Kompatibilitas Pramilenialisme Dengan Teologi Kovenan

KOMPATIBILITAS PRAMILLENNIALISME DENGAN TEOLOGI KOVENAN

oleh Samson H

Meskipun Kekristenan terdiri dari berbagai denominasi dan mengadopsi pendekatan teologi berbeda-beda, kenyataannya ada dua jenis sistem teologi yang dikenal luas di lingkungan Kekristenan khususnya kelompok injili, yaitu sistem Teologi Kovenan dan Dispensasionalisme. Ketika mengamati berbagai gereja dan buku-buku Kristen di berbagai toko buku, kedua sistem ini terefleksi dan mendominasi di berbagai Negara. Walaupun ada banyak denominasi gereja yang tidak secara terus terang mengidentifikasikan sistem teologi yang diadopsi, tetapi dengan mempertimbangkan doktrin-doktrin yang tercantum dalam pengakuan iman dan pendekatan yang diadopsi mereka, bisa disimpulkan umumnya gereja-gereja di Indonesia mengadopsi salah satu dari kedua sistem ini. (Gereja-gereja liberal tidak mengadopsi sistem teologi tertentu).

Kepopuleran kedua sistem ini sungguh tidak bisa dipungkiri. Namun demikian, kedua sistem ini saling berseberangan di berbagai aspek teologi. Mereka sering berhadap-hadapan pada doktrin-doktrin tertentu meskipun tidak mengingkari dan menodai doktrin-doktri dasar Alkitab. Mereka masih tetap menjungung tinggi doktrin Allah, Kristus, Roh Kudus, Keselamatan, inspirasi Alkitab dan doktrin-dokrin fundamental lainnya.

Para teolog kedua kubu juga tidak henti-hentinya menggali kebenaran Alkitab dalam mendukung pemaparan doktrin-doktrin yang dianut. Kerja keras mereka memberi kontribusi luar biasa dalam Kekristenan, dan sering kedua kubu saling mendukung dan mengutip pernyataan-pernyataan yang mengagungkan doktrin-doktrin tertentu, seakan-akan tidak ada perbedaan dan pertentangan di antara mereka. Keharmonisan sangat nyata dan saling mengisi dalam pemaparan dan diskusi doktrin-doktrin teologi. Sebagai akibatnya, kelompok awam tidak bisa mendeteksi perbedaan kedua sistem ini.

Satu contoh nyata, sangat sedikit orang awam yang bisa membedakan pengaruh ajaran buku-buku tulisan Louis Berkhoft dan Charles Ryrie. Umat Kristen cenderung hanya melihat judul buku yang ditawarkan tanpa memperimbangkan siapa penulis dan apa latar belakang serta sistem teologi yang diadopsi. Pada hal, kedua teolog ini memiliki keyakinan dan persuasi teologi berbeda yang tidak mungkin diharmonisasikan. Para pembaca tidak menyadari bahwa ketika penulis memaparkan dan mengungkapkan suatu ajaran dalam tulisannya, sesunggunya apa yang ditulis merupakan produk atau hasil dari pola penafsiran yang dianutnya.

Harus diketahui bahwa tidak ada tulisan yang sungguh-sungguh netral dengan tanpa dipengaruhi teologi penulis. Justru sebaliknya, penulis memiliki motif dan tujuan yang ingin dicapainya yaitu suatu keyakinan dan kepercayaan penulis yang ingin disalurkan kepada pembaca. Penulisan buku-buku Kristen tidak semata-mata bertujuan kemersil, tetapi sebaliknya mereka ingin memaparkan dalam tulisan kenyakinan yang dipercaya sebagai kebenaran, yang akurat, baik, bermanfaat dan penting bagi Kekristenan.

Louis Berkhoft maupun Charles Ryrie merupakan dua pribadi yang memiliki persuasi teologi berbeda yang tidak mungkin bisa diharmoniskan. Mereka mengungkapkan dan menulis apa yang dirasa benar sesuai dengan sistem teologi masing-masing. Tulisan mereka merupakan produk dari sistem penafsiran mereka. Louis Berkhof merupakan perwakilan kelompok penganut sistem Kovenan atau kovenantalis, sementara Charles Ryrie merupakan perwakilan kelompok yang menganut sistem dispensasionalisme.

Kedua sistem teologi: Kovenan dan Dispensasionalisme memiliki prinsip dan pendekatan berbeda dalam menafsirkan Firman Allah. Karena keduanya saling bertentangan, maka kedua penganut sistem ini saling berdebat dan adu argmentasi di berbagai kesempatan, dalam jurnal, diskusi dan bahkan buku-buku yang dipublikasikan. Seakan tak habis-habisnya argumentasi yang diutarakan dan selama hampir seratus tahun terakhir, perdebatan keduanya tak kunjung reda. Keduanya saling mempertahankan pendapatnya sebagai pola penafsiran terbaik dalam menelaah Alkitab.

Jika pada doktrin-doktrin fundamental kedua sistem seakan saling mendukung dan menjalin keharmonisan, tidaklah demikian ketika bersinggungan dengan doktrin eklesiologi (Gereja) dan eskatologi (Akhir Zaman). Dalam kedua doktrin besar inilah tercermin berbedaan dan pertentangan kedua sistem. Mereka memiliki keyakinan yang bertolak-belakang. Memang kedua sistem selalu menunjukkan perbedaan dalam skala kecil ketika memaparkan doktrin-doktrin fundalmental, hanya saja dalam menditeksi perbedaan itu, dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatiaan dalam analisisnya. Hal ini terjadi karena teologi saling berkaitan satu dengan lainnya seperti mata rantai yang tidak bisa diputuskan begitu saja tanpa mengganggu mata rantai yang lain.

Tetapi ketika berbicara tentang topik besar: doktrin Gereja dan Akhir Zaman, secara jelas dan gamblang terlihat betapa besarnya perbedaan di antara keduanya.  Dalam kedua bidang ini tercermin perbedaan tajam yang tidak mungkin diharmoniskan karena penganut sistem teologi Kovenan dan Dispensasionalisme mempertahankan pendapat masing-masing. Teolog dispensasionalisme mempercayai pandangan pramilenialisme tentang kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, sementara para teolog kovenan, umumnya menganut pandangan amilenialisme dan postmilenialisme, dan hanya segelintir teolog kovenan yang mengadoptis pandangan pramilenialisme.

Untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang kedua sistem ini, maka pembaca perlu mengerti apa definisi dari teologi kovenan dan pramilenialisme terlebih dahulu sebelum mendalami lebih lanjut perbedaan kedua sistem.

Definisi Teologi Kovenan (Perjanjian)

Apa yang dimaksud dengan Teologi Kovenan?

Buswell, seorang kovenantalis yang juga pramilenialis (bukan dispensasionalis), setuju dengan definisi istilah yang diberikan kamus lengkap Webster yang mendefinisikan teologi Kovenan sebagai berikut,

Suatu sistem teologi yang bergantung pada konsep bahwa sebelum Kejatuhan [Adam], manusia berada di bawah perjanjian perbuatan, dimana Tuhan menjanjikan kepadanya [melalui Adam, kepala dari seluruh manusia] kebahagiaan kekal jikalau ia memelihara hukum itu dengan sempurna; dan bahwa sejak kejatuhan itu manusia berada di bawah perjanjian anugerah, dimana Tuhan, melalui anugerahNya yang cuma-cuma, menjanjikan berkat yang sama kepada semua yang percaya pada Kristus [Kepala Gereja]. [J. Oliver Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion (Singapore: Christian Life Publishers, reprinted 1994), I:307].

Secara singkat, Enns mendefinisikan teologi Kovenan demikian, “suatu sistem menafsirkan Kitab Suci dengan dasar dua perjanjian: Perjanjian Perbuatan baik dan Perjanjian Anugerah” [Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Chicago: Moody Press, 1989), 503].

Jadi berdasarkan definisi diatas, teologi kovenan bertumpu pada dua kovenan (perjanjian) yang dibuat Allah dengan manusia yaitu kovenan perbuatan dan kovenan anugerah, dan dalam kedua kovenan inilah bernaung semua rencana keselamatan dan program yang direncanakan Allah bagi manusia.

Apa yang dimaksud dengan Pramilenialisme?

Pramilenialisme (atau Chiliasme) berarti, “Kristus akan kembali sebelum milenium untuk mendirikan pemerintahanNya selama seribu tahun di bumi ini” (Enns, 386). Dengan kata lain pramillennialisme adalah suatu posisi teologi yang mencoba menyampaikan hubungan kedatangan Yesus Kristus yang kedua dengan kerajaan seribu tahun yang dijanjikan sebagaimana dicatat dalam Wahyu 20:1-6.

Khoo, seorang kavenatalis dan juga pramilenialis menyampaikan hal yang sama, “Pramilenialism adalah suatu pandangan yang mengajarkan bahwa Kristus akan kembali sebelum milenium . . . . Kristus harus kembali untuk menghakimi musuh-musuhNya, memulihkan Israel dan memerintah atas seluruh dunia dari Yerusalem selama seribu tahun[Jeffrey Khoo, “Three views on the Millennium: Which?” The burning Bush 5:2 (1999):65-72].

Masalah Kavenantalisme dan Pramilenialisme

Para teologi Kovenan sering dijuluki sebagai amilenialis atau postmilenialis. Paling tidak inilah yang dilontarkan para teolog Dispensasionalisme. [Catatan: Dispensasionalisme adalah sistem teologi sementara Pramilenialisme adalah suatu pendekatana keyakainan tentang kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya seperti telah didefinisikan diatas]. Asumsi ini telah menimbulkan kesalahpahaman dikalangan kelompok penganut teologi Kovenan karena banyak teolog dan umat Kristen awam mengasumsikan hal ini sebagai fakta dan kebenaran. Sebagai akibatnya sejumlah penganut kavenantalisme menolak pramilenialisme karena anggapan bahwa teologi Kovenan dan Pramilenialisme merupakan dua hal yang tidak bisa disatukan atau diselaraskan.

Tetapi anggapan ini tidak serta merta menyelesaikan masalah yang timbul dikalangan penganut teologi Kovenan. Pertanyaan yang menuntut jawaban jujur, apa dasar teolog amilenium dan postmilenium beranggapan bahwa teologi Kovenan dan pramilenialisme tidak kompatibel atau tidak bisa diselaraskan? Seorang teolog jujur tidak hanya bisa berkata, “itu sudah keyakinan turun-temurun atau sudah menjadi suatu pandangan umum.” Kebenaran mutlak Alkitab tidak didasarkan pandangan umum. Justru sebaliknya seorang teolog harus memberikan fondasi dan dasar penolakan yang bisa dibuktikan secara historis dan teologi yang berdasar pada Kitab Suci.

Para kavenantalis sering beranggapan bahwa pernyataan iman teologi Kovenan memberi bukti kokoh yaitu Pengakuan Iman Westminster (1643-1648). Pengakuan Iman inilah yang sering dipakai dalam mendukung dan menopang pandangannya. Tentu, ini suatu pendekatan baik karena tidak hanya sekedar mengikuti tradisi turun-temurun atau karena para dosen menyatakan hal itu ketika sedang kuliah di seminari, lalu kemudian mengadopsinya meskipun tidak memiliki kenyakinan kokoh yang didasarkan Firman Allah. Tetapi dengan merujuk pada pengakuan Iman ini, para teolog Kovenan memiliki dasar untuk berdiskusi dan ruang untuk memaparkan pendapat.

Fakta nyata menunjukkan bahwa pengujian seksama terhadap pengakuan iman ini tidak menyediakan suatu pernyataan konkrit dimana teolog Kovenan harus berpegang atau mempercayai posisi amilenium atau postmilenium. Pengakuan Iman Westminster tidak memberikan suatu pandangan posisi apapun dan Pengakuan Iman ini diam dan tidak menetapkan suatu milenium doktrin agung milenium.

Cobalah perhatikan Pengakuan Iman Westminster Pasal XXXIII:1, yang berbunyi demikian,

“Allah telah menetapkan hari Dia akan menghakimi dunia dengan adil oleh Yesus Kristus, yang telah menerima segala kuasa dan penghakiman dari Bapa-Nya. Pada hari itu malaikat-malaikat yang murtad akan dihukum; begitu juga semua orang yang pernah hidup di bumi akan menghadap takhta Kristus, untuk memberi pertanggungjawaban tentang pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka, serta untuk menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka sewaktu dalam tubuh, yang baik atau yang jahat.”

Inilah satu-satunya isi Pengakuan Iman Westminster yang membahas tentang hari penghakiman yang akan datang. Sangat jelas di sini bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang posisi milenum. Itu berarti Pengakuan ini memberikan keterbukaan, ruang dan peluang kepada para teolog Kovenan untuk mempercayai suatu persuasi berbeda tentang posisi milenium selain dari pandangan amilenium dan postmilenium.

Dengan adanya ruang dan keterbukaan seperti ini, maka sangat memungkinkan penganut paham pramilenialisme termasuk di dalamnya. Jadi pandangan seperti inilah yang dimiliki para teolog kovenan pramilenialis yang dengan sungguh-sungguh mendukung dan menegakkan Pengakuan Iman Westminister, namun mempercayai pandangan pramilenium dalam eskatologi dan dengan bersukacita mengadopsi posisi itu. Maka sekelompok teolog di Amerika yang berpegang pada posisi ini menyisipkan pernyataan khusus dalam Pengakuan Iman Westminister yang dipakai khusus di kalangan mereka. Jadi, Pengakuan Iman Westminster Pasal XXXIII:1 menjadi berbunyi demikian,

“Allah telah menetapkan hari [yang dalam Firman Allah berkaitan dengan akhir segala sesuatu yang menggambarkan suatu masa termasuk masa seribu tahun yang mengikuti kedatangan pramilenium Kristus secara kelihatan, dan personal] Dia akan menghakimi dunia dengan adil oleh Yesus Kristus, yang telah menerima segala kuasa dan penghakiman dari Bapa-Nya. Pada hari itu malaikat-malaikat yang murtad akan dihukum; begitu juga semua orang yang pernah hidup di bumi akan menghadap takhta Kristus, untuk memberi pertanggungjawaban tentang pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka, serta untuk menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka sewaktu dalam tubuh, yang baik atau yang jahat.” [Italic ditambahkan]

Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa informasi ini tidak cukup untuk membuktikan kompatibilitas Pramilenialisme dengan teologi Kovenan. Kovenan Pramilenialis mengambil persuasi teologinya bukan semata-mata didasarkan pada Pengakuan Iman Westminster tetapi dari pembelajaran teliti dan setia terhadap Kitab Suci. Dengan persuasi dan posisi teologi seperti ini, para teolog dispensasionalisme sangat tidak senang mengetahui ada teolog kovenan memeluk pandangan pramilenialisme. Sama seperti para amilenialis dan postmilenialis, dispensasionalis juga berangkapan bahwa teologi Kovenan tidak serasi dengan Pramilenialisme. Oleh karena itu, tuntutan pembelajaran Kitab Suci secara seksama (2 Tim 2:15) dan penganalisaan berbagai posisi teologi dalam terang Kitab Suci (ref. 2 Pet 1:20-21) dengan sangat genting dibutuhkan agar mendapatkan penjelasan sempurna dari Firman Allah.

Tujuan dari tulisan ini

Tidak diragukan lagi bahwa teologi Kovenan berbeda dengan teologi Dispensasionalisme. Kedua kelompok teologi kovenan dan dispensasionalisme masih terus memperdebatkan dan mempertahankan sistem teologi masing-masing. Perbedaan di bidang eklesiologi (doktrin gereja) dan eskatologi (doktrin akhir zaman) menadi ciri khas keda kelompok. Berkenaan dengan doktrin eklesiologi, Kovenan Dispensasional Pramilenialis melihat perbedaan nyata antara Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah, dan Gereja sebagai tubuh Kristus. Gereja bukanlah Israel, dan Israel tidak pernah digantikan Gereja. Dengan kata lain, Allah memiliki dua rencana berbeda bagi umatNya, satu bagi Israel, dan satu lagi bagi Gereja.

Apa yang Allah telah rencanakan bagi Israel sebagai isi Perjanjian Allah dengan Israel, yang berhubungan dengan umat Israel dan bangsa Israel, akan digenapi seluruhnya dengan sempurna karena Ia adalah Allah yang memelihara dan menggenapi janji. Rencana penyelamatan Allah bagi manusia diberikan dalam Kitab Suci bersifat kontinuti (berkelanjutan). Oleh karena itu, ketika Allah menyatakan wahyu penyelamatanNya, Ia menyatakannya sebagai wahyu perjanjian. Dengan cara yang sama, Allah akan menggenapi apa yang telah janjiankanNya kepada Gereja sebagia umat tebusanNya.

Dalam bidang eskatologi, para teolog kovenan dispensasional pramilenialis mempercayai bahwa nubuat pemerintahan milenium Kristus selama seribu tahun sebagaimana dinubuatkan dalam Wahyu 20:1-6 akan digenapi secara harfiah. Penggenapan ini juga dikenal sebagai penggenapan perjanjian Allah dengan Israel. Semua janji-janji yang Allah belum genapi selama ini kepada Israel sebagai bangsa, semuanya akan digenapi dalam kerajaan milenium ketika Kristus memimpin dunia dari Yerusalem sebagai ibu kota dunia.

Penulis di sini ingin membuktikan bahwa Pramilenialisme sesungguhnya kompatibel atau serasi dengan teologi Kovenan. Pemaparan ini akan dimulai dengan penjelasan tentang peranan hermeneutika dalam setiap sistem teologi (the role of hermeneutics in theological systems). Ini sangat diperlukan karena para teolog kovenan dan dispensasionalisme sama-sama mengklaim mengadopsi hermeneutika literal (harfiah) tetapi pada kenyataannya produk teologi yang dihasilkan berakhir pada kesimpulan sistem teologi yang berbeda. Inilah fondasi dasar dari keseluruhan diksusi di sini. [Lihat artikel yang berjudul: Peranan Hermenutik Dalam Sistem Teologi].

Di samping aspek hermeneutika, isi kovenan alkitabiah (contents of biblical covenant) menjadi hal penting, karena kedua sistem teologi memiliki pendekatan pandangan berbeda satu dengan lainnya. Hal ini berhubungan dengan sifat kontinuti (kelanjutan) perjanjian yang diberikan Allah kepada manusia dalam sejarah manusia. Perbedaan teologi Kovenantalisme dan Dipensasionalisme dalam hal ini terjadi karena pengertian berbeda tentang perjanjian yang diberikan Allah kepada Israel. Para dispensasionalis melihat perjanjian yang diberikan Allah kepada manusia bersifat diskontinuti (tidak berkelanjutan) sementara para kovenantalis mempercayainya sebagai kontinuti (berkelanjutan).

Pemaparan selanjutnya akan berfokus pada rencana penyelamatan Allah dalam sejarah manusia. Apakah Allah memiliki dua rencana berbeda, bagi Israel dan Gereja? Apakah Allah masih memiliki rencana bagi Israel? Telahkah Gereja menggantikan Israel? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pokok bahasan penting yang akan dipaparkan dalam teologi kovenan dan eklesiologi (covenant theology and ecclesiology).

Yang terakhir, pembahasan yang sangat kontroversial adalah teologi kovenan dan eskatologi (covenant theology and eschatology). Di sinilah letak klimaks pembahasan yang mempertunjukkan perbedaan antara teologi kovenan dan teologi dispensasionalisme. Segala pertentangan antara kedua sistem yang tadinya samar-samar, semuanya disingkapkan sehingga siapapun pembaca tulisan ini akan bisa melihat dengan gamblang perbedaan keyakinan dan persuasi kedua sistem yang menuntun mereka untuk tidak bisa diharmanonisasikan. Kedua sistem seakan memiliki payung hermeneutika berbeda dalam mendapatkan pengertian maksud firman Allah, karena penganut kedua sistem sama-sama mengklaim memiliki sistem teologi terbaik dalam mengetahui rencana dan program Allah.

Prosedur Pembelajaran

Memperhatikan permasalahan di antara kedua sistem teologi yang disebut diatas dituntut suatu pendekatan teologi yang bisa menyelesaikan perdebatan di antara keduanya. Pernyataan “teologi kovenan dan pramilenialisme adalah kompatibel” tidak bisa diterima begitu saja tanpa adanya penjabaran sistematis dalam membuktikan klaim itu. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pembelaan konkrit sesuai dengan terang Firman Allah.

Di sisi lain dituntut suatu prinsip alkitabiah dalam menafsirkan Firman Allah dengan membiarkan Alkitab menafsirkan Alkitab itu sendiri, dengan menggunakan metode penafsiran historik, tata bahasa dan kanonikal. Seperti Pengakuan Iman Westminister katakan dalam Pasal I:9,

“Yang menjadi kaidah yang tak dapat keliru dalam menafsirkan Alkitab ialah Alkitab itu sendiri. Oleh karena itu, bila timbul persoalan kerkenaan dengan arti yang sebenarnya dan genap salah satu nas Alkitab – arti itu bukannya jamak, melainkan tunggal – maka nas itu harus diselidiki dan dipahami melalui nas-nas lain, yang berbicara dengan lebih jelas.”

Prasuposisi Penulis

Penulis mempercayai bahwa keenam puluh enam kitab dalam Alkitab adalah secara verbal dan plenari Firman Allah diilhamkan dan dengan sempurna dipelihara (Mazmur 12:7-9; Matius 5:18; 24:35; 2 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:20-21). Ia sungguh mendukung pernyataan Pengakuan Iman Westminister Pasal I:8 yang menyatakan,

“Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani (bahasa ibu umat Allah pada zaman dulu) dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (yang pada masa Perjanjian Baru ditulis umum dikenal bangsa-bangsa) diilhamkan secara langsung oleh Allah. Dia menjaga juga, melalui perhatian dan pemeliharaan-Nya yang khusus, supaya keduanya tetap murni sepanjang zaman. Oleh karena itu, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu autentik, . . . .”

Ia juga sangat setuju dengan perkataan John Burgon:

Kitab Suci tidak lain ialah suara Tuhan yang duduk diatas takhtaNya. Setiap kitab didalamnya, setiap pasal di dalamnya, setiap ayat di dalamnya, setiap suku kata di dalamnya, setiap huruf di dalamnya, adalah ucapan langsung yang Maha Tinggi. Alkitab tidak lain adalah Firman Allah, bukan sebahagiannya lebih banyak, sebahagiannya lebih kurang, tetapi semuanya ucapan Dia yang duduk di atas takhta, tidaada cacatnya, tidada salahnya, tertinggi.”

Sebagai Firman Allah yang dinafaskan Allah, Alkitab selamanya tidak salah dan keliru dalam segala hal yang berhubungan tentang hal rohani dan non-rohani karena secara verbal dan pleneri dipelihara selamanya oleh pemeliharaan ilahi Allah sendiri (Mazmur 12:7-9; Matius 5:18; 24:35; Yohanes 10:35; 1 Petrus 1:25).