Menguji Persahabatan Dan Pengaruhnya

MENGUJI PERSAHABATAN DAN PENGARUHNYA

Oleh Samson H

Setiap orang yang pernah hidup di dunia ini pasti memiliki komunitas dan lingkungan dimana ia dibesarkan dan bertumbuh semakin dewasa. Komunitas keluarga dan sanak famili memiliki peranan dan pengaruh penting dalam pembentukan pandangan dan keyakinan. Banyak hal yang diterima menjadi suatu pandangan dan keyakinan hanya karena lingkung terdekat sedemikian memberitahukan atau melakukan hal itu. Kebiasaan dan tradisi yang diwariskan turun-temurun menjadi bagian hidup setiap orang dalam komunitas dan hal itu berlangsung terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun ketika seorang dari komunitas tersebut menjadi pengikut Kristus, ada hal-hal mendasar yang akan berubah dalam hidupnya sebagai pengikut Kristus. Meskipun ia masih tetap menjadi bagian dari komunitas keluarga dan lingkungan dimana ia tinggal, sudut pandang terhadap tradisi dan kebiasaan masyarakat itu menjadi berubah. Ia memiliki hati dan pemikiran berbeda dari semua orang di sekitar karena pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Ia tidak lagi memiliki pandangan dan pengertian yang sama terhadap tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat karena Firman Tuhan menjadi patokan dan penuntun dalam iman dan praktek kehidupannya. Alkitab menjadi panduan yang harus diikuti dan ditaati.

[embedyt] https://www.youtube.com/embed?listType=playlist&list=PLh8scGhVnwJuBTgqThS8FfDLE_dKALQ0B&layout=gallery[/embedyt]

Bukan hanya dalam hal tradisi dan kebiasaan setempat ia memiliki pandangan berbeda tetapi juga dalam hal persahabatan. Selama bertahun-tahun mungkin sudah bersahabat dengan banyak teman sebaya di lingkungan sekolah, masyarat dan keluarga. Namun pengenalan akan Kristus membuat perbedaan yang sangat berarti. Bagaimana seharusnya seorang percaya menguji persahatan dan pengaruhnya agar sungguh-sungguh menunjukkan diri sebagai seorang Kristen sejati, ini menjadi pertimbangan penting bagi pengikut Kristus. Hal ini disebabkan seorang percaya harus menunjukkan diri sebagai seorang yang mencintai kekudusan dan kebenaran.

Persahabatan ditentukan oleh hubungan dengan Kristus

Seperti diutarakan di atas seorang Kristen sudah pasti memiliki latarbelakang keluarga dan lingkungan dimana ia dibesarkan. Pertanyaan penting di sini, apakah setelah menjadi pengikut Kristus harus meninggalkan semua keluarga, teman-teman, kolega dan masyarat yang selama ini menjadi sahabatn dan bagian hidupnya? Tentu tidak! Ia bisa tetap hidup dalam lingkungan dimana ia tinggal selama ini dan dalam keluarga yang membesarkannya. Firman Tuhan tidak mengajarkan atau memberikan indikasi bahwa pengikut Kristus harus menjauhkan diri dari keluarga dan masyaratkan yang tidak mengenal Kristus. Justru sebaliknya, ia harus tinggal dan hidup bersama keluarga dan menunjukkan perbedaan serta menjadi garam dan terang bagi keluarga dan masyarakat dimana ia berdomisili.

Sebagai contoh, ketika Paulus datang ke kota Korintus, tak seorang pun penduduk dan masyarakat Korintus yang mengenal Kristus. Kekristenan tidak ditemukan di kota itu. Pauluslah yang pertama kali membawa berita kabar baik untuk kota Korintus. Masyarakat setempat menjalani kehidupannya sebagaimana diwariskan para pendahulu turun temurun. Kota itu dipenuhi dengan penyembahan berhala karena memang itulah keyakinan penduduk setempat. Namun ketika Paulus tiba di kota Korintus, ia memberitakan Injil dan sejumlah orang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Setelah beberapa waktu kemudian penduduk Korintus banyak menjadi percaya kepada Kristus dan meninggalkan keyakinan yang dimiliki sebelumnya sebagai bukti kesungguhan mereka dalam mengikuti Kristus.

Setelah mempercayai Kritsus, apakah umat Kristen di Korintus diperintahkan untuk meninggalkan kota Korintus dan tinggal di daerah dimana mayoritas penduduk setempat merupakan pengikut Kristus agar mereka terhindar dari komunitas dan lingkungan penyembah berhala? Tentu Tidak! Paulus tidak pernah mengajarkan hal itu. Mereka harus tinggal dan hidup dimana mereka berdomisili meskipun terjadi penganiayaan dan penolakan dari penduduk setempat. Bahkan penolakan dari suami dan isteri mereka terjadi ketika pasangan mereka menjadi pengikut Kristus. Namun Paulus tidak mengajarkan agar mereka menjauhkan diri dari anggota keluarga dan masyarakat yang tidak percaya kepada Kristus dan memilih tinggal di daerah terpencil dimana mereka bebas dari pengaruh orang-orang yang tidak seiman.

Contoh lain bisa dilihat dari surat Petrus. Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada orang-orang Kristen yang hidup di lingkungan non-Kristen. Ia mengingatkan mereka sebagai orang asing dan pendatang tetapi juga mengajarkan bahwa dalam keadaan sedemikian umat percaya bisa hidup kudus. Perintah Firman Tuhan yang mengajarkan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:16) bukanlah suatu imajinasi atau hanya perkataan belaka saja. Itu merupakan perintah dari Tuhan yang bisa dicapai dan dimiliki umat percaya meskipun hidup di lingkungan masyarakat yang bertolakbelakang dengan ajaran Firman Tuhan. Dalam keseluruhan Alkitab, tidak pernah diajarkan agar pengikut Kristus hidup dalam pengasingan untuk mencapai kekudusan dan hidup yang berkenan kepada Tuhan. Umat percaya bisa tetap tinggal dan hidup dimana ia berdomisili dan dalam saat yang sama ia bisa hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan dengan tegas dalam doa syafaatnya bahwa murid-muridnya yang sudah menerima kebenaran, dulunya berasal dari dunia ini dan menjadi bagian dari dunia ini tetapi ketika mempercayai Yesus mereka menjadi milik Kristus dan masih tetap ada di dunia. Mereka tidak diangkat dari dunia ini secepatnya agar terhindar dari pengaruh buruk dan dosa yang diperbuat orang-orang di sekitarnya. Mereka harus tetap di dunia ini menjadi saksi bagi Kristus dan memberitakan Injil kepada banyak orang.

Lalu apa yang berbeda dalam hidup pengikut Kristus? Perbedaan terlihat ketika mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Mereka tidak lagi sama seperti menjalani kehidupan sebelum mengenal Kristus. Mereka sudah memiliki Roh Kudus yang membimbing and mengajar mereka bagaimana sesungguhnya hidup berkenan kepada Tuhan di dunia yang penuh dosa dan kejahatan. Roh Kudus inilah yang menjadi Penolong, Pembimbing, Penghibur dan Pemberi hikmat bagi mereka untuk menjalani kehidupan di dunia.

Namun demikian, ketika seseorang percaya pada Yesus Kristus pasti ada perbedaan dalam menjalin suatu hubungan persahabatan. Pengenalan terhadap Kristus menjadi tolok ukur dalam menjalin persahabatan di sekitar lingkungan dimana umat Kristen berdomisili. Ini bukan berarti memutus hubungan persahabatan dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus tetapi justru menjalin persahabatan selektif. Teman-teman yang menjadi sahabat sebelum mengenal Kristus bisa saja tetap menjadi teman jikalau mereka masih menerima status barunya sebagia pengikut Kristus. Tetapi sudah pasti ada perbedaan yang sangat berarti ketika tetap menjalin pershabatan dengan teman-teman non-Kristen.

Apa-apa saja perbedaan yang timbul ketika menjalin persahabatan setelah mengenal Kristus? Pertama, seorang percaya harus menunjukkan diri bahwa ia sudah berubah dan berbeda. Ia tidak lagi bisa mengikuti kejahatan dan dosa yang biasa dilakukan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa tertawa dan tersenyum bersama ketika lelucon corok dilontarkan teman-temannya. Ia tidak lagi bisa mengikuti rencana-rencana jahat dan ucapan-ucapan keji yang biasa dilakukan sebelumnya. Kekudusan menjadi fokus perhatian yang sangat penting dalam kehidupannya dan ia harus selalu memiliki kesensitifan rohani sehingga tidak terjerumus ke dalam dosa dan kejahatan.

Dengan berbagai reaksi ketidaksetujuan terhadap tindakan, rencana dan perbuatan teman-temannya ia akan menghadapi pengucilan dan penganiayaan. Teman-temannya yang selama ini menjadi sahabat dekatnya tidak lagi menganggapnya sebagai sahabat dan tidak jarang terjadi, persahabatan berubah menjadi permusuhan karena ketidaksetujuan terhadap perbuatan yang dilakukan. Cobalah bayangkan kehidupan umat Kristen di Korintus ketima Paulus memberitakan Injil di sana. Ada para wanita yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus tetapi suami mereka tidak mempercayai Yesus. Karena perbedaan keyakinan itu, para isteri itu diperhadapkan dengan perceraian. Namun Paulus menegaskan bahwa jikalau para suami harus menceraikan atau meninggalkan para isteri yang percaya pada Yesus, biarlah demikian, tetapi janganlah ide perceraian itu datang dari mereka yang percaya pada Yesus. Inilah konsekwensi yang dihadapi mereka yang menjadi pengikut Kristus.

Janganlah pernah mengorbankan iman kepada Kristus hanya karena persahabatan. Jika persahabatan bisa dipertahankan dan dibina untuk menjadi persahbatan yang berkenan kepada Kristus, itu akan sangat baik. Persahabatan harus mengutamakan kehidupan kudus. Jikalau persahbatan tidak bisa dipertahankan, seorang percaya tidak perlu membenci teman-temannya sekalipun mereka tidak senang terhadapnya. Ia harus tetap menunjukkan kehidupan berbeda karena Kristus. Jikalau Tuhan berkenan, suatu saat Tuhan akan membukakan jalan untuk menyaksikan apa telah Yesus perbuat dalam hidupnya.

Sebelum mengenal dan percaya pada Kristus sudah tentu tiap-tiap orang memiliki teman dan sahabat dari berbagai latarbelakang kelompok manusia. Tidak ada perasaan membeda-bedakan pertemanan baik di sekolah dan di tempat kerja. Bahkan bisa saja sering turut terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan mereka. Namun ketika sudah percaya pada Tuhan Yesus, seorang percaya memiliki mata terbuka untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang kerohanian. Ia semakin bisa membedakan apa yang penting dan bermanfaat bagi kerohaniannya.

Kedua, seorang percaya harus membangun persahabatan dengan orang-orang yang sudah mengenal Kristus. Ini merupakan langkah penting bagi seorang percaya yang baru mengenal Kristus. Demi mendapatkan pertumbuhan rohani dan pengetahuan lebih baik tentang ajaran Firman Tuhan, ia harus membuka diri untuk menjalin persahabatan dengan umat Kristen dewasa di dalam Kristus. Hal ini sangat penting bagi seorang muda dalam iman. Ketika menghadapi kesulitan dalam memahami Firman Tuhan atau cara mengaplikasihan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, ia memiliki kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan mereka yang sudah terlebih dahulu mengenal Kristus. Persahabatan sedemikian akan menolongnya untuk semakin bertumbuh dalam kerohanian dan pengenalan akan ajaran Kristus.

Tentu setiap orang percaya pasti memiliki kerinduan untuk semakin dewasa dalam kerohaniannya dan semakin mencintai Kristus dan FirmanNya. Tiap-tiap orang percaya akan didorong oleh Roh Kudus untuk semakin mendekatkan diri dan mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun kerohaniannya. Hal seperti itu tidak dimiliki mereka yang hanya mengklaim diri sebagai orang Kristen tetapi jauh dalam hati mereka yang paling dalam tidak mengenal Kristus. Justru sebaliknya, mereka tidak memperdulikan kekudusan dan pertumbuhan kerohaniannya. Mereka mengabaikan segala hal yang berkaitan dengan ibadah dan pembelajaran Firman Tuhan. Mereka tidak memiliki kesensitifan rohani. Mereka menyukai dosa dan kejahatan.

Persahabatan Harus Memuliakan Tuhan

Sebagai orang percaya, ada norma-norma yang harus ditaati sesuai dengan apa yang diajarkan Firman Tuhan. Setiap orang percaya harus menguji setiap persahabatan yang dijalin apakah persahabatan itu memuliakan Tuhan dan membangun kerohanian. Misalkan seorang percaya memiliki teman yang tidak mengenal Kristus, ia mungkin sudah menjadi sahabat dekatnya ketika masih belum percaya pada Kristus. Bisakah persahabatan dilanjutkan? Tentu bisa! Tetapi persahabatan itu bukanlah yang menjadi penentu keputusan dan tindakan yang dilakukan. Kristus dan FirmanNya harus menjadi penentu dan pengontrol dalam persahabatan itu. Setiap ucapan, prilaku, perbuatan dan tindakan harus dipastikan tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Seorang percaya tidak boleh mengorbankan ajaran Firman Tuhan hanya memelihara persahabatan. Ia harus terbuka dan memberitahukan bahwa ia mempercayai Yesus dan ia tidak akan melakukan apa yang bertentangan dengan ajaran dan perintahNya. Ia tidak boleh menyembunyikan identitasnya sebagai pengikut Kristus. Jikalau sabahatnya memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan karena identitas barunya, biarlah demikian dan ia tidak perlu mempertahankan persahabatan itu. Tetapi jikalau temannya tidak mempersoalkan status sebagai pengikut Kristus, maka ia harus memberitahukan kepada sahabatnya hal-hal yang tidak bisa ia lakukan lagi seperti sebelumnya. Ia juga harus menegur sahabatnya jika melakukan hal yang tidak baik, dosa dan kejahatan. Ia tidak akan bersedia berada di lingkungan yang membuatnya menghujat Tuhan atau tidak memuliakan Tuhan.

Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Korintus demikian,

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33).

Ayat ini menasihatkan bahwa jikalau engkau berteman dengan orang jahat maka engkau akan dipengaruhi menjadi bagian dari mereka dan bisa berintak jahat. Jikalau engkau bertemen dengan pemabuk lambat laun dalam keadaan yang tidak engkau duga akan mengikuti prilaku seorang pemabuk. Jika engkau berteman dengan seorang pencuri, maka engkau akan terjerumus mengikuti perbuatan pencurian. Jika engkau bertemen dengan seorang perokok, engkau suatu saat akan mengikuti jejak mereka. Jikalau engkau berteman dengan seorang pemarah, maka engkau juga akan menjadi pemarah. Jadi pergaulan dan persahabatan yang buruk akan mempengaruhi prilaku dan kehidupan seseorang. Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap umat percaya.

Pengikut Kristus tidak boleh berkata, “Saya ingin memberitakan injil kepada pecandu narkoba, perokok, pemabuk, dan penjahat, maka saya harus menjalin persahbatan dengan mereka dan mengikuti prilaku dan perbuatan mereka demi memiliki kesempatan untuk memberitakan Injil dan memenangkan mereka kepada Kristus.” Pemikiran sedemikian sangat keliru dan tidak berdasar.  Seorang pemberita Injil tidak harus menjadi pembunuh untuk bisa membawa pelaku pembunuhan mengenal Kristus. Seorang percaya tidak perlu harus mengkonsumsi narkoba untuk bisa memenangkan pecandu narkoba. Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan pola pendekatan sedemikian. Tuhan Yesus tidak melakukan hal itu semasa pelayananNya di bumi ini. Ia justru menghardik dan memarahi para pelaku dosa dan mengingatkan mereka untuk bertobat agar meninggalkan dosa-dosa mereka. Yesus tidak segan-segan mengutuki para pelaku dosa dan kejahatan. Berita Injil bisa diberitakan kepada siapapun tanpa harus mengikuti perilaku mereka. Oleh karena itu, persahabatan harus selalu diuji apakah hal itu benar-benar memuliakan Tuhan atau tidak. Jikalau persahabatan memiliki dampak buruk dalam kerohanian, maka putuskanlah persahabatan itu dan jilinlah persahbatan dengan mereka yang mencintai Kristus dan FirmanNya.

Penulis Amsal memberi peringatan kepada setiap orang percaya agar berhati-hati dalam menjalin persahabatan dengan orang lain.

24“Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, 25supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri” (Amsal 22:24-25).

Ayat di atas dengan tegas memperingatkan bahwa jikalau ada orang beranggapan bahwa bersahabat dengan pelaku kejahatan dengan maksud membawa mereka kepada Kristus, maka tidakannya akan menjadi seperti memasang jerat bagi dirinya sendiri. Suatu saat ia akan terperangkap dalam tindakan kejahatan and menjadi bagian dari pelaku kejahatan. Namun yang bisa diperbuat untuk para pelaku kejahatan adalah meminta mereka untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Jikalau memang begitu terbeban untuk memberitakan Injil kepada para pelakuk kejahatan, maka alangkah baiknya menjalin suatu kerjasama dengan pihak penjara di suatu daerah, dan mengajukan suatu proposal untuk melakukan pelayanan rohani bagi para narapidana di penjara. Program sedemikian sudah menjadi sangat lazim sekarang ini di berbagai Negara. Pihak penjara juga menginginkan pertobatan para narapidana dan biasanya mereka menyediakan waktu tertentu untuk melayani mereka dalam hal kerohanian. Jadi jangan jadikan persahataban kepada pelaku kejahatan untuk menjadi pola penginjilan.

Persahabatan Harus Menuntun Pada Hidup Kudus

Satu hal yang selalu diingat bahwa ciri-ciri seorang percaya di dalam Kristus bahwa ia memiliki kerinduan untuk bersekutu dengan orang-orang yang mencintai Kristus. Ia merasa senang dan bahagia jikalau berkumpul dengan orang-orang yang mencintai kekudusan dan memuliakan Kristus. Ia ingin menghabiskan waktu dengan mereka untuk belajar dan berdiskusi tentang kerohanian dan Firman Tuhan. Kerinduan inilah yang mendorongnya untuk semakin memiliki ketertarikan membangun pertemanan dan persahabatan dengan mereka yang mencintai Yesus karena ia mulai melihat manfaat dan pembangunan kerohaniannya. Dengan berjalannya waktu ia akan lebih suka bersahabat dengan orang-orang yang mencintai Yesus dan dengan sendirinya, ia akan semakin tidak memiliki waktu lagi dengan teman-teman yang tidak mengenal Kristus. Ia tidak membenci mereka tetapi ia tidak melihat manfaat menghabiskan waktu bersama dengan perbuatan dan prilaku yang bertentangan dengan Firman Allah. Ia bisa saja masih mengganggap mereka sebagai teman tetapi tidak lagi seperti sebelumnya dimana ia hadir dimanapun mereka berada. Sekarang ia bisa membedakan apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang bisa memuliakan Tuhan dan apa yang bisa mendukakan hati Tuhan.

Sekarang cobalah pikirkan baik-baik, apakah persahabatan yang dijalin menuntun pada ketaatan kepada Tuhan dan FirmanNya atau justru sebaliknya? Jikalau persahabatan itu menjadikanmu menjadi seorang yang taat pada perintah Tuhan maka engkau sudah bersahabat dengan orang yang mencintai Kristus.

Cobalah selidiki hatimu, apakah engkau sungguh mencinta orang-orang Kristen dan memiliki kerinduan untuk selalu bersama mereka daripada mereka yang tidak mengenal Kristus? Apakah engkau merasa senang bertemu dengan seseorang yang sungguh-sungguh percaya dan mencintai Yesus? Seorang percaya akan selalu ingin bersekutu dengan mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus.