Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 1

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 1)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:15

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Pernahkah menanyakan pertanyaan di atas kepada anak-anak, isteri atau suamimu? Saya yakin pembaca pernah menanyakan hal itu. Terutama pembaca yang sudah memiliki anak, sudah barang tentu pernah melontarkan pertanyaan “apakah engkau mengasihi aku?” kepada anak-anak yang sungguh dikasihi. Namun pernahkah mengamati mimik wajah mereka ketika merespon dan memberi jawaban pertanyaan itu? Jika belum, cobalah bertanya dan perhatikan wajah mereka. Engkau akan melihat wajah yang tanpa beban dan tanpa risau memberi jawaban “saya sayang ibu” atau “saya sayang papa.” Engkau sendiri sudah tentu pernah menjawab pertanyaan seperti ini dengan tanpa beban dan gelisah.

Bagaimana jika seandainya Yesus ada di hadapanmu saat ini dan menanyakan pertanyaan yang sama, bagaimana tanggapanmu? Bagaimana pula perasaanmu ketika ingin menjawabnya? Pasti, engkau tidak akan menjawab dengan sembarangan, dan kemungkinan besar engkau tidak akan berani menjawab, karena secara tiba-tiba engkau mengingat segala kegagalan, kesalahan, kebobrokan, kebejatan, kekurangan, dan dosa-dosa tersembunyi yang engkau sudah perbuat. Engkau merasa tidak layak dan pantas untuk menjawab seperti Petrus, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.”

Engkau sadar, sebagai orang percaya sepatutnya mengasihi Tuhan seperti apa yang dicatat Musa bagi umat Israel, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:4-5). Inilah perintah Tuhan baik di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hingga masa gereja sekarang ini. Ini adalah perintah kekal yang harus dilakukan setiap orang percaya di sepanjang masa. Raja Daud sendiri mengekspresikan kasihnya kepada Tuhan ketika berkata “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!” (Mazmur 18:2).

Lalu apa yang harus engkau katakan kepada Tuhan ketika pertanyaan ini ditanyakan kepadamu? Jika engkau diam dan tidak memberi jawaban, itu membuktikan engkau tidak mengasihi Yesus, tetapi jika memberi jawaban seperti Petrus, mungkin sekali hati kecilmu mengutukimu karena engkau tahu engkau tidak jujur. Engkau tahu betapa engkau mengabaikan Tuhan dalam hidupmu, mengabaikan doa dan ibadah, mengabaikan persekutuan dengan Tuhan serta mengabaikan pembelajaran dan renungan Firman Tuhan. Ada banyak perintah Tuhan yang engkau kesampingkan demi hal-hal duniawi. Rasa kegirangan mendekatkan diri kepada Tuhan sudah hilang dan engkau lebih bersemangat mendengarkan hal-hal duniawi dan dosa ketimbang kebenaran Firman Tuhan.

Lalu jawaban apa yang engkau akan sampaikan kepada Tuhan? Mungkin dengan rasa takut dan mulut berketar serta penuh kegelisahan, engkau hanya bisa berkata, “Maafkan aku Tuhan, aku telah berdosa dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepadamu. Berikan aku kekuatan untuk terus mencintaimu dan tidak mencintai dunia ini dan segala keinginannya.

Perintah untuk mengasihi Tuhan yang disampaikan Musa dalam kitab Ulangan, juga disampaikan Yesus semasa pelayananNya di bumi sebagai perintah bagi setiap umat percaya. Perintah ini bukanlah pilihan untuk dilakukan atau tidak, tetapi keharusan yang akan dilakukan oleh setiap umat percaya. Ia berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” (Matius 22:37). Ketika seseorang mengasihi Tuhan atau mempercayai Tuhan dengan segenap hati maka ia akan sangat mudah menaati perintah Tuhan dalam FirmanNya. Tetapi jika ia tidak mengasihi Tuhan maka Firman Tuhan akan menjadi cambuk yang dibenci dan diabaikan. Hanya orang-orang yang mengasihi Tuhan yang akan mencintai Firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Mazmur 1:2; 119:140). Cobalah lihat dedikasimu dan keluargamu dalam merenungkan Firman Tuhan, apakah Firman Tuhan menjadi kesukaanmu setiap hari? Jika tidak demikian, engkau akan selalu mengabaik Firman Tuhan dan engkau tidak mencintai Tuhan dan FirmanNya.

Paulus juga menasihati umat percaya untuk mengasihi Tuhan karena kasih kepada Tuhan adalah bukti iman percaya seseorang. Ia berkata, “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah” (1 Kor 8:3). Jadi kasih kepada Allah adalah hal yang memotivasi orang percaya untuk melayani dan menyembah Tuhan. Tanpa kasih ini, niscaya ada orang yang bisa hidup berkenan kepada Tuhan. Ketika cinta kepada Tuhan ada dalam hati seseorang maka dengan sendirinya Roh Kudus akan menumbuhkan rasa cinta kepada Firman Tuhan sehingga ia memberikan waktu untuk mendengarkan Tuhan berbicara melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan. Waktu seperti itulah menjadi momen penting dalam hidupnya yang selalu menjadi momen paling berharga sebelum menjalani aktifitas sehari-hari. Oleh karena itu seorang percaya tidak bisa hanya berkata “Saya mengasihi Yesus tetapi mengabaikan semua perkataan, ajaran dan perintahNya.” Perkataan sedemikian hanya kebohongan dan kelicikan hati.

Seberapa banyak Firman Tuhan sudah diamalkan dalam kehidupanmu akan menjadi tolok ukur dalam ketaatan kepada Tuhan di saat pencobaan datang. Ada orang yang berapi-api dan menyombongkan kesetiaannya kepada Tuhan, tetapi ketika pencobaan tiba, ia mengingkari Tuhan dan mengabaikan semua ajaran Tuhan. Umat percaya bisa saja menghadapi keadaan yang sama seperti yang dihadapi Petrus di malam Tuhan Yesus ditangkap. Hanya karena rasa takut dan ingin menyelamatkan diri dari siksaan dan penganiayaan orang banyak, ia mengingkari Tuhan Yesus. Momen seperti dihadapi banyak orang Kristen di berbagai belahan dunia ini. Mereka yang tetap mencintai Yesus, mereka memilih untuk mati bagi Yesus ketimbang mengingkari Yesus. Jika hal seperti itu terjadi dalam hidupmu, apa yang harus engkau perbuat?

Yohanes 21:15 mencatat bahwa Yesus mempertanyakan kasih Petrus dengan berkata, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Pertanyaan Yesus langsung kepada inti permasalahan yang dihadapi Petrus. Ia memang sebelum pertemuan ini sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bagaimana reaksi Petrus ketika mendengarkan pertanyaan Yesus? Sulit diduga apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Ia bisa saja teringat akan kegagalannya karena mengingkari Yesus tiga kali pada malam Yesus ditangkap. Ia bahkan bersumpah tidak mengenal Yesus. “Tetapi ia [Petrus] menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu” (Matius 25:12). Benarkah Petrus tidak mengenal Yesus? Bukankah ia yang sudah memotong telinga hamba Imam Besar di taman Getsemani ketika Yesus mau ditangkap (Lukas 22:50-51)? Tentu kejadian itu menjadi hal yang tidak bisa dihapus dari ingatannya karena itu akan selalu menjadi bagian perjalanan kehidupannya sebagai rasul dan murid Yesus.

Dengan pasti Petrus mengenal Yesus tetapi karena rasa takut menghinggapinya ia akhirnya ingin menyelamatkan diri dari apa yang akan diperbuat orang-orang Farisi dan umat Yahudi kepadanya sebagai murid Yesus. Ia akhirnya mengingkari Yesus. Namun segera setelah kejadian itu ia menyadari bahwa ia sudah berdosa kepada Yesus, terutama ketika Yesus memandangnya setelah ayam berkokok sebagaimana Yesus sudah prediksi sebelumnya, Petrus menangisi kegagalan dan kesalahannya. Itu pertanda bahwa ia menyesali apa yang sudah ia lakukan dengan mengingkari Yesus tiga kali. Sulit dibayangkan betapa gelisahnya Petrus menjalani hari-harinya setelah kejadian itu. Rasa penyesalan besar pasti bergejolak dalam hatinya.

Petrus memang mengingkari Yesus tetapi ia mengakui dosa-dosa dan kesalahannya keapda Yesus dan bertobat. Kejadian itu sungguh-sungguh mengerjakan hal besar dalam hidupnya dan akhirnya ia mengetahui bagiamana sesungguhnya mengasihi Yesus. Ia belajar mencintai Yesus dengan cara yang sangat sulit. Ia sungguh bertobat dan hal itu mengubahnya menjadi seorang yang rendah hati, sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Yesus dengan berkata, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Apa jawabanmu jika pertanyaan yang sama ditanyakan kepadamu? Jika engakau saat ini tidak bisa berkata seperti yang dikatakan Petrus, ketahuilah ada dosa di dalam hidupmu dan engkau perlu bertobat dan mengakuinya di hadapan Yesus. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan remuk seperti Raja Daud ungkapkan dalam Mazmur 51:17 “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”