Teladan Jemaat Tesalonika

TELADAN JEMAAT TESALONIKA

Oleh Samson H

Gereja Tesalonika merupakan gereja yang sangat luar biasa jika dibandingkan dengan gereja-gereja yang didirikan Rasul Paulus di berbagai Negara. Gereja ini sangat istimewa dan unik. Jika engkau seorang percaya, cobalah bandingkan iman, kesetiaan, ketaatan dan kecintaanmu kepada Tuhan dengan iman jemaat Tesalonika. Engkau akan menyadari bahwa apa yang engkau perbuat sebagai orang Kristen sangat memalukan dan tidak mencerminkan sebagai umat yang telah ditebus oleh darah Kristus Yesus. Jika ditanyakan tentang perubahan apa yang engkau alami sebagai bukti engkau sungguh percaya pada Yesus Kristus, engkau kesulitan untuk memberitahukan dan seandainyapun engkau mengatakan sesuatu hal, orang-orang disekitarmu akan menyela dan membantah apa yang engkau katakan karena engkau tidak menunjukkan suatu perubahan dan pembaharuan.

Namun tidak demikian dengan jemaat Tesalonika, hidup mereka berubah 180 derajat dari kehidupan sebelumnya. Mereka sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan Kristus dan mengubah hidup mereka karena injil. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Injil itu kekuatan Allah yang mengubah setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (Roma 1:16).

Ayat ini adalah kebenaran mutlak yang akan senantiasa dialami oleh mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Jika engkau tidak melihat suatu perubahan dan pembaharuan sesuai dengan Firman Allah dalam dirimu setelah mengkalim diri sebagai pengikut Kristus, ketahuilah bahwa engkau bukanlah pengikut Kristus yang sesungguhnya, bukan orang percaya dan bukan pewaris kerajaan Allah. Orang percaya berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Orang percaya memiliki pembaharuan dalam hidup, karakter, prilaku dan cara pikir. Ia sungguh-sungguh menjadi ciptaan baru. Paulus berkata demikian,

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).

Untuk inilah Kristus datang ke dunia ini agar setiap orang yang percaya kepadaNya mempertunjukkan kepada dunia bahwa ia berbeda dari mereka yang tidak mengenal Kristus. Ia adalah manusia baru yang diberikan kuasa untuk hidup kudus dan tidak lagi seperti kehidupan sebelumnya. Ia memperoleh hidup kekal dan terbebas dari hukuman kekal. Semua ini terjadi karena anugerah Tuhan melalui iman ia mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Apa yang disampaikan Paulus di atas bukan sekedar mengadopsi suatu pola pikir bahwa “ia ciptaan baru” tetapi sesungguhnya ia mengalami suatu pembaharuan dalam hidup. Ia melihat dirinya tidak sama seperti sebelumnya. Ada pembaharuan karakter, prilaku, keinginan dan kerinduan yang selalu bekerja dalam hidupnya dimana ia ingin semakin berkenan kepada Yesus Kristus. Ia membenci segala kebiasaan jahat dan buruk sebelum mengenal Yesus dan dengan rasa haus ingin selalu mendekatkan diri kepada Yesus. Perbuatan dosa yang selama ini dinikmati menjadi suatu kekejian dan kebencian karena ia sudah menerima kuasa kekudusan dari Tuhan dan ia ingin hidup memuliakan Tuhan.

Meskipun orang percaya sudah mengalami pembaharuan di dalam dirinya, sifat berbuat dosa yang adalah tabiat alami yang dimiliki setiap manusia tidak dihapus atau dimusnakah dari diri seorang percaya. Tabiat itu tetap ada di dalam dirinya. Namun dengan kuasa Roh Kudus, tabiat itu bisa diredam oleh seorang percaya melalui doa, komitmen dan dedikasi untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Ia mampu mengalahkan kuasa dosa yang bergejolak di dalam dirinya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan FirmanNya. Meskipun demikian, umat percaya perlu diingatkan bahwa mereka harus senantiasa berubah. Inilah yang disampaikan Paulus kepada jemaat Roma.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Pembaharuan seperti ini dialami semua orang yang sungguh-sungguh mempercayai Yesus Kritus. Jika engkau tidak mengalami hal pembaharuan sama sekali, periksalah hatimu apakah engkau sudah sungguh-sungguh percaya pada Yesus atau hanya sekedar merasa telah percaya dan mengenalNya, tetapi Yesus sendiri tidak mengenalmu dan tidak menganggapmu sebagai anak-anakNya. Datanglah kepada Yesus dan percaya kepadaNya, akuilah segala dosa-dosamu.

Jemaat Tesalonika Mengalami Pembaharuan

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting tentang gereja Tesalonika. Sebelum Paulus datang ke kota ini, tidak ditemukan seorang Kristen di sana. Allah mengirim Paulus bersama tim untuk menjangkau orang-orang Tesalonika agar mereka juga bisa mendengarkan berita Keselamatan, Injil yang sama seperti yang dimiliki gereja saat ini.

Penduduk Tesalonika saat itu hidup dengan kebiasaan berdosa, penyembahan berhala dan tanpa mengenal Tuhan yang benar. Segala kehidupan berjalan dan dilalui sebagaimana diperbuat para pendahulu penduduk Tesalonika, tanpa Tuhan dan tanpa pengharapan. Kota Tesalonika dikenal dengan kota penyembahan berhala karena dipenuhi dengan kuil-kuil berhala sama seperti kota Korintus. Namun Injil bisa mengubah setiap orang yang percaya pada Yesus.

Perubahan apa yang terjadi? Setibanya di Tesalonika, Paulus mempergunakan kesempatan untuk memberitakan Injil kepada umat Yahudi. Ia dengan gigih memberitakan inji karena ia tahu dengan pasti bahwa Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Injil tidak mamandang buluh, suku, bahasa dan bangsa. Paulus meyakini bahwa Allah bisa menyelamatkan penduduk Tesalonika sekalipun mereka sudah memiliki berhala yang dianggap sebagai tuhan. Ia sungguh yakin bahwa Tuhan bisa mengubah hati mereka dan berpaling kepada Yesus.

Perubahan hidup terjadi setelah mendengarkan Injil

Dalam Kisah 17:1-9 dicatat sejarah awal berdirinya gereja Tesalonika. Di sana dicatat kegiatan pelayanan yang dilakukan Paulus di saat ia memasuki kota Tesalonika. Kisah 17:2 memberitahukan demikian,

Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.

Ayat ini memberikan penjelasan betapa singkat waktu dan kesempatan yang dimiliki Paulus di kota Tesalonika. Jika mempertimbangkan waktu singkat ini, menurut ukuran manusia sudah pasti tidak bisa berbuat banyak apalagi untuk mendirikan sebuah gereja baru di kota yang penuh dengan penyembahan berhala. Banyak misionaris di Negara-negara penyembah berhala, mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa mendirikan sebuah jemaat di daerah itu. Paulus dengan kuasa Tuhan, ia memberitakan Injil di kota ini dan Tuhan mamakainya untuk mendirikan jemaat Tesalonika.

Mendengarkan Injil Selama Tiga Hari Sabat

Kisah 17:2 memberitahukan bahwa Paulus hanya memiliki waktu tiga hari sabat di kota Tesalonika. Ia tidak merencanakan hal itu sedemikian tetapi keadaan yang memaksanya untuk meninggalkan kota Tesalonika. Namun selama tiga hari Sabat itu, ia pergunakan untuk penginjilan dan membina serta mendidik mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus. Jika hanya melihat waktu tiga hari Sabat atau tiga minggu akan terlihat singkat dan tidak begitu berarti dalam pendirian sebuah gereja. Jika Paulus tadinya merencanakan tiga hari Sabat berada di kota Tesalonika mungkin ia akan merencanakan pelayanan yang lebih efektif lagi dan mengajar jemaat siang dan malam. Tetapi waktu tiga hari Sabat itu dimiliki karena adanya penolakan penduduk setempat terhadap berita Injil yang disampaikan Paulus. Meskipun waktunya sangat singkat, ia sudah melakukan apa yang sepatutnya dilakukan selama berada di Tesalonika. Ia tidak membuang-buang waktu dalam pemberitaan Injil. Ia bukan seperti banyak tim kunjungan misi gereja sekarang ini yang melakukan kunjungan pelayanan ke suatu daerah dua hari dan jalan-jalan serta belanja selama lima hari. Paulus mempergunakan setiap kesempatan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang ada di Tesalonika.

Allah sungguh berkenan dengan apa yang dilakukan Paulus di kota Tesalonika. Dalam waktu tiga minggu (tiga sabat) di kota itu, sejumlah orang telah bertobat dan membentuk jemaat baru (Kisah 17:4). Lalu apa yang terjadi dalam beberapa hari pelayanan Paulus di sana? Allah bekerja dan menggerakkan hati orang-orang yang berkumpul dan mendengarkan Injil serta membuat mereka percaya kepada Yesus Kristus. Tidak banyak yang mau percaya tetapi hanya beberapa orang saja, namun mereka sudah bisa menjadi satu jemaat Kristus. Sebuah gereja dikatakan sebagai gereja bukan karena gedung yang dimiliki dan juga bukan karena sudah memiliki ratusan atau ribuan jemaat, tetapi hanya beberapa orang saja sudah bisa menjadi satu jemaat Kristus yang digembalakan seorang yang dipanggil Tuhan. Lukas mencatat dalam Kitab Kisah Para Rasul demikian,

“Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka” (Kisah 17:4).

Meskipun jumlahnya tidak banyak, Paulus tidak mengabaikan mereka. Perhatiannya juga tertuju kepada mereka. Mereka inilah yang menjadi penerima surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika. Tentu dengan berjalannya waktu dan dengan dedikasi, komitmen dan pengetahuan yang semakin bertambah di hati jemaat, mereka juga giat melakukan pemberitaan Firman Tuhan kepada orang-orang di sekitar sehingga jumlah orang-orang percaya semakin bertambah. Namun Paulus tidak memiliki banyak waktu di Tesalonika, karena setelah tiga hari Sabat berada di kota itu, sekelompok orang Yahudi merasa terancam (iri hati) dengan kehadirannya dan membuat suatu keributan yang memaksanya harus meninggalkan kota itu dan melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, kota Berea.

“Tetapi orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu. Mereka menyerbu rumah Yason dengan maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat” (Kisah 17:5).

Apa yang terjadi di kota ini sudah tentu di luar prediksi dan keinginan Paulus yang masih ingin tinggal di Tesalonika untuk menunaikan panggilannya sebagai pemberita Injil Kristus. Terlebih lagi ketika ia melihat begitu besar keinginan orang-orang percaya untuk terus mempelajari Firman Tuhan. Kekacauan yang terjadi tidak terelakkan bahkan rumah seorang jemaat tempat Paulus melakukan pelayanan diserbu dengan maksud untuk menangkap Paulus dan Silas. Sudah barang tentu kejadian ini sangat menakutkan bagi orang-orang percaya baru di kota Tesalonika. Namun keyakinan dan iman yang mereka miliki di dalam Kristus tidak membuat mereka untuk mundur sekalipun harus menghadapi penganiayaan dan penderitaan, mereka berdiri kokoh dalam kebenaran Injil.

Di sisi lain, Paulus harus meninggalkan kota Tesalonika. Ia tidak memilih bertahan di kota itu dan mati di sana. Ia mengetahui kuasa dan kedaulatan Tuhan yang turut bekerja dalam segala hal. Ia tidak takut mati tetapi ia mengetahui bahwa ia masih harus melakukan pelayanan dan pemberitaan Injil di berbagai daerah. Ia tidak lari dan bersembunyi di suatu tempat dan berhenti melakukan pelayaan. Ia meninggalkan Tesalonika, tetapi ia melanjutkan pelayanan dan pemberitaan Injil di kota terdekat yaitu kota Berea. Di sana ia juga tetap memberitakan Injil Kristus Yesus dan kemudian mendirikan sebuah jemaat Berea.

Iman Sejati menghadapi tantangan dan penganiayaan

Tantangan dan penolakan serta penganiayaan merupakan bagian dari perjalanan iman sejati seorang percaya. Yesus sendiri telah memberitahukan bahwa jika Ia teraniaya maka pengikutNya juga akan mengalami hal yang sama. Itu jugalah yang dialami jemaat Tesalonika. Hal yang sama bisa terjadi dan dialami setiap umat percaya di berbagai daerah dan Negara. Jangan pernah mengingkari Yesus hanya karena ingin terlepas dari penderitaan dan penganiayaan sebagai pengikut Kristus. Jika harus pindah dan meninggalkan suatu daerah dikarenakan penolakan, maka tetaplah menyembah dan melayani Tuhan. Penganiayaan akan membuktikan bahwa engkau memiliki iman sejati dan murni. Paulus menghadapi itu dan umat percaya di berbagai belahan dunia mengalami hal yang sama.

“Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi” (Kisah 17:10).

Kuasa Injil sungguh luar biasa bagi jemaat Tesalonika. Tuhan memberikan keyakinan kokoh bagi mereka yang percaya dan tetap bertahan mengikuti Kristus meskipun Paulus harus meninggalkan mereka. Waktu singkat yang hanya tiga hari sabat sudah cukup untuk membuat mereka menjadi jemaat yang bersemangat dan antusias akan kedatangan Yesus Kristus kembali.

Melihat akan apa yang Paulus ungkapkan dalam tulisannya kepada jemaat ini, tidak ada keraguan bahwa jemaat Tesalonika merupakan jemaat yang cinta Yesus dan kedatanganNya kembali. Tidak bisa dibayangkan jika seandainya Paulus tinggal di kota ini seperti ia tinggal di Korintus atau Efesus, pemberitaan Injil akan tersebar ke berbagai sudut kota dan desa. Dengan hanya dilayani selama tiga hari Sabat saja, mereka telah menunjukkan pengaruh Injil yang luar biasa dalam hidup mereka. Sungguh Injil yang telah mengubah hidup mereka!

Tuhan telah memakai Paulus untuk menjangkau jiwa-jiwa yang hilang dan tersesat di Tesalonika, itu bukan karena kuasa dan kehebatannya tetapi karena Tuhan berkenan. Manusia tidak memiliki kekuatan atau hikmat untuk mengubah manusia, bahkan seorang ayah sekalipun tidak memiliki kuasa dan kemampuan untuk mengubah anaknya untuk penjadi pengikut Kristus. Sekalipun sang ayah seorang pendeta atau pemberita Injil, ia tidak memiliki kuasa itu, tetapi hanya karena kemurahan Kristus dengan kuasa Injil yang diberitakan kepada anak-anaknya. Injillah yang bisa mengubah mereka menjadi pengikut Kristus yang setia. Kristuslah yang bisa mengubah penjahat menjadi pelaku kebenaran. Kristuslah yang bisa mengubah hati Zakeus menjadi dermawan dan pengikut Yesus.

Injil Mengubah Hidup Seorang Percaya

Jika ada orang berpikir bahwa orang Kristen sama saja dengan penganut agama lain, ia keliru. Mungkin karena kecewa melihat orang-orang yang menyatakan diri sebagai orang Kristen tetapi berprilaku mereka buruk dan jahat. Pada kesempatan ini, ketahuilah bahwa jika seseorang sungguh-sungguh percaya Yesus, ia pasti berbeda. Ia akan menunjukkan suatu perubahan dan pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus dalam dirinya. Inilah pengalaman setiap orang yang sungguh-sungguh percaya, yang Alkitab katakan bahwa ia adalah ciptaan baru. Ia telah memiliki pembaharuan jiwa dan hati dan tidak sama lagi dengan kondisi kerohanian sebelumnya. Secara jasmani, semuanya sama dan tidak ada perubahan karena perubahan itu terjadi di dalam hati, pikiran dan jiwanya.

Namun jika ada seseorang yang mengaku sebagai orang percaya tetapi tidak memiliki prilaku sebagai seorang percaya, ketahuilah bahwa ia bukanlah orang percaya. Terlalu banyak orang mengaku sebagai pengikut Kristus tetapi memiliki hidup lebih buruk dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka ditipu oleh kelicikan hati mereka, karena memberikan keyakinan palsu sebagai orang percaya tetapi sesungguhnya bukanlah orang percaya. Terlalu banyak orang dalam gereja membohongi dirinya sendiri, dan menyatakan diri sebagai pengikut Kristus tetapi sesungguhnya bukan orang percaya.

Ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa orang percaya tidak akan pernah jatuh ke dalam dosa, bukan itu maksudnya. Setiap orang percaya ada suatu momen dimana ia jatuh, lemah dan gagal tetapi semua itu tidak membuatnya menjadi sama dengan seorang yang tidak mengenal Tuhan. Seorang percaya akan sadar atas kegagalannya dan apa yang sudah diperbaut. Ia akan bertobat di hadapan Tuhan dengan dedikasi dan komitmen baru kepada Tuhan. Ia berusaha dengan pertolongan Roh Kudus untuk bisa lebih baik lagi sebagai orang percaya sesuai dengan petunjuk yang diberikan Tuhan dalam FirmanNya. Ia akan mengalami suatu pembaharuan dan kerinduan luar biasa untuk hidup berkenan kepada Tuhan dan kerinduan besar untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam Kitab Suci.

Pengalaman seperti itulah yang dialami jemaat Tesalonika ketika Paulus ada di sana meskipun hanya dalam waktu singkat. Cobalah perhatikan apa yang Paulus sampaikan kepada jemaat ini yang ditulisnya ketika ia telah meninggalkan kota itu.

“Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; . . . sehingga kamu telah  menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya” (1 Tesalonika 1:6-7).

Kalimat ini menunjukkan adanya perubahan luar biasa dalam kehidupan jemaat Tesalonika. Bukankah mereka dulunya penyembah berhala? Bukankah mereka hanya mendengarkan Injil tiga kali Sabat saja? Namun Roh Kudus telah bekerja dalam hidup jemaat ini (1 Tes 1:6). Mereka berubah menjadi pelaku kebenaran dan tidak memiliki keinganan untuk kembali hidup seperti sebelumnya. Paulus mengatakan bahwa mereka telah menjadi penurut mereka dan juga penurut Tuhan. Mereka ingin hidup seperti Paulus dan mengikuti semua petunjuk Tuhan dalam FirmanNya.

Mereka Mencintai Kebenaran

Ingatlah Roh Kudus yang sama juga diterima umat percaya sekarang ini. Jika jemaat ini bisa berubah dari pecinta dosa menjadi pecinta kebenaran dan Firman Allah, orang Kristen pasti juga bisa mengalami hal yang sama. Orang Kristen bisa memiliki semangat yang sama seperti dimiliki jemaat Tesalonika karena umat Kristen memiliki Tuhan yang sama. Roh Kudus yang sama juga akan mengubah hidup setiap orang yang percaya kepada Kristus. Dia tidak memandang latarbelakang manusia. Dia bisa mengubah hidup setiap orang.

Umat Tesalonika berubah menjadi teladan. Ini sangat luar biasa. Jemaat Efesus dan Korintus tidak pernah mendapatkan penilaian seperti ini meskipun Paulus menghabiskan waktu yang cukup lama di kedua kota ini. Tetapi justru sebaliknya, Paulus secara khusus memberikan teguran dan nasihat pedas kepada jemaat Korintus atas ketidakpatuhan dan ketidakberaturan jemaat di sana. Namun jemaat Tesalonika menjadi teladan meskipun tidak lama bersama Paulus. Mereka menjadi teladan dalam perbuatan dan penyelidikan Firman Allah.

Hal yang luar biasa terjadi ketika penduduk Tesalonika menerima Injil Kristus dan menjadi orang percaya. Paulus menulis suratnya setelah ia meninggalkan jemaat Tesalonika oleh karena terjadinya kekacauan dan keributan. Ia mendengar bahwa iman dan perbuatan mereka telah menjadi teladan di Tesalonika. Kesaksian hidup jemaat ini tersebar ke berbagai daerah bukan hanya di kota itu tetapi juga di propinsi sebelahnya. Paulus berkata demikian,

“Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya  di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah . . . Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepadak Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (1 Tes 1:8-9).

Jika engkau adalah seorang percaya, siapa saja yang sudah mengetahui bahwa engkau adalah pengikut Kristus? Jika engkau adalah bagian dari gereja, apa yang sudah didengarkan orang lain dan daerah lain tentang gerejamu? Apakah mereka mendengarkan kekacauan dan keributan serta perpecahan? Ataukah mereka mendengarkan kuasa pelayanan dan pemberitaan Injil yang mengubah hati pecinta dosa menjadi pecinta kebenaran? Partisipasi sebagai jemaat Kristus memberikan kontribusi besar dalam mempertunjukkan kepada orang lain bahwa engkau adalah sungguh seorang percaya dan pengikut setia Krisus. Jadilah teladan dimanapun engkau berada, di rumah, di kantor, di sekolah dan di bus sekalipun. Beritahukan kepada dunia bahwa Yesus sudah mengubahmu menjadi ciptaan baru.

Mereka Membawa Pengaruh Bagi Orang Disekitarnya

Perubahan luar biasa terjadi dalam hidup jemaat Tesalonika bukan semata-mata agar mereka bisa dikenal orang tetapi perubahan yang terjadi merupakan pekerjaan Allah dalam hidup mereka. Apa yang mereka perbuat sebagai orang Kristen tersebar ke berbagai tempat. Jemaat yang masih baru terbentuk ini telah mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya sehingga bukan hanya mereka sendiri yang memberitahukan apa yang dikerjakan Kristus dalam hidup mereka tetapi berita itu tersebar ke berbagai daerah. Mereka menyaksikan apa yang Yesus perbuat dalam hidup mereka. Jemaat ini dikenal sebagai jemaat yang bersaksi. Jemaat yang tidak malu tentang imannya dan Kristus.

Banyak orang Kristen, jangankan untuk mempengaruhi orang-orang di kotanya, orang-orang yang ada di rumahnya sendiri tidak bisa melihat perubahan apa yang terjadi dalam dirinya. Padahal Tuhan yang membuat perubahan dalam diri jemaat Tesalonika sama dengan Tuhan yang dimiliki gereja Kristus masa kini. Sesungguhnya pasti ada sesuatu yang salah dalam diri orang Kristen sekarang ini. Mereka dengan mudah mengklaim sebagai orang Kristen tetapi hidupnya tidak berbeda dari kehidupan sebelum mengenal Kristus. Kesalahannya sangat jelas bahwa sesungguhnya banyak orang di gereja yang mengklaim telah percaya pada Yesus namun sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya dan masih hidup di dalam dosa dan Kristus bukanlah Tuhan mereka.

Inilah tantangan bagi umat Kristen sekarang ini. Cobalah pikirkan pertanyaan ini, sejak percaya pada Yesus, sudah berapa banyakkah yang telah mengetahuimu sebagai orang Kristen? Apakah anggota keluargamu sudah mengetahui bahwa engkau sungguh-sungguh pengikut Kristus?

Perhatikan perubahan hidup, iman dan kepercayaan jemaat ini, bukan hanya dikenal anggota keluarganya dan semua penduduk kota itu tetapi juga dikenal penduduk kota dan propinsi lain. Injil telah mengubah hidup mereka dan Injil yang sama juga dapat mengubah hidupmu untuk menjadi umat Kristen yang patut diteladani orang-orang di sekitarmu.

Jemaat Tesalonika Kehilangan Pemimpin Rohani

Orang-orang Tesalonika yang baru percaya ini  harus kehilangan pemimpin rohani mereka. Paulus dipaksa meninggalkan kota Tesalonika oleh mereka yang tidak suka akan injil. Ia pergi ke daerah Berea dan di sana ia memberitakan Firman Allah.

Setelah Paulus meninggalkan kota Tesalonika, ia tidak tahu banyak tentang keadaan di sana kecuali berita-berita yang tersebar di propinsi Akhaya dan Makedonia. Sebagai respon, ia menuliskan surat yang dikenal dengan 1 Tesalonika. Dan jika ingin meneladani sebuah jemaat yang cinta Tuhan dan Firman Allah, teladanilah Jemaat Tesalonika. Jemaat ini adalah jemaat yang suka belajar dan menggali Firman Allah meskipun tidak memiliki pemimpin. Engkau bisa melihat sendiri akan penilaian Paulus bahwa mereka adalah jemaat yang mengetahui Firman Allah. 1 Tesalonika 5:1,

Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu.”

Fakta ini lebih jelas lagi ketika Paulus menguraikan kedatangan Yesus di setiap akhir dari pasal 1 Tesalonika. Secara khusus, ia menuliskan dengan jelas tentang doktrin kebangkitan dan pengangkatan.

13Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. 14Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 15Ini kami katakana kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 16Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. 18Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (1 Tesalonika 4:13-18).

Dengan memperhatikan ayat-ayat di atas, jemaat Tesalonika tidak mempertunjukan bahwa mereka sudah kehilangan pemimpin rohani. Rasa ingin tahu tentang ajaran Tuhan sungguh menjadi kesukaan jemaat ini. Mereka menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan mempelajari Firman Tuhan. Mereka tidak merasa bosan untuk menggali kebenaran Firman Tuhan. Inilah yang hilang dari banyak jemaat gereja sekarang ini. Hanya untuk mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan selama satu jam saja banyak jemaat tertidur dan mengantuk. Sikap menghormati Tuhan dalam ibadah hilang dari hati orang-orang yang mengklaim diri sebagai orang percaya. Terkecuali umat percaya memberikan hati dan waktu untuk mendalami dan mempelajari Firman Tuhan maka mereka tidak akan bisa hidup berkenan kepada Tuhan. Mereka tidak akan kuat menghadapi penganiayaan dan juga penderitaan dan kematian yang akan terjadi dalam hidupnya.

Firman Tuhan yang dipelajari dan digali akan menjadi harta kekayaan rohani yang besar dalam diri setiap orang percaya ketika menghadapi penderitaan, terutama ketika harus menghadapi kematian. Kematian adalah musuh terakhir yang akan dihadapi setiap orang dan ketika ia datang maka tiap-tiap orang harus menghadapinya dengan senjata kerohanian yaitu kebenaran Firman Tuhan yang sudah dipelajari selama ia masih sehat. Gereja Tesalonika mengantisipasi saat-saat mereka akan bertemu dengan Tuhan bahkan hari kebangktian dan pengangkatan yang akan terjadi bagi setiap orang percaya.