Kekristenan Dan Keselamatan Kekal

KEKRISTENAN DAN KESELAMATAN KEKAL

Oleh Samson H

Dunia Kekristenan sekarang ini memiliki berbagai corak dan warna berbeda-beda. Antara satu kelompok gereja dengan lainnya memiliki perbedaan besar, baik dalam hal cara beribadah dan menafsirkan Kitab Suci. Masing-masing kelompok merasa bebas memberi arti Firman Tuhan demi menyelaraskan keyakinan khas masing-masing tanpa memperdulikan keutuhan dan keharmonisan antara satu ayat dengan ayat-ayat lainnya. Terjadinya penafsiran keliru dan bertentangan antara satu ayat dengan ayat lain tidak lagi menjadi hal yang dihindarkan para pemimpin gereja dan teolog. Misi utamanya hanya bagaimana mensukseskan teologi buatan mereka tanpa memperdulikan apa yang diajarkan dan disabdakan Tuhan dalam FirmanNya.

Sikap meremehkan kebenaran Firman Allah tidak lagi hal ganjil tetapi sudah menjadi hal biasa di dalam gereja sekarang ini. Banyak orang hanya mengamini apa yang diucapkan para pemimpin gerejanya tanpa melihat apa yang disampaikan Alkitab tentang apa yang diajarkan. Mengamini ucapan dan penafsiran keliru seakan memberi kesan bahwa ucapan pemimpin gereja lebih tinggi dari ketetapan Allah dalam FirmanNya. Hanya karena seorang pemimpin mengatasnamakan Tuhan Yesus, banyak pengikutnya dibutakan dan tidak melihat kebenaran Alkitab sehingga mereka tidak lagi perduli untuk mencaritahu maksud Firman Allah. Mereka merasa puas dengan apa yang diutarakan para pengkhotbah dan mengamini setiap apa yang diajarkan.

Berbagai pandangan tentang keselamatan

Dalam hal tentang keselamatan di dalam Kristus, berbagai gereja sepertinya memiliki pengertiannya sendiri tentang apa yang dimaksud Alkitab. Ada kelompok gereja yang mengumandangkan bahwa setiap yang percaya pada Yesus Kristus akan memperoleh keselamatan tanpa menekankan pertobatan dari dosa-dosa mereka. Kelompok ini tidak segan-segan mengkhotbahkan dari mimbar, bahwa pada saat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, ia akan selamat untuk selamanya meskipun tidak bertobat dan tidak meninggalkan dosa-dosanya. Yang terpenting bagi mereka, seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan itu sudah cukup. Ia tidak diajarkan kebenaran untuk hidup kudus dan hidup berkenan kepada Tuhan. Kelompok ini tidak mempercayai ajaran seperti itu dan mereka merasa tidak perlu meninggalkan kebiasaan buruk dan dosa yang diperbuatnya selama ini.

Ada juga kelompok gereja yang tidak memperdulikan dan tidak menekankan keselamatan di dalam Kristus. Para pemimpin gereja kelompok ini pun tidak memiliki keyakinan akan keselamatan dan hidup kekal. Para pemimpin dan pengikutnya mempercayai bahwa tidak ada yang tahu akan keselamatan dan hidup kekal selagi masih hidup di dunia ini karena keselamatan dan hidup kekal adalah rahasia Tuhan. Jemaat gereja hanya didorong untuk berbuat baik dalam hidupnya. Perbuatan baik inilah nantinya yang menjadi pertimbangan Tuhan dalam menentukan apakah ia akan masuk sorga atau tidak. Karena ketidakpastian keselamatan ini maka mereka juga tidak bisa memastikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia satu-satunya. Mereka cenderung melihat bahwa semua agama menuju satu tempat yang sama yaitu sorga. Kelompok ini sering dikenal dengan kelompok liberal.

Ada juga kelompok gereja yang begitu berapi-api mengumandangkan keselamatan di dalam Kristus Yesus, namun tidak mempercayai bahwa keselamatan dan hidup kekal diperoleh hanya dengan mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Percaya kepada Yesus dianggap tidak cukup untuk mendapatkan jaminan keselamatan dan hidup kekal. Bagi mereka, percaya kepada Yesus Kristus harus disertai dengan bahasa lidah atau bahasa Roh sebagai syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan dan hidup kekal. Jika tidak demikian, orang yang mengaku dan mempercayai Yesus tidak akan pernah masuk ke dalam kerajaan Sorga. Dengan kemampuan berbahasa roh dianggap sebagai peningkatan status kerohanian yang lebih tinggi dan pasti. Oleh karena itu mereka berpacu untuk memperlolehnya. Rasa bangga dan lebih rohani menjadi hal yang menonjol begitu seseorang mampu berbahasa roh sebagaimana diklaim. Dalam berbagai kesempatan, para pemimpin kelompok ini mencoba memutarbalikkan arti Firman Tuhan hanya untuk menyelaraskan ajaran mereka.

Ada lagi kelompok gereja yang mengumandangkan bahwa percaya kepada Yesus Kristus adalah cukup untuk memperoleh jaminan keselamatan dan hidup kekal. Beriman pada Kristus sudah cukup untuk membawa seseorang masuk ke dalam sorga. Namun sebagai orang percaya, pertobatan harus mengawali dedikasinya dalam mengikuti Kristus dan ajaranNya. Seorang percaya harus membuktikan kesetiaan, dedikasi, komitmen dan ketaatannya kepada Tuhan dan FirmanNya, karena hanya dengan demikian ia bisa mengklaim sebagai anak Tuhan. Hidup kudus dengan pertolongan Roh Kudus adalah target yang harus dicapai selama masih hidup di dunia ini.

Pandangan Keselamatan dalam Sekolah Teologi

Adanya berbagai pandangan tentang keselamatan di dalam Kristus Yesus juga berdampak pada seseorang yang ingin menempuh pendidikan di Sekolah Teologia. Apa yang diyakini empat kelompok gereja di atas juga terefleksi dalam syarat-syarat untuk menjadi mahasiswa di sekolah-sekolah Teologi yang berafiliasi dengan gereja-gereja itu. Bagi gereja yang mempercayai keselamatan adalah rahasia Tuhan, tidak mensyaratkan calon mahasiawa untuk menuliskan kesaksian keselamatan dan panggilan untuk menjadi hamba Tuhan di sekolah-sekolah teologia yang berafiliasi dengan gereja itu.  Mereka mengasumsikan bahwa sekolah teologia sama seperti universitas pada umumnya. Mereka hanya menekankan kemampuan intelektual dalam menerapkan ilmu teologi yang dipelajari di sekolah teologi. Jadi bagi mereka, siapa saja bisa menjadi mahasiswa di Sekolah Teologi dan bukan karena panggilan untuk menjadi seorang hamba Tuhan yang akan melayani Tuhan dalam gereja sepenuh waktu.

Bagi Sekolah Teologia yang berafiliasi dengan gereja yang mempercayai bahasa roh sebagai syarat mutlak keselamatan akan menerapkan syarat itu sebagai salah satu syarat mutlak dalam menempuh pendidikan di Sekolah Teologia mereka atau yang berafiliasi dengan gereja itu. Sementara bagi kelompok gereja yang mempercayai keselamatan hanya diperoleh dengan mempercayai Tuhan Yesus Kristus akan mencantumkan kesaksian keselamatan menjadi salah satu syarat penting dalam menempuh pendidikan di Sekolah Teologi. Syarat lain yang sama dengan itu, setiap calon mahasiswa harus melampirkan kesaksian panggilan untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Hal ini disebabkan karena seorang yang ingin menjadi hamba Tuhan pasti memiliki panggilan khusus dan itulah yang mendorongnya untuk mendedikasikan seluruh hidupnya menjadi seorang pelayan Tuhan. Panggilan itu hanya dimiliki mereka yang sudah memiliki keselamatan di dalam Krisus Yesus. Panggilan ini sering dikenal dengan panggilan kedua. Panggilan pertama adalah panggilan keselamatan dimana orang berdosa dipanggil dari dunia ini untuk diselamatkan dan hidup kudus, membenci dosa dan segala keinginannya.

Kembali Pada Firman Tuhan

Dari penjabaran di atas terlihat jelas bahwa Kekristenan memiliki berbagai pandangan tentang keselamatan di dalam Kristus. Perbedaan pandangan ini tentu mempengaruhi setiap jemaat dalam memandang keselamatan yang dijanjikan Kristus dalam FirmanNya. Dengan adanya perbedaan ini, jikalau seseorang memberi penjelasan tentang keselamatan di dalam Kristus, orang lain bisa menyanggah dan berkata, “Itu menurut pendapatmu dan bukan menurut pendapat kami karena ajaran kami berbeda.” Alkitab seakan-akan menjadi kebenaran relatif dan bukan kebenaran mutlak. Kebenaran seakan bergantung pada bagaimana seseorang menafsirkan Firman Allah. Ini berbahaya dan bisa merusak Kekristenan

Bagi seorang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dan memiliki dedikasi, kesetiaan dan ketatan pada Firman Tuhan, ia sesungguhnya bisa memahami umumnya maksud Alkitab di saat membacanya tanpa dibantu seorang teolog dan pendeta. Ia bisa menelaah Firman itu sesuai dengan kebutuhannya dan itulah sebabnya Tuhan memerintahkan umat percaya untuk merenungkan Firman Allah siang dan malam (Mazmur 1:1-2) karena Tuhan akan memberi pengertian dan hikmat untuk memahaminya. (Ini tidak menyangkal bahwa ada bagian Firman Allah yang susah dipahami dimana seseorang membutuhkan bantuan dari orang Kristen dewasa dalam memahaminya). Oleh karena itu, seorang percaya bisa melakukan pemeriksaan kembali pada Firman Allah ketika mendengarkan suatu khotbah atau pengajaran ganjil atau asing. Tanggungjawab seorang pengikut Kristus untuk memeriksa suatu ajaran yang terdengar aneh dan bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan (ref. 2 Timotius 2:15).

Tokoh Reformator, Martin Luther, melakukan hal yang sama ketika ia menganalisa pengajaran-pengajaran gereja Katolik Roma pada masa itu. Ia tidak tinggal diam dan menikmati jabatannya di gereja yang membesarkannya. Ia mendedikasikan waktu untuk mencaritahu maksud Firman Allah dengan mempelajarinya diam-diam. Ketika sudah menemukan maksud Firman Allah, ia kemudian mengajarkannya kepada orang-orang disekitarnya dan kemudian dengan pertolongan Tuhan melakukan protes terhadap gereja saat itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa gerakan yang dilakukannya akan menjadi awal terjadinya Reformasi Gereja dalam mengembalikan gereja kepada kebenaran Firman Allah di berbagai Negara.

Bagi seorang percaya saat ini, ia memiliki Firman Kebenaran sebagai pedomon dan pemimbing untuk mengetahui kebenaran Allah. Ia dengan bebas bisa membaca, merenungkan dan mempelajarinya demi pembangungan kerohanian yang semakin dewasa dan kudus. Ia tidak bisa tinggal diam ketika mendengarkan suatu ajaran keliru dan bertentangan dengan Firman Allah. Jikalau ia mengetahui kebenaran dan tetap memilih menjadi bagian dari gereja yang mengajarkan kekeliruan, ia tidak akan memiliki kedamaian hati, terutama ketika semakin menemukan pengajaran-pengajaran sesat dan keliru. Ia harus bangkit dan mencari gereja yang mengajarkan kebenaran dan bisa menuntunnya semakin dewasa di dalam Kristus.

Sudahkah Memiliki Keselamatan?

Pernahkah pertanyaan ini terlintas dalam pikiranmu? Barangkali engkau sudah lama mengklaim sebagai orang percaya dan pengikut Kristus. Atau mungkin sudah mengenal Kekristenan sangat lama karena dibesarkan dalam keluarga yang menamakan diri keluarga Kristen. Atau barangkali juga sudah sering mengikuti ibadah di berbagai gereja. Saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan semua kebiasaan ini, tetapi pertanyaan penting yang harus direnungkan saat ini, “Apakah engkau sudah memiliki keselamatan di dalam Kristus?” Engkau mungkin dengan mudah bisa menjawab atau mungkin masih memiliki keraguan. Pertanyaan selanjutnya yang sejalan dengan itu, Bagaimanakah mengetahui bahwa engkau sungguh-sungguh memiliki keselamatan di dalam Kristus?”

Pertanyaan terakhir inilah yang sering diabaikan banyak orang yang menamakan diri sebagai orang Kristen. Mereka tidak memperdulikan kesungguhan keyakinannya karena memiliki pengertian dan anggapan keliru. Bukan rahasi lagi bahwa ada banyak orang memiliki pengertian keliru tentang keselamatan di dalam Kristus. Kesalahan terbesar dimiliki mereka yang berasal dari keluarga Kristen. Mereka beranggapan dengan mengikuti ibadah pada hari minggu dan memiliki KTP yang mencantumkan agama Kristen, mereka telah mimiliki keselamatan. Mereka tidak bisa membedakan antara identitas di sebuah Negara sebagai orang Kristen dan identitas sebagai kewargaan sorga.

Perlu saya garisbawahi di sini bahwa mengikuti berbagai kegiatan gereja dan beribadah setiap hari minggu tidak membuat seseorang menjadi orang percaya dan memiliki keselamatan. Membaca dan menghafal ayat-ayat Alkitab tidak membuat seseorang menjadi orang percaya meskipun semua ini sangat penting dan harus dilakukan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di masa Tuhan Yesus adalah kelompok pemimpin agama Yahudi yang suka membaca Kitab Perjanjian Lama dan menghafal banyak sekali ayat-ayat Perjanjian Lama, tetapi apa yang mereka perbuat tidak menjadikan mereka sebagai orang percaya dan setia kepada Tuhan.

Markus 10:17-22 mencatat tentang seorang pemimpin agama Yahudi yang datang kepada Tuhan Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ayat 17). Ini pertayaan yang sangat penting dan setiap orang harus memikirkannya. Lukas 18:18 mencatat bahwa orang ini juga adalah seorang pemimpin sama seperti Nikodemus (seorang Farisi) yang datang kepada Yesus (Yohanes 3:1-13). Sebagai seorang Farisi, membaca dan menghafal ayat-ayat Perjanjian Lama merupakan kegiatan rutin sehari-hari. Tetapi jauh dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa hatinya hampa tanpa memiliki kepastian hidup kekal. Hatinya penuh keraguan dan ketidakpastian tentang keselamatan kekal. Ia sadar, membaca dan menghafal ayat-ayat Alkitab dan beribadah di Bait Allah serta berpuasa secara rutin tidak membuatnya semakin memiliki kepastian keselamatan. Itulah salah satu hal yang mendorongnya datang kepada Yesus Kristus. Ia melihat Yesus sebagai Rabi yang berbeda dari segala rabi yang mengajar di Israel dan ia ingin mendapatkan kepastiaan itu dari Yesus.

Jika memperhatikan perikope dalam Markus 10:17-22 sepertinya kedatangan seorang Farisi ini di satu sisi menunjukkan kesungguhannya ingin memperoleh hidup kekal. Itulah sebabnya ia berlari-lari untuk menjumpai Yesus. Setelah tiba, ia bertelut di hadapan Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ayat 17). Terlihat ada kesungguhan, dan berani berlutut dihadapan Yesus meskipun pada saat itu ada banyak orang Yahudi yang mengikuti Yesus, yang mungkin sekali di antara orang banyak itu ada yang sudah mengenalnya, namun ia tidak menghiraukan itu. Ia sangat berbeda dengan Nikodemus yang diam-diam datang kepada Yesus di malam hari karena mungkin takut terlihat orang lain.

Namun dibalik semua sandiwara orang Farisi ini, sebenarnya ia datang di hadapan Yesus bukan untuk menaati apa yang Yesus akan katakan. Sebagai orang Farisi ia tahu apa yang dituntut di Perjanjian Lama dari seorang percaya yaitu apa yang dicatat dalam Ulangan 6:5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Ia tahu dan telah menghafal ayat ini karena semua orang Yahudi harus mengafal ayat ini, tetapi hatinya tidak sungguh-sungguh menghasihi Tuhan. Ia menghafalnya dengan baik, namun tidak mendedikasikan hatinya untuk melakuka itu. Ia lebih mencintai harta daripada Tuhan. Ia tidak sendirian, karena semua orang Farisi seperti itu. Bisa saja ia sudah mencoba mendapatkan konfirmasi keselamatan dari kalangan pemimpin agama Yahudi lainnya, dan sudah memperolehnya. Namun karena Yesus begitu menonjol, ia juga ingin mendapatkan konfirmasi tentang keselamatannya dengan datang dan berlutut di hadapan Yesus. Ia mungkin berpikir bahwa Yesus akan berkata sama seperti apa yang disampaikan teman-temannya tentang kesalehan dan pengabdiannya terhadap Yudaisme. Jika seandainya menurut Yesus masih memiliki kekurangan ia rela membeli dengan sejumlah uang asalkan ia mendapatkan konfirmasi hidup kekal itu.

Yesus mengetahui segala apa yang ada di dalam hati orang Farisi ini, karena Ia adalah Tuhan yang Mahatahu dan tak ada yang tersembunyi dari hadapanNya. Lalu Yesus menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan, “Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja” (ayat 18). Orang Farisi ini tidak bisa menjawab apa-apa. Ia terdiam karena teologinya dangkal. Yesus di sini tidak menyangkal bahwa Ia baik. Arti dari perkataan Yesus di sini dimaksudkan untuk mendobrak pengetahuan orang ini. Ia sesungguhnya ingin menyampaikan, “jikalau engkau katakan Aku baik, dan yang baik itu hanyalah Tuhan saja, tentu engkau sudah harus mengetahui bahwa Aku adalah Tuhan.” Itulah maksud Yesus dengan pertanyaan itu. Namun Yesus tidak menunggu jawaban orang ini, Ia melanjutkan dengan sebuah pernyataan untuk mengetahui isi hatinya di hadapan orang banyak. Yesus berkata,

“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” (Markus 10:19).

Mendengar perkataan ini tentu orang Farisi ini merasa sangat terhibur karena apa yang baru ia dengar merupakan bagian dari sepuluh hukum Allah yang biasa diajarkan orang-orang Farisi. Lalu ia menjawab, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (ayat 20). Wah, jawaban luar biasa, bukan? Benarkah ia telah menuruti ajaran ini sejak masa mudanya? Untuk menyingkapkan kebohongannya, Yesus memberinya ujian, dan berkata bahwa ia hanya memiliki SATU kekurangan. Apakah itu? Yesus berkata demikian, “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (ayat 21).

Menurut Tuhan Yesus orang ini hanya memiliki satu kekurangan yaitu hatinya yang mencintai harta dan kekayaan. Itulah yang membuatnya tidak bisa hidup berkenan kepada Tuhan. Ia lebih mencintai harta daripada Tuhan. Maka Yesus memintanya untuk pergi menjual apa yang dimiliki dan membagi-bagikannya kepada orang miskin dan kemudian datang kepada Yesus dan mengikutiNya.

Ayat ini tidak mengajarkan, siapa yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus harus menjadi miskin terlebih dahulu. Orang kaya bisa saja mencintai Yesus Kristus seperti Zakheus yang rela memberikan separoh dari apa yang dimiliki untuk dibagikan kepada orang miskin. Itulah reaksi Zakheus setelah ia percaya kepada Yesus dan memperoleh keselamatan (Lukas 19:2-10). Zakheus di sini mengindikasikan bahwa yang paling penting dalam hidupnya bukanlah kekayaan itu tetapi Yesus Kristus dan hidup kekal. Ia memiliki persepsi berbeda tentang kekayaan dan harta setelah percaya pada Yesus.

Dari kisah di atas ada pelajaran penting yang perlu diketahui bahwa bisa saja seseorang begitu rajin ke gereja, berbidah dan membaca Alkitab setiap hari tetapi tidak memiliki kepastian keselamatan sama seperti seorang pemimpin yang datang kepada Yesus. Yang dituntut dari setiap orang yang menyatakan diri sebagai orang percaya adalah menyelidiki hatinya dan memastikan bahwa ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya. Ia dengan kesungguhan dan dedikasi mencintai Yesus dan mengikutiNya. Tidak ada yang paling berharga baginya selain dari Yesus Kristus yang rela mati bagianya ketika ia masih hidup di dalam dosa dan mencintai dosa. Ia mendedikasikan diri untuk menaati Kristus dan FirmanNya di sepanjang hidupnya.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa engkau memiliki keselamatan? Saya mengajak pembaca untuk melakukan PENGUJIAN PRIBADI (a self-test) dalam mengetahui sejauh mana keyakinan dan kepercayaanmu kepada Kristus serta ketaatanmu kepada perintah Kristus.