Baptisan Yesus

BENARKAH YESUS DIBAPTIS DENGAN SELAM?

Oleh Samson H

Penulis berasumsi bahwa pembaca sudah pernah mendengar klaim penganut baptisan selam yang mengatakan bahwa Yesus dibaptis dengan pola baptisan selam dan menjadi satu-satunya pola baptisan Alkitabiah. Topik ini berhubungan erat dengan artikel yang berjudul “sakramen Baptisan Kudus.”

Klaim yang mengatakan Yesus dibaptis selam menuntut suatu penyelidikan sistematis agar mengetahui apa sesungguhnya yang diajarkan Alkitab (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34).

13Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. 14Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” 15Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya. 16Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, 17lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:13-17).

9Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 10Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 11Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Markus 1:9-11).

21Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 22dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:21-22).

32Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 33Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 34Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yohanes 1:32-34).

Jika ingin mengetahui lebih rinci pemakaian kata “baptisan” dalam perikope-perikope di atas maka sangat disaran melakukan pembelajaran kata (Word Study) untuk kata “baptizo” dalam bahasa Yunani. Dengan demikian pembaca akan mengetahui dengan pasti apa kata “baptizo” hanya memliki arti “selam” atau masih ada sederatan arti lainnya. Sehingga ketika membaca perikope di atas, maka dengan tanpa ragu bisa mengatakan apa pola baptisan yang diajarkan Alkitab.

Untuk saat ini penulis hanya ingin memberikan kesimpulan saja dan bukan proses pembelajaran kata atau Word Study kata “baptizo.” Penulis mempercayai bahwa kata “baptizo” memiliki arti yang bervariasi yaitu, membenamkan, mencuci, membersihkan, menumpahkan dan memercikkan.

Namun para teolog Baptis akan dengan cepat mengambil tulisan T.J. Conant tentang BAPTIZEIN untuk mendukung argumentasinya dan ngotot mengatakan bahwa BAPTIZO dalam bahasa Yunani klasis selalu berarti, “Selam atau mencelupkan.” Namun pernyataan ini keliru karena dalam beberapa tempat dalam Alkitab kata ini tidak selalu berarti selam tetapi juga bisa berarti mencuci, membasu, mencurahkan dan memercikkan.

Pertama, Septuaginta (Alkitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke bahasa Yunani sekitar 200 SM) dalam 2 Raja-Raja 5:14, nabi Elisa meminta raja Naaman yang sakit kusta pergi ke sungai Jordan mencuci tubuhnya tujuh kali. Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan dengan “membenamkan” namun dalam bahasa Yunani kata ini dipakai dengan artian mencuci tubuhnya yang berpenyakit kusta.

Kedua, dalam Markus 7:4 kata BAPTIZO juga kembali dipakai. Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan kata ini dengan “mencuci.” Ini berhubungan dengan mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Dan bukan hanya menyelamkan atau mencelupkan.

Ketiga, dalam Lukas 11:38 kata BAPTIZO kembali dipakai di mana orang-orang Farisi melihat Yesus tidak mem-BAPTIZO tangannya sebelum makan. Kata BAPTIZO di sini tentu bukan mencelupkan atau menyelamkan ke sungai atau ke dalam air sebelum makan. Ini hahya berarti mencuci atau membersihkan.

Keempat, dalam Galatia 3:27 kata BAPTIZO juga dipakai dan tidak mungkin berarti selam atau celup. “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.”

Kelima, dalam 1 Korintus 10:2 kata BAPTIZO juga dipakai dan bisa dipastikan bahwa umat Israel yang menyeberang laut merah tidak mungkin diselam tetapi justru pasukan tentara Mesir diselam dan binasa. “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.”

Keenam, dalam Ibrani 9:10 kata BAPTIZO juga dipakai dan tidak mungkin memiliki arti diselam.“Karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.”

Bagi orang Yahudi simbol pengudusan atau penyucian adalah percikan atau pencurahan. Harus dimengerti bahwa di Perjanjian Lama, bangsa Israel tidak mengenal istilah penyucian atau pengudusan dengan menyelamkan ke dalam air atau minyak tetapi dengan percikan atau penumpahan air atau minyak dari atas kepala turun keseluruh tubuhnya.

Sekarang perhatikanlah pembaptisan Yesus yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Orang baptis atau sejenisnya akan dengan cepat mengatakan Yesus diselamkan. Tetapi teks firman Allah tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya.

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan di sini:

Pertama, Yohanes pembaptis adalah anak Zakaria yang pernah menjabat sebagai Imam Besar (Lukas 1:5). Dia dari keturunan Lewi, yang hidup dalam lingkungan bait Allah yang setiap saat bisa melihat apa yang dilakukan umat Israel ketika mereka disucikan dan dikuduskan dihadapan Allah. Ia juga memperhatikan segala seluk beluk ritual yang dipraktekkan di Bait Allah. Ia dengan pasti semasa tinggal bersama orangtuanya turut mengamati setiap ritual Israel. Sebagai Nabi, ia wajib mengikuti ajaran firman Allah meskipun harus menolak banyak tradisi Yahudi yang bertentangan dengan Kitab Suci, sama seperti yang dilakukan Yesus selama masa pelayananNya. Tetapi apa yang ditetapkan Allah dalam firmanNya (Kitab Perjanjian Lama), Yohanes Pembaptis harus taati dan junjung tinggi. Hanya karena ketaatan, teladan dan kecintaannya pada kebenaran firman Allah, serta pemenuhan Roh Kudus yang dialaminya sehingga orang banyak digerakkan Tuhan datang mendengarkannya meskipun ia tinggal di gurun pasir dan memberi diri dibaptis.

Mempertimbangkan keterbukaan umat Israel pada baptisan yang diberikan Yohanes Pembaptis dimana para imam, Saduki, Farisi dan umat Israel lainnya datang berbondong-bondong mendengarkan pengajarannya dan memberi diri dibaptis, memberikan suatu indikasi bahwa pola baptisan yang diberikan tidak bertentangan dengan pola penyucian yang biasa dilakukan di Israel.

Sebagai keturunan imam besar, Yohanes Pembaptis kemungkinan besar membaptis dengan pola percikan atau penumpahan air karena pola inilah yang merupakan pola penyucian di Perjanjian Lama, “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir” [Mazmur 51:9]. Itulah sebabnya pemuka agama masa itu dan semua umat Israel yang memberi diri dibaptis tidak mempermasalahkan pola penyucian yang dilakukannya. Mereka menerima dengan baik dan tanpa pertentangan. Jadi sangat tidak mungkin Yohanes Pembaptis membaptis dengan menyelamkan karena ia tahu pola penyucian dalam Kitab Suci adalah pola percikan atau penumpahan air. Baptisan adalah lambang penyucian dan pengudusan.

Kedua, Matius 3:15-16 memberitahukan saat-saat dimana Yesus dibaptis. Ayat 16, “sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air” tidak memberikan pernyataan yang pasti yang menunjuk pada pola baptisan Yesus. Ini hanya pernyataan bahwa sesudah dibaptis Yeus keluar dari air. Perlu diketahui bahwa Yohanes memakai sungai Yordan sebagai tempat membaptis karena ada ribuan orang yang datang kepadanya untuk memberi diri dibaptis. Jadi dengan datang ke sungai ini, dan Yohanes menumpahkan air ke atas kepala maka pelayanan baptisan akan mudah dan cepat. Lagi pula harus diketahui, Yesus tidak memiliki dosa untuk disucikan atau dikuduskan. Yohanes Pembatis mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias dan ia tahu ia tidak layak untuk membaptis Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam ayat 15 yang mengarah pada pola penyucian Perjanjian Lama, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah.”

Karena Yesus tidak memiliki dosa untuk disucikan “dibaptis” namun Ia menetahui bahwa Ia harus dibaptis dalam menggenapi seluruh kehendak Allah (di Perjanjian Lama) maka bisa disimpulkan bahwa baptisan Yesus di sini merupakan serimonial pengurapanNya menjadi Imam Besar. Seperti biasanya di Perjanjian Lama, seseorang yang ingin memangku jabatan sebagai imam, ia akan diurapi dengan menumpahkan minyak dari atas kepala turun keseluruh tubuhnya. Dengan fakta ini, sangat tidak memiliki dasar alkitabiah jika pembatisan Yesus dilakukan dengan selam. Tetapi jika pembaptisan dilakukan dengan percikan atau penumpahan air, maka keseluruhan kejadian itu mengukuhkan kebiasaan umat Israel di Perjanjian Lama.

Perhatikan kembali Matius 3:16, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Secara khusus perhatikan frase, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air.” Apa sebenarnya maksud frase ini? Jika penganut baptisan selam ingin membela argumentasinya, frase ini sangat sering dikutip sebagai bukti pendukung. Mereka berkata, “ketika Yesus dibaptis, Ia ada di dalam air dan sesudah dibaptis Ia keluar dari dalam air.” Sekilas, penjelasan itu kedengaran sangat serasi dan masuk akal. Namun jika diteliti setiap kata dalam frase, maka arti sesungguhnya tidaklah demikian terutama ketika lebih diteliti urutan (kronologis) atau rentetan tindakan yang diungkapkan.

Namun jika tidak dipaksakan dengan pola baptisan selam, maka arti frase, “sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air” akan bisa dijelaskan dengan lebih masuk akal. Frase “keluar dari air” harus berarti keluar dari sungai Yordan menuju daratan. Matius menuliskan ayat ini dengan memakai kata depan “apo” dalam bahasa Yunani untuk kata “keluar dari” [away from] dimana hal itu memberikan ide pemisahan dari satu tempat menuju tempat lain. Dengan demikian konteks Matius 3:16 akan berarti bahwa sesudah Yesus dibaptis (tidak diberitahukan pola baptisan yang dipakai), Ia segera keluar menjauhi air menuju daratan (ada suatu proses perjalanan keluar, itulah yang dimaksud dengan pemakaian kata depan “apo” [away from]). Jadi ayat ini sesungguhnya tidak memberikan suatu indikasi pola baptisan apapun tetapi suatu pernyataan bahwa Yesus menerima baptisan dari Yohanes. Ayat ini tidak cukup memberikan bukti tentang pola baptisan Yesus.

Pembaptisan dalam Perjanjian Baru

Bagaimana dengan 3.000 orang bertobat pada hari Pentakosta yang juga dibaptis pada hari itu juga? Kita tahu jarak Yerusalem ke sungai Yordan bukanlah jarak yang dekat dan Yerusalem berada pada ketinggian ribuan kaki diatas sungai Yordan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan dalam satu hari.

Bagaimana dengan seorang Sida-Sida dari tanah Etiopia yang percaya pada Yesus? Dia hanya melihat ada air dan meminta diri untuk dibaptis (Kisah 8:36). Dia tidak melihat sungai Jordan sehingga ia bisa diselamkan. Sangat tidak mungkin baptisan selam yang dilakukan di sini tetapi perciakan atau penumpahan.

Bagaimana dengan Saulus yang bertobat? Dalam Kisah 9:18 dikatakan bahwa ketika dia telah bisa melihat “Ia bangun lalu dibaptis.” Selam tidak mungkin dilakukan pada kejadian ini karena pada saat itu ia ada di salam sebuah rumah, tempat ia menginap.

Bagaimana dengan kepala penjara Pilipi yang bertobat? Kisah 16:33, “Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dipatis.” Ingatlah di masa itu tidak ada lampu jalan yang menuntut mereka menuju suatu sungai yang memiki cukup air untuk menyelam kepala penjara itu bersama anggota keluarganya.  Namun ayat ini menjelaskan bahwa ketika ia percaya, seketika itu juga ia dibaptis bersama keluarganya. Mereka tidak mencari sungai untuk pebaptisan. Jangan pernah lupa bahwa setelah kejadian Paulus masih tetap ditahan kembali setelah kejadian ini.

Baptisan dan Perjamuan Kudus

Pertimbangan lain yang tidak kalah penting bahwa baptisan kudus merupakan salah satu dari dua sakramen kudus yang ditetapkan Allah. Jika penganut baptisan selam ngotot mengklaim bahwa selam merupakan pola baptisan satu-satunya meskipun tidak ada pernyataan mutlak Alkitab, bagaimana dengan Perjamuan Kudus? Sama seperti Pola Baptisan, pola perjamuan kudus juga tidak diberitahukan dalam Alkitab seperti apa seharusnya Perjamuan Kudus dilakukan. Hampir bisa dipastikan setiap denominasi gereja melakukannya dengan pola yang berbeda-beda. Bukan hanya pola pelaksanaannya berbeda, jenis roti dan anggur yang dipakai juga berbeda. Karena bobot dan nilai sakramen ini sama, maka sepatutnyalah kedua sakramen ini juga dipandang sama oleh setiap umat percaya. Gereja tidak bisa mengatakan pola baptisan selamlah yang alkitabiah, sementara pola Perjamuan Kudus dibiarkan sebebas-bebasnya. Jika kedua sakramen memiliki bobot dan nilai yang sama, maka gereja tidak bisa menonjolkan yang satu dan mengabaikan yang lain.

Ini memberikan kesimpulan bahwa tidak bisa mengatakan sebuah gereja sesat hanya karena tidak menganut pola baptisan yang sama dengan gereja tertentu. Terkecuali ada pernyataan mutlak Alkitab tentang pola baptisan dan dengan sengaja ada gereja tidak mangacuhkannya. Namun karena pola baptisan yang dianut merupakan suatu tafsiran, sama seperti pola Perjamuan Kudus, maka tidak memiliki dasar untuk menganggap rendah penganut pola baptisan yang berbeda, apakah itu pola selam atau percikan atau penumpahan air. Selagi pembaptisan dilakukan dengan air, baptisan itu harus diterima.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis lebih mempercayai pola baptisan percik atau penumpahan air merupakan tafsiran pola baptisan yang paling tepat. Namun demikian, penulis tidak mempersalahkan atau mengganggap rendah mereka yang menganut pola baptisan selam. Tetapi, jika mau jujur, di mata Tuhan tentu hanya ada satu pola baptisan yang tepat dan tidak mungkin keduanya benar. Namun karena tidak mengetahui dengan pasti yang mana dari kedua pola ini yang benar dan karena Alkitab tidak memberitahukannya maka umat Kristen tidak mendapatkan informasi lengkap tentang pola baptisan. Oleh karena itu umat Kristen menafsirkan catatan firman Allah yang ada dan menyimpulkan pola baptisan yang dirasa paling tepat dan itulah pola baptisan yang dianut.

Selidikilah selalu firman Allah dan jangan semata-mata mempercayai suatu ajaran hanya karena disampaikan pemimpin gereja. Dengan menyelidiki firman Allah, maka saudara menunjukkan diri sebagai umat Kristen dewasa.

3 comments for “Baptisan Yesus

  1. narumi
    November 19, 2017 at 10:22 pm

    Saya pernah membaca sebuah artikel dan dikatakan dalam artikel tersebut bahwa baptisan percik menggantikan baptisan selam karna pada saat itu ada keadaan2 tertentu seperti orang yang bersangkutan sedang sakit (sehingga tidak dapat melakukan baptisan selam). pola baptisan percik tersebut akhirnya menjadi adopsi turun temurun sampai sekarang. Yang ingin saya tanyakan, benarkah baptisan percik menggantikan baptisan selam ?

    • admin
      November 22, 2017 at 3:30 am

      Dear Narumi,

      Ada begitu banyak cerita tentang hal baptisan yang bersifat karangan dan hanyalan di berbagai negara yang mungkin menjadi cerita dogeng di daerah tersebut. Namun ketika berbicara tentang Doktrin atau pengajaran Firman Tuhan, segala tradisi dan kebiasaan di suatu daerah harus diuji dalam terang Firman Tuhan.

      Berbicara tentang pola baptisan, sumber satu-satunya untuk menetapkan pola baptisan adalah Firman Tuhan itu sendiri dan bukan tradisi dan kebiasaan suatu daerah. Tentu dalam memahami maksud Firman Tuhan tidak cukup hanya membaca dan mempelajari dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bahasa Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Untuk memahami pola baptisan maka pembelajaran bahasa Yunani Perjanjian Baru harus difokuskan. Bahasa Yunani berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Oleh karena itu pembelajaran nas yang berbicara tentang baptisan merupakan keharusan dalam melihat pola baptisan yang diterapkan pada saat pembatisan dilakukan dalam perikop tersebut.

      Saya mempercayai bawha para penganut pola baptisan Selam dan Percik tidak bodoh tentang pengetahuan bahasa Yunani dan Ibrani. Masing-masing kelompok memiliki teolog hebat yang memahami bahasa asli Alkitab. Namun demikian mereka tetap pada pendirian masing-masing karena mereka memiiki keyakinan, pemahaman dan penafsiran yang berbeda sehingga mereka tidak memiliki titik temu.

      Apa yang saya paparkan dalam artikel-artikel saya tentang baptisan sama sekali tidak pernah menyinggung tentang tradisi atau kebiasaan yang menjadi warisan turun-temurun khususnya dalam pola baptian percik. Saya memaparkan ayat-ayat itu menurut konteks dan tata bahasa dimana kata “baptisan” ditemukan dalam ayat-ayat tersebut. Pengujian arti kata itu menurut konteksnya menuntukan arti dan maksud kata itu sesungguhnya.

      Saya sangat memahami apa maksud dan arah pertayaan anda dimana sering kali suatu gereja mengadopsi suatu pola baptisan tertentu tetapi jemaat tidak memahami kenapa harus mengadopsi pola baptisan itu. Jemaat tidak diberitahukan dan diajar sejelas-jelasnya menurut Firman Tuhan kenapa harus mempercayai pola baptisan itu sehingga karena ketidaktahuan latarbelakang dan pemahaman ajaran itu maka jemaat cenderung mengadopsi isu-isu yang tersebar di luar melalui mulut ke mulut atau seperti sekarang ini melalui media sosial. Tetapi sebagai orang percaya yang mempercayai Kristus, Firman Tuhan harus dijadikan sebagai STANDAR MUTLAK KEBENARAN DAN TIDAK ADA YANG LAIN. Jika suatu ajaran atau doktrin bertentangan dengan apa yang ada dalam Firman Tuhan maka ajaran itu harus dibuang dan ditolak. Firman Tuhan harus menjadi Standard hidup dan iman Kristen dan bukan tradisi atau kebiasaan suatu daerah.

      Mudah-mudahan penjelasan ini membantu.

      • narumi
        November 22, 2017 at 9:33 am

        Terima kasih. Sangat membantu dan menguatkan

Comments are closed.