Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 3

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 3)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:15

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Ketika menyadari kesalahan dan bertobat, orang yang mengasihi Yesus bertekad ingin membuktikan diri bahwa ia sudah berubah. Ini adalah sikap dan perilaku yang harus dimiliki setiap orang percaya. Dengan dedikasi ia ingin memberitahukan kepada dunia bahwa ia sudah bertobat, dan tiada kepura-puraan tetapi kesungguhan dan komitmen.

Petrus menangisi kesalahannya karena menyangkal Yesus, dan meminta pengampunan. Hal itu terjadi setelah apa yang dinubuatkan Yesus benar-benar terjadi. “Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu (Markus 14:72). Hal ini menunjukkan suatu penyesalan mendalam yang dialami Petrus. Ia menyesali apa yang sudah terjadi.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa penyangkalan itu dilakukan di tempat terbuka dan diketahui banyak orang. Bahkan murid-murid lain juga akhirnya mengetahui kejadian itu. Namun demikian ia tidak bersembunyi atau melarikan diri karena merasa malu. Ia menyadari bahwa kedamaian dan sukacita hanya ditemukan ketika berkumpul dengan orang-orang percaya lainnya. Ia menyesali perbuatannya tetapi ia tidak meninggalkan rasul-rasul itu dan umat percaya lainnya karena rasa malu. Ia dengan berani siap untuk menghadapi konsekwensi dari kegagalannya. Tetapi ia menetapkan hati untuk tetap bersama mereka dan membuktikan diri bahwa ia sudah berubah dan bertobat. Ia sudah menjadi Petrus baru yang bisa dipercaya oleh rasul-rasul lain.

Petrus bukanlah seperti Yudas Iskariot, yang menyesal atas apa yang diperbuatnya, dengan menyerahkan Yesus kepada musuh-musuh-Nya, dan dengan menerima pembayaran, tetapi ia tidak sungguh-sungguh bertobat. Yudas Iskariot justru menjauhkan diri dari kumpulan umat percaya dan memilih gantung diri karena rasa malu, rasa bersalah dan karena ia tidak sungguh-sungguh bertobat.

Petrus juga bukanlah seperti banyak orang yang menamakan diri sebagai orang Kristen sekarang ini, dimana ketika dosa-dosa dan kejahatannya diketahui orang lain, ia memilih pindah gereja karena rasa malu dan sekaligus bersembunyi dari mereka yang sudah mengetahui dosa-dosa dan kejahatannya. Orang seperti ini tidak bersedia menerima teguran, nasihat dan disiplin dari gereja, dan memilih menjauhkan diri dan bersembunyi dibalik status “pindah keanggotan gereja.” Orang sedemikian bukanlah orang yang sudah bertobat karena ia hanya ingin menutupi perasaan malu dan ia akan mengulangi perbuatan yang sama. Pertobatan yang sungguh-sungguh adalah menerima konsekwensi dari apa yang diperbuat dan tidak mencoba membenarkan diri. Memang tidak mudah untuk menghadapi keadaan dan siatuasi seperti itu. Tetapi jika ia percaya kepada Tuhan, ia tahu bahwa selalu bersama umat Tuhan yang mencintai Tuhan dan FirmanNya adalah keputusan terbaik bagi seorang percaya. Namun sangat disayangkan, ada begitu banyak gereja sekarang ini tidak memperdulikan aspek disiplin gereja sebagaimana diajarkan Firman Tuhan. Banyak gereja hanya berlomba-lomba untuk memiliki jemaat yang banyak tanpa memperdulikan latarbelakang kejadian yang membuat orang-orang bergabung dengan gereja tersebut. Sebagai akibatnya, apa yang diperbuat mereka yang sudah melakukan kesalahan dan dosa di gereja asalnya akan tetap melakukan dosa yang sama di gereja yang baru.

Petrus membuktikan diri sudah berubah. Ia bahkan menjadi pelari tercepat memasuki kubur Yesus ketika mendengar berita bahwa Yesus sudah tidak ada di kubur. Tidak bisa ditahui apa yang ada dalam benak Petrus ketika melakukan hal itu. Tetapi yang pasti ia sudah meminta pengampunan dari Tuhan dan Tuhan pasti sudah memaafkannya. Inilah yang dilakukan Petrus ketika mendengarkan kabar kebangkitan Yesus, “Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi” (Lukas 24:12).

Dalam konteks Yohanes 21 Petrus juga bergegas meninggalkan ikan dan perahunya begitu menyadari bahwa Yesuslah yang telah menyuruh para murid untuk melemparkan jala sehingga mendapatkan ikan yang banyak (Yoh 21:7). Hatinya berbunga-bunga ketika bisa berdekat dengan Kristus. Seperti inilah kerinduan seorang yang sungguh-sungguh bertobat di hadapan Tuhan. Ia tidak dibanyang-bayangi rasa bersalah. Ia tahu bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Pengampun dan ia bisa merasakan kedamaian di dalam hatinya. Kesalahan yang dilakukannya tidak terhapuskan, dan tetap segar di dalam ingatannya tetapi keyakinan atas pegampunan Kristus jauh lebih besar dari kesalahan yang ia lakukan. Maka ia ingin bertemu dengan Kristus secepat mungkin dan bersekutu denganNya.

Nas di atas menjelaskan bahwa setelah makan sarapan yang disediakan Yesus, tiba-tiba Yesus mempertanyakan kesetiaan Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Yesus menanyakannya bukan karena tidak mengetahui seberapa besar kasih Petrus kepadaNya. Ia menanyakannya bukan karena Petrus belum meminta pengampunan atas dosa-dosa dan kesalahannya. Jika Petrus belum meminta pengampunan sudah barang tentu Petrus tidak akan memberanikan diri untuk berdekat kepada Yesus. Yesus menanyakan Petrus bukan juga untuk memojokkan atau mengungkit-ungkit kegagalannya. Ia tahu segala sesuatu. Yesus mempertanyakan kasih Petrus karena Ia ingin menguatkan dan memulihkannya dalam pelayanan karena Kristus memilihnya untuk memegang peranan penting dalam pendirian gereja mula-mula.

Yesus tahu bahwa Petrus sudah bertobat dan berubah, tetapi ia perlu dipulihkan di hadapan publik karena kesalahan yang dilakukan juga di muka publik. Murid-murid Yesus sudah mengetahui apa yang sudah diperbuat Petrus sebelumnya bahwa ia mengingkari Yesus tiga kali. Oleh karena itu mereka sangat perlu mengetahui deklarasi Petrus bahwa ia sungguh mencintai Yesus. Mereka juga perlu tahu bahwa Yesus mengukuhkannya kembali dalam pelayanan. Segala sesuatunya berada dalam kontrol Tuhan.

Apakah engkau melakukan kesalahan besar di hadapan Tuhan? Apa engkau gelisah dan kuatir bahwa Yesus tidak menerimamu kembali? Apa engkau merasa malu atas semua perbuatanmu? Ataukah engkau merasa nyaman dan tenang karena tak seorangpun mengetahui dosa dan kejahatan yang engkau lakukan di tempat tersembunyi? Ingatlah! Tuhan mengetahui segala sesuatu bahkan sebelum engkau merencanakan dan melakukannya, dan engkau sendiri mengetahui kesalahan dan dosa-dosamu. Bertobatlah, dan mintalah Yesus mengampunimu. Ia sedang menunggumu kembali kepadaNya.

Apakah engkau mengasih Yesus? Bisakah engkau memberi jawaban seperti yang dilakukan Petrus? Jika engkau tidak bisa menjawab sedemikian, engkau belum bertobat dari dosa-dosa dan kesalahanmu. Engkau masih menikmati masa-masa berbuat dosa dan engkau tahu Tuhan membenci segala perbuatanmu. Terkecuali engkau bertobat dan meminta pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus, maka engkau akan mendapatkan penghukumanmu.