Menjauhkan Diri Dari Dosa Dan Hidup Duniawi

MENJAUHKAN DIRI DARI DOSA DAN HIDUP DUNIAWI

Oleh Samson H

Indikator nyata dan tidak pernah keliru yang bisa dirasakan seseorang sebagai pengikut Kristus di dalam hatinya adalah terpencar cahaya terang yang mencintai kebenaran dan membenci kejahatan dan dosa. Ini merupakan kelanjutan momen di saat pertama sekali menyadari bahwa ia seorang berdosa yang patut menerima hukuman kekal dari Tuhan sebagai akibat dosa dan kejahatannya. Dengan kesadaran itu ia datang kepada Yesus dan meminta pengampunan dan menerima Kristus masuk ke dalam hatinya. Sejak saat itu ia menjadi manusia baru di dalam Kristus yang dipimpin Roh Allah untuk hidup sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan. Kekudusan menjadi karakter baru yang melekat dalam kesehariannya selama masih hidup di dunia ini.

Sebagai manusia baru, ia memiliki keinginan baru yang yang bertentangan dengan keinginan daging. Ia memiliki kerinduan hidup berkenan kepada Tuhan. Ia tidak lagi mempergunakan anggota-anggota tubuhnya menjadi senjata kezaliman dan kejahatan tetapi menjadi senjata kebenaran yang memuliakan Tuhan.

“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13).

Yesus sendiri dalam doa syafaatNya di Taman Getsemani memberitahukan status pengikut Kritsus. Ia menyampaikan kepada Allah Bapa dalam doaNya demikian,

3Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. . . . 6Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 7Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 8Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 9Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu . . . . 11Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. . . . 14Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 15Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. 16Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. . . . 20Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; . . . 25Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 26dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yohanes 17:3-26).

Jika memperhatikan ayat-ayat di atas Tuhan Yesus dengan tegas memberitahukan bahwa siapa saja penerima kebenaran yang telah diberitakanNya dalam Injil dan percaya, ia adalah milik Tuhan sekalipun masih hidup di dunia ini. Dalam ayat 16 Ia memberitahukan bahwa semua orang percaya kepada Yesus “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Pernyataan ini menekankan bahwa umat percaya bukan milik dunia ini sama seperti Yesus bukan milik dunia ini.

Apa sebenarnya inti doa Yesus di sini? Dia memberitahukan bahwa sesungguhnya umat percaya dulunya memang berasal dari dunia ini dan menjadi bagian dari dunia ini tetapi ketika mereka menerima Injil Kristus dan percaya kepada Kristus, di hadapan Tuhan mereka bukan lagi bagian dari dunia meskipun masih tetap tinggal di dunia ini. Mereka mengemban misi khusus untuk memberitakan kebenaran Kristus agar orang-orang berdosa mendengarkan berita keselamatan dan memperoleh hidup kekal. Kristus sendiri berdoa untuk rasul-rasul dan umat percaya dan meminta Allah Bapa untuk memelihara dan menguduskan mereka karena dunia dan musuh Kristus akan membenci mereka sama seperti dunia membenci Kristus.

Pernyataan Tuhan Yesus dalam doaNya menunjukkan umat percaya adalah umat kudus di hadapan Tuhan dan mereka berbeda dengan dunia ini. Pembedaan ini memberi penegasan bahwa umat percaya tidak boleh memiliki prilaku seperti mereka yang tidak mengenal Kristus karena hal itu bertentangan dengan karakter manusia baru yang dialamatkan kepada mereka. Kekudusan harus menjadi karakter setiap orang percaya karena Kristus adalah Kudus, Allah Bapa adalah Kudus, dan Roh Kudus adalah Kudus, maka umat percaya yang adalah anak-anak Allah harus juga hidup kudus. Kekudusan harus tercermin dalam karakter dan kehidupan umat percaya dalam segala aspek kehidupan. Petrus dengan tegas memberitahkan perintah Tuhan dengan berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:16). Ayat ini merupakan kutipan dari kitab Imamat yang berbunyi demikian,

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Imamat 11:44).

“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Imamat 19:2).

“Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu” (Imamat 20:7).

Jadi perintah untuk menjadi seorang kudus sudah diajarkan Musa sejak umat Israel masih berada di padang gurun dalam perjalanan menuju Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian. Umat Israel menyadari bahwa Allah itu kudus dan mereka tidak bisa menghampiri Tuhan tanpa kekudusan. Hal itulah yang ditekankan penulis Surat Ibrani ketika ia berkata, “kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14).

Setiap orang percaya diperintahkan untuk hidup kudus sebagaiman Allah kudus. Apakah pengikut Kristus bisa memiliki kehidupan kudus? Apakah umat percaya bisa mengalahkan dosa dan memiliki hidup yang berkemenangan? Jawabannya, Tentu! Tetapi umat percay harus menyadari bahwa bukan karena mereka memiliki kemampuan dan kehebatan dari dirinya sendiri untuk melawan segala godaan dosa tetapi karena Tuhan memberikan Roh Kudus di dalam diri mereka agar mereka bisa hidup kudus dan mengalahkan segala dosa dan hawa nafsu. Untuk mencapai tujuan itu, mereka harus hidup dipimpin oleh Roh Allah. Paulus menegaskan jikalau ingin mengalahkan dosa dan segala keingingannya, maka hiduplah di dalam Roh maka engkau tidak akan mengikuti hawa nafsu kedagingan.

16Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 17Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging  —  karena keduanya bertentangan  —  sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (Galatia 5:16-17).

Kehidupan seorang percaya akan sangat berbeda dari kehidupan sebelum percaya. Jika sebelumnya, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan dosa (selalu takluk kepada dosa dan keinginannya) maka ketika menjadi seorang percaya, ia bisa menaklukkan dosa karena Roh Kudus yang berdiam di dalam hatinya. Dialah yang menuntun setiap orang percaya untuk mencintai kebenaran dan kekudusan, dan membenci segala dosa dan kejahatan. Hal seperti ini tidak dialami mereka yang tidak mengenal Kristus karena tidak bisa melawan tabiat alami mereka. Kesukaan dan kegembiraan mereka adalah melakukan dosa dan kejahatan. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari tabiat alami ini.

Menjauhkan diri dari Perbuatan daging

Dalam doa syafaat Yesus dengan tegas memberitahukan bahwa umat percaya bukan milik dunia ini meskipun mereka masih tetap di dunia ini. Ketika mereka percaya, mereka tidak secara otomatis terangkat ke sorga dan tinggal bersama Yesus di sana. Meskipun status mereka sudah berubah dari milik dunia ini menjadi milik Allah, dari kewargaan dunia menjadi kewargaan sorga, namun Tuhan tetap membiarkan mereka tinggal di dunia ini. Mereka harus menjadi saksi bagi Kristus di dunia ini. Mereka harus melakukan perintah yang diamanatkan Kristus. Mereka harus menjadi bagian dari gereja dan melayani Kristus bersama-sama dengan umat Kristen lainnya di dalam gereja serta memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:18-20) harus dilaksanakan selagi masih memiliki kesempatan hidup di dunia ini.

Selama umat percaya masih berada di bumi ini, mereka semakin dimurnikan seperti emas dalam perapian. Inilah yang dikenal dengan proses pengudusan (sanctification). Dalam tahun-tahun yang dilalui sebagai pengikut Kristus, mereka menghadapi pergolakan dan pergumulan dalam hati, antara mau mengikuti keinginan Tuhan dan keinginan daging. Ketika mereka memilih keinginan Tuhan dan bertekad ingin memuliakan Tuhan lewat hidup dan perbuatan, mereka menunjukkan diri sebagai anak-anak Tuhan yang berkemenangan melawan keinginan daging. Mereka menunjukkan diri sebagai anak-anak terang yang mencintai perintah Tuhan. Mereka meningkmati sukacita dan damai sejahtera yang diberikan Tuhan yaitu sukacita keselamatan di dalam Kristus.

Kehidupan mereka yang mencintai (mempercayai) Kristus akan terus berjuang untuk hidup berkenan kepada Tuhan, bukan untuk memperoleh keselamatan tetapi untuk mendemonstrasikan buah pertobatan dan keselamatan. Mereka tidak lagi mencintai keinginan daging meskipun keinginan itu selalu muncul khususnya ketika mereka lalai membangun kerohanian dan menjauhkan diri dari hal-hal kerohanian. Keinginan daging itu tidak dibuang dan tidak diangkat tetapi tetap berada di dalam diri mereka. Keinginan daging itu diredam ketika Roh Kudus berdiam di dalam hati mereka. Paulus memperingatkan jemaat Roma agar mereka mematikan keinginan daging di dalam diri mereka dengan selalu dipimpin oleh Roh Allah. Ia berkata demikian,

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13).

Kepada jemaat Kolose Paulus juga mengajarkan hal yang sama. Mereka diperintahkan untuk mematikan keinginan daging yang ada di dalam diri mereka karena itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan ketika masih hidup sebagai orang-orang yang tidak mengenal Kristus.

5Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (Kolose 3:5-11).

Paulus meringkas segala kegiatan dan keinginan daging dalam Galatia 5:19-22,

19Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 20penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Daftar ini merupakan keinginan dan kesukaan mereka yang tidak mengenal Kristus. Siapapun orangnya dan dari bangsa dan suku manapun ia berasal, jenis-jenis dosa ini merupakan kebiasaan orang yang belum diperbaharui Roh Kristus. Jadi ketika umat percaya menjalin persahabatan dengan orang-orang yang tidak percaya, maka harus waspada dan ingat selalu bahwa mereka memiliki hati yang belum diperbaharui dimana sewaktu-waktu bisa mempengaruhi mereka untuk berbuat dosa. Oleh karena itu mereka harus peka secara rohani agar tidak terjerumus turut melakukan perbuatan dosa.

Tidak Mengasihi Dunia dan Segala Keinginannya

Rasul Yohanes meringkas semua perbuatan dosa dengan tiga kategori yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Dalam ketiga katerigori inilah tercakup semua dosa yang dilakukan manusia yang pernah hidup di dunia ini. Oleh karena itu, Yohanes mengingatkan umat percaya untuk senantiasa waspada dengan berkata demikian,

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2:15-17).

Oleh karena itu jikalau engkau melakukan bisnis, pekerjaan, pelajaran dan apapun dalam hidupmu, lakukanlah itu sesuai dengan cara Tuhan dan bukan dengan cara duniawi. Lalukan segala sesuatu dengan jujur, benar, dan kudus. Maka engkau akan memiliki hati nurani yang bersih. Engkau bisa menegadah kepada Tuhan dan berkata bahwa hati nuranimu bersih.

Kepada umat percaya Paulus memperingatkan status mereka di dunia ini dengan berkata demikian,

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Efesus 5:8).

“Karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan” (1 Tesalonika 5:5).

Rasul Yohanes juga mengingatkan penerima suratnya ketika ia mengajarkan bahwa sebagai orang percaya yang memiliki persekutuan dengan Kristus, ia harus mencintai kekudusan yang diilustrasikan sebagai terang.

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7).

Dalam aplikasi hidup sehari-hari, Rasul Yohanes mengajarkan bahwa seorang yang hidup di dalam terang akan mengasihi saudaranya. Dosa dan kebencian tidak lagi menjadi karakter hidupnya.

9Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1 Yohnes 2:9-10).

Pertanyaan penting bagi pembaca, apakah engkau sungguh mempercayai Yesus? Jika memang ya, maka hiduplah sebagai anak-anak terang dengan hidup kudus dan memuliakan Kristus. Yesus sendiri memberitahukan bahwa jikalau engkau sungguh anak-anak terang maka perbuatan, tindakan dan pikiranmu akan memuliakan Tuhan. Ia berkata demikian,

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

Apakah engkau sudah melihat perbedaan dalam hidupmu setelah engkau mengklaim bahwa engkau percaya pada Yesus Kristus? Jika tidak melihat perbedaan itu, engkau belum percaya pada Yesus dan Roh Allah tidak ada di dalam dirimu. Jangan sia-siakan waktu yang ada, datanglah kepada Yesus dan percaya kepadaNya. Engkau tahu betapa lamanya engkau menghabiskan waktu mengikuti cara dunia ini, baik dalam hal berbisnis dan perilaku sehari-hari. Jika engkau mengklaim diri sebagai orang percaya, apakah engkau sudah mampu membelakangi dunia ini dan segala sifat berdosa? Dunia ini mengajarkan saling menipu, mendustai, memanfaat, menghujat, memperdaya dan saling merusak. Tetapi bukan itu yang diajarkan Tuhan bagi setiap orang percaya. Yesus mengajarkan kejujuran, kebenaran, keadilan, kemurahan, kelemahlembutan, kekudusan, belas kasihan, mengasihi, damai sejahtera dan hati nurani yang bersih. Semua ini tentu bertentangan dengan kebiasaan dunia ini karena dosa telah merajai hati setiap orang yang tidak mengenal Kristus. Kesenangan mereka adalah berbuat dosa dan mementingkan diri sendiri.