Menikmati Persekutuan Dengan Tuhan

MENIKMATI PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN

Oleh Samson H

Ketika menjadi seorang percaya, ada suatu perubahan luar biasa terjadi dalam hidup. Jika sebelumnya membenci Kekristenan dan meremehkan kegiatan rohani dan pemberitaan Firman, itu akan berubah drastis di saat mempercayai Yesus Kristus. Bisa dipastikan bahwa pada saat ia memberikan diri untuk sepenuhnya mempercayai Yesus, saat itu juga ia memiliki kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia akan memiliki kesukaan baru dalam hidupnya yaitu bersekutu dengan Tuhan dan umatNya di rumah Tuhan. Di sisi lain ia akan membenci banyak aspek kehidupan yang menjadi kebiasaannya sebelum mengenal Kristus. Ia sungguh menjalani suatu kehidupan baru dan persekutuan baru.

Sebagai orang percaya ia akan menikmati persekutuan dengan Allah. Ia bersukacita ketika berada di rumah Tuhan dan dihadiratNya. Tidak ada orang percaya yang membenci persekutuan dengan Kristus. Tidak ada orang percaya yang tidak suka beribadah kepada Kristus di rumahNya yang kudus. Yohanes menjelaskan hal itu bahwa apa yang sudah ditulisnya dengan maksud agar umat percaya memiliki pengetahuan bahwa mereka memiliki persekutuan dengan Tuhan.

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yohanes 1:3).

Ayat di atas menegaskan bahwa umat Kristen tidak bisa mengabaikan persekutuan dengan Tuhan. Janganlah ada orang percaya yang berkata, “Saya sudah percaya pada Yesus Kristus dan itu sudah cukup. Saya tidak perlu datang ke gereja untuk menyembah Tuhan dan bersekutu dengan umat Kristen lainnya. Saya cukup menyembah Tuhan di rumah sendirian atau bersama anggota keluarga saya.” Pemikiran sedemikian sangat keliru. Ada saatnya memang umat Kristen harus beribadah kepada Tuhan di rumahnya melalui kebaktian keluarga dan renungan pagi atau malam. Tetapi Tuhan juga memerintahkan umatnya untuk berkumpul dan beribadah bersama dengan umatNya di rumah Tuhan untuk menyembah dan memuliakaNya serta mendengarkan eksposisi kebenaran Firman Tuhan. Kitab Ibrani menasihati umat percaya demikian,

24Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. 25Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:24-25).

Gereja adalah tempat ibadah bagi pengikut Kristus. Ini tidak berarti bahwa gereja adalah gedung gereja tetapi kumpulan umat percaya. Gereja bukan berarti harus memiliki gedung. Sangat baik jika memiliki yang namanya gedung geeja tetapi yang paling utama gereja adalah kumpulan umat percaya. Jadi ibadah bisa dilakukan di gedung khusus atau rumah yang dijadikan tempat ibadah atau di bawah pohon dimana umat Tuhan berkumpul bersama melakukan ibadah penyembahan kepada Tuhan dan pendengaran Firman Tuhan. Ibadah melibat tiga aspek penting yaitu pujian kepada Tuhan, doa dan pendengaran Firman Tuhan dan inilah yang dilakukan umat percaya ketika mereka berkumpul dan beribadah kepada Tuhan.

Jadi Tuhan menginginkan umatNya berkumpul bersama dan melukakan penyembahan. Itulah yang dilakukan umat percaya pada masa gereja mula-mula. Mereka berkumpul dan memuliakan Tuhan dan mempelajari Firman Tuhan (Kisah 2:41-47). Paulus di berbagai daerah mendirikan gereja yaitu kumpulan umat percaya meskipun mereka tidak memiliki gedung gereja seperti dikenal sekarang ini. Mereka berkumpul di rumah-rumah jemaat dan penuh sukacita bersekutu kepada Tuhan. Mereka dengan senang hati melakukan persekutuan dari rumah ke rumah meskipun menghadapi penolakan dan penganiayaan dari kelompok yang membenci Kekristenan. Sukacita dan kerinduan bersekutu dengan Tuhan berkobar-kobar di dalam hati mereka dan penganiayaan besar yang terjadi di masa itu tidak bisa mematahkan kerinduan itu. Semua ini terjadi karena mereka sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

Bagaimana mungkin umat Kristen mula-mula bisa menikmati persekutuan dan ibadah ketika penganiayaan dan penolakan hebat dari kelompok Farisi dan ahli Taurat? Itu semua terjadi karena Roh Kudus yang berdiam di dalam hati mereka. Roh Kuduslah yang memberi kerinduan bagi seorang percaya untuk bersekutu dengan Tuhan dan juga menikmati persekutuan itu. Itulah pekerjaan Tuhan dalam hidup seorang percaya. Hal yang sama tetap terjadi dalam hidup seorang percaya sekarang ini. Itulah sebabnya perlu diketahui bahwa tidak ada orang percaya yang membenci persekutuan dengan Tuhan dan ibadah di rumah Tuhan. Hal seperti itu sangat bertolak belakang  dengan pekerjaan Roh Tuhan karena Roh Tuhan akan menuntun seorang percaya untuk mencintai Tuhan dan FirmanNya.

Umat percaya dipanggil untuk keselamatan bukan hanya agar mereka memperoleh sorga dan hidup kekal tetapi juga agar melayani Tuhan di rumahNya. Tiap-tiap umat percaya diberikan karunia rohani untuk dipakai dalam memuliakan Tuhan dan membangun kerohanian umat percaya. Jadi persekutuan itu melibatkan pelayanan di dalam gereja. Orang-orang percaya melayani Tuhan dengan karunia rohani yang dimiliki, itu bukan untuk memuliaan mereka tetapi untuk kemuliaan Tuhan dan untuk membangun (edify) kerohanian jemaat lainnya. Itulah sebabnya umat percaya harus datang berkumpul bersama untuk menyembah dan mengangungkan Tuhan.

Orang Murtad Membenci Kekudusan

Dalam kehidupan kekristenan, sering kali ditemukan jemaat yang dulunya begitu giat dan berdedikasi dalam persekutuan dan ibadah kepada Tuhan, tetapi setelah beberapa waktu ia meninggalkan semua kegiatan rohani yang baik itu dan kembali kepada kehidupan sebelumnya. Ia meninggalkan gereja dan semua jenis kegiatan rohani. Kondisi kerohanian seperti ini sering menjadi pertanyaan. Apakah ia pada mulanya sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya atau hanya berpura-pura sebagai orang percaya? Tidak ada yang bisa mengetahui isi hati orang itu kecuali Tuhan dan orang itu sendiri. Jikalau ia sampai akhir hidupnya tidak kembali (bertobat) kepada Tuhan, bisa dipastikan ia bukanlah seorang percaya meskipun sebelumnya menunjukkan suatu dedikasi dan komitmen dalam menyembah dan melayani Tuhan. Ia bisa saja seperti Yudas Iskariot yang berpura-pura dengan segala kegiatan rohani yang dilakukan.

Namun jikalau ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dan kemudian meninggalkan persekutuan dengan Tuhan dan segala kegiatan rohani, ia bisa dikategorikan sebagai orang Kristen murtad. Murtad di sini bukan berarti mengingkari agama dan Tuhannya dan menjadi penganut agama lain. Kata “murtad” di sini adalah backsiden dalam bahasa Inggris. Dengan kata lain, ia meninggalkan gereja dan segala kegiatan rohani oleh karena hal tertentu, tetapi jauh dalam hatinya yang paling dalam ia masih mencintai Tuhan Yesus dan ia tidak mau menyangkal Tuhan Yesus serta tidak berniat untuk menganut agama lain. Ia tahu bahwa ia salah dan berdosa karena tidak kembali kepada Tuhan dan beribadah kepadaNya. Ia tidak memiliki kedamaian dalam keadaan seperti itu. Orang yang murtad seperti ini adalah orang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dan suatu saat ia pasti kembali kepada Tuhan dan menyembah Tuhan. Namun selama masa-sama itu ia tidak akan merasa nyaman dan damai dalam keadaannya. Hati kecilnya akan berkata bahwa ia ingin kembali ke jalan yang benar meskipun merasa sulit karena sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Jika ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus, Tuhan sendiri akan membawanya kembali dengan cara Tuhan sendiri apakah itu melalui cambukan dan penderitaan, serta sakit penyakit atau cara lain, sehingga ia sadar, bertobat dan berlutut di hadapan Tuhan.

Dalam keadaannya sebagia seorang murtad, bisa saja ia membutuhkan pembimbing untuk menolongnya memahami hal-hal yang menjadi pergumulannya atau hal-hal yang membuatnya menjauh dari kerohanian sehingga ia sadar bahwa apa yang diperbuat bukanlah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian ia dibimbing kembali kepada Tuhan dan dipulihkan kepada persekutuan dengan Tuhan dan umat percaya lainnya. Dengan pelayanan dan bimbingan yang benar, orang-orang murtad seperti ini bisa dibawa kembali kepada persekutuan dengan Tuhan. Gereja tidak bisa membiarkan jemaat murtad berlama-lama menjauh dari persekutuan dengan Kristus. Hal itu sangat berbahaya dan bisa memberi kesempatan untuk semakin terjerumus ke dalam berbagai dosa dan kejahatan.

Meminta Pengampunan Atas Kesalahan dan Dosa

Meskipun orang percaya sudah memiliki Roh Kudus yang berdiam di dalam hatinya dan membimbing serta menuntunnya untuk hidup berkenan kepada Tuhan, dalam keadaan tertentu ketika lalai dan mengabaikan kehadiran Roh Kudus dalam hatinya, ia bisa jatuh dan berbuat dosa. Kehadiran Roh Kudus dalam hatinya bukan membuat seorang percaya menjadi seperti robot yang dikontrol oleh remote kontrol untuk menjalan segala kehidupan dan kegiatannnya sehari-hari. Tetapi ia memiliki kebebasan sama seperti manusia lainnya. Yang berbeda adalah Roh Kudus yang ada di dalam hatinya akan selalu memberikan nasihat dan bimbingan kepadanya tentang apa yang sepatutnya untuk dilakukan. Namun dalam pelaksanaannya ia sendirilah yang akan memilih, apakah ia akan melakukan apa yang dibisikkan Roh Kudus dalam hatinya atau ia melakukan apa yang dipikirkannya secara intelektual atau disarankan orang-orang disekitarnya atau disarankan oleh gejolak hawa nafsu yang ada di dalam dirinya.

Oleh karena itu, orang percaya juga bisa jatuh ke dalam dosa. Abraham, Daud dan Petrus pernah jatuh ke dalam dosa tetapi kejatuhan mereka tidak membuat mereka dibuang Tuhan untuk selamanya. Mereka sadar akan kesalahan dan dosa-dosa mereka, dan mereka datang kembali kepada Tuhan dan meminta pengampunan. Hidup yang sudah diampuni akan termotivasi kembali untuk melakukan persekutuan dengan Tuhan. Kedamaian di dalam hatinya dipulihkan. Sama seperti seorang anak yang takut ketemu orangtuanya ketika melakukan kesalahan. Namun ketika sudah meminta pengampunan dan berjanji tidak mengulangi perbuatan itu, ia dipulihkan. Ia dengan rasa damai dan percaya diri bisa berbicara dengan orangtuanya dengan tanpa takut atau dibanyang-bayangi rasa bersalah. Umat percaya yang mendapatkan pengampunan dari Tuhan bisa merasakan hal yang sama. Ia tidak merasa takut lagi menghampiri Tuhan karena perbuatan salah yang dilakukan. Ia merasa bebas memanggil Tuhan sebagai Abba Bapa.

Umat percaya jangan pernah perpikir bahwa sebagai orang percaya ia tidak akan pernah jatuh ke dalam dosa lagi.  Pemikiran sedemikian keliru. Jikalau Abraham, yang dikenal dengan julukan sebagai Bapa orang beriman bisa jatuh ke dalam dosa dan Raja Daud yang dikenal sebagai orang yang dekat di hati Tuhan bisa jatuh ke dalam dosa, siapakah umat percaya di masa sekarang ini sehingga mereka bisa mengklaim bahwa mereka tidak akan pernah tajuh ke dalam dosa lagi? Cobalah perhatikan doa dan ekspresi isi hati Raja Daud ketika ia menyadari perbuatan dosa perzinahan yang dilakukan yang dicatat dalam Mazmur 51. Untuk mempermudah pembaca saya melampirkannya di sini,

3Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! 4Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! 5Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. 6Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. 7Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. 8Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. 9Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! 10Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! 11Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 12Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! 13Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! 14Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!” (Mazmur 51:3-14).

Raja Daud sungguh merasakan penderitaaan ketika ia belum mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Ia merasa Tuhan begitu jauh dan damai dari Tuhan meninggalkannya, bahkan ia merasa seakan-akan Tuhan juga sudah meninggalkannya. Itu semua terjadi karena dosa yang ia perbuat. Dosa itu menjauhkannya dari Tuhan. Tetapi ketika pemulihan terjadi, ia merasakan sukacita besar dan keyakinan bahwa Tuhan ada dipihaknya. Apa yang tuliskan Daud dalam Mazmur 23 sungguh-sungguh mengekspresikan bahwa Tuhan adalah Gembala dan Penuntun hidupnya dalam segala perjalanan kehidupan yang dilalui.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa ia tidak melakukan dosa seperti yang dilakukan raja Daud atau tidak melakukan pembunuhan dan tidak mencuri lagi seperti sebelum mengenal Kristus. Namun jikalau jujur pada diri sendiri kecenderungan untuk melakukan dosa masih tetap ada di dalam hati setiap orang percaya. Mungkin jenis dosa yang disebut di atas tidak dilakukan, tetapi bagaimana dengan kesombongan, keegoisan, ketidakperdulian terhadap orang lain, suka marah, dengki, membenci orang lain, menipu, tidak jujur, munafik, kurang mengasihi, perbuat curang, berbohong, menggosipi orang lain, menghayalkan hal-hal buruk dan dosa, dan masih banyak lagi. Apa semua ini sungguh-sungguh tidak pernah dilakukan setelah menjadi seorang percaya? Tentu, setiap orang percaya pernah jatuh ke dalam dosa seperti yang disebutkan di atas. Namun jikalau kembali kepada Tuhan dengan mengakui kesalahan dan meminta pengampunan dari Tuhan, Ia akan memulihkannya dan memberikan kedamaian yaitu kedamaian yang dirasakan raja Daud ketika ia diampuni dan kedamaian yang dialami Rasul Petrus setelah memperoleh pengampunan atas pengingkaran akan Yesus. Itulah sebabnya Rasul Yohanes memberikan penegasan dan mengajarkan kepada umat percaya bahwa ketika mereka melakukan kesalahan dan dosa, mereka tidak perlu menjauhkan diri dari Tuhan, tetapi datang kepada Tuhan dengan mengakui segala dosa-dosanya dan minta pengampunan. Ia barkata demikian,

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1:8).

Semua ini merupakan tindakan yang dilakukan umat percaya karena ia dengan dorongan Roh Kudus ingin tetap memiliki persekutuan dengan Kristus. Roh Kudus tidak menjauhkan orang percaya dari persekutuan dengan Allah dan umat percaya lainnya. Roh Kudus juga tidak menjauhkan mereka dari Firman Tuhan tetapi justru sebaliknya, Roh Kudus akan membimbing dan menuntut mereka untuk semakin mencintai Tuhan dan FirmanNya. Inilah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya.

Dengan pertolongan Roh Kudus untuk memotivasi, mendorong, menguatkan, membimbing dan mengajar orang percaya untuk hidup berkenan kepada Tuhan melalui pembelajaran Firman Tuhan maka ia akan bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan. Ia akan memiliki kesensitifan dalam menaati perintah-perintah Tuhan. Ia tidak ingin memiliki hidup yang sembarangan yang tidak merefleksikan kehidupan yang dipimpin Tuhan. Kemanapun ia pergi dan apapun yang ia lakukan, ia memiliki kesadaran bahwa ia harus memuliakan Tuhan. Itulah kehidupan yang bersekutu dengan Tuhan. Ia tidak hanya memuliakan Tuhan pada hari minggu atau pada saat berdoa tetapi di segala tempat ia menyadari kehadiran Tuhan dan ia harus hidup berkenan kepada Tuhan dan memuliakanNya.

Hal inilah yang diekspresikan Rasul Yohanes ketika ia menuliskan suratnya,

 “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1 Yohanes 2:3).

Ketaatan pada ajaran dan perintah Tuhan adalah hal yang tidak terpisahkan dari seseorang yang memiliki persekutuan dengan Kristus. Itu tidak bisa disangkal siapapun. Ketika seseorang tidak taat kepada apa yang diajarkan Tuhan itu membuktikan bahwa ia tidak memiliki persekutuan dengan Tuhan. Ia lupa akan kehadiran Tuhan.

Bukti lain bahwa seseorang memiliki persekutuan dengan Tuhan, ia tidak membenci umat percaya lainnnya. Ia menunjukkan kasih yang besar kepada sesama umat percaya di dalam Kristus.

“Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1 Yohanes 2:10).

Bahkan dalam kesempatan lain, Rasul Yohanes mengatakan demikian,

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Berada Dalam Kumpulan Umat Percaya

Tahukan engkau bahwa Tuhan hanya mendirikan dua institusi di dunia ini yaitu keluarga dan gereja? Umat percaya harus memelihara persekutuan dalam kedua institusi ini. Dalam keluarga ia harus mencerminkan sebagai keluarga yang memuliakan Tuhan. Dalam gereja, keluarga Kristen harus merupakan bagian dari gereja dimana mereka beribadah dan berekutu kepada Tuhan dan sesama umat percaya lainnya.

Firman Tuhan menegaskan bahwa umat peraya tidak boleh dengan sengaja menjauhkan diri dari rumah Tuhan atau kumpulan umat percaya. Umat percaya tidak boleh berkata bahwa ia tidak senang berbidah bersama di gereja dan ia lebih suka beribadah sendiri di rumah. Pendapat seperti itu keliru. Jikalau hal itu terjadi itu pertanda bahwa ia bukanlah orang percaya. Roh Kudus tidak ada di dalam hati orang itu untuk membimbingnya bagaimana hidup berkanan kepada Tuhan. Perkumpulan umat percaya bukan sekedar perkumpulan tanpa manfaat tetapi perkumpulan itu untuk saling membangun dan saling menasihati. Umat percaya membutuhkan umat percaya lainnya dalam menguatkan dan membimbing serta mengingatkannya jikalau melakukan kesalahan dan kekeliruan. Mereka juga saling mendoakan di dalam Kristus dan itulah persekutuan sesungguhnya di dalam Kristus.

Jikalau seseorang tidak melakukan persekutuan dengan sesama umat percaya lainnya maka besar kemungkinan ia melakukan persekutuan dengan dunia ini dan melakukan hal-hal duniawi. Itu juga berarti ia mengasih dunia ini. Rasul Yohanes memberitahukan kembali bahwa jikalau seseorang mengasihi dunia, maka kasih Allah tidak ditemukan di dalam diri orang itu. Tidak ada yang namanya “orang Kristen duniawi” karena istilah itu bertentngan (kontradiksi). Orang Kristen tidak sepatutnya menjadi duniawi.

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1 Yohanes 2:15).

Nah, sekarang cobalah renungkan kehidupan kekristenanmu sejauh ini, apakah engkau sudah sungguh-sungguh memiliki persekutuan dengan Kristus? Apakah engkau sudah melakukan tanggungjawabmu untuk menyembah Tuhan dan melayaniNya di rumah Tuhan sebagaiman diajarkan Kristus?