang ke Singapura dan kemudian mencari suaka untuk pindah ke Australia dan berbagai negara maju lainnya. Jemaatnya ditinggalkan tanpa gembala dan dibiarkan menghadapi kesulitan, penderitaan dan aniaya. Kejadian itu membuktikan siapa sesungguhnya hamba-hamba Tuhan yang benar-benar dipanggil Tuhan untuk melayaniNya.

Petrus semasa bersama Yesus penuh dengan kesombongan rohani tetapi ketika ia gagal dan mengingkari Yesus, kejadian itu menjadi pukulan hebat baginya. Kegagalannya mendobrak kesombongannya dan menuntunnya untuk bertobat dan berubah. Ketika Yesus mempertanyakan tentang kasihnya kepada Yesus, dengan kerendahan hati, ia menjawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Ia hanya menjawab apa yang ditanyakan Yesus dan tidak lagi menambahnya seperti biasa ia lakukan. Kegagalan yang ia lakukan tidaklah terjadi di tempat tersembunyi tetapi tempat terbuka yang kemudian semua murid-murid Yesus mengetahui hal itu. Ia pasti merasa malu di hadapan mereka tetapi ia dikuatkan oleh Roh Kudus ketika ia sadar atas perbuatannya. Ia bertobat dan meminta pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Ia merasakan pengampunan Tuhan dan itulah yang membuatnya tetap bertahan berada di kumpulan murid-murid Yesus.

Jika pertanyaan yang sama ditanyakan Yesus kepadamu, apakah jawabanmu? Apakah engkau bisa menjawab seperti yang diberikan Petrus? Ataukah engkau masih menyombongkan diri di hadapan Tuhan? Engkau tahu siapa dirimu dan berapa sering engkau gagal mengikuti Yesus. Engkau tahu betapa licik dan munafik hatimu, terkecuali engkau bertobat di hadapan Tuhan dan meminta pengampunan dari Tuhan maka engkau masih sama seperti Petrus sebelumnya. Rendahkanlah hatimu di hadapan Tuhan dan mintalah Ia menolongmu ketika menghadapi kesulitan dan pencobaan agar engkau tidak menyangkalNya, dan agar engkau bisa berkata, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.