Janji Tuhan Menyelamatkan Anak-Anak Keluarga Umat Percaya

JANJI TUHAN MENYELAMATKAN ANAK-ANAK KELUARGA KRISTEN

Oleh Samson Hutagalung

13Withhold not correction from the child: for if thou beatest him with the rod, he shall not die. 14Thou shalt beat him with the rod, and shalt deliver his soul from hell (Proverbs 23:13-14 – KJV).

13Hendaklah engkau tidak menahan didikan dari seorang muda, sebab ketika engkau memukulnya dengan tongkat, ia tidak akan mati, 14Engkau memukulnya dengan tongkat, tetapi engkau melepaskannya dari alam maut (Amsal 23:13-14 – Kitab Suci – Indonesian Literal Translation)

Anak-anak yang diberikan Tuhan kepada keluarga Kristen adalah berkat Tuhan. Semua keluarga Kristen menyadari dan mengakui itu. Namun demikian setiap berkat yang diberikan Tuhan disertai dengan tanggungjawab kepada Pemberi berkat karena Pemberi berkat menginginkan apa yang diberikanNya dipelihara, dijaga dan dididik sesuai dengan keinginanNya. Bisakah engaku banyangkan ketika engkau memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada seseorang, ia tidak memperdulikannya dan bahkan mengabaikanya? Engkau pasti sangat kecewa. Mungkin juga engkau menyesal karena sudah memberikan kepadanya. Engkau sangat mengharapkan apa yang engkau berikan dijaga dan dipelihara sebaik mungkin seperti engkau lakukan sebelumnya karena engkau juga memberikan petunjuk bagaimna cara menjaga dan mengurusnya.

Tuhan memberikan anak-anak kepada keluarga Kristen juga dimaksudkan untuk dijaga, dipelihara dan dididik sesuai dengan petunjuk yang Tuhan berikan dalam Kitab Suci. Firman Tuhan adalah panduan bagaimana memelihara dan mendidik anak-anak yang sudah Tuhan percayaakan kepada setiap keluarga Kristen. Anak-anak diberikan kepada suami dan isteri dan bukan kepada gereja. Suami dan Isteri memiliki tanggunjawab besar terhadap anak-anaknya melebihi tanggungjawab masyarakat dan Negara dan bahkan gereja. Suami dan isteri harus mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya agar bisa tumbuh sehat secara jasmani. Kekurangan nutrisi akan menghambat pertumbuhannya dan tak ada orangtua yang menginginkan hal itu terjadi. Mereka akan berusaha sekuat tenaga dan semampunya untuk membuat anak-anaknya bisa bertumbuh normal. Tetapi pertumbuhan anak-anak ini bukan hanya aspek jasmani, Tuhan menuntut pertumbuhan rohani dan tanggungjawab yang sama diberikan kepada orangtua Kristen. Mereka harus berjuang semampunya untuk membuat anak-anaknya bertumbuh secara rohani. Kerohanian ini bukan hanya tanggungjawab gereja tetapi lebih pada tanggungjawab orangtua. Itulah sebabnya Firman Tuhan diberikan untuk menjadi panduan bagi setiap orang percaya untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam hidup.

Pertanyaan penting sekarang, apakah orangtua Kristensecara otomatis memiliki pengetahuan bagaimana menuntun dan mendidik anak-anaknya secara rohani begitu memilik anak? Cobalah bayangkan, ada dua manusia, laki-laki dan perempuan dipersatukan menjadi satu keluarga, suami dan Isteri, dimana semasa mudanya (masa berpacaran) hidup mereka penuh dengan keduniawian dan mengikuti cara-cara hidup dunia ini meskipun mengklaim diri sebagai orang Kristen dan beribadah setiap hari minggu. Namun dalam praktek kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang bukan Kristen di luar sana. Dan sekarang mereka menikah, setahun kemudian memiliki seorang anak yang lucu. Apakah mereka memiliki pengetahuan untuk mendidik dan memelihara anaknya secara rohani sesuai dengan kehendak Tuhan? Inilah yang menjadi pertanyaan penting bagi setiap keluarga Kristen. Saya mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan secara otomatis memahami cara mendidik kerohanian anak. Mereka perlu belajar dan menggali kebenaran Firman Tuhan untuk bisa memahami apa yang diinginkan Tuhan dalam mendidik dan mendisiplinkan anaknya. Memang tingkat kerohanian laki-laki dan perempuan yang dipersatukan menjadi suami dan isteri akan menentukan bagaimana mereka kelak mendidik dan mengajar anak-anak mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan sebelum memiliki anak, mereka bisa menentukan arah bagaimana mereka harus mendidik anak-anak mereka di dalam Tuhan. Mereka bisa mengambil suatu resolusi jika Tuhan memberikan anak, mereka akan melakukan apa saja yang diperintahkan Tuhan bagi anaknya. Tetapi tentu bukan hanya sekedar resolusi. Dibutuhkan dedikasi dan pembelajaran dari Firman Tuhan. Jadi dedikasi dan komitmen ini bisa diambil jika suami dan isteri memiliki kerohanian yang sehat.

Contoh sederhana saja, jika suami dan isteri tidak pernah berdoa, maka mereka tidak mungkin bisa mengajar anak-anaknya berdoa bahkan doa tidak akan pernah terlintas dalam pikiran mereka. Jika mereka tidak memiliki kebiasaan membaca Alktiab secara teratur sebagai suami dan isteri, sudah barang tentu mereka juga tidak akan mengajarkan anak-anak untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Jika suami dan isteri tidak memiliki kesensitifan rohani, maka mereka juga tidak akan mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi anak-anak yang takut kepada Tuhan. Jika suami dan isteri jarang menghadir ibadah Minggu, maka mereka juga tidak akan memperdulikan pentingnya beribadah bagi anaknya. Singkatnya, jika ingin melihat kerohanian suatu keluarga Kristen (suami dan isteri) maka lihatlah kerohanian anak-anaknya, karena apapun yang dilakukan kelaurga Kristen di rumahnya akan terefleksi dalam kehidupan anak-anaknya. Seorang ayah dan ibu tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Janganlah orangtua berlagak rohani datang ke gereja dengan segala penampilan mempesona dan sikap lebih kudus dari orang lain atau lebih rohani dari orang lain, padahal ia tahu seperti apa kerohaniannya. Janganlah berpura-pura di hadapan Tuhan. Datanglah dengan hati yang penuh pertobatan. Lihatlah anak-anakmu karena mereka adalah gambaran dirimu sendiri. Kerohanianmu akan terefleksi dalam kerohanian mereka.

Keluarga Kristen yang memiliki anak, siap atau tidak siap, sadar atau tidak sadar, suami dan isteri harus menjadi pengajar dan pendidik bagi anak-anaknya. Kemajuan kerohanian anaknya akan bergantung pada apa yang dilakukan suami dan isteri di rumahnya dalam mendidiknya dalam Tuhan. Meskipun dibutuhkan kerja sama suami dan isteri dalam mendidik anak-anaknya tetapi suami adalah kepala rumah tangga keluarga Kristen. Ia bertanggungjawab sepenuhnya atas segala sesuatu yang terjadi di dalam keluarganya. Ia adalah pemimpin keluarga bukan hanya dalam menyediakan nafkah jasamani anggota keluarganya tetapi juga pemimpin rohani bagi kelaurganya. Ia pengambil keputusan rohani dalam keluarganya. Nabi Yosua mengambil keputusan itu ketika ia berkata, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).

Suamilah yang harus memimbing kerohanian isteri dan anak-anaknya di dalam Tuhan dan ia memiliki tanggungjawab untuk memastikan keselamatan isteri dan anak-anaknya. Oleh karena itu seorang suami janganlah menyombongkan diri dan berbangga hati ketika ia bekerja sampai larut malam untuk mencukupi kebutuhan jasmani anggota keluarganya. Janganlah sombong jika engkau lebur kerja setiap malam dan di akhir bulan membawa uang ke rumah puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Tetapi ingatlah, itulah malapetaka keluargamu karena engkau tidak bisa melakukan tanggungajawabmu sebagai pemimpin rohani kelaurgamu. Engkau tidak memiliki waktu bersama isteri dan anak-anakmu serta mendidik mereka di dalam Tuhan. Ingatlah saatnya akan tiba bahwa engkau akan menyesal karena uang yang engkau miliki tidak akan bisa menyelamatkan jiwa anak-anakmu. Uang yang engkau miliki akan membuat mereka menjadi duniawi dan materialistis. Suatu saat mereka akan berkata kepadamu, “Buat apa saya harus ke gereja, buat apa saya harus membaca Alktiab, dan buat apa saya harus percaya kepada Tuhan, ayah saja tidak berdoa, dan tidak beribadah serta tidak merenungkan Firman Tuhan masih mendapatkan uang yang banyak.”

Tentu kejadian seperti itu terjadi karena sang ayah tidak memperdulikan tanggungjawabnya sebagai pemimpin rohani tetapi hanya memikirkan tanggungjawabnya sebagai penyedia nafkah. Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana caranya saya bisa membimbing anggota kelaurga saya sesuai dengan kehendak Tuhan sementara saya sendiri tidak mengetahui caranya?” Pertanyaan seperti inilah yang sering terdengar dari banyak keluarga Kristen di dalam gereja. Banyak keluarga Kristen bisa digambarkan seperti sebuah sekolahan dimana guru-guru seharusnya siap mengajar anak-anak yang sudah mendaftar belajar di sekalohan itu tetapi para guru tidak siap mengajar dan mereka tidak tahu apa yang akan diajarkan. Para guru tidak memiliki pendidikan untuk menjadi guru dan pengajar. Tetapi karena keadaan mendesak dan memaksa, mereka berusaha semampunya untuk mendidik dan mengajar tanpa memperdulikan apa yang diajarkan benar atau salah. Yang terpenting bagi mereka setiap hari anak-anak memiliki kegiatan menghabiskan hari-hari mereka. Namun ketika ujian akhir tiba, di situlah ujian penentu bukan hanya bagi para murid tetapi juga para guru. Para murid akan mengetahui bahwa apa yang diujikan tidak pernah mereka terima dari guru, dan para guru juga akhirnya menyadari bahwa banyak hal yang tidak mereka ajarkan kepada anak didik mereka karena ketidaktahuan.

Contoh di atas adalah gambaran banyak keluarga Kristen sekarang ini. Orang tua tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mendidik dan mengajar anak-anaknya menjadi manusia yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun ketidakhuan tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan tanggungjawab karena Tuhan sudah memberikan panduan yaitu Firman Tuhan. Di sana tersedia segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang layak di hadapan Tuhan. Jika orangtua mengabaikannya maka mereka akan menuai hasil yang mengecewakan.

Gereja dalam hal ini harus melakukan tugasnya sebagai institusi rohani yang ditetapkan Tuhan dalam memimbing, mendidik, mengarahkan, menasihati, dan mengajar jemaat sesuai dengan kehendak Tuhan. Gereja sekarang banyak berorientasi uang dan kekayaan. Gereja jangan sibuk dengan yayasan pendidikan untuk mendapat uang dan uang, dan akhirnya mengabaikan kerohanian jemaatnya. Jika keluarga jemaat tidak memiliki pengetahuan dalam mendidik anak-anaknya maka gereja harus berperan dan memperlengkapi para orangtua dengan pengetahuan itu dan menuntun mereka menjadi kelaurga rohani yang takut akan Tuhan. Tuhan memberikan otoritas bagi gereja untuk mengajar jemaat tetapi juga untuk menegur dan memarahi jemaat yang tidak taat. Tuhan mempercayakan jiwa-jiwa jemaat kepada hamba-hamba Tuhan, oleh karena itu jangan mempermainkan jemaat dengan kesibukan mereka yang sia-sia, dan mengabaikan pertumbuhan kerohanian jemaatnya. Setiap gembala sidang jemaat bertanggungjawab mengetahui kerohanian setiap jemaat yang digembalakannya dan dari situalah ia bisa membimbing untuk bertumbuh secara rohani.

Di sisi lain, jemaat khsusunya para suami, jangan segan-segan mengutarakan kekurangan dan kelemahannya secara rohani kepada gembala sidang karena hal itu akan menolongnya untuk membimbing keluarganya. Pada keyataannya hal ini sering diabaikan para suami di gereja, mereka merasa nyaman jika tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di rumahnya dan apa yang menjadi kelemahannya secara rohani sebagai suami. Alhasil, anak-anaknya semakin jauh dari Tuhan bahkan tak bisa diselamatkan lagi. Saya mengingat sebuah kelaurga yang merasa nyaman dengan keadaan keluarganya dan merahasiakan masalah rohani yang dihadapi anak-anaknya. Namun rahasia itu akhirnya tersebar ke seluruh jemaat bahwa anaknya meninggalkan Kekristenan dan menganut agama lain. Semuanya sudah terlambat, dan tidak ada yang bisa diperbaut. Hanya anugerah Tuhan yang akan bisa menyelamatkan anaknya. Jika seandainya dari awal hal itu diungkapkan dan diberitahukan kepada hamba Tuhan yang bertanggungjawab untuk gereja itu, mungkin masih ada secerjah cahaya yang bisa menerangi dan menyelamatkan keluarga itu.

Untuk menghindari hal itu terjadi, satu hal yang perlu dilakukan para orangtua adalah dengan kembali kepada Firman Tuhan. Di sanalah terdapat segala pengajaran yang dibutuhkan untuk menuntun anak-anaknya di dalam Tuhan. Jangan ikuti nasihat orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan, dan jangan perdulikan nasihat yang tidak berdasar pada Firman Tuhan sekalipun sanak saudaramu atau bahkan orangtuamu sendiri. Ingatlah selalu bahwa engkau harus mempertanggungjawabkan berkat yang Tuhan berikan kepadamu yaitu anak-anakmu. Tugasmulah sebagai orangtua untuk menuntun mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan itu bukan semata-mata tanggungjawab gereja meskipun gereja memiliki peran dalam pertumbuhan kerohanian jemaatnya.

Disiplin Menyelamatkan Anak-Anakmu

Raja Salomo menuliskan suatu nasihat penting bagi para orangtua. Nasihat ini merupakan janji Tuhan yang bisa dipercayai dan diharapkan para orangtua dengan sepnuh hati.

13Hendaklah engkau tidak menahan didikan dari seorang muda, sebab ketika engkau memukulnya dengan tongkat, ia tidak akan mati, 14Engkau memukulnya dengan tongkat, tetapi engkau melepaskannya dari alam maut (Amsal 23:13-14 – Kitab Susi – Indonesian Literal Translation atau KS-ILT).

Tahukah engkau bahwa yang membuat anak-anakmu tidak menghormati dan menaatimu adalah sikapmu sebagai orangtua. Hal ini dimulai sejak pertama sekali engkau memiliki seorang anak yang masih masih kecil, lucu dan imut. Engkau mencintainya dengan kasih yang begitu besar. Tidak ada yang salah dengan mencintai anak-anakmu dengan kasih yang besar karena Tuhan juga megnajarkan hal itu. Namun kasih itu jangan melampaui tanggungjawabmu sebagai orangtua. Jika engkau mengasihi anakmu hingga engkau tidak tega mendisiplinkannya ketika melakukan kesalahan dan pemberontakan, itu bukanlah kasih yang diajarkan Tuhan dalam FirmanNya. Itu malah petaka bagimu dan anakmu.

Penulis Ibrani memeritahukan bahwa seorang ayah harus mengganjar anak-anaknya yang tidak taat. Memang ganjaran itu tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita namun tetap saja harus dilakukan karena ganjaran itu dapat menyelamatkan jiwa anak itu.

9Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? 10Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. 11Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:9-11).

Ayat di atas juga memberitahukan bahwa Tuhan juga menghajar mereka yang tidak taat agar kembali ke jalan Tuhan dan mengambil bagian dalam kekudusan Tuhan. Ganjaran diberikan kepada setiap orang yang memberontak kepada Tuhan. Hal yang sama harus dilakukan oleh setiap ayah terhadap anak-anaknya yang tidak taat. Disiplin harus digerikan kepada anak-anakmu meskipun engkau mengasihinya karena engkau menginginkannya menjadi seorang anak yang melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Ketika engkau memiliki seorang anak kecil yang masih lucu dan imut, ingatlah selalu, bahwa engkau seperti memeilihara seekor anak ular berbisa yang terlihat lucu dan menggemaskan, tetapi saatnya akan tiba, ia akan semakin besar dan akan mematokmu. Terkecuali engkau melakukan apa yang engkau harus lakukan untuk mematikan patokan dan bisanya, maka selama engkau memeliharanya engkau berada dalam bahaya. Saya di sini tidak bermaksud menyamakan anak-anakmu seperti ular, tetapi anak-anak yang lahir ke dunia ini memiliki bisa alami, yaitu sifat dan tabiat berbuat dosa dan dosa itu akan menunjukkan wujudnya dalam diri anak-anakmu ketika mereka tidak taat dan melakukan kejahatan. Anak-anak yang diberikan Tuhan kepadamu meskipun terlihat lucu dan imut, mereka adalah manusia yang memiliki tabiat berdosa dan kesukaannya adalah dosa. Raja Daud memberitahukan tentang dirinya sendiri demikian,

“Lihatlah, dalam kesalahan aku diperanakkan dan dalam dosa, ibuku mengandung aku” (Mazmur 51:7 – KS-ILT).

Dalam Alkitab bahasa Inggris ditulis demikian,

Behold, I was shapen in iniquity; and in sin did my mother conceive me (Psalm 51:5 – KJV).

Fakta ini memberitahukan bahwa setiap anak memiliki kecenderungan melakukan dosa. Jika diberikan kebebasan untuk memilih maka pilihannya akan selalu untuk berbuat dosa dan memuaskan segala keinginan hatinya meskipunitu akan menyakiti orang lain dan orangtuanya sekalipun. Itulah kecenderungan hati yang terlahir dengan dosa. Itulah tabiat alami manusia. Setiap orangtua harus menyadari hal itu sekalipun memiliki anak kecil yang lucu dan imut. Anak itu adalah manusia berdosa yang perlu dituntun, dibimbing dan diajar sesaui dengan Firman Tuhan. Jangan karena ia masih kecil dan lucu engkau tidak tega untuk mendisiplinkannya. Jika engkau gagal melakukan hal itu, maka engkau akan menuai apa yang engkau tabur.

Saya tahu apa itu kasih sayang terhadap anak. Saya hanya memiliki satu anak perempuan dan ia tentu sangat berharga bagi saya. Ia menghiasi kehidupan keluarga kami selama belasan tahun ini. Saya sangat mengasihinya. Saya tahu apa itu yang dimaskud dengan “tidak tega untuk memukul dan mendisiplinkan anak” tetapi saya tahu kasih sedemikian akan bertentangan dengan kasih Tuhan jika saya membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan dan mengabaikan nasihat dan didikan menurut Firman Tuhan. Saya tahu anak saya adalah manusia yang membutuhkan anugerah Tuhan untuk keselamatan dan tanpa itu ia akan binasa dan segala kasih sayang yang saya dan isteri berikan akan sia-sia. Kerinduan saya hanya satu agar kirnya anak saya mengasih Kristus dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya dan menunjukkan hal itu lewat ketaatannya kepada perintah Tuhan dalam FirmanNya. Segala hal harus lakukan agar saya bsia memastikan bahwa anak saya sungguh-sungguh percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Mencintai Yeus jauh lebih berharga dari harta milaran rupiah karena itu akan menuntunnya untuk hidup kekal yang tidak terhingga nilainya. Buat apa memberikan harta warisan bagi anak-anak yang tidak mencintai Yesus Kristus? Bukankah lebih baik memberikan harta itu dipakai dalam pemberitaan Injil di berbagai belahan dunia ini? Cobalah bayangkan jikalau dalam hidup ini anak-anakmu tidak memperdulikan nasihat dan ajaranmu, buat apa engkau mewariskan harta bagi mereka? Semua harga yang engkau tinggalkan tidak akan membuat mereka datang kepada Tuhan dan percaya kepada Yesus Kristus. Justru sebaliknya, mereka akan semakin jauh dari Tuhan dan mempergunakan semua harga yang engkau wariskan untuk perbuatan dosa dan pemuasan segala hawa nafsu dan keinginan duniawi mereka.

Oleh karena itu orangtua tua yang tidak mengetahui bagaimana mendidik, mengajar dan mendisiplinkan anak-anaknya di dalam Tuhan, belajarlah dari Firman Tuhan dan jadikan Firman Tuhan menjadi kesukaanmu dan kesukaan anggota keluargamu. Firman Tuhan berkuasa mengubah hati setiap orang yang mendengarkannya. Orangtua tidak bisa mengubah hati anak-anaknya jika Tuhan tidak bekerja di dalam hatinya. Para orangtua harus mengarahkan anak-anaknya kepada Firman Tuhan dan biarkan Tuhan sendiri yang berbicara kepadanya lewat kuasaNya.

Namun demikian apa yang dicatat dalam Amsal 23:13-14 memberitahukan tugas orangtua dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Perhatikan ayat 13 dimana dikatakan, “Hendaklah engkau (para orangtua) tidak menahan didikan dari seorang mudah (anak – child).” Jangan pernah berpikir bahwa anakmu masih kecil dan engkau tidak tega untuk mendisiplinkannya. Frasa selanjutnya memberitahukan “sebab ketika engkau memukulnya dengan tongkat, ia tidak akan mati.” Frasa ini menunjuk pada disiplin anak dimana orangtua harus menghukum anak-anaknya yang tidak taat dan memberontak terhadap perintah. Jangan segan-segan memukul anak yang salah. Kata “memukul” di sini tidak sama dengan kata “memukul” di ring tinju. “Memukul” di sini lebih pada memberikan disiplin kepada si anak dengan memukulnya dengan tongkat atau rotan. Ingatlah selalu ketika orangtua memukul atau mendisiplinkan anaknya, ia harus menyadari bahwa ia melakukan itu karena perintah Tuhan. Oleh karena itu ia harus melakukannya dengan penuh kesadaran untuk mengubah prilaku si anak dan bukan untuk memukulnya agar ia mampus hingga berdarah-darah atau orangtua melampiaskan amarahnya sendiri. Jika orangtua dalam keadaan emosi pada saat anaknya melakukan kesalahan, maka sebaiknya disiplin yang akan diberikan kepada anak ditahan dulu hingga rasa emosi itu surut. Bukan berarti ditahan untuk berjam-jam atau berhari-hari kemudian. Saya tidak bermaksud demikian. Saya lebih menekankan untuk menenangkan diri dan berdoa kepada Tuhan agar emosimu terkontrol dan mintalah pertolongan Tuhan. Dengan kata lain, jikalau engkau emosi maka tenangkan hatimu dan berdoalah kepada tuhan, baru kemudian engkau menerapkan disiplin kepada anakmu. Hal ini penting agar disiplin tidak disalahgunakan (abuse) untuk memuaskan atau melampiaskan emosi. Tujuan utama disiplinkan adaah untuk mengubah prilaku si anak dan agar ia menyadari kesalahannnya. Janganlah memukul si anak tanpa ia menyadari kesalahannya. Jadi orangtua harus meminta anaknya menjelaskan kesalahannnya, baru kemudian memberikan hukuman yang pantas diberikan.

Jika ingin memukul anak yang tidak taat dan salah, maka lalukanlah itu dengan “tongkat” atau “rotan.” Ini adalah istilah yang biasa dipakai. Bisa saja memakai lidi atau kayu lainnya. Jika engkau memukul tangan si anak, tujuannya bukan agar si anak memiliki tangan yang patah atau berdarah-darah, atau jikalau memukuk kaki, tujuannya bukan agar si anak tidak bisa berjalan atau pinjang. Hal seperti itu bisa terjadi jikalau orangtua menghukum si anak dalam keadaan emosi dan lepas kontrol. Jadi ingatlah selalu, bahwa engkau menerapkan disiplinkan kepada anak-anakmu karena engkau mengasihi mereka dan mengiginkannya berubah dan karena engkau menaati perintah Tuhan.

Lihatlah apa yang disampaikan dalam ayat 14, “Engkau memukulnya dengan tongkat, tetapi engkau melepaskannya dari alam maut.” Dalam Alkitab bahasa Inggris ayat ini dituliskan demikian, “Thou shalt beat him with the rod, and shalt deliver his soul from hell” (Proverbs 23:14). Inilah janji Tuhan bagi orangtua keluarga Kristen. Disiplin dan pukulan yang engkau berikan kepada anak-anakmu akan menyelamatkan anakmu dari alam maut yaitu neraka. Pukulan yang diberikan dengan kasih sayang kepada anak-anakmu tidak akan membuat anak-anak menjadi benci bagi orangtuanya. Mungkin hal itu bisa terjadi jika orangtua melakukan pukulan tanpa penjelasan. Itulah sebabnya orangtua harus menyadari bahwa ia melakukan hal itu karena ia menaat Tuhan.

Masa modern sekarang ini, atas nama hak azasi manusia seperti di Amerika, orangtua dianggap melanggar HAM atau undang-undang jikalau kedapatan memukul anak-anaknya. Semua ini terjadi karena mereka mengagungkan printah atau undang-undang buatan manusia berdosa dan mengabaikan perintah dan undang-undang buatan Tuhan yang Kudus. Keluarga Kristen harus lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kisah 4:19). Jikalau keluarga Kristen gagal mendisiplinkan anak-anaknya dalam rumahnya karena kasih sayang, tidak tega dan takut pada peraturan buatan manusia, maka saatnya akan tiba bahwa anak-anaknya akan ditendang, dipukul hingga berdarah-darah bahkan lumpuh di luar sana, yang jauh lebih kejam dan tidak memperdulikan peraturan buatan manusia. Karena kesalahan yang diperbaut dan tidak taat pada otoritas ia bisa ditangkap polisi, disiksa dan di penjara, dan si sana tidak ada yang perduli apa itu hak azasi manusia. Semua ini akan terjadi jikalau keluarga Kristen tidak mendisiplinkan anak-anaknya sesuai dengan Firman Tuhan. Tentu tak seorangpun orangtua menginginkan anak-anak yang ia kasihi disiksa dan dipukuli oleh karena kesalahan yang ia perbuat. Anak yang ia jaga dan besarkan, yang tidak rela digigit nyamuk sekalipun semasa kecilnya, haruslah dididik dan dibesarkan dengan petunjuk dan panduan dari Tuhan.

Kapan Disiplin Bisa Diterapkan kepada seorang anak

Saya tahu ada banyak pendapat tentang hal ini. Namun saya tidak akan mengangkat apa yang orang lain sampaikan karena tiap-tiap anak memiliki tingkat pengertian dan kesadaran yang berbeda-beda. Namun secara umum disiplin bisa dilakukan kepada anak sedini mungkin ketika si anak sudah memahami apa itu perintah dan aturan orangtua. Misalnya jika seorang bayi berumur dua tahun sudah memahami perintah ayah dan ibunya maka saat itulah disiplin bisa diterapakan. Jika seorang anak baru bisa memahami nasihat dan perintah orangtua pada umur dua setengah tahun maka saat itulah disiplin dilakukan. Untuk hal ini saya ingin sampaikan bahwa beda anak akan memiliki perbedaan tingkat pemahaman dan tidak ada batasan umur untuk hal ini.

Saya mengingat seorang teman, penginjil di gereja yang memiliki seorang anak perempuan yang baru berumur dua tahun. Dalam suatu Camp gereja, anaknya bertingkah di meja makan, tidak mau makan dan membuang-buang makanan. Ibunya mengingatkannya untuk tidak melakukan hal itu, jika tidak ia akan mendapatkan rotan. Sang ayah mencoba membujuknya dengan kasih sayang dan menawarkan diri untuk memangku dan menggedongnya, namun tawaran itu ditolak. Si anak tetap saja pada pendiriannya dan tidak mau berhenti melakukan apa yang dilarang. Maka sang ibu, mengangkat anaknya dan beranjak dari meja makan. Si anak sudah tahu apa yang akan ia terima. Lalu ia menangis dan menolak apa yang ibunya lakukan dengan membawanya keluar ruangan. Dari luar ruangan makan terdengar teriakan dan tangisan si anak, karena disiplin dan pukulan ibunya. Tidak lama kemudian, si anak terdengar diam. Ibunya terdengar menjelaskan kenapa ia harus dipukul dan disiplinkan. Lima menit kemudian, sang ibu bersama anaknya memasuki ruang makan kembali dan menempatkan si anak di tempat duduknya. Meskipun masih terlihat air mata di pipinya, ia sudah berubah, ia makan dengan lahap dan apa saja diberikan ibunya diterima dan dimakan. Ia berubah karena disiplin yang baru saja diterima. Apakah si anak membenci ibunya? Tentu tidak! Hal itu terbukti, sesudah selesai makan, si anak meminta mamanya untuk menggendongnya dan kemudian ia tertawa terhadap orang-orang yang ada di sekitar meja padahal sebelum disiplin, ia menolak semua tawaran kedua orangtuanya. Inilah perubahan yang terjadi.

Disiplin bisa diterapkan kepada semua anak keluarga Kristen dengan mengingatkan mereka untuk menaati printah Tuhan. Gereja saya di Singapura memiliki keyakinan bahwa orangtua dan anak-anak harus melakukan ibadah bersama pada hari Minggu. Jadi kami tidak memiliki ibadah khusus untuk anak-anak Sekolah Minggu, mulai anak yang baru lahir hingga orangtua lanjut usia melakukan ibadah bersama di ruangan yang sama. Anak-anak yang sudah bisa duduk sendiri tanpa pangawasan orangtua akan duduk dibarisan paling depan dan anak-anak yang masih membutuhkan perhatian orangtua khususnya yang berumur tiga tahun ke bawah akan duduk disamping orangtuanya. Hal seperti ini bukan hanya terjadi pada hari Minggu tetapi juga pada saat Kebaktian Doa yang dilakukan setiap minggunya. Apakah anak-anak akan ribut dan berisik terutama jika anak-anak duduk bersama sebanyak 40-50 orang? Jawabannya tidak, karena disiplin dilakukan dan teguran selalu diterapkan. Sesekali akan ada suara khususnya dari pendatang baru yang belum memahami disiplin dan itu bisa dimaklumi, tetapi pada saat itu juga anak-anak harus diingatkan bahwa mereka sedang menyembah Tuhan. Selama satu jam pertama ibadah berlangsung, setiap anak bisa diam tanpa suara dalam ibadah, termasuk semasa doa syafaat yang berlangsung agak lama. Menjalang pemberitaan Firman Tuhan, maka anak-anak Sekolah Minggu diminta meninggalkan ruangan ibadah menuju kelas masing-masing dan di sana mereka akan mendapatkan pembelajaran Firman Tuhan.

Mungkin banyak orang akan berpikir bahwa hal itu tidak bisa dilakukan tetapi jika disiplin diterapkan maka semuanya bisa berubah, tentu tidak berlangsung sekecap mata dibutuhkan waktu dan disiplin. Orangtua memiliki partisipasi dalam mencapai tujuan ini, jika orangtua tidak melakukan tanggungjawabnya maka mereka akan dipermalukan anak-anaknya di ruang ibadah. Hal ini bukan hanya bisa diterapkan pada saat kebaktian tetapi juga dalam segala keadaan. Jika engkau tidak mendisiplinkan anak-anakmu sejak dini maka bisa saja keadaannya sudah agak terlambat. Engkau hanya bisa mengharapkan kemurahan Tuhan terjadi bagi anak-anakmu.

Namun demikian dalam hal kerohanian tidak ada yang namanya sudah terlambat. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah dilakukan sama sekali. Oleh karena itu, bagi para suami, kumpulkanlah anggota keluargamu, dan ambillah suatu keputusan untuk melakukan renungan dan pembelajaran Firman Tuhan setiap hari di rumahmu. Pada momen itulah engkau sebagai pemimpin rohani memberitahukan kerinduanmu dan mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anakmu. Itulah momen berharga bagimu sebagai suami dan pemimpin rohani dimana engkau berbicara dengan otoritas karena engkau memiliki kerinduan memimpin keluargamu sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah momen pengimplitasian disiplin dalam keluargamu. Pada awalnya mungkin terlihat kikuk dan kaku, tetapi waktu akan membuktikan pertumbuhan. Mungkin engkau tidak bisa memaparkan banyak penjelasan Firman Tuhan tetapi paling tidak sebagai satu keluarga engkau memiliki waktu untuk membaca Firman Tuhan dan berdoa serta mendengarkan isteri dan anak-anakmu berbicara dan menyampaikan pergumulan mereka. Biasakanlah untuk meminta anggota keluargamu menyampaikan ucapan syukur dan permohonan doa sebelum doa bersama atau doa bergilir dilakukan. Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka engkau sebagai orangtua akan melihat perubahan yang luar biasa terjadi dalam hidup anak-anakmu. Engkau akan melihat janji-janji Tuhan nyata dalam kehidupan anak-anakmu. Engkau akan dengan pasti mengetahui bahwa anak-anakmu sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.