Prinsip-Prinsip Dasar Menafsirkan Firman Tuhan

PRINSIP-PRINSIP DASAR MENAFSIRKAN FIRMAN ALLAH

oleh Samson H

Banyak orang berpikir jika ingin menafsirkan Firman Allah dengan benar ia harus  mengikuti pendidikan formal teologia di sekolah teologia. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena pada kenyataannya tidaklah demikian. Para hamba-hamba Tuhan memang harus mempelajari bagiamana cara menafsikan Firman Allah dengan benar dan memperlengkapi diri menjadi seorang pemimpin, pengkhotbah, pengajar, dan penafsir Firman Allah.

Namun sebagai jemaat awam, ketika menyatakan diri sebagai orang percaya, ia telah berkomitmen membaca dan merenungkan Firman Allah siang dan malam. Dalam prosesnya sudah mencoba menafsirkan dan mencari arti kata atau kalimat atau maksud dari apa yang direnungkan. Orang percaya tidak membaca Alkitab seperti membaca buku novel atau sejarah lainnya tetapi mencoba mendapatkan maksud dari apa yang dibaca dan mengaplikasikannya. Inilah yang disebut dengan menerungkan Firman Allah (Saat Teduh). Namun demikian meskipun kegiatan membaca dan merenungkan Alkitab merupakan sesuatu yang umum dan biasa dilakukan, ada prinsip-prinsip dasar yang perlu dipahami agar ketika mempelajari Firman Allah tidak melakukan kesalahan fatal dan membuat kesimpulan yang salah yang berakibat buruk pada pertumbuhan kerohaniannya.

Sebagai peringatan, Petrus memberikan nasihat kepada umat Kristen dalam 2 Petrus 1:21-22 yang berbunyi demikian, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bawha nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Ayat ini mengingat umat Kristen untuk tidak bermain-main dalam menafsirkan Firman Allah. Harus diakui, tidak mudah untuk menafsirkan firman Allah dengan benar karena yang dicari  adalah arti yang dimaksud Allah atau penulis aslinya. Petrus sendiri mengakui bahwa dalam tulisan Paulus terdapat tulisan yang sukar dimengerti yang menuntut kerja keras dan kehati-hatian. Namun sebagian orang yang tidak mengindahkan maksud Firman Allah yang sesungguhnya telah memutarbalikkannya untuk kebinasaan mereka ( 2 Petrus 3:15-16).

Sehubungan dengan fakta ini, Paulus mengingatkan Timotius dan umat Kristen dengan nasihat ini, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15).

Kata “usahkanlah” di sini memiliki pengertian untuk berjuang dan berusaha keras menggali kebenaran Firman Allah. Karena dengan mengerti apa yang Allah maksudkan dalam FirmanNya, seseorang akan mengerti bagaimana menjadi seorang hamba yang layak di hadapan Allah.

Dalam Alktiab bahasa Inggris (KJV) kata “usahakanlah” di sini adalah kata “study” yang mana menekankan bagaimana umat Kristen mempelajari Firman Allah dalam menyenangkan hati Allah. Perlu diketahui bahwa kata “usahakanlah” atau “study” ditulis dalam bentuk perintah atau imperatif dalam bahasa Yunani. Itu berarti, bahwa setiap orang percaya harus melakukannya sebagi mungkin. Itu bukan suatu pilihan atau opsi tetapi suatu keharusan. Oleh karena itu, sebelum seseorang memberikan suatu arti Firman Allah yang dipelajari, ia harus berhati-hati dalam menangani perkataan Allah karena itu bukan perkataan manusia. Jadi ketika seseorang ingin memberikan arti suatu Firman, ia harus memikirkan apa maksud Allah ketika DIA mengatakan atau memberikan perkataan itu dan bukan apa pendapatnya tentang maksud Firman itu.

Untuk memperjelas maksud pernyataan ini, kita bisa mengambil suatu ilustrasi dari kehidupan sehari-hari. Perhatikan ilustrusi berikut ini. Jika kamu mengendarai mobil atau motor, pasti sering melihat yang mirip sepert ini, ‘HATI-HATI ADA LOBANG 100 METER.’ Ketika membaca tulisan peringatan ini, pengendara secara spontan akan mencoba mengerti apa maksud pembuat tulisan ini. Apakah tulisan ini berarti “ada lobang panjangnya 100 meter” atau “ada lobang 100 meter di depan.”

Menafsirkan Firman Allah hampir sama dengan contoh diatas. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pikirkanlah apa maksud Tuhan ketika mengatakan perkataan itu. Namun demikian ada prasyarat (syarat awal) yang harus dimiliki sebelum seseorang mencoba menafsirkan Firman Allah. Ia sudah lahir baru (percaya pada Kristus dengan sungguh-sungguh), dengan demikian ia memiliki Roh Kudus yang akan memimpin, membimbing, menuntun dan mengajarinya di saat mempelajari firman Allah dan memberikan tafsiran.

Hal kedua yang harus ketahui bahwa Alkitab adalah sempurna dan tidak mengandung kesalahan karena Alkitab adalah perkataan Allah yang sempurna dan tidak melakukan kesalahan. Semua tulisan manusia mengandung kesalahan dan kekeliruan karena memilki keterbatasan dan kelemahan tetapi Allah tidaklah demikian. Rencana dan karya Allah sempurna. Oleh karena itu ketika manusia berdosa yang walaupun telah disucikan dan ditebus oleh darah Yesus Kristus, dan dibenarkan serta dijadikan orang-orang Kudus, sifat alaminya berbuat kesalahan dan kekeliruan melekat pada dirinya sebagai tabiat dan sifat naturalnya. Karya manusia tidak akan pernah sempurna, seperti Allah lakukan.

Hal ketiga, ketika menafsirkan Alkitab, JANGAN MENJADIKAN SATU BAGIAN FIRMAN ALLAH BERTENTANGAN DENGAN BAGIAN LAINNYA. Dengan kata lain ketika memberikan arti dan maksud ayat Firman Allah, arti tersebut jangan bertentangan dengan ayat-ayat lain. Jika ini terjadi, itu berarti kamu telah melakukan kesalahan dan kekeliruan. Jika pengertian diberikan salah dan keliru, jangan pernah salahkan Alkitab dan berkata, “Allah telah melakukan kesalahan dan membuat ayat Alktiab bertentangan satu dengan lainnya.” Tetapi sebaliknya, sadarlah sebagai manusia lemah yang memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, teruslah belajar dan cobalah tanyakan maksud ayat itu pada orang Kristen yang lebih rohani atau pada hamba Tuhan karena mereka telah lebih banyak mempelajari Alkitab. Namun demikian, ada saatnya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit yang dimiliki. Jika hal ini terjadi, terimalah itu sebagai mana adanya karena manusia memiliki keterbatasan dan bukan karena Allah melakukan kesalahan dalam firmanNya.

Hal keempat yang harus diketahui ketika memiliki pengalaman tertentu dalam hidup, JANGANLAH JADIKAN PENGALAMAN ITU MENJADI PATOKAN (PENENTU) TETAPI ALKITAB HARUS MENJADI PATOKAN HIDUP. Dengan kata lain jangan jadikan pengalaman sebagai kebenaran mutlak dan kemudian menjadikan Alkitab (ayat firman Allah) sebagai pendukung pengalaman itu. Tetapi sebaliknya, Alkitab harus yang paling utama (patokan kebenaran). Oleh karena itu jika Alkitab mengatakan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman itu, maka pengalaman itu keliru  dan bukan Alkitab. Jangan mencari-cari ayat Alkitab untuk membenarkan pengalaman.

Keempat hal diatas memberikan fondasi dasar ketika mempelajari Firman Allah. Namun demikian, masih ada banyak prinsip-prinsip penafsiran firman Allah yang perlu diketahui ketika ingin menafsirkannya. Teruslah belajar dan membenahi diri, dan Roh Kudus akan membantu semakin dewasa dalam pengertian Firman Allah.

Berikut ini terdapat beberapa prinsip dasar penafsiran Alkitab yang bisa adopsi.

  1. Milikilah prasuposisi (asumsi) yang benar: Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam iman dan segala praktek kehidupan.
  2. Alkitab menafsirkan Alkitab. Tafsiran yang paling baik adalah penjelasan atau tafsiran yang diberikan firman Allah dalam kitab-kitab lain.
  3. Memiliki iman dan Roh Kudus adalah suatu keharusan dalam mengerti dan menafsirkan Firman Allah.
  4. Tafsirkan pengalaman pribadi menurut Firman Allah dan bukan Firman Allah menurut pengalaman pribadi.
  5. Contoh-contoh dalam Alkitab memiliki otoritas hanya ketika didukung perintah Allah.
  6. Tujuan utama Alkitab adalah untuk mengubah hidup manusia, bukan hanya menambah pengetahuan.
  7. Setiap orang Kristen memiliki hak dan tanggungjawab menyelidiki dan menafsirkan Firman Allah bagi dirinya.
  8. Sejarah gereja penting tetapi bukan penentu utama dalam menafsirkan Alkitab.
  9. Semua janji Allah dalam keseluruhan Alkitab melalui Roh Kudus bermanfaat bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman.
  10. Firman Allah hanya memiliki satu arti dan bukan banyak.
  11. Tafsirkan kata-kata Firman Allah dengan harmonis sesuai dengan arti pada masanya ketia ia dituliskan.
  12. Tafsirkanlah kata-kata dalam Alkitab sesuai dengan kalimat dan konteksnya.
  13. Tafsirkanlah Firman Allah dalam keharmonisan dengan konteksnya.
  14. Ketika obyek yang tidak hidup digunakan untuk menjelaskan makhluk hidup, maka hal itu dapat dipertimbangkan sebagai figuratif (kiasan).
  15. Ketika suatu ekspresi tidak sesuai dengan karakter yang dijelaskan, hal itu dapat dipertimbangkan sebagai figuratif (kiasan).
  16. Bagian-bagian prinsip terpenting dari perumpamaan melambangkan realitas tertentu. Pertimbangkan hanya bagian dan bentuk terpenting ini saja pada saat membuat kesimpulan.
  17. Tafsirkan nubuat para nabi dalam makna biasa yaitu, pengertian harfiah dan sejarah (historikal), terkecuali konteks ataupun cara bagaimana nubuat itu digenapi dengan jelas menunjukkan bahwa nubuat itu memiliki arti simbolik.