Umat Kristen Menghadapi Penganiayaan

UMAT KRISTEN DAN PENGANIAYAAN

Oleh Samson H

Bagi pengikut Kristus pasti tidak merasa asing tentang apa yang dialami Yesus di kayu salib hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Penganiayaan semena-mena yang dialamatkan kepada Yesus sungguh merupakan bukti penolakan umat Yahudi kepada Mesias. Mereka mengadili Yesus dengan cara mereka sendiri. Pengadilan yang dilakukan dalam satu malam yang kurang dari dua puluh empat jam. Yesus harus menghadapi enam pengadilan dalam waktu singkat: tiga pengadilan di hadapan pemimpin Israel dan tiga pengadilan di hadapan pemimpin Romawi sebagai penguasa saat itu. Sulit membayangkan bagaimana proses pengadilan yang begitu cepat dan kemudian mengambil keputusan untuk hukuman mati. Penganiayaan yang dihadapi Yesus menegaskan bahwa dunia akan selalu membenci Kristus dan pengikutNya. Hal ini bisa dilihat berbagai penganiayaan yang dialamatkan kepada umat percaya dalam sejarah Kekristenan mulai pada masa rasul-rasul hingga pada masa sekarang ini.

Pengadilan yang dihadapi Yesus berbeda dengan pengadilan yang dihadapi Paulus ketika ia menjadi tawanan di Yerusalem. Ia menjalani proses pengadilan itu lebih manusiawi dan mengikuti proses pengadilan yang normal bahkan ia memiliki kesempatan untuk naik banding kepada Kaisar oleh karena ia memiliki dua kewargaan, Yahudi dan Romawi. Hal itu jugalah yang membuatnya tiba di Roma dan menjalani tanahan rumah di sana. Meskipun demikian, dalam proses mencari keadilan, Paulus juga diperhadapkan berbagai ancaman dimana sekelompok Yahudi bertekad untuk membunuhnya. Mereka membencinya oleh karena Injil yang diberitakan.

Pada saat berdirinya gereja mula-mual yaitu pada saat turunnya Roh Kudus, jemaat umat Kristen juga menghadapi berbagai ancaman dan penganiayaan di berbagai tempat. Hidup mereka terancam oleh karena besarnya kebencian dan penolakan umat Yahudi di masa itu. Paulus sendiri juga menjadi penganiaya umat Kristen saa itu dan ia bersama kelompoknya mengejar-ngejar pengikut Kristus dan menangkapnya untuk dimasukkan ke dalam penjara. Ia juga turut hadir pada saat penganiayaan yang dialamatkan kepada Stefanus (Kisah 7:58). Ia juga mendapatkan surat kuasa dari para Majelis Yahudi untuk menangkap dan memenjarakan umat Kristen (Kisah 9:2). Dengan surat itu ia mengejar umat Kristen hingga ke daerah Damsyik. Namun Tuhan memutarbalikkan semua rencana manusia dalam menghancurkan dan menganiaya umat Kristen. Paulus dengan cara Tuhan sendiri akhirnya bertobat dan menjadi Rasul Kristus untuk bangsa-bangsa lain (Roma 11:13). Ia menjadi pemberita Injil dan pendiri gereja-gereja di Asia Kecil dan Eropa. Tidak ada yang tahu akan rencana Allah bagi umat pilihanNya  karena Ia bisa memutarbalikkan segala rencana manusia. Paulus yang tadinya sebagai penganiaya umat Kristen berubah menjadi pemberita Injil bahkan akhirnya ia juga turut mengalami penganiayaan karena Kristus dan InjilNya (2 Korintus 12:16-33).

Sekalipun Paulus telah bertobat dan menjadi pemberita Injil, penganiayaan terhadap umat Kristen tidak pernah surut. Umat Farisi dan Saduki tetap melancarkan rencana mereka untuk memenjarakan dan menganiaya pengikut Kristus. Di berbagai daerah di Yerusalem umat Kristen dipaksa untuk meninggalkan rumah dan harta benda dan melarikan diri ke berbagai penjuru daerah demi menyelamatkan hidup mereka. Sekalipun umat Kristen saat itu sudah bersatu hati, seia-sekata namun penganiayaan dari luar menjadi fakta nyata yang harus dihadapi. Rasul Yakobus secara khusus mendedikasikan tulisannya untuk umat Kristen Yahudi yang tersebar (Diaspora) ke berbagai daerah dengan mengingatkan bahwa mereka sebagai perantau dan pendatang di dunia ini (Yakobus 1:1-2). Mereka harus menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat abadi bagi mereka tetapi sorga mulai, sebagai tempat yang dijanjikan Tuhan (Yohanes 14:1-2).

Petrus sepertinya juga sempat melayani umat Kristen Yahudi yang diaspora ke berbagai tempat. Surat Petrus yang pertama sungguh memcerminkan fakta itu ketika ia menuliskan bagaimana sepatutnya umat Kristen hidup di tengah-tengah lingkukan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Berbagai nasihat dan perintah diberikan agar umat Kristen tetap hidup sebagaiman yang diinginkan Tuhan bagi setiap umatNya.

Berdasarkan fakta nyata yang di atas membuktikan penganiayaan merupakan suatu kehidupan nyata yang dihadapi umat percaya sejak berdirinya Kekristenan. Sejak Yesus Kristus naik ke sorga Kekristenan selalu menghadapi penganiayaan. Jika pada masa awal berdirinya Kekristenan, penganiayaan berasal dari umat Yahudi (Farisi dan para pemimpin agama Yahudi), penganiayaan dari kelompok Romawi lambat laun semakin nyata. Hal ini diawali dengan dimasukkannya Yohanes Pembaptis ke dalam penjara oleh Herodes (Matius 4:12; 14:3) dan kemudian membunuhnya (Matius 14:11). Ia mati pada masa Tuhan Yesus masih melayani di bumi. Namun tidak lama kemudian, Yesus juga menghadapi penganiayaan dan penolakan dari umat yang kepadanya Ia datang dan membawa kabar baik.

Dalam waktu yang tidak lama kemudian, Rasul Yakobus juga menjadi korban penganiayaan Romawi yaitu Raja Herodes Agripa (Kisah 12:1-19). Kejadian ini menjadi awal terjadinya penganiayaan umat Kristen dari pemerintahan Romawi. Di berbagai daerah umat Kristen menjadi korban kebrutalan dan kejahatan kerajaan romawi. Rasul Yohanes yang berada di Pulau Patmos pada saat menuliskan wahyu Allah juga mengalami penganiayaan dengan dibuang ke pulau tersebut agar ia tidak lagi memberitakan Injil kepada oran-orang di Efesus dan sekitarnya. Tetapi Tuhan menyatakan rencana agungNya. Semasa Yohanes berada di Pulau Patmos Tuhan memerintahkannya untuk menuliskan rencana Allah bagi gereja dan dunia ini seperti yang dicatat dalam Kitab Wahyu. Semua Rasul Kristus berdasarkan catatan tradisi mengalami penganiayaan dan mati karena penderitaan tersebut. Ada yang disalibkan, dipenjara dan dibunuh. Petrus mati disalibkan dengan kepala ke bawah dan para rasul lainnya mati dengan cara yang tidak wajar. Hanya Rasul Yohanes yang dipercaya mati secara alami.

Berdasarkan catatan sejarah gereja, selama dua ratus tahun pertama Kekristenan, umat Kristen mengadapi penganiayaan di berbagai daerah. Mereka dibakar, disiksa dan dijadikan menjadi tontonan di arena gelanggang pertunjukan sebagai makanan binatang buas. Penganiayaan seperti itulah yang dialami Polikarpus (murid Rasul Yohanes), namun ia tidak mau mengingkari Tuhan Yesus. Ia memilih mati sebagai makanan binatang buas ketimbang mengikuti permintaan raja Romawi untuk mengingkari Kristus. Bukan hanya Polikarpus, ada banyak umat Kristen yang mati di masa itu untuk mempertahan iman mereka. Catatan sejarah gereja membuktikan bahwa selama masa pemerintahan 10 Kaesar Romawi umat percaya sangat menderita dan menanggung banyak tuduhan yang dilontarkan kepada mereka sekalipun tidak melakukan kejahatan dan perlawanan. Mereka menjadi korban kebusukan, kelicikan dan kebrutalan penguasa di masa itu. Meskipun semua ini terjadi, umat Kristen mula-mula tidak mengingkari Juruselamat mereka. Mereka lebih memilih mati daripada harus mengingkari Kristus. Mereka merasa bahagia dan bersukacita meskipun menjalani kehidupan sulit dan penuh ancaman. Iman mereka murni bukan karena berbeda dengan umat Kristen di masa sekarang tetapi karena kesungguhan, dedikasi dan komitmen mereka dalam mengikuti Yesus Kristus.

Sebagai pengikut Kristus, peringatan yang diberikan Yesus perlu direnungkan baik-baik agar umat percaya menyadari apa yang akan terjadi dalam hidup kekristenan mereka. Ayat di bawah ini memberi peringatan penting bagi setiap umat percaya bahwa Yesus tidak pernah menjanjikan kehidupan yang bebas aniaya, kesulitan, penderitaan dan penolakan.

18“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. 19Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. 20Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu” (Yohanes 15:18-20).

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai pengikut Kristus, umat percaya pasti dibenci dunia ini yaitu mereka yang tidak mengenal Kristus. Yesus menegaskan itu dengan berkata bahwa duni ini, “telah lebih dahulu membenci aku dari pada kamu.” Ini menegaskan bahwa penganiayaan pasti terjadi dan harus diantisipasi setiap orang percaya. Umat Kristen tidak perlu heran jikalau suatu saat penganiayaan terjadi, tetapi justru hal itu mengingatkan mereka bahwa apa yang disampaikan Yesus dalam FirmanNya sungguh-sungguh terjadi. Ia tidak berbohong. Oleh karena itu mereka yang menggembor-gemborkan suatu ajaran bahwa menjadi pengikut Yesus akan mendapatkan kedamaian dan ketentraman di dunia, itu keliru. Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan hal itu. Kehidupan yang bebas masalah, sakit penyakit, penganiaan dan penderitaan merupakan pemutarbalikkan arti Firman Tuhan karena fakta sesungguhnya Yesus tidak mengajarkan hal itu. Justru Ia mengajarkan bahwa setiap pengikut Kristus harus memikul salibnya masing-masing.

Jika memperhatikan Yohanes 15:19, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu,” memberi penegasan bahwa jikalau penganiaan dan kebencian tidak terjadi kepada mereka yang menyatakan diri sebagai pengikut Kristus, justru perlu menguji kesetiaannya kepada Kristus. Itu berarti, kemungkinan mereka tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Mereka melakukan hal-hal yang juga dilakukan dunia ini. Mereka mencemplungkan diri sama seperti dunia ini. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan dunia ini. Namun bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya, Kristus berkata, “Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” Umat percaya harus memiliki perbedaan dari dunia ini dan mereka tidak melakukan apa yang menjadi kesukaan dunia ini.

Kepastian penganiayaan yang akan dihadapi umat percaya dipertegas Yesus ketika ia berkata demikian, “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yohanes 15:20). Tidak ada lebih  jeals pernyataan ini! Dan sudah seharusnya umat Kristen tidak berhalusinasi jikalau menjadi pengikut Kristus, maka enganiayaan tidak akan terjadi dalam kehidupannya. Mereka yang memiliki pemikiran sedemikian, suatu saat akan dikecewakan dan bahkan saat penganiayaan terjadi, itu akan menjadi ujian bagi mereka untuk membuktikan apa mereka sungguh-sungguh pengikut Kristus sejati. Oleh karena itu, ingatlah akan pernyataan Yesus berikut ini yang menegaskan dan memastikan bahwa penganiayaan pasti terjadi bagi setiap umat Kristen meskipun penganiayaan itu terjadi dalam skala berbeda-beda bagi setiap orang. “Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu” (1 Yohanes 3:13). Penderitaan dan penganiayaan pasti terjadi tetapi Yesus tidak memberitahukan bahwa tiap-tiap umat percaya akan mengalami jenis dan skala penganiayaan yang sama.

Penganiayaan itu nyata

Dalam Kisah 2:41-47 dijelaskan bahwa umat Kristen mula-mula melakuka ibadah dan penyembahan mereka dari rumah ke rumah. Ibadah dan pembelajaran Firman Tuhan diselenggarakan di rumah-rumah jemaat. Mereka tidak memiliki tempat khusus (gedung gereja) seperti yang dimiliki gereja pada umumnya sekarang ini. Sejarah gereja tidak pernah mencatat bahwa jemaat Yerusalem mencoba mendirikan gedung gereja sebagai tempat ibadah untuk menampung ribuan jemaat yang sudah percaya kepada Kristus Yesus. Tetapi gereja mula-mula diidentikkan dengan kumpulan umat percaya yang melakukan ibadah di rumah-rumah jemaat.

Hal yang sama juga dilakukan Paulus ketika mendirikan jemaat (gereja) di berbagai daerah selama masa pelayanannya. Dalam surat-suratnya yang dikirimkan kepada berbagai gereja terindikasi bahwa ada jemaat-jemaat yang membuka rumahnya untuk dijadikan sebagai tempat ibadah seperti rumah dari Filemon dan Nimfa di Kolose (Kolose 4:15). Tempat khusus yang dikenal sebagai gedung gereja bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan. Penolakan dan penganiayaan terhadap umat percaya menjadi faktor yang melatarbelakanginya. Penolakan dari umat Yahudi dan pemerintah (penguasa) di masa itu mempersulit umat percaya untuk mendirikan tempat ibadah khusus. Bagaimana mungkin umat Kristen masa itu bisa memiliki kebebasan mendirikan gedung gereja sementara sepuluh Kaesar Romawi yang memerintah selama 200 tahunan pertama Kekristenan terus menerus menganiaya umat Kristen? Meskipun penganiayaan menjadi bagian hidup sehari-hari masa itu, iman mereka tidak pernah mati. Tubuh orang-orang yang teraniaya memang mati tetapi jiwa (roh) mereka tetap hidup.

Kekristenan selama tiga abad pertama kekristenan sangat sulit dan mengerikan. Selama tahun-tahun tersebut, umat Kristen tidak memiliki tempat ibadah yang dikenal dengan gedung gereja. Gedung gereja mulai ada pada masa pemerintahan Kontantinus Agung sekitar tahun 324 dimana pada saat itu ia membuat suatu dekrit bahwa semua pelayan di pemerintahannya harus memeluk agama Kristen. Inilah merupakan awal kebebesan bagi umat Kristen dan sekaligus merupakan kesempatan dalam mendirikan gedung gereja. Di berbagai dearah dan Negara mulai mendirikan gedung gereja sebagai tempat ibadah bagi umat Kristen.

Ada dua fakta penting yang menjadi pembelajaran dari fakta di atas yaitu pertama, tidak memiliki gedung gereja sebagai tempat ibadah bukanlah hal memalukan. Justru hal itu mengingatkan umat Kristen akan berdirinya gereja mula-mula yang melakukan ibadah dari rumah ke rumah. Kedua, pendirian gedung gereja sebagai tempat ibadah bukan hal mudah karena terjadinya penolakan dari berbagai pihak yang menentang Kekristenan. Fakta ini menjadi sangat nyata di dunia modern sekarang ini. Lalu apakah umat Kristen yang tidak memiliki gedung gereja harus berhenti beribadah kepada Kristus? Tentu tidak! Rumah-rumah jemaat bisa menjadi alternatif seperti dilakukan umat Kristen di masa awal berdirinya Kekristenan.

Di berbagai Negara di dunia saat ini, ada begitu banyak umat Kristen yang tidak memiliki kebebasan bukan hanya untuk mendirikan gedung gereja tetapi bahkan untuk melakukan ibadah. Mereka dengan sembunyi-sembunyi naik gunung menempuh perjalanan berhari-hari ke tengah hutan untuk melakukan ibadah, seminar dan training. Kekristenan selalu menjadi target penganiayaan. Fakta ini jangan pernah diabaikan umat Kristen tetapi justru harus selalu siap menghadapi penganiayaan bukan untuk melakukan perlawanan terhadap para penentang tetapi untuk menyadari bahwa itulah yang akan terjadi seperti dinubuatkan Kristus. Alkitab tidak pernah mengajarkan agar umat Kristen menentang dan melawan penguasa tetapi menghormati mereka dan menantikan Tuhan bekerja di tengah-tengah kesulitan dan penganiayaan (Roma 13).

Semua nubuat yang disampaikan Yesus akan benar-benar terjadi termasuk nubuat terjadinya penganianyaan dan pembunuhan kepada umat percaya. Yesus dengan tegas menyampaikan hal itu demikian,

9“Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, 10dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci” (Matius 24:9-10).

Apakah tidak cukup jelas apa yang disampaikan Yesus dalam ayat 9 di atas? Umat Kristen harus menyadari itu. Jangan pernah terlintas dalam pikiran bahwa dunia ini akan mencintai pengikut Kristus. Tanpa alasan dunia akan membenci dan bahkan kan membunuh pengikut Kristus. Ketika hal itu terjadi janganlah berpikir bahwa itu awal dari kehancuran dan kebinasaan Kekristenan. Itu adalah ujian bagi umat percaya. Mereka yang sungguh-sungguh percaya tidak akan pernah meninggalkan Kristus meskipun penganiaan dan pembunuhan terjadi. Hanya mereka yang berpura-pura sebagai pengikut Kristus karena motif dan tujuan tertentu akan murtad dan meninggalkan Kekristenan. Tetapi ketahuilah bahwa mereka yang mengingkari Yesus dan berpaling meninggalkan Kristsu, mereka dari mulanya bukanlah pengikut Kristus sejati.

Umat kristen akan diperhadapkan dengan berbagai ancaman dan kesulitan. Berbagai tuduhan palsu akan dituduhkan hanya untuk menjerumuskan mereka ke dalam penjara. Dunia berpikir itulah kehancuran Kekristenan tetapi fakta sesungguhnya bahwa itulah yang telah dinubuatkan Kristus dalam FirmanNya. Selagi gereja masih ada di bumi ini maka penganiayaan tidak akan pernah hilang dari kehidupan umat percaya. Namun mereka tidak perlu takut karena Kristus dan RohNya akan menghibur dan menguatkan umatNya. Lukas mencatat dalam Kisah 12:1-5 bahwa sekalipun penguasa berkuasa untuk memenjarakan para pengikut Kristus demi menyenangkan para pendukung mereka, Tuhan akan menyatakan rencananya bagi umatNya. Perhatikan pengalaman para Rasul Kristus ketika mereka menghadapi penganiayaan bukan karena mereka melakukan perlawanan atau pemberontakan tetapi karena Injil dan Kristus.

1“Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. 2Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. 3Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. 4Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. 5Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah” (Kisah 12:1-5).

Terkadang hal seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan umat percaya tetapi tidak selamanya hal itu terjadi. Terkadang harus menghadapi akhir hidup seperti yang dialami Yohanes Pembaptis dimana kepalanya dipenggal demi menyenangkan hati orang banyak (Markus 6:24-25). Oleh karena itu, menjadi seorang pengikut Kristus bukanlah sekedar mengharapkan berkat dari Tuhan tetapi juga senantiasa siap menghadapi kesulitan, penderitaan dan penganiayaan pada waktu yang telah ditetapkan Tuhan.

Penolakan Karena Iman di Dalam Kristus

Di masa modern sekarang ini, umumnya umat Kristen tidak lagi menghadapi penganiayaan seperti di masa gereja mula-mula atau pada masa Reformasi dimana banyak pelopor Reformasi dibakar hidup-hidup hanya karena mempertahan imannya dan Firman Allah. Meskipun penganiayaan seperti itu tidak terjadi, penganiayaan terhadap pegikut Kristus tidak akan pernah musnah. Penganiayaan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Kristen. Penganiayaan itu sendiri akan membuktikan kemurnian iman dan kesetiaan pengikut Kristus. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan umat percaya bahwa dunia akan membenci pengikutNya karena nama Kristus dan mereka akan dibunuh dan dianiaya karena iman mereka. Umat Kristen sudah seharusnya mengetahui dan menyadarinya dan tidak perlu heran akan hal itu. Itu merupakan janji dan nubuat Kristus yang akan terjadi pada waktu yang ditentukaNya.

Sebagai seorang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus, penganiayaan tetap menjadi bagian dari kehidupan. Kebencian dan penolakan sebagai orang Kristen merupakan penganiayaan nyata sekarang ini. Seorang percaya dalam satu keluarga non-Kristen sudah tentu teraniaya dan ditolak anggota keluarga lainnya. Bahkan sering kali dikucilkan dan diusir dari rumah hanya karena ia percaya pada Yesus.

Penolakan Kekristenan dan gereja akan terjadi dimana-mana, bukan karena umat Kristen melakukan kejahatan atau pemberontakan tetapi penolakan itu hanya dialami umat yang mengatasnamakan Kristus. Dunia ini tidak mempermasalahkan para perampok, pembunuh dan pelaku kejahatan dan kekecian lainnya serta hidup bersamaan dengan mereka tetapi dunia ini akan menolak kehadiran pengikut Kristus.

Apa yang menjadi dasar penolakan gereja dan Kekristenan? Satu alasan yang pasti karena gereja dan umat Kristen akan mengatakan apa yang salah dan benar sesuai dengan apa yang dicatat dalam Firman Allah. Gereja akan mengatakan aborsi, homoseksiual, lesbian, pembunuhan, perampokan, fornografi, perzinahan, percabulan, penipuan, dusta, dan lain sebagainya sebagai dosa dan kejahatan. Sebagai akibatnya, mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan dosa itu akan menyerang dan menolak kehadiran gereja agar mereka tidak terusik dan bebas melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Hal kedua yang menjadi dasar kebencian dunia terhadap Injil dan Kristus karena Yesus memberitahukan bahwa Ia adalah satu-satunya jalan masuk ke sorga. Yesus sendiri memberi penegasan ini,

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Di tempat lain, Lukas mencatat juga demikian,

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah 4:12).

Inilah fakta mutlak dalam Alkitab dan ini jugalah yang menjadi keyakinan pengikut Kristus.

Sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan yang mencintai kekudusan sudah barangtentu akan menghadapi penganiayaan. Ketika seorang percaya mencintai apa yang dicintai Kristus dan membenci apa yang dibenci Kristus akan berdampak pada persahabatan dan pertemenan di sekolah, tempat kerja, lingkungan dan komunitas lainnya. Karena apa yang dilakukan orang banyak akan bertentangan dengan apa yang diperintahkan Kristus dalam FirmanNya. Manusia secara alami sangat senang melakukan dosa dan kejahatan. Manusia tidak senang jikalau ada orang lain yang menegur dan memberitahukan apa yang dilakukan dan diucapkan salah dan keji. Manusia umumnya menginginkan orang lain menerima apapun  pendapat dan perbuatannya. Sebagai akibatnya, mereka akan membenci mereka yang menegakkan kehidupan kudus dan kebenaran. Mereka akan mengucilkan dan menganiaya mereka yang memiliki pendapat dan pemikiran berbeda. Mereka yang tadinya sebagai sahabat dan kolega bisa berubah total menjadi musuh hanya karena mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah hal pasti yang terjadi bagi seorang percaya. Namun jikalau hal itu tidak terjadi, kemungkinan sudah terjadi suatu kompromi dimana seorang percaya mengikuti dan melakukan apa yang diperbuat sahabat dan koleganya sekalipun itu jahat dan dosa. Orang sedemikian tidak bisa mengklaim diri sebagai pengikut Kristus sejati karena ia tidak berada di pihak Kristus yang membenci dosa dan segala jenis kejahatan.

Meskipun penganiayaan yang terjadi di masa modern sekarang ini tidak dalam skala besar seperti di masa dulu, namun tetap saja penganiyaan akan dialami seorang percaya. Ingatlah selalu bahwa penganiayaan merupakan bagian dari kehidupan seorang percaya. Penganiayaan dialami para pengikut Kristus di sepanjang masa. Peganiayaan terjadi dimana-mana tetapi penganiaan itu berbeda-beda di di berbagai Negara di belahan bumi ini. Meskipun penganiayaan seperti di masa dulu sudah berkurang bukan berarti penganiayaan seperti itu akan musnah. Di berbagai Negara khususnya Negara-negara komunis, penganianyaan hebat masih terjadi. Umat Kristen tidak memiliki kebebasan utuk melakukan ibadah. Bahkan tidak jarang ibadah harus dilakukan di tengah hutan atau di tempat terpencil demi menghindari adanya gangguan dan penolakan dari masyarat dan pemerintah setempat.

Paulus menuliskan dengan tegas dalam suratnya kepada jemaat Filipi bahwa umat Kristen bukan hanya dipanggil Tuhan untuk mendapatkan keselamatan dan hidup kekal, tetapi mereka juga dipanggil untuk menderita bagi Kristus dalam mempertahankan iman mereka. Cobalah perhatikan apa yang di tulisnya dalam Filipi 1:29 seperti di bawah ini,

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1:29).

Apa maksud Paulus dalam ayat ini? Ia memberitahukan bahwa seorang percaya harus menyadari ketika ia memperoleh keselamatan, ia juga harus mengantisipasi penderitaan dan penganiayaan yang terjadi sebagai akibat dari iman dan dedikasinya dalam mengikut Kristus. Paulus tidak menjanjikan kepada jemaat Filipi bahwa sebagai akibat dari imannya maka mereka akan mendapatkan kemakmuran, hidup berkelimpahan dan terhindar dari penganiayaan dan penderitaan. Paulus sama sekali tidak mengatakan hal itu tetapi ia menegaskan bahwa iman mereka akan diuji dengan berbagai penganiayaan dan penderitaan. Itulah yang harus diantisipasi setiap orang percaya. Penderitaan sedemikian bisa terjadi sewaktu-waktu bagi perorangan ataupun bagi komunitas gereja. Selama masih di bumi ini, gereja jangan pernah berpikir damai dan sejahtera tetapi harus menyiapkan hati setiap orang percaya untuk siap menghadapi penganiayaan dan penderitaan dari kelompok yang menolak Kekristenan.

Kepada jemaat Korintus, Paulus juga memberitahukan hal yang sama. Ia dengan penuh keyakinan bahwa sekalipun penderitaan dan kesengsaraan terjadi kepada pengikut Kristus di Korintus, ia sangat yakin bahwa mereka akan bertekun dan teguh dalam menghadapi semua cobaan itu. Umat percaya tidak akan pernah mundur dan mengingkari imannya hanya untuk menyelamatkan nyawa mereka untuk beberapa saat. Tindakan seperti itu tidak berkenan kepada Tuhan tetapi justru membuktikan bahwa mereka bukanlah pengikut Kristus sejati. Hal seperti itulah yang dicatat Paulus dalam mendidik dan menasihati jemaat Korintus.

“Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami” (2 Korintus 1:7).

Teraniaya Sebagai Pengikut Kristus

Ketika penderitaan dan penganiayaan terjadi kepada seorang percaya, satu hal yang perlu dipahami bahwa hal itu membuktikan ia layak di hadapan Allah untuk menerima penderitaan itu sebagai warga kerajaan sorga. Namun harus selalu diingat bahwa tidak semua penderitaan dan penganiayaan membuktikan hal itu. Jika apa yang terjadi dan dihadapi oleh karena perbuatan, kesalahan dan kejahatan sendiri sehingga orang lain menganiayanya maka hal itu bukanlah penganiayaan sebagai pengikut Kristus. Itu merupakan akibat kebodohan dan kejahatan yang dilakukan.

Penganiyaan yang di maksud di sini adalah penganiayaan yang diakibatkan oleh iman kepada Kristus dan identiasnya sebagai pengikut Kristus. Firman Tuhan tidak mengajarkan umat percaya untuk melakukan perlawanan terhadap penganiaya pengikut Kristus. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi rakyatnya dari berbagai kejahatan dan kebrutalan di Negara itu. Umat percaya hanya diperintahkan untuk bersabar dan bersukacita sekalipun ada penderitaan dan penganiayaan. Hal itu akan mengingatkan umat percaya bahwa dunia ini bukanlah tempat abadi bagi mereka. Mereka di dunia ini hanya seperti musafir melakukan perjalanan menuju tempat yang telah ditentukan Tuhan. Sorga merupakan warisan dan tempat abadi bagi pengikut Kristus. Hal inilah yang disampaikan Paulus ketika ia menghibur jemaat Tesalonika yang sedang menghadapi penganiayaan.

“Suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu” (2 Tesalonika 1:5).

Jika hal itu bisa terjadi kepada jemaat Tesalonika, hal yang sama juga bisa terjadi kepada pengikut Kristus di berbagai daerah di belahan bumi ini. Meskipun demikian, janganlah berkecil hati ketika menghadapi penganiayaan tetapi justru hal itu mengukuhkan keyakinan dan iman sebagai umat yang layak menderita bagi Kristus.

Di lain kesempatan Paulus juga menuliskan kepada jemaat Filipi ketika ia sedang di penjara, ia memperingatkan mereka bahwa kewargaan mereka bukanlah di dunia ini tetapi di sorga. Umat percaya jangan pernah berpikir dan berprilaku seakan-akan mereka akan hidup di dunia ini untuk selama-lamanya. Mereka harus menyadari bahwa mereka hanya untuk sementara berada di bumi ini. Saatnya akan tiba bahwa Kristus akan membawa umatNya kembali ke Sorga mulia.

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20).

Lebih tegas lagi, Petrus menasihatkan umat percaya untuk tetap bersukacita dan bergembira meskipun mereka menghadapi penderitaan dan kesengsaan karena iman.

Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Petrus 4:13).

Pertanyaan penting bagi pembaca saat ini, apakah engkau menghadapi penganiayaan dan penderitaan karena iman yang engkau miliki di dalam Kristus? Apakah engkau dikucilkan dan ditolak karena engkau mengikuti Kristus? Jika itu terjadi, berbahagilah engkau karena Tuhan melihat engkau layak menerima itu. Jangan pernah berkompromi hanya untuk menghindari penganiayaan dan penolakan dari kelompok yang tidak menyukai Kekristenan. Tunjukkanlah dirimu sebagai seorang percaya dan hiduplah sebagaimana diajarkan Kristus.

Namun ketika engkau berkompromi dan mengikuti cara kerja dan pikir orang-orang yang tidak percaya pada Yesus Kristus, sudah barangtentu engkau tidak akan pernah mengalami penganiayaan. Mereka akan melihat engkau sama seperti mereka. Cara kerja dan pikiranmu sebelum dan sesudah percaya pada Yesus Kristus tetap sama. Jika ini terjadi kepadamu, tanyakanlah dirimu apakah engkau sudah benar-benar lahir baru atau percaya pada Yesus Kristus dan menaati ajaranNya? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini bagi dirimu. Engkaulah yang bisa mengetahui isi hatimu tentang kesungguhan, dedikasi, kesetiaan dan komitmenmu dalam mengikuti perintah Kristus. Jujurlah di hadapan Allah karena Ia mengetahui isi hatimu. Engkau tidak perlu berpura-pura sebagai pengikut Kristus jikalau memang engkau belum mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu. Datanglah kepada Kristus, mintalah pengampunan atas segala dosa-dosamu dan akuilah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatmu.