Pentingkah Kebaktian Keluarga Bagi Keluarga Kristen

PENTINGKAH KEBAKTIAN KELUARGA BAGI KELUARGA KRISTEN?

Oleh Samson H

Pernahkah mendengar istilah “kebaktian keluarga”? Jika engkau seorang yang rajin beribadah di gereja, kemungkinan sudah pernah mendengar isitilah ini ketika warta gereja dibacakan dari mimbar dimana gereja memiliki program “kebaktian keluarga” yang dilakukan secara bergilir di rumah-rumah jemaat. Para jemaat datang berkumpul di suatu rumah pada waktu yang telah ditentukan, dan pendeta atau hamba Tuhan akan memimpin dan berkhotbah. Kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan persekutuan atau ibadah wanita, pria dan pemuda, dimana hamba Tuhan memegang kendali dalam hal waktu, pujian dan renungan Firman Allah.

Perlu disampaikan bahwa tidak ada yang salah dengan kegiatan kerohanian sedemikian karena memiliki tujuan pasti. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam program gereja sedemikian dan bukan hanya kebaktian keluarga, persekutuan pria, wanita, remaja dan pemuda. Para professional juga bisa berkumpul bersama dan membentuk persekutuan, dan para hamba Tuhan nantinya akan memberitakan Firman Allah. Para pengacara bisa melakukan persekutuan pengajara, para supir taksi bisa melukan hal yang sama, begitu juga para tukang ojek bisa membentuk persekutuan tungkang ojek. Para ibu muda di dalam gereja juga bisa melakukan persekutuan seperti itu. Mereka membentuk suatu perkumpulan atau persekutuan bersama karena mereka sejenis, seprofesi, seumuran dan sebagainya serta menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan pergumulan, tantangan, kesulitan dan kebutuhan yang sama dalam hal kerohanian.

Semua yang disebutkan diatas merupakan kegiatan rohani yang sangat baik dan bermanfaat tetapi kebaktian keluarga memiliki suatu keunikan khusus karena kegiatan itu tercermin dalam kegiatan keluarga-keluarga umat percaya di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kebaktian kelurga yang saya bicarakan di sini bukanlah kebaktian keluarga yang merupakan program gereja yang diselenggarakan setiap minggu di rumah-rumah jemaat. Kebkatian keluarga di sini adalah kebaktian yang diselenggarakan keluarga-keluarga Kristen di rumah masing-masing setiap hari (pagi atau malam) dimana sang ayah berperan sebagai pemimpin rohani bagi anak-anak dan isterinya. Ia memimpin anggota keluarganya untuk memuji Tuhan dan merenungkan Firman Allah serta memberikan nasihat bagi anak-anak dan Isterinya. Kegiatan seperti ini bisa ditemukan dalam kehidupan umat percaya di Perjanjian Lama dan Perjajian Baru meskipun istilah “kebaktian keluarga” tidak ditemukan di dalam Alkitab. Tetapi melihat kegiatan yang dilakukan keluarga umat percaya dalam Alkitab, bisa disimpulkan bahwa mereka melakukan kegiatan penyembahan dan perenungan serta penghafalan Firman Allah setiap hari dan inilah yang saya sebut sebagai Kebaktian Keluarga.

Kebaktian keluarga ini merupakan kegiatan rohani keluarga yang dipimpin oleh sang ayah dalam membina dan menasihati anggota keluarga dalam terang kebenaran Firman Allah. Tetapi kegiatan seperti ini hampir bisa dipastikan sangat jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan keluarga-keluarga Kristen. Bahkan keluarga pendeta, guru Injil dan majelis gereja sekalipun tidak melakukan kegaitan rohani kebaktian keluarga, bukan karena mereka tidak mengetahui betapa penting kegiatan sedemikian, tetapi mereka gagal melakukannya dengan berbagai alasan. Jangankan kebaktian keluarga, mereka juga gagal melakukan renungan Firman Allah pagi atau malam secara pribadi. Mereka sering menghabiskan waktu membaca koran dan berita elektronik serta menonton program televise tetapi bukan untuk merenungkan Firman Allah. Mereka dengan mudah datang berkumpul bersama untuk makan malam di restoran tetapi bukan untuk kegiatan rohani. Alasan sibuk dan sebagainya sering menjadi alasan umum yang tidak asing lagi dan dengan alasan yang sama juga mereka menghindar dari berbagai kegiatan rohani yang diprogramkan gereja.

Ada juga sekelompok umat Kristen yang merasa bahwa umat Kristen tidak perlu melakukan kebaktian keluarga dalam keluarga mereka karena menganggap hal itu sebagai legalisme dan mengklaim bahwa “Kebaktian Keluarga tidak dituntut dalam Alkitab.” Banyak kegiatan gereja tidak memiliki ayat secara mutlak memicarakan hal itu tetapi jika hal itu bermanfaat dan membangun kerohanian umat percaya, maka hal itu patut dipertimbangkan.

Kebaktian keluarga merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan setiap umat percaya karena dalam kebaktian keluarga, sang ayah dan ibu bisa melihat dan memperhatikan pertumbuhan kerohanian anak-anaknya. Setiap hari mereka mengkhususkan waktu untuk bernyanyi dan memuji Tuhan serta membaca dan merenungkan Firman Allah. Momen seperti ini menjadi momem kebersamaan bagi setiap anggota keluarga untuk berdialog dan bertanya serta orang tua memberikan nasihat-nasihat bagi anak-anaknya.

Momen seperti ini akan menguatkan hubungan suami dan istri jika belum memiliki anak karena keluarga mereka dibagung dengan takut pada Tuhan. Ketika mereka memiliki anak, mereka harus terus melakukan kegiatan ini agar anak yang masih kecil terbiasa dengan kegiatan rohani sedemikian. Dalam momen seperti ini anaknya diajar untuk berdoa, bernyanyi dan mendengarkan cerita Alkitab. Keluarga Kristen tidak mempercayakan anaknya belajar Firman Allah hanya pada saat Sekolah Minggu. Kegiatan itu tidak cukup untuk membangun kerohanian anak dalam mengenal Kristus. Kegiatan sekolah minggu hanya beberapa minit saja mendengarkan cerita Alkitab dan sisanya hanya kegaitan lain. Partisipasi orangtua dalam menuntun anaknya untuk percaya kepada Kristus sangat Vital dan dibutuhkan. Salah satu kegiatan penting itu adalah kebaktian keluarga. Jika melakukan kegiatan kebaktian keluarga setiap hari, lihatlah perubahan dalam hidup saudara dan anak-anak saudara. Dengan kemurahan Tuhan suarada bisa menuntun anak-anak saurada untuk percaya pada Yesus Kristus.

Cobalah bertanya kepada anak pendeta, anak guru Injil dan anak majelis gereja yang sudah meninggalkan gereja dan hidup mengikuti cara hidup dunia ini. Tanyakan kepada mereka, apakah mereka ketika tinggal bersama orangtuanya melakukan kegiatan kebaktian keluarga dan perenungan Firman Allah setiap hari? Mereka pasti mengatakan bahwa orangtuanya sibuk dengan pelayanannya, khotbah dan rapat dimana-mana tetapi mereka tidak memiliki waktu untuk membina kegiatan rohani anak-anaknya. Banyak pendeta dan pengkhotbah yang kelihatan sangat berhasil dalam pelayanan tetapi mereka gagal dalam membina keluarganya. Mereka mencoba memperbaiki kerohanian orang lain, dan mengajar mereka dalam kebenaran dan menuntun mereka untuk tetap mengikut Yesus tetapi anak-anak mereka dan isterinya tidak tahu entah dimana. Itulah sebabnya Paulus menuliskan syarat-syarat menjadi seorang pelayan Tuhan dalam 1 Timotius dan Titus. Jika seorang ayah gagal mengurus keluarganya ia tidak pantas mengurus gereja. Ia tidak memiliki kuasa dan wibawa serta tidak pantas jadi seorang yang dapat diteladani orang lain.

Kebaktian keluarga harus menjadi momen terpenting bagi seorang ayah dalam mengarahkan anak-anaknya dalam kegiatan sehari-hari, karena begitu anggota keluarganya meninggalkan rumah, mereka diperhadapkan dengan berbagai kegiatan Iblis dan si jahat di luar sana. Bagaimana orang tua bisa memastikan agar anak-anaknya tidak terjerumus pada kegiatan jahat dan keji serta tidak tergoda melakukan dosa? Hal yang bisa dilakukan adalah menasihati mereka dalam kebaktian keluarga setiap paginya untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi di luar rumah. Para orangtua harus menyadari bahwa ia tidak akan bisa mengubah hati anak-anaknya, dab ia tidak bisa mengubah prilaku anak-anaknya tetapi Tuhan dan firmanNya melalui Roh Kudus bisa mengubah setiap hati manusia. Setiap anggota keluarga bisa saja berpura-pura taat dan patuh sama orang tua tetapi setelah meninggalkan rumah, ia menjadi raja bagi dirinya sendiri. Ia merasa bebas untuk berbuat apapun yang ia mau. Tetapi jika ia bersama keluarga merenungkan Firman Allah dan Roh Kudus berbicara dalam hatinya, ia akan melakukan apa yang berkenan kepada Kristus. Rasa cinta kepada Kristus dan ketaatan kepadaNya akan terbentuk.

Apakah sudah bisa melihat pentingnya kebaktian keluarga bagi keluargamu saat ini? Saya berharap saurada sudah semakin menyadari kenapa gagal mengikuti Yesus dan mendidik anak-anak serta keluargamu dalam Tuhan, karena saudara sendiri gagal merenungkan Firman Allah. Saudara sebagai pemimpin keluarga merasa punya wewenang memerintah anak-anak dan isterimu tetapi jika saudara bukan seorang ayah yang rohani, mereka akan menyadari bahwa saudara tidak layak diteladi. Semua kata-kata nasihat yang disampaikan tidak memiliki kuasa untuk mengubah mereka menjadi seorang yang taat dan penurut. Namun jika saudara seorang yang rohani, wibawa akan datang dengan sendirinya. Anak-anakmu akan mendengarkanmu dan isterimu akan menghormatimu. Jikalau saudara menganggap dirimu sebagai seorang pemimpin sukses dalam perusahaan, itu tidak berarti apa-apa jika saudara gagal sebagai pemimpin rohani bagi keluargamu. Saudara juga akan gagal sebagai saksi bagi Kristus karena perkataan, pemikiran serta rencana yang saudara lakukan dalam segala kegiatanmu tidak akan pernah untuk kemuliaan Kristus.

Uang bukan segalanya yang dibutuhkan anggota keluarga Kristen tetapi Kristus sangat dibutuhkan untuk mempersatukan dan mengharmoniskan keluarga Kristen. Kristus harus jadi pemimpin dalam keluargamu dalam segala aspek kehidupan. Cobalah tanyakan dirimu, kapan terakhir kali saudara membicarakan hal kerohanian kepada anak-anak dan isterimu? Apakah saudara sudah yakin anak-anak dan isterimu percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka? Itu adalah tanggung jawab sang suami untuk memastikan keselamatan anggota keluarganya. Tuhan menjadian suami sebagai kepala keluarga bukan hanya sebagai penyedia kebutuhan keluarga atau pencari nafkah anggota keluarga, tetapi juga sebagai pemimpin rohani keluarga. Teladan harus datang dari suami untuk anak-anak dan isterinya. Itulah beban seorang ayah dalam keluarga.

Bagi sang ibu, kapan terakhir kali saudari menasihati anak-anakmu menurut Firman Allah? Kapan terakhir kali saudari membaca dan merenungkan Alkitab bersama anak-anakmu? Suami memang pemimpin rohani, tetapi isteri harus menjadi pendukung suami dalam segala hal. Istri harus bisa berkata kepada anak-anaknya, “dengar nasihat ayahmu”, “taati nasihat anakmu!” Sang Istri, jangan sekali-kali memiliki pendapat dan nasihat yang berbeda dari suami untuk anak-anaknya, jika sang suami sudah berusaha berperan sebagai pemimpin rohani bagi keluarganya. Sang ayah bisa saja masih belajar dan memiliki kekurangan dan kelemahan tetapi jika ia sudah berusaha sang isteri harus tetap mendukungnya, dan bukan mengkritisi, karena sekalipun sang isteri lebih rohani, lebih memiliki intelektual, Tuhan tidak akan pernah memutarbalikkan peran yang sudah ditetapkan dalam Alkitab tentang keluarga Kristen. Sang isteri akan tetapi sebagai seorang isteri dan ibu, dan tidak akan pernah menjadi seorang suami atau pemimpin rohani dalam keluarga sekalipun ia lulusan sekolah teologia dengan berbagai gelar yang diraih. Ia akan tetapi menjadi isteri yang harus tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22-28).

22Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.”

Yang membedakan keluarga Kristen dari keluarga non-kristen adalah peran mereka mendidik anak-anaknya dalam Kristus. Semua laki-laki yang sudah berkeluarga menyadari bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk menyediakan nafkah bagi anak-anak dan isterinya. Semua suku dan agama di dunia menyadari hal itu. Banyak laki-laki banting tulang untuk menyediakan kebutuhan anak-anaknya dan berbulan-bulan mengembara dan meninggalkan anggota keluarganya serta merantau ke berbagai daerah agar bisa memenuhi kebutuhan anak-anak dan isterinya. Tetapi keluarga Kristen tidak hanya sebatas menyediakan kebutuhan sehari-hari tetapi juga menyediakan KEBUTUHAN ROHANI sehari-hari. Kehadiran sang ayah dalam keluarga sangat dibutuhkan keluarga Kristen Alkitabiah agar bisa mendidik anak-anaknya dalam Tuhan.

Seorang ayah yang tidak rohani tidak bisa berharap anak-anaknya jadi rohani meskipun terkadang hal itu terjadi, tetap si anak menjadi seorang rohani bukan karena hasil didikan ayahnya. Ia bisa saja dengan kemurahan Allah, mempertemukan anak itu dengan seorang Kristen setia dan rohani, dan menuntunnya kepada Tuhan serta membinanya menjadi seorang yang mencintai Kristsen bahkan menerima panggilan ilahi untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi kejadian seperti ini tidak terjadi dalam setiap keluarga Kristen. Pada umumnya jika sang ayah sungguh-sungguh melakukan tanggungjawabnya sebagai pemimpin rohani dalam keluarga, anak-anaknya akan mengikuti jejak ayahnya ketika nantinya mereka memiliki keluarga. Mereka akan mengenang kembali masa-masa ayahnya memimpin mereka dalam kebaktian keluarga dan perenungan Firman Allah, dan mereka ingin anak-anaknya juga sama seperti mereka. Mereka akan mengingat nasihat ayahnya meskipun mereka sudah dewasa dan memiliki keluarga. Bahkan sekalipun ayahnya sudah meninggal, anak-anaknya akan merindukan masa-masa kebersamaan dengan ayahnya ketika melakukan kebaktian keluarga.

Tidak jarang terdengar pertanyaan para ibu di dalam gereja, “bagaiamana ya mendidik anak-anak agar takut kepada Tuhan dan mau beribadah kepada Tuhan?” Lalu mereka berkata, “dulu ia sangat rajin ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu tetapi sekarang setelah memasuki remaja ia tidak memiliki ketertarikan dengan hal rohani. Apa yang menjadi masalah ya?” Banyak keluhan seperti ini terjadi dan mencoba mencari solusi setelah segala sesuatu sudah terjadi dan terlambat. Ketika anaknya masih kecil dan penurut, para orangtua tidak mendidiknya di dalam Tuhan. Keluarga yang mengabaikan hal-hal rohani akan diteladi anak-anak ketika mereka sudah dewasa. Bahkan hal yang tidak pernah dibayangkan orangtuanya bisa terjadi dimana anak-anaknya menjadi penganut agama lain dan  mengingkari kekristenan meskipun ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Kejadian seperti hanya membuktikan bahwa si anak sesungguhnya bukanlah seorang percaya. Keadaan seperti ini adalah keadaan sulit dan hanya kemurahan Allah yang bisa menyelamatkan.

Namun yang bisa saya katakana jika terjadi hal seperti ini, yang pertama perlu berubah bukan si anak yang tidak memiliki keinginan untuk hal kerohanian tetapi orangtuanya. Si anak memiliki prilaku seperti itu karena ia melihat prilaku orang tuanya tentang kerohanian. Sang orangtua harus mulai menguji dirinya apakah ia sudah sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan apakah ia sudah benar-benar hidup sesuai dengan Firman Allah dalam perkataan, prilaku, perbuatan dan keinginan. Apakah ia sudah benar-benar merenungkan Firman Allah setiap harinya, dan apaka ia sudah benar-benar hidup untuk Tuhan. Jika semua ini belum dilakukan maka ia harus lakukan dan berubah. Ia harus bisa mengakui dihadapan anak-anaknya bahwa ia sudah salah dan memiliki kelemahan serta meminta maaf karena tidak mendidik anak-anak sebagaimana diajarkan Yesus. Nyatakan keinginan untuk berubah dan memulai segala sesuatu dari awal. Dengan sikap seperti ini, anak-anaknya akan menyadari bahwa orangtuanya mau berubah dan ia juga harus berubah. Hanya dengan pemulihan seperti ini, orangtua bisa berharap kemurahan Tuhan bagi anak-anaknya.

Kuasa kebaktian keluarga dalam mengubah setiap anggota keluarga sangat luarbiasa dan itu sudah terbukti dalam catatan sejarah kekristenan. Salah satu catatan sejarah yang melihat betapa penting kebaktian keluarga tercermin dalam Pengakuan Iman Wesminister pasal 21 bagian 6 – tentang Kebaktian Rohani dan Sabat.

Gereja-gereja Reformed (Presbyterian) selalu mengajarkan bahwa kebaktian keluarga dituntut Allah dalam FirmanNya. Bahkan gereja Skotlandia menerbitkan suatu directory tentang kebaktian keluarga. Semua dikarenakan kebaktian keluarga dilihat sebagai suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga Kristen. Para Puritan juga melihat kebaktian keluarga sebagai hal yang sangat mendasar untuk setiap keluarga Kristen bahkan mereka melarang seorang laki-laki mengikuti Perjamuan Tuhan jika gagal memimpin keluarganya dalam ibadah keluarga. Sayangnya masa modern sekarang ini, kebiasaan seperti ini sudah sangat merosot dan jarang ditekankan dalam gereja. Banyak gereja-gereja tidak menghargai kegiatan yang penuh berkat seperti ini. Itulah sebabanya mereka tidak mendorong dan memotivasi jemaatnya untuk melakukan kebaktian keluarga karena para pemimpin gereja itu juga tidak melakukan hal itu dan tidak melihat manfaatnya bagi kerohanian mereka.

Namun siapa saja yang dengan penuh perhatian membaca Kitab Suci akan mengetahui bahwa Allah menuntut setiap kepala rumah tangga untuk memimpin keluarganya dalam doa, nasihat Firman Allah dan ibadah kepada Tuhan. Alkitab juga mencatat resiko dan bahaya bagi keluarga-keluarga yang tidak mencari Tuhan dengan giat.

Keluarga Kristen Merupakan Fondasi dan Permulaan Kegiatan Rohani

Seorang puritan yang bernama Thomas Manton pernah berkata, “Agama pertama sekali menetas dalam keluarga.” Dari Adam hingga Musa, penyembahan yang benar kepada Allah secara umum merupakan kegiatan keluarga dimana para Patriak memimpin keluarganya dalam penyembahan kepada Tuhan melalui doa, nasihat dari Firman Allah dan persembahan korban untuk keluarga. Hanya mulai dari masa Musa (kitab Keluaran) dan seterusnya, kita bisa melihat kumpulan orang-orang yang terorganisir dalam penyembahan umum.

Kitab Suci mencatat kegiatan penyembahan keluarga Nuh:

Kejadian 6:18 – “Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.”

Kejadian 7:1 – “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.”

Ibrani 11:7 – “Karena iman, maka Nuh  —  dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan  —  dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.”

Kejadian 8:18-20 – “18Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 19Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 20Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.”

Dalam keluarga Abraham terlihat jelas bahwa ia seorang rohani yang memimpin keluarganya di dalam Tuhan.

Kejadian 18:19 – “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Dalam Keluarga Ishak hal yang sama juga terjadi dan sudah barangtentu ia meneladani apa yang diperbuat ayahnya, Abharam. Ia bertindak sebagai imam bagi keluarganya dan berdoa untuk Isterinya.

Kejadian 25:21 “Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.”

Dalam keluarga Yakub, sebagai seorang ayah yang memiliki banyak anak, ia memiliki tanggungjawab untuk mendidik dan mengajar mereka dengan menaati apa yang diperintah Tuhan meskipun pada saat itu ia tidak memiliki Alkitab sebagai penuntun. Apa yang ia terima dari ayahnya diturunkan kepada anak-anak dan isterinya.

Kejadian 35:2 – “Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.”

Dalam keluarga Ayub, ia sebagai sang ayah memiliki tanggungjawab untuk berdoa bagi anak-anaknya dan mempersembahkan korban bagi mereka. Ekspresi kerohanian seperti ini sudah barangtentu dalam kehidupan sehari-hari ia selalu menasihati anak-anaknya untuk beribadah kepada Tuhan. Meskipun ia hidup dimasa sebelum Abraham, ia menjadi seorang teladan rohani bagi banyak orang percaya hingga masa sekarang.

Ayub 1:5 – “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”

Umat Israel ketika masih di Mesir diberitahukan untuk menyembah Allah di rumah masing-masing pada saat Paskah seperti yang dicatat dalam Keluaran 12:21-28,

21Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: “Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah. 22Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. 23Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. 24Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. 25Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. 26Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? 27maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. 28Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.”

Melalui Musa, Allah mengajar para orangtua bahwa mereka harus dengan rajin memelihara pengajaran Firman Allah setiap hari di dalam rumah mereka agar anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi para penyembah Allah dan pelaku-pelaku ketetapan dan kebenaran Allah. Dalam Kitab Ulangan 6:7 Musa mencatat perintah Allah demikian,

Ulangan 6:7 – “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Jika memperhatikan ayat di atas, hamper setiap saat mereka berbicara tentang kerohanian dan bagaimana mereka hidup menyembah Allah. Ini melebihi dari kebaktian keluarga yang saya maksudkan. Mereka duduk, berbaring dan bangun, yang ada dalam percakapan mereka adalah bagaimana menyembah dan hidup bagi Tuhan. Begitu berbeda dengan kehidupan keluarga-keluarga Kristen sekarang ini yang menjadikan hal kerohanian hanya percakapan sumbang. Hanya keluarga Kristen yang sungguh-sungguh melihat kuasa Alkitab dan perenungan Firman Allah yang akan memperdulikan percakapan rohani dalam keluarganya.

Perhatikan juga apa yang dikatakan Musa dalam Kitab Ulangan 11:19, dimana ia mengulang apa yang sudah ia sampaikan sebelumnya.

Ulangan 11:19 – “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Pengajaran Firman Allah setiap hari kepada anak-anak adalah tanggungjawab setiap ayah; ia harus dengan rendah hati dan setia melakukan hal itu. Para ayah harus dengan penuh perhatian untuk menuntun anak-anaknya dalam memahami wahyu ilahi kebenaran Allah. Pengajaran alkitabiah setiap hari kepada anak-anak adalah perintah Allah dan harus dilakukan dengan sukacita dan penuh komitmen. Firman Allah adalah warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak-anak kita setiap hari. Firman Allah akan memenuhi hati mereka dengan kebenaran, hikmat dan janji-janji yang menyucikan agar mereka boleh memiliki suatu kehidupan Kristen yang berkemenangan di tengah-tengah generasi yang jahat.

Kitab Suci mengingatkan bahwa tanpa bantuan Allah, kita tidak bisa membangun rumah kita, Mazmur 127:1 – “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Kebakitan keluarga tak ternilai harganya, karena itu merupakan fondasi dari sebuah keluarga yang saleh dan bersatu, dan keluarga yang perduli terhadap anak-anaknya. Kebaktian keluarga adalah tulang belakang dari suatu komunitas dan tulang punggung gereja (Mazmur 128). Jika setiap keluarga Kristen menyelenggarakan kebaktian keluarga dan bertumbuh dalam pengetahuan Firman Allah yang menyucikan, gereja tempat saudara beribadah akan memiliki kekuatan moral dan rohani besar dalam pekerjaan Tuhan. Jika keluarga Kristen tidak memiliki doa dan pembinaan rohani, gereja akan sangat lemah dan mati. O begitu indah jika setiap rumah keluarga Kristen adalah sebuah gereja Allah dimana para orangtua dan anak-anak menyembah Allah di rumah mereka.

Saya ingin menambahkan bahwa kepala rumah tangga yang memimpin anggota keluarganya dalam kesetiaan perjanjian kepada Allah merupakan hal sangat penting yang Allah pakai sebagai alat anugerah keselamatan bagi banyak anak-anak di gereja. Jika sang ayah tidak hadir (apakah karena bukan orang Kristen atau sudah meninggal), biarlah sang ibu memimpin anak-anaknya dalam menyanyikan pujian, membaca Firman Allah dan berdoa. Kita perlu membimbing anak-anak kita untuk memandang kepada Yesus Juruselamat setiap hari agar hati mereka dipenuhi dengan sukacita, damai sejahtera dan jaminan pengampunan dan penebusan Kristus. Paulus memberitahukan kepada Timotius yang masih muda memberikan kesaksian tentang pentingnya kegiatan seperti ini dalam kegitan rohani keluarga.

2 Timotius 3:15 – “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”

Jika keluarga Kristen melakukan ibadah keluarga dengan teratur maka gereja akan memiliki pemimpin rohani yang kuat. Alkitab mengajarkan bahwa gereja harus memiliki para pria yang memimpin rumahnya dengan benar dan takut kepada Allah.

1 Timotius 3:5 – “Jikalau seorang [ayah] tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?”

Jika laki-laki di dalam gereja tidak bisa memimpin keluarganya dalam menyembah Allah, bagaimana mereka bisa memimpin keluarga yang lebih besar seperti gereja untuk menjadi penyembah-penyembah Allah yang benar?

Oleh karena itu, umat Kristen laki-laki, pimpinlah keluargamu dengan tangan keayahan yang kuat dan lemah lembu, dengan hati yang bertobat dalam penyembahan kepada Allah setiap harinya. Bicaralah dengan penuh hormat, dengan otoritas dan dengan kasih kepada anggota keluargamu untuk membimbing mereka menyembah Allah.