Jangan Sombong Rohani

JANGANLAH SOMBONG SECARA ROHANI

Oleh Samson H

Nas: Lukas 22:31-34

31Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” 33Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” 34Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

Terkadang ketika sudah sangat aktif dan giat dalam pelayanan, mengemban berbagai tugas kerohanian dalam gereja, persekutuan dan misi penginjilan, timbul suatu rasa percaya diri dan keinginan ingin memuji diri bahwa kita telah melakukan yang terbaik dalam pelayanan. Dalam saat yang sama, hati kecil kita mulai berbicara untuk melihat di sekeliling dan jemaat yang hanya datang dan pergi setiap minggu tanpa pernah melibatkan diri dalam pelayanan. Mereka sepertinya begitu puas dengan kerohaniannya dan tidak pernah merasa perlu untuk mempergunakan karunia atau talenta yang diberikan Tuhan bagi mereka dalam membangun jemaat. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat atau mungkin karena kegagalan gereja mendidik dan memotivasi mereka untuk melayani. Entah apa yang menjadi alasannya namun yang pasti kecintaan mereka terhadap Tuhan tidak sebagaimana layaknya orang yang ditebus dari dosa dan penghukuman kekal.

Menyadari keterlibatan dalam berbagai pelayanan dan membandingkan diri dengan orang-orang yang suam-suam kuku dalam gereja, timbul rasa percaya diri yang sekaligus merupakan kesombongan kerohanian. Kita merasa sudah jauh lebih rohani dari orang lain, sudah lebih mengerti firman Allah dari orang lain, sudah lebih berdedikasi dan berkomitmen dari orang lain dan yang paling bahaya lagi, sudah merasa lebih kudus dari orang lain.

Ketika melihat di sekeliling tidak banyak jemaat yang terlibat dalam pelayanan, seharusnya bukan saatnya menyombongkan diri tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan dan pembaharuan bagi jemaat agar Tuhan kiranya memakai para hamba Tuhan untuk memotivasi dan menggugah jemaat dalam menguji hati mereka di hadapan Tuhan. Kita harus berdoa agar jemaat berserah dan mendedikasikan diri kepada Tuhan dan giat dalam pelayanan.

Nabi Daniel ketika menyadari umat Israel yang dibuang ke Babilon selama 70 tahun sudah hampir berakhir, ia merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berdoa bagi umat Israel dan meminta pengampunan atas segala dosa, kejahatan, ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka (ref. Daniel 9). Ia tidak berbangga sebagai Nabi yang berhasil menjabat posisi tertinggi di kerajaan yang tidak mengenal Tuhan.

Jika mempelajari kehidupan Petrus, kita akan menemukan bahwa ia merupakan orang yang vokal dan berani mengungkapkan pendapatnya. Ia blak-blakan menyampaikan apa yang terlintas dalam pikirannya. Ketika ia merasakan cinta yang besar kepada Yesus, ia berterus terang menyampaikan hal itu. Namun di berbagai kesempatan Petrus terkesan sebagai seorang yang sombong secara rohani. Ia merasa kuat dan hebat bahkan ia menyatakan diri rela mati bagi Yesus. Memang tidak bisa disangkal bahwa ia sangat mencintai Yesus dan Yesus mengetahui hal itu. Namun kesombongan rohani sedemikian tidak bisa dibenarkan. Waktu akan membuktikan betapa besar kasih Petrus kepada Yesus. Hal ini terlihat jelas di saat Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Kejadian itu sungguh meremukkan hatinya yang congkak dan membuatnya sadar bahwa ia tidak sehebat yang ia katakan.

Perikop di atas merupakan peringatan kepada Petrus di saat penggenapan nubuat Allah sudah semakin dekat bahwa Yesus harus mati di kayu salib. Yesus memperingatkannya “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Kalimat ini sedikit kurang jelas tentang apa yang dimaksud Yesus. Dalam Alkitab Bahasa Inggris (KJV) berbunyi demikian, “Simon, Simon, behold, Satan hath desired to have you, that he may sift you as wheat.” Secara harfiah bisa diterjemahkan demikian, “Simon, Simon, lihat, Iblis berkeinginan untuk memilikimu, agar ia bisa menampikmu seperti gandum.”

Ayat itu menjadi peringatan juga bagi umat percaya.  Jika Petrus yang sangat mencintai Yesus dan hidup bersama dan melayani Yesus selama tiga tahun, mendapatkan perhatian khusus dari Iblis untuk memilikinya, siapakah kita ini? Bukankah kita manusia lemah, kurang rohani, pelaku dosa, sombong, pemarah, pendusta, penipu, pandai besilat lidah, dan egois? Bukankah manusia seperti kita akan sangat mudah ditaklukkan Iblis dan memperalat kita untuk mencapai tujuannya? Tanpa disadari dalam berbagai kesempatan kita sudah diperalat Iblis. Dengan mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak Allah sudah pasti menggenapi keinginan Iblis.

Seharusnya di saat menyadari keaktifan dalam pelayanan, peringatan kepada Petrus harus menjadi perhatian karena Iblis juga menginginkan kita jatuh dan gagal dalam mengikut Yesus. Ia akan melakukan apa saja untuk menggoda agar kita tidak menaati Yesus dan menyembahNya. Ia bahkan akan menyodorkan kesuksesan dan promosi agar kita tidak memiliki waktu untuk Tuhan dan gereja. Tetapi sayangnya ada banyak orang Kristen bersukacita dengan promosi jabatan dan gaji yang besar serta berkata bahwa itu datang dari Tuhan. Benarkah promosi itu datang dari Tuhan? Belum tentu! Ketika jabatan baru dan promosi membuat seseorang semakin jauh dari Tuhan dan gereja, maka itu bukan dari Tuhan tetapi Iblis. Tuhan tidak mempromosikan seseorang atau memberikan kesempatan mendapatkan gaji yang besar agar ia menjauh dari Tuhan dan tidak memiliki waktu untuk melayani dan menyambahNya. Alkitab tidak pernah mengajarkan seperti itu.

Namun Tuhan Yesus penuh kemurahan, Ia menginginkan mereka yang sadar akan kesalahannya untuk bertobat dan meninggalkan jalan dosa dan jalan yang membuatnya jauh dari Tuhan. Tuhan menginginkan umatNya kembali kepadaNya. Inilah penghiburan datang dari Tuhan bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus seperti Petrus. Yesus berkata, “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Dengan kata lain, meskipun harus menghadapi cobaan dan kegagalan, Yesus tidak menginginkan kita meninggalkan dan melupakanNya. Ia ingin kita terus beriman kepadaNya. Oleh karena itu Ia juga berdoa agar iman kita tidak gugur.  Bukankah hal ini sangat menggembirakan? Ketika dalam kesulitan dan pencobaan kita diingatkan bahwa Yesus berdoa buat kita. Bukan hanya Yesus sendiri tetapi juga Roh Kudus berdoa agar kita tetap kuat menjalani kehidupan kekristenan kita di bumi ini. “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

Ketika mendengar orang yang kita kasihi mendoakan buat kita, hati kita sangat disegarkan karena menyadari ada yang perduli dan ada yang mau turut menanggung beban yang dihadapi. Bagaimana jika Yesus yang berdoa buat kamu bagaimana perasaanmu? Ingatlah selalu ketika menghadapi kesulitan, aniaya, penderitaan dan pencobaan, ada Yesus yang perduli bagimu. Ia berdoa bagimu.

Namun sangat disayangkan, ketika Petrus mendengar perkataan Yesus sedemikian, ia justru berkata, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Ia sepertinya tidak begitu mengerti apa yang Yesus sampaikan. Seharusnya ia merendahkan diri dan sadar bahwa ia sudah melampau batas kewajaran, seakan-akan ia sendirilah satu-satunya yang bersedia masuk penjara dan mati bagi Yesus. Lalu Yesus melanjutkan, “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.

Yesus adalah Tuhan yang mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui apa yang akan diperbuat Petrus ketika ia diperhadapkan dengan ketakutan. Yesus menyampaikan dengan gamblang bahwa Petrus akan mengingkariNya tiga kali. Jika membandingkan tulisan lain dalam Injil, terlihat jelas bahwa apa yang disampaikan Yesus kepada Petrus tidak membuatnya merendahkan diri dan menyadari kesombongannya. Ia masih tetap merasa paling pantas, paling berdedikasi, paling berkomitmen dan paling mengasihi Yesus. Petrus berkata, “biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33).

Akhirnya apa yang diprediksi Yesus terjadi, Petrus menyangkal bahwa ia tidak mengenal Yesus dan pernyataan itu disampaikan tiga kali. Menyadari hal itu, hati Petrus hancur remuk, ia menangisi kegagalannya. Namun hal yang baik timbul dari semua ini dimana kesombongan dan kecongkakannya dihancurkan. Ia menjadi seorang pelayanan yang rendah hati dan benar serta ia siap mati bagi Yesus.

Banyak hal yang dipelajari dari pengalaman pribadi sebagai orang Kristen, tetapi juga kita bisa belajar dari pengalaman orang lain khususnya mereka yang dicatat dalam Alkitab karena mereka dimuat dalam Alkitab sebagai pelajaran dan contoh bagi kita untuk diketahui.

Oleh karena itu, waspadalah selalu! Setan selalu ada di sekitar kita. Petrus sendiri menyadari itu ketika ia menuliskan suratnya, Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8). Jangan pernah menyombongkan diri karena apa yang kamu perbuat di gereja dan pelayanan yang kamu emban sebagai pelayan Kristus. Justru seharusnya kamu harus semakin waspada bahwa kamu akan menjadi target utama Iblis. Jika Iblis bisa menjatuhkan kamu maka dengan sendirinya mereka yang selama ini setia dan bangga melayani bersama kamu akan turut jatuh dan terhempas.