Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 4

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 4)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:15

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Saya mengasihi Engkau, Yesus.” Inilah klaim banyak orang Kristen masa kini! Klaim seperti ini datang dari berbagai kelompok orang, ada yang datang dari penganut agama Katolik, Yunani Orthodoks, gereja liberal yang mengingkari Yesus sebagai Tuhan, dan juga dari penganut gereja Injili. Mereka menyuarakan bahwa mereka sungguh mencintai Yesus. Tetapi, benarkah mereka mencintai Yesus? Benarkha mereka perduli pada ajaran dan perkataan Yesus? Benarkah Yesus memimpin hidup mereka? Benarkah Yesus yang paling utama dalam hidup mereka? Benarkah engkau mengasihi Yesus? Benarkah engkau berkomitmen ingin hidup menyenangkan Yesus?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan kita pada seorang muda kaya yang datang pada Yesus. Dengan penuh keyakinan, ia merasa sudah mencintai Tuhan dengan melakukan apa yang dituntut hukum Taurat. Keyakinan inilah yang memotivasinya untuk datang kepada Yesus dengan suatu ekspresi yang sangat berbeda dengan orang-orang yang datang kepada Yesus. Jika dilihat dalam ketiga Injil (Matius, Markus dan Lukas) orang ini adalah seorang pemimpin agama Yahudi, muda dan kaya raya. Namun stutus ini diabaikannya ketika ia datang kepada Yesus. Ia datang berlari-lari mendekati Yesus dan ia tidak memperdulikan siapapun yang ada di sekeliling Yesus. Ia tidak perlu bahwa jika sebagain dari kerumunan orang yang bersama Yesus adalah orang-orang yang ia ajar di Bait Allah. Ia mengabaikan semua itu dan datang kepada Yesus, bukan hanya berlari-lari mendekati Yesus tetapi juga berlutut dihadapan Yesus. “Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Markus 10:17).

Untuk merespon keingintahuannya, Yesus kemudian melontarkan pertanyaan demikian, 18Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” (Markus 10:18-19). Yesus sebenarnya di ayat 18 bertanya kepadanya tetapi Yesus tidak menunggunya untuk menjawab karena Yesus tahu bahwa ia tidak akan bisa menjawab. Maka Yesus melanjutkannya dengan ayat 19 yaitu sesuatu pengajaran yang sangat sering didengar bahkan diajarkannya. Ia mungkin merasa senang mendengar Hukum Taurat ini. Maka dengan angkuh ia berkata “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Markus 10:20). Jawabannya sangat luar biasa karena ia menunjukkan diri sebagai seseorang yang sempurna. Namun sekalipun ia menyampaikan bahwa ia sudah menuruti apa Hukum Taurat sejak masa mudanya ia tidak memiliki keyakinan akan jaminan keselamatan dalam hatinya.

Oleh karena rasa hampa itulah maka ia datang berlari-lari menemui Yesus dan kemudian berlutut dihaddapanNya. Meskipun ia seorang pemimpin agama Yahudi yang punya status sosial tinggi, ia mencoba merendahkan diri dengan datang berlutut dihadapan Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Markus 10:17).

Jika benar ia pelaku kebenaran, Roh Kudus pasti memberikan kesaksian dan keyakinan dalam hatinya bahwa ia sungguh seorang pewaris kerajaan sorga. Hal seperti inilah yang di rasakan setiap orang percaya ketika ia mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Namun sesungguhnya, orang muda kaya ini bukanlah seorang yang mencintai Tuhan karena ia lebih mencintai harta dan kekayaan dari pada Yesus dan menjadi pengikutNya (Markus 10:21-22).

Ketika orang muda kaya ini menyombongkan diri sebagai pelaku Hukum Taurat sejak masa mudanya, Yesus memandangnya dengan belas kasihan, karena Ia tahu apa sesungguhnya yang dicintainya. Maka Yesus memberi ujian, dan memintanya menjual semua hartanya, dan kemudian membagi-bagikannya kepada orang miskin, lalu kemudian ia datang mengikut Yesus. Yesus memintanya melakukan ini bukan untuk mengajarkan bahwa orang miskinlah yang pantas menjadi pengikut Yesus, tetapi karena Ia tahu bahwa orang ini lebih mengasihi harta dan kekayaannya daripada Tuhan. Itulah yang membelenggu hatiya sehingga meskipun ia beribadah dan melakukan ritual keagamaan, semuanya hanya formalitas belaka. Hidupnya penuh dengan kehampaan. Orang lain mungkin memujinya sebagai orang saleh, setia dan sukses, tetapi ia tahu isi hatinya. Ia tidak bisa membohonginya karena ia tidak memiliki kepastian hidup kekal. Ia meninggalkan Yesus dan pergi karena ia lebih mencintai harta dan kekayaannya daripada Yesus.

Demikian juga orang-orang yang mengklaim diri sebagia orang percaya sekarang ini, ia tahu isi hatiya apakah ia sungguh-sungguh mempercayai Yesus atau tidak. Ia bisa saja berpura-pura saleh, rajin beribadah dan membawa Alkitab besar setiap hari Minggu ke gereja tetapi apakah ia sudah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus atau tidak ia sendiri tahu. Kehampaan dalam hatinya tidak bisa selamanya ditutup-tutupi. Ia perlu terbuka kepada Tuhan dan berlutut di hadapan Kristus serta mengakui segala dosa-dosa dan meminta pengampunanNya.

Apa yang membuatmu tidak mencintai Yesus? Apa harta dan kekayaanmu? Apa anak-anak dan keluargamu? Apa kebiasaan buruk yang menjadi bagian hidupmu? Apa kesukaan dan hobimu? Cobalah renungkan sejenak! Jika Yesus ada dihadapanmu saat ini dan bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari semua yang kamu miliki?” Apa jawabanmu? Jujurlah dihadapan dihadapan Tuhan? Mungkin engkau akan berkata bahwa engkau lebih mencintai Yesus daripada harta dan kekayaan. Benarkah demikian? Lalu kenapa engkau mengabaikan ibadah pada hari Minggu karena lembur kerja dan bertemu dengan klien bisnismu? Kenapa engkau mengabaikan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan namun engkau menghabiskan waktumu untuk facebook, youtube, twitter dan membaca berita online? Bukankah itu membuktikan bahwa engkau lebih mengasihi semua itu daripada mengasihi Yesus dan mendekatkan diri kepadaNya?

Hal yang sama ditanyakan Yesus kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Dengan rasa pasrah dihadapan Yesus, ia memberitahukan segala isi hatinya. Ia tidak berbohong karena Yesus adalah Tuhan yang mengetahui segala isi hati manusia. Sebelum manusia berencana, berpikir dan berintak, Yesus sudah mengetahuinya. Petrus mengakui dengan jujur bahwa ia sungguh mengasihi Yesus dengan berkata, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau.

Apakah Yesus menerima pengakuan Petrus? Mungkinkah Petrus berbohong atau berpura-pura ketika menjawab Yesus? Tentu sekali tidak! Ia jujur di hadapan Yesus. Ia sangat mencintai Yesus. Hal ini terbukti bahwa Yesus tidak melakukan koreksi apapun terhadap jawabannya. Justru sebaliknya, Yesus memberikan tugas mulai yang harus ia emban sebagai Rasul Kristus yaitu tanggungjawab besar. Yesus berkata kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Betapa indahnya perasaan hati yang dipulihkan dihadapan Yesus! Hati Petrus pasti bergembira mendengarkan apa yang Yesus sampaikan. Ia tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan pelayanan. Ia siap mengemban Tugas baru yang Yesus berikan meskipun ia tidak memberikan respon apa-apa terhadap pernyataan Yesus.

Kasih kepada Yesus selalu diikuti oleh tanggungjawab pelayanan. Semakin besar cinta kasih seseorang kepada Yesus maka Tuhan juga membukakan berbagai kesempatan pelayanan untuk diemban dan dikerjakan. Seorang yang mengasihi Yesus tidak akan bersikap sebagai seorang pengunjung di dalam gereja tetapi membuka diri untuk terlibat dalam pelayanan. Seorang yang mengasihi Yesus tidak menjauhkan diri dari pelayanan tetapi menjadi kesukaan dan kegembiraan hatinya untuk bisa melayani Tuhan dengan talenta yang diberikan Tuhan. Seorang yang mengasihi Tuhan tidak mengorbankan pelayanan demi hal-hal duniawi karena hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Seorang yang mengasihi Tuhan tidak diselimuti oleh berbagai kepura-puraan dan keduniawian. Seorang yang mengasihi Tuhan akan rela berkorban untuk pelayanan Kristus.