Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 5

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 5)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:15

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Ketika manusia lahir ke dunia ini, secara otomatis menjadi bagian dari dunia ini dan mencintai segala keindahan, kesukaan dan keinginan dunia ini. Tidak ada yang aneh jika seseorang mencintai dunia ini karena secara alami itu menjadi tabiat dan karakternya. Siapapun yang pernah hidup di dunia ini tabiat sedemikian merupakan warisan yang diturunkan dari orangtuanya dan orangtuanya mendapatkannya dari kakeknya, begitulah tabiat itu berlangsung turun-temurun dan jika diusut terus maka akan tiba pada seseorang yaitu manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa yaitu Adam. Kejatuhannya ke dalam dosa menjerumuskan semua keturunannya ke dalam dosa. Jadi tabiat berbuat dosa dan menikmati segala keindahan dan keinginan duniwi adalah warisan dari Adam.

Tetapi ketika seseorang mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia menjadi ciptaan baru, dan yang lama sudah berlalu. Paulus menyampaikannya demikian, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17). Ayat ini menjelaskan bahwa siapa saja yang sudah percaya kepada Yesus Kristus adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Ia berbeda dari dirinya sebelum mengenal Kristus dan berbeda dari mereka yang tidak mempercayai Yesus. Dimanakah letak perbedaannya? Ia masih memiliki tubuh yang sama dan secara jasmani dan kasak mata tidak ada yang berbeda, semuanya masih sama seperti sebelum ia mengenal Kristus. Namun yang berbeda terletak pada kerohaniannya, dimana Roh Kudus mendiami dan memperbaharui serta memberikan kuasa untuk hidup kudus sebagaimana Kristus perintahkan. Secara rohani ia adalah seseorang yang sudah menerima pengampunan dosa dan penyucian sehingga ia tidak akan mendapatkan penghukuman kekal lagi. Paulus juga menyampaikan hal itu demikain, “1Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. 2Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:1-2). Ketika percaya kepada Kristus, saat itulah ia memiliki keinginan dan pikiran baru, yaitu keinginan untuk menyenangkan Kristus dan hidup kudus serta memuliakan Tuhan. Ia memiliki Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya untuk menuntunnya bagaimana hidup berkenan kepada Tuhan. Firman Allah dijadikannya sebagai petunjuk bagaimana berjalan dan hidup di dunia ini (ref. 1 Tesalonika 1:7-9).

Meskipun umat percaya sudah memiliki Roh Kudus dan hati yang diperbaharui, dalam kehidupan sehari-hari mereka bergumul dalam menjalani kehidupan. Sifat alami berbuat dosa yang merupakan warisan dari Adam tidak dihapuskan tetapi tetap ada diri seorang percaya. Namun dengan hati yang diperbaharui dan berdiamnya Roh Kudus di dalam hatinya, maka orang percaya dimampukan untuk menang melawan dosa dan segala keinginannya. Orang percaya diberi kuasa untuk hidup kudus dan kuasa itu bisa dirasakan jikalau ia hidup berdekat kepada Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Jadi umat percaya memiliki pilihan untuk menaati Tuhan dan jikalau melakukannya ia akan menang melawan dosa. Namun mereka yang tidak percaya kepada Yesus mereka tidak memiliki pilihan itu karena apapun yang mereka lakukan merupakan kekecian di mata Tuhan. Mereka tidak bisa melakukan kebajikan sesuai dengan standard Tuhan.

Jadi orang yang tidak percaya kepada Yesus hanya memiliki satu pilihan yaitu mengikuti dunia ini dan segala keinginannya tetapi para pengikut Kristus diperhadapkan dengan dua pilihan: memilih Yesus dan memilih dunia ini (serta kesenangannya). Tidak bisa disangkal, orang Kristen masih hidup di dunia ini dan diperhadapkan dengan segala kenikmatan dunia ini. Inilah pergumulan orang Kristen. Di satu sisi, ia tergoda untuk tetap menikmati dunia seperti sebelum mengenal Kristus, tetapi di sisi lain ia harus hidup berkenan kepada Kristus dan membuktikan diri sebagai anak Tuhan dan masuk sorga. Hatinya bergolak, dan ia sering salah menentukan pilihan. Yesus menegaskan bawah seorang percaya tidak mungkin melayani dua tuan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Sudahkah engkau menentukan pilihan untuk tetap mengikut Kristus meskipun engkau kehilangan kesenangan dan kenikmatan dunia ini? Jikalau engkau memilih dunia ini dan segala keinginannya maka engkau membuktikan diri sebagai orang yang tidak percaya kepada Kristus.

Dalam kehidupan umat Kristen, mereka selalu diperhadapkan dua pilihan dan mereka harus memilih apa yang berkenan kepada Tuhan. Hal yang sama juga dialami Petrus. Hanya saja pilihan itu ditanyakan langsung oleh Yesus sendiri, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Apa sesungguhnya maksud pertanyaan ini? Dalam Alkitab bahasa Indonesia tidak begitu jelas ekspresi pertanyaan ini. Oleh karena itu hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu adalah mengetahui maksud frase “lebih dari pada mereka ini.

Dalam bahasa asli (Yunani) Alkitab, frase ini hanya terdiri dari dua kata (pleon toutōn) yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris “more than these.” Jadi frase ini sebenarnya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “lebih dari pada ini (semua ini).” Kata “ini” (toutōn) ditulis dalam bentuk jamak sehingga bisa diterjemahkan menjadi “semua ini.

Coba lihat kembali pertanyaan Yesus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini (semua ini)?” Yesus di sini sedang memperbandingkan kasih Petrus dengan sesuatu hal, yaitu “ini” (jamak). Apa yang dimaksud Yesus dengan “ini” atau “semua ini” di sini? Melihat bentuk penulisan kelamin kata “ini” dalam bahasa Yunani, kata ini bisa dilihat dari dua sisi yaitu bentuk jamak Neuter dan jamak Maskulin karena kebetulan bentuknya sama. Jika kata “ini” dilihat dari segi bentuk Neuter, itu berarti Yesus memperbandingkan kasih Petrus dengan sesuau benda, karena bentuk Neuter menunjuk pada suatu benda. Apakah itu menunjuk pada ikan-ikan yang baru ditangkap? Apakah itu menunjuk pada perahu dan jala yang menjadi kesukaan Petrus selama ini sebelum mengenal Yesus? Apakah ada sesuatu yang lain yang masih mengikat dan memikat Petrus sehingga kasihnya kepada Yesus tidak seperti yang seharusnya? Mungkin saja Yesus mempertanyaan hal-hal itu karena setelah ia mengikut Yesus lebih dari tiga tahun, ia kembali menjadi penjala ikan sementara Tuhan Yesus sudah memanggilnya untuk menjadi penjala manusia (membawa orang banyak percaya kepada Kristus). Namun bukan Petrus sendiri yang ikut menjala ikan tetapi juga murid-murid lain dan pertanyaan itu tidak dilontarkan kepada murid-murid lain tetapi hanya kepada Petrus sendiri. Oleh karena itu saya perpendapat bahwa ini bukanlah apa yang dimaksudkan Yesus.

Namun di sisi lain jika kata “ini” dilihat dari kelamin kata Maskulin, itu berarti bahwa Yesus sedang memperbandingkan kasih Petrus dengan kasih murid-murid lain yaitu kasih Yohanes, Tomas, Natanael, Yakobus dan dua murid lain yang tidak disebut namanya (Yohanes 21:2). Dengan kata lain Yesus bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku melebihi dari kasih mereka ini (murid-murid ini)?” Saya berpendapat bahwa maksu pertanyaan Yesus di sini adalah memperbandingkan kasih Petrus dengan kasih murid-murid yang lain karena ia selama ini selalu menyombongkan kasihnya kepada Kristus dihadapan murid-murid lain bahkan berjanji ia rela mati bagi Yesus. Namun pada kenyataannya ia sendirilah yang sudah meyangkal Yesus. Maka pada kesempatan ini, Yesus mengkonfrontasi Petrus dengan pertanyaan tersebut.

Lalu Petrus menjawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Perhatikan jawabannya. Yesus sebenarnya bertanya dengan pertanyaan superlatif “lebih dari semua ini” tetapi ia tidak menjawab sesuai dengan tuntutan pertanyaan itu. Ia tidak lagi menyombongkan kasihnya seperti sebelumnya. Ia takut melakukan kesalahan yang sama. Ia hanya bisa berkata, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Ia berkata jujur dengan hati nurani yang bersih. Tanpa kepura-puraan dihadapan murid-murid lain ia mengakui bahwa ia mengasihi Yesus.

Dalam perjalanan kehidupan sebagai pengikut Kristus di dunia, sesungguhnya pertanyaan yang sama selalu diperhadapkan dengan pertanyaan yang sama. Apa yang engkau cintai di dunia ini melebihi cintamu kepada Kristus? Cobalah renungkan, perubahan apa yang sudah engkau alami yang bisa membuktikan bahwa engkau sudah bertobat dan berubah? Umat Kristen selalu diperhadapkan dengan dua pilihan selama hidup di dunia ini tetapi mereka yang berdedikasi dan berkomitmen hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan akan mengambil pilihan yang memuliakan Tuhan sekalipun harus rugi dan menderita karenanya. Namun secara rohani ia akan dipuaskan karena ia tahu bahwa Yesus ada dipihaknya. Ia tahu bahwa Tuhan Yesus akan menolong dan memberkati pada waktunya. Di atas semua itu, ia memiliki kedamaian dan hati nurani bersih di hadapan Tuhan. Dengan tangan yang bersih dan hati yang kudus ia bisa berdoa dan menantikan berkat dan pertolongan Tuhan.

Janganlah berpura-pura, karena Kristus mengetahui isi hatimu, dan tiada yang tersebunyi di hadapanNya. Engkau tahu engkau salah dan berdosa. Bertobatlah dan datanglah kepada Yesus.