Ada Berapakah Arti Firman Tuhan?

ADA BERAPAKAH ARTI FIRMAN ALLAH?

Oleh Samson Hutagalung

Seperti diketahui berdirinya berbagai denominasi di dunia didasarkan pada cara para teolog menafsirkan firman Allah atau hermeneutika yang dianut. Dengan menganut hermeneutika atau pola tafsir tertentu, maka doktrin yang dihasilkan akan berbeda yang akhirnya menghasilkan berbagai denominasi gereja.

Yang menjadi pertanyaan, ada berapa arti suatu firman atau perkataan Allah? Di sepanjang sejarah kekristenan atau sejarah penafsiran firman Allah telah banyak mendiskusikan topik ini dan menjadi perdebatan yang terus menerus berlangsung hingga saat ini. Ada kelompok Kristen yang berbendapat bahwa arti suatu firman bisa beragam bahkan tak terhingga jumlahnya. Ada juga kelompok yang berpendapat bahwa arti firman Allah hanya ada dua: satu arti harfiah dan satu lagi arti rohani. Dan yang terakhir, ada yang berpendapat bahwa arti suatu firman Allah hanya satu. Adanya perbedaan pendapat ini tentu akan menghasilkan beragam produk kepercayaan dalam Kekristenan. Inilah juga yang mendorong berdirinya berbagai denominasi di seluruh dunia.

Kita ambil sebagai contoh Yesaya 7:14 berbunyi demikian,

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”

Ayat ini kelihatan sangat sederhana tetapi di banyak Seminari ayat ini merupakan salah satu ayat yang sering didiskusikan atau diperdebatkan. Perdebatan bukan pada keabsahannya tetapi arti ayat ini.

Nah, sekarang mari kita gali lebih dalam. Siapakah yang dimaksud dengan “Imanuel” dalam ayat ini? Jika pembaca sudah sering membaca Alkitab (bukan buku-buku teologia), pasti akan berkata, “Ini adala kutipan yang terdapat dalam Matius 1:23. Imanuel yang dimaksud di sini sama dengan Imanuel yang dicatat dalam Matius 1:23, yaitu Yesus Kristus.” Jika ini pendapatmu, itu berarti logika, hati nurani, teologia dan imanmu lebih hebat dari mereka yang telah menghabiskan waktu kuliah bertahun-tahun hingga mendapatkan gelar Ph.D., Th.D., D.Min dan D.D., karena kebanyakan mereka tidak sependapat denganmu. Jika kamu tidak percaya, cobalah lihat buku-buku tafsiran (commentary), atau Study Bible, dan lihatlah penjelasan dan pendapat mereka tentang Yesaya 7:14. Kamu akan terkejut bahwa mereka menawarkan berbagai pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan pribadi Imanuel. Sangat sedikit penulis buku tafsiran (commentary) yang dengan sepenuh hati mengatakan bahwa Imanuel dalam Yesaya 7:14 hanya bisa ditafsirkan pada diri Yesus Kristus sendiri dan tidak ada yang lain.

Kebanyakan teolog akan menawarkan beberapa pilihan tafsiran mengenai siapa yang diaksud dengan Imanuel. Jika seandainyapun mereka menerima Yesus Kristus sebagai “Imanuel” dalam Yesaya 7:14 biasanya mereka tidak menempatkan Yesus sebagai pilihan utama mereka, tetapi sebaliknya mereka akan menempatkan Yesus Kristus sebagai pilihan atau urutan terakhir dan bukan yang utama. Bagi mereka arti suatu bagian firman Allah bisa aja banyak. Hanya para teolog yang menjunjung tinggi Alkitab sebagai kebenaran mutlak yang akan secara konsisten menegaskan bahwa “Imanuel” dalam Yesaya 7:14 hanya bisa ditafsirkan tentang Yesus Kristus.

Contoh lain yang bisa ditelusuri adalah 1 Korintus 13:8-10 berbunyi demikian, “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.”

Ayat-ayat di atas memberitahukan beberapa hal penting tentang kasih, nubuat, bahasa roh dan pengetahuan. Namun yang menjadi fokus dan contoh dalam diskusi ini adalah tentang bahasa roh. Apakah arti pernyataan “bahasa roh akan berhenti” di sini? Jika ingin lebih jelas lagi, bisa ditanyakan demikian, “kapan bahasa roh akan berhenti”?

Mungkin pembaca sudah tahu bahwa ada begitu banyak kelompok Kristen yang memiliki perbedaan pandangan terhadap ayat ini. Ada kelompok Kristen yang mempercayai bahasa roh masih ada hingga sekarang ini, dan kelompok ini membentuk denominasi sendiri serta mengumandangkan keyakinannya. Ada juga orang Kristen yang berpendapat bahasa roh sudah tidak diberikan lagi untuk gereja tetapi hanya untuk individu. Mereka juga akhirnya membentuk denominasinya dan mengajarkan apa yang mereka percayai. Namun ada juga kelompok orang Kristen yang dengan keras mengatakan bahasa roh telah berhenti dan tidak lagi diberikan kepada gereja atau perorangan karena tujuannya telah tercapai. Lalu kelompok ini juga membentuk denominasinya [Lihat artikel yang berjudul: Pengujian Bahasa Roh].

Kedua contoh di atas memberi gambaran bahwa denominasi gereja yang ada saat ini dibentuk dengan berbagai perbedaan yang didasarkan pada pola penafsiran yang dianut.

Yang menjadi pertanyaan, mana yang benar dari sekian banyak tafsiran ini? Apakah memang Alkitab (atau bagian firman Allah) memiliki arti yang beragam? Jika memang arti suatu firman Allah bisa beragam, sampai berapa banyakkah jumlah tafsiran yang bisa dikatakan Alkitabiah? Ataukah arti firman Allah itu hanya satu saja? Umat Kristen dan para teolog bisa saja berpikir bahwa suatu bagian firman Allah bisa memiliki arti beragam.

Tetapi ketika berbicara tentang firman Allah, sesungguhnya yang paling utama bukan apa arti firman Allah itu menurut sekelompok orang Kristen atau teolog, tetapi apa arti firman itu menurut Allah atau pembicara atau penulis Kitab itu ketika perkataan itu disampaikan dan diterima penerima atau pembaca kitab itu.

Inilah sebenarnya yang ingin kita cari atau ketahui ketika ingin menafsirkan firman Allah.

Nah, sekarang mari kita telaah dan simak serta hubungkan dengan kedua contoh di atas. Apakah dalam pikiran Allah atau penulis ayat itu memiliki beberapa arti atau hanya satu arti saja ketika Ia menyampaikan perkataan itu? Apakah Allah atau penulis menginginkan penerima tulisan itu menebak-nebak maksud perkataanNya atau langsung mengerti apa maksud pembicara atau penulis itu? Dengan kata lain, jika kembali pada contoh pertama tadi, siapakah Imanuel yang dimaksud Allah ketika Yesaya menuliskan tulisan itu? Apakah Allah memiliki sederet nama atau hanya Yesus Kristus saja dalam pikiranNya? Allah tidak bercabang lidah ketika Ia menyampaikan firmanNya, karena Ia menyampaikan kebenaran mutlak dan bukan kebenaran ganda.

Dengan penjelasan sederhana bisa digambarkan demikian, jika seseorang berkata, kepada teman-temannya, “Saya sedang makan pisang.” Maka apa yang dalam pikiran pembicara itu adalah bahwa ia benar-benar sedang makan pisang dan bukan makan mangga atau lainnya. Dalam pikiran teman-temannya yang mendengarnya juga hanya ada satu arti dari perkataan itu, bahwa ia sedang makan pisang dan bukan mangga atau lainnya. Dengan demikian suatu perkataan itu hanya memiliki satu arti saja dan bukan banyak. Jika seorang pembicara menyampaikan sesuatu yang lain dari apa yang ia ucapkan, ia adalah manusia berbahaya dan tidak dapat dipercaya.

Memang ada kalanya arti suatu perkataan tidak sama seperti apa yang diucapkan karena perkataan itu merupakan kiasan seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 15: 1, “Akulah pokok anggur yang benar.” Tentu saja Yesus bukanlah pokok anggur yang sesungguhnya. Ia hanya mengumpamakan diriNya seperti pokok anggur yang memberikan kehidupan pada ranting-ranting. Kiasan adalah salah satu cara komunikasi yang juga terdapat dalam Alkitab. Biasanya suatu perkataan kiasan bisa diidentifikasi dari konteks firman Allah yang sedang dibicarakan.

Dari penjelasan sederhana ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam pikiran Allah atau penulis Yesaya 7:14, Imanuel itu hanya ditujukan pada satu pribadi saja dan bukan banyak pribadi. Adalah tugas umat percaya untuk mempelajari dan menggali kebenaran firman Allah untuk mengetahui siapa pribadi yagn dimaksud. Dan berdasarkan catatan firman Allah dalam Matius 1:23, dimana Matius mengutip Yesaya 7:14 itu berarti bahwa Imanuel yang dimaksud di sini hanya dimaksudkan pada diri Yesus Kristus dan bukan yang lain.

Jadi arti suatu firman itu hanya satu dan bukan banyak. Adalah tugas orang-orang Kristen dan para teolog untuk mempelajari firman Allah dan mengetahui kosa kata dan tata bahasa ayat itu demi mengetahui maksud Allah atau pembicara ketika firman itu disampaikan.