Kenapa Harus Menafsirkan Firman Tuhan?

KENAPA HARUS PERLU MENAFSIRKAN FIRMAN TUHAN?

oleh Samson H

Pernahkah kamu bertanya, kenapa harus menafsirkan firman Allah? Jika kamu pernah menanyakan hal ini kemungkinan besar kamu orang Kristen yang terus belajar dan mendalami firman Allah.

Seperti diketahui nabi Ezra dikenal sebagai Bapak Heremeneutika (Hermeneutika adalah seni dan ilmu tafsir). Dialah orang pertama yang menafsirkan Kitab Suci bagi umat Israel. Bagaimana sejarah terjadi penafsiran ini? Latarbelakang kejadian ini bermula ketika masa itu bangsa Israel dibuang ke Babilonia selama 70 tahun oleh karena ketidaktaatan dan pembrontakannya. Di Babilonia mereka mempelajari bahasa setempat, sedangkan bahasa Ibrani merupakan bahasa yang dipakai ketika ibadah diselenggarakan di rumah-rumah ibadat Israel yang dikenal dengan sinagoge (di sinilah awal mula berdirinya rumah-rumah ibadat Israel).

Namun bahasa sehari-hari dan resmi yang dipakai di Babilonia adalah bahasa Babilonia (Aramik) itu. Dengan demikian bisa dipastikan, ada banyak umat Israel yang tidak mengerti bahasa dan tulisan Ibrani terutama mereka yang lahir semasa pembuangan ini.

Sekembalinya dari Babilonia yang dipimpin Zerubabel, Ezra dan Nehemiah, mereka siap membangun kembali kota Yerusalem dan Bait Allah yang sudah dihancurkan Nabukadnezar. Meskipun dilalui dengan berbagai masalah dan tantangan, akhirnya pembangunan bisa dilakukan.

Pada suatu perayaan Pondok Daun, Ezra atas permintaan umat Israel membacakan Kitab Taurat Musa, “kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel” (Ezra 8:2) dan seluruh umat itu, laki-laki dan perempuan dengan penuh perhatian mendengarkan pembacaan kitab itu serta maknanya (Ezra 8:9).

Fakta ini memberikan petunjuk bahwa penafsiran firman dilakukan karena umat itu sudah tidak mengerti bahasa asli firman Allah sesuai dengan konteks, kultur dan tata bahasanya. Ezra sebagai pengantara berperan menjembatani kejenjangan ini dengan memberikan pengertian atas pembacaan Firman tersebut karena dialah yang mengerti bahasa Ibrani. Seperti diketahui kebanyakan umat Israel yang kembali dari Babilonia ini adalah mereka yang lahir di Babilonia. Mereka tidak memiliki pengertian bahasa Ibrani yang baik. Mereka juga tidak pernah melihat Yerusalem dan Bait Allah. Oleh karena itu sangat dibutuhkan penafsir yang bias mengerti bahasa Babilon (Aramik) dan Ibrani untuk menyampaikan penjelasan tentang apa yang telah disampaikan dalam Hukum Taurat. Penafsir harus menergeti bahasa asli Kitab Suci.

Penafsir di masa kini

Yang menjadi pertanyaan bagi kita saat ini adalah apakah mereka yang mengerti bahasa Ibrani dan Yunani sekarang ini juga membutuhkan penafsiran Firman Allah? Saat ini kekristenan ada di mana-mana termasuk di Negara Yunani dan Israel. Mereka tentu mengerti bahasa negera tersebut. Apa mereka juga membutuhkan penasifsiran untuk bias mengerti maksud Alkitab? Jawabannya sangat jelas bahwa mereka sangat membutuhkannya sama seperti kita tinggal di Negara kita.

Hal yang mendasari perlunya penafsiran Firaman Allah bagi semua orang Kristen dimana pun mereka berada adalah karena bahasa asli Alkitab (Ibrani, Yunani dan Aramik) sudah menjadi BAHASA MATI (dead language) atau BAHASA YANG TIDAK DIPAKAI LAGI sebagai ALAT KOMUNIKASI. Bahasa-bahasa tersebut merupakan bahasa kuno yang tidak sama dengan bahasa modern sekarang ini. Sementara bahasa Ibrani dan Yunani yang dipakai umat Isarel dan Yunani saat ini merupakan bahasa modern yang memiliki tata bahasa yang berbeda dari tata bahasa yang dimiliki bahasa asli Alkitab.

Tata-bahasa modern ini disusun berdasarkan perkembangan bahasa selagi bahasa itu masih dipakai sebagai alat komunikasi. Sementara tata-bahasa, bahasa asli Alkitab yang dimiliki oleh berbagai institusi seperti Sekolah Teologia dan Seminari Teologia di susun berdasarkan penganalisaan kalimat-kalimat dalam Kitab Suci yang dilakukan orang-orang tertentu setelah bahasa asli Alkitab sudah tidak dipakai lagi sebagai alat komunikasi. (Tidak ada buku tata bahasa yang ditulis sezaman dengan Alkitab, mulai dari Kitab kejadian hingga Wahyu. Tata bahasa yang dimiliki hanya berdasarkan analisa dan penelusuran kalimat-kalimat dalam Alkitab). Itulah sebabnya formula penulisan sebuah kalimat bahasa modern tidak bisa diaplikasikan dalam menganalisa kalimat dalam bahasa asli Alkitab karena kesemuanya sudah berbeda.

Pengalaman pribadi saya ketika di bangku kuliah menguatkan kesimpulan di atas. Setelah saya belajar bahasa Ibrani Alkitab selama 2 tahun (10 SKS), saya memiliki kesempatan untuk mempelajari bahasa Ibrani modern (Modern Hebrew) dari seorang kewarganegaraan Israel (Mrs Bathsheba) selama  1 tahun (4 SKS). Saya menyadari betapa berbedanya tata bahasa yang diaplikasikan antara bahasa Ibrani Alkitab dan Ibrani modern.

Hal terbenting lainnya yang tidak bias diabaikan di samping masalah tata bahasa, manusia modern sekarang ini tidak mengerti kultur dan sejarah isi tulisan Alkitab. Dengan kata lain bukan hanya masalah gap (jarak) tata bahasa ada tetapi juga gap (jarak) kultur dan sejarah. Kesemuanya ini menuntut suatu pengertian lengkap untuk bisa mengerti maksud suatu tulisan dalam Alkitab sesuai dengan maksud penulis (pembicara) aslinya. Orang yang mempelajari ilmu linguistik akan mengerti bahwa suatu tulisan harus dimengerti menurut kultur, sejarah dan tata bahasa di saat tulisan itu dituliskan.

Gereja membutuhkan penafsir Firman Allah

Berdasarkan fakta di atas, setiap orang Kristen membutuhkan penafsiran Firman Allah untuk mengetahui maksud tulisan Firman Allah. Ini justru jauh lebih penting lagi di masa Kekristenan sekarang ini. Sadar atau tidak, Kitab Suci (Alkitab) yang dimiliki di belahan bumi saat ini merupakan KITAB terjemahan bahasa Asli Alkitab (Ibrani, Yunani dan Aramik). Harus dijelaskan bahwa tidak semua Alkitab atau Bible diterjemahkan dari bahasa aslinya. Di berbagai Negara dan suku bangsa, banyak Alkitab yang dimiliki tidak diterjemahkan dari bahasa Aslinya tetapi dari bahasa Inggris.

Apa dampak pendekatan ini? Jika Alkitab diterjemahkan dari bahasa aslinya maka terjemahannya akan lebih baik, tetapi jika Alkitab diterjemahkan dari bahasa Inggris, kualitas terjemahan bergantung seberapa setia dan akuratnya terjemahan bahasa Inggris itu dari bahasa aslinya. Fakta menunjukkan bahwa jika dibandingkan suatu terjemahan Alkitab suatu bahasa atau suku bahasa dengan Alkitab bahasa atau suku bahasa, terdapat perbedaan arti yang mencolok.

Dengan menyadari fakta ini maka kebutuhan penafsir Firman Allah dalam gereja sungguh amat krusial agar umat Kristen bisa mendapatkan pengertian atau makna perkataan Allah yang dimaksudkan penulis. Ketika Firman Allah ditafsirkan, penafsir harus sadar bahwa dia bukan menyampaikan pendapatnya tentang arti naskah yang dikhotbahkan tetapi menyampaikan maksud penulis kitab tersebut. Jika Rasul Paulus yang menuliskannya, maka pengkhotbah atau pengajar harus menyampaikan maksud Paulus tersebut. Ini bukan pekerjaan ngampang dan sembarangan karaena ini kaitan erat dengan mati dan hidup pendengarnya. Coba bayangkan jika seandainya seorang pengkhotbah atau pengajar memberikan arti Firman Allah yang menyimpulkan “Nereka itu enak dan dingin karena ada air condition” atau mengatakakan bahwa “Yesus  belum lahir ke dunia,” hal ini akan menyesatkan. Itulah sebabnya pengkhotbah dan pengajar harus memiliki panggilan untuk tugas itu, karena dia akan bertindak sebagai jurubicara Tuhan dalam menyampaikan Firman Allah. Dia harus memiliki perasaan takut ketika ingin menyampaikan maksud Firman Allah dan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang ia sampaikan adalah maksud Firman Allah. Petrus menyampaika nasihat ini,

“Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam  Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:20-21).

Dengan tujuan mulai inilah maka mata kuliah bahasa Ibrani, Yunani dan Aramik merupakan mata kuliah HARUS di Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari Teologia agar para calon hamba Tuhan yang sedang menempuh pendidikan dipersiapkan menjadi penafsir-penafsir handal yang nantinya menjadi pengajar-pengajar Firman Allah. Tetapi sangat disayangkan, tidak banyak Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari yang memberikan perhatian serius tentang hal ini. Kecenderungan Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari hanya memasukkan mata kuliah ini sebagai pelengkap saja dan bukan sebagai mata kulia inti. Para mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia hanya dituntut untuk membelajarinya selama 1 tahun saja sebagai dasar pengenalan saja. Mengetahui abjad dan beerapa kosa kata sudah dianggap cukup. Bahkan banyak Sekolah Tinggi Teologia telah mengabaikan mata kuliah ini dan mengganggapnya sebagai mata kuliah yang tidak penting. Mereka membuang mata kuliah ini dan menggantikannya dengan mata kuliah sekuler seperti psikologi dan konseling secular. Sebagai akibatnya, tidak banyak hamba-hamba Tuhan dan pemimpin-pemimpin gereja yang mengerti bahasa Ibrani dan Yunani dengan baik. Pada hal, fakta sehari-hari menunjukkan, dengan munculnya berbagai pengajar-pengajar sesat dan keliru, serta berbagai macam penafsiran modern menuntut para hamba-hamba Tuhan untuk lebih berwaspada dan menyelidiki keabsahaan ajaran-ajaran itu dari bahasa asli Alkitab.

Sadar atau tidak, Sekolah-Sekolah Tinggi Teologia masa kini telah melakukan kesalahan total dalam mempersiapkan mahasiswanya sebagai hamba-hamba Tuhan. Dengan mengurangi dan meniadakan bobot mata kuliah bahasa Ibrani dan Yunani justru sesungguhnya membuat mahasiswanya menjadi hamba-hamba Tuhan yang tidak tangguh menghadapi pengajar-pengajar sesat menjelang akhir zaman. Mereka menjadi pelayan yang mudah diombang-ambingkan pengajaran-pengajaran yang tidak jelas. Sebagai akibatnya jemaat terjerumus mempercayai berbagai-bagai ajaran.

Pada umumnya alas an dikurangi atau ditiadakannya bobot mata kuliah bahasa Ibrani dan Yunani didasarkan pada anggapan TERLALU SULIT untuk dipahami. Asumsi inilah yang memaksa Sekolah-Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari menjadikan mata kulian ini menjadi elektif dan bukan keharusan. Fakta menunjukkan Sekolah-Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari yang menetapkan mata kuliah bahasa Ibrani dan Yunani suatu keharusan untuk kelulusan, sekolah tersebut akan kewalahan mendapatkan murid. Sementara sekolah-sekolah yang meniadakan mata kuliah ini, kebanjiran murid tiap tahunnya. Intinya, calon-calon hamba Tuhan tersebut tidak mau berjuang mempelajari bahasa asli Alkitab karena menganggap bisa menghambat kelulusannya kelak. Di sinilah letak kerusakan sistem perkuliahan di sekolah-sekolah teologia. Sadar atau tidak, mereka telah dipengaruhi oleh sistem pendidikan Sekolah Tinggi sekuler yang memfokuskan pada konsep “cepat lulus.”

Hal inilah juga yang merusak mental para mahasiswa Teologia. Coba perhatikan di berbagai Sekolah Tinggi Teologia, semakin tinggi Akumulatif Indeks Prestasi yang ditetapkan, maka semakin sedikit murid yang mendaftar ke sekolah tersebut. Tetapi justru sebaliknya semakin rendah akumulatif indeks prestasi yang ditetapkan suatu sekolah, semakin banyak murid yang belajar. Artinya seandainya sebuah sekolah tinggi teologia mengumumkan bahwa “belajar 2 tahun, bisa dapat gejalar Sarjana” maka akan banyak orang berbondong-bondong mendaftar ke sekolah tersebut.” Sangat menyedihkan bukan!

Kejadian seperti ini semata-mata bukan sesalahan calon para mahasiswa tetapi juga kesalahan para hamba-hamba Tuhan dimana mereka beribadah. Pada umumnya seorang calon mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia harus mendapatkan rekomendasi dari hamba Tuhan di mana dia bergereja. Tentu hal ini bukan sekedar mendapatkan surat rekomendasi tetapi pastinya antara hamba Tuhan dan calon mahasiswa menjalin suatu komunikasi dan diskusi mengenai sekolah tinggi teologia yang ingin didaftarkan. Umumnya, seorang calon mahasiswa memilih suatu STT berdasarkan rekomendasi hamba Tuhan. Bisa saja karena ia merupakan lulusan STT tersebut atau merupakan sekolah yang dinaungi oleh denominasi gereja tersebut. Intinya, peran seorang hamba Tuhan di sebuah gereja menentukkan masa depan keperdulian calon hamba mahasiswa terhadap arti Firman Allah. Jika seorang gembala tidak merasa perlu belajar bahasa asli Alkitab maka ia tidak akan menyarankan jemaatnya untuk memasuki sekolah yang menetapkan bahasa asli Alkitab sebagai keharusan.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa para calon hamba Tuhan lebih mementingkan gelar Sarjana ketimbang mengerti Firman Allah? Kenapa Sekolah Tinggi Teologia dan Seminari yang baik diabaikan sementara Sekolah Tinggi Teologia abal-abal dibanjiri banyak orang? Jawabannya karena mereka hanya ingin mendapatkan secarik kertas yang namanya izajah ‘Sarjana” dan bukan pengetahuan Firman Allah. Inilah yang menyedihkan kekristenan. Apakah Timotius mendapatkan gelar “Sarjana” sehingga ia layak menjadi seorang hamba Tuhan atau gembala jemaat? Dia tidak mendapatkan itu tetapi dia mendapatkan pengetahuan dan bimbingan dari Rasul Paulus yang mempersiapkan dia sebagai seorang hamba Tuhan yang setia. Dia mengetahui Firman Allah dan mempeljarinya dengan penuh dedikasi. Gelar “sarjana” tidak menjamin seseorang mengerti maksud Firman Allah. Pada prinsipnya ketika seseorang menuruti panggilan Tuhan sebagai hamba Tuhan, dia harus memperlengkapi dirinya dengan mempelajari dan mendalami Firman Allah agar menjadi layak sebagai hamba Tuhan. Rasul Paulus menyampaikan pesan ini kepada hamba Tuhan muda, Timotius,

“Study to show thyself approved unto God, a workman that needeth not to be ashamed, rightly dividing the word of truth” (2 Timothy 2:15).

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang perkerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15).

Hal mendasar lainnya yang mendorong perlunya mempelajari bahasa asli Alkitab adalah karena kenyataannya bahasa yang dimiliki suatu Negara atau daerah tertentu memiliki keterbatasan kosa kata sehingga mengurangi makna bahasa aslinya. Dalam keadaan seperti ini paran penerjemah terpaksa harus menggantikannya dengan kata yang agak mirip. Sebagai informasi, bahasa yang paling dekat dengan bahasa asli Alkitab dari segi jumlah kosa kata dan keakuratan tata bahasa adalah bahasa Inggris. Itulah sebabnya di berbagai Sekolah Tinggi Teologia dunia, bahasa inggris dipakai sebagai bahasa pengantar dalam pembelarajan bahasa Ibrani dan Yunani Alkitab demi mempermudah penyerapan konsep dan prinsip tata bahasanya.

Namun demikian sangat perlu digarisbawahi, bahwa jika tidak memiliki pemahaman bahasa asli Alkitab (Ibrani, Yunani dan Aramik) bukan berarti tidak bisa mengerti maksud Firman Allah. Arti Firman Allah bisa diperoleh asalkan ia mempelajarinya dengan serius dan mendedikasikan waktunya untuk membaca penjelasan-penjelasan yang ditulis orang-orang yang telah mengerti bahasa asli Alkitab. Hanya saja waktu yang dipakai seorang yang mengerti bahasa asli Alkitab dalam mempelajari suatu ayat Alkitab akan lebih sedikit dibanding dengan mereka yang tidak mengerti bahasa asli Alkitab.

Bagi mereka yang tidak mengerti bahasa asli Alkitab (Yunani dan Ibrani) ada satu hal penting yang harus diperhatikan ketika ingin mendalami arti Firman Allah yaitu “berhati-hatilah dalam memakai suatu buku tafsiran sebagai pedoman karena buku tersebut tetap sebagai tafsiran yang pasti mengandung banyak kekurangan dan kekeliruan.” Jika ragu terhadap suatu buku tafsiran tertentu, alangkah berkhimatnya jika meminta pendapat hamba Tuhan atau gembala sidang sendiri agar nantinya tidak mengadopsi suatu ajaran sesat.

Hal yang tidak kalah pentingnya dan tidak bisa diabaikan bagi setiap penafsir Firman Allah adalah DOA DAN KERENDAHAN HATI. Siapapun yang ingin mengerti firman Allah harus memiliki kedua hal ini. Jadikanlah Firman Tuhan itu menjadi doa kamu setiap saat. Pastikan Firman Allah yang ingin disampaikan kepada jemaat sudah menjadi berkat rohani bagi kamu dan seisi rumah kamu. Jangan pernah mempersipakan khotbah untuk orang lain atau jemaat tetapi siapkanlah itu untuk kamu dan seisi rumahmu.

Percayakan seluruh proses pembelajaran penafsiran Firman Allah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus menjadi pengajar kamu agar kamu bisa melihat apa maksud Allah ketika Allah menyampaikan Firman itu melalui hamba-hambaNya yang menuliskannya. Jika tidak demikian Roh Kudus tidak akan memberikan pengertian kepada kamu tetapi membutakan matamu dari kebenaran. Di sinilah letak bahaya bagi orang-orang yang mengerti bahasa asli Alkitab. Mereka cenderung mengandalkan kemampuan dan pengertian bahasa asli yang dimiliki tetapi melupakan DOA. Mereka beranggapan dengan melihat bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) mereka sudah mengetahui maksud Firman yang ingin diajarkan atau dikhotbahkan. Mungkin hal itu benar tetapi, jika mereka tidak bersandar kepada Tuhan dan Roh Kudus tidak menolong mereka, sebagus apapun khotbah yang dipersiapkan, dan sejelas apapun arti Firman Allah yang akan disampaikan, semua itu tidak akan pernah mengubah hati orang yagn mendengarnya. Jemaat tidak akan berubah dan rohani. Mereka mungkin mengatakan khotbahnya bagus tetapi tidak memberikan dampak apa-apa dalam hidup mereka. Pemabuk tetap minum agurnya, penjudi tetapi melakukan hobinya, pembohong bersukacita dalam kebohongannya, pelaku kejahatan beria-ria dengan usahnya dan jemaat tidak mengalami suatu kebangunan rohani. Janganlh bermain-main dengan Firman Allah. “Tangan kotor tidak bisa menyentuh Firman Allah” dan pastikan kamu layak sebagai pelayan Firman di hadapan Allah. KERENDAHAN HATI cenderung hilang dari mereka yang mengerti bahasa asli Alkitab. Berhati-hati dan waspadalah selalu. Yohanes Calvin memberikan tiga rumus penting dalam mengerti Firman Allah: yang pertama: (1) KERENDAHAN HATI, dan (2) KERENDAHAN HATI dan (3) KERENDAHAN HATI. Milikilah itu!