Apakah Engkau Mengasihi Yesus? Part 6

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (Bagian 6)

Oleh Samson Hutagalung

Nas: Yohanes 21:16

“Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Jika engkau sedang menghadiri rapat, bosmu bertanya tentang sesuatu yang dianggapnya penting, dan engkau memberi jawaban yang menurutmu jawaban yang memuaskan. Namun dengan tiba-tiba, ia kembali menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Apa yang akan engkau sampaikan? Mungkinkah engkau menyampaikan hal yang sama? Bagaimana jika ia menanyakannya untuk ketiga kalinya? Bagaimana perasaan hatimu? Apa yang akan terlintas dalam pikiranmu? Mungkin engkau akan berkata dalam hati, “saya marah dan kesal,” “apa ia sudah tidak bisa mendengar apa yang saya katakan.

Entah kenapa, manusia biasanya jika ditanyakan hal yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya sering direspon dengan marah dan jutek. Atau sering kali memberikan jawaban berbeda dari jawaban pertama. Ada yang memberikan penjelasan tambahan da nada yang memberikan jawaban yang sama sekali berbeda. Jikalau suatu saat Yesus menanyakan pertumbuhan kerohanianmu, bagaimana tanggapanmu?

Yohanes 21:15-17 mencatat suatu kejadian dimana Yesus mempertanyakan kasih Petrus kepadaNya. Ia menanyakannya bukan hanya satu kali saja tetapi tiga kali. Namun Petrus memberi jawaban yang sama. Ia tidak emosi atau mencoba menjawab dengan cara berbeda. Di sinilah ketulusan dan kejujuran Petrus dalam menyampaikan apa yang ada dalam hatinya. Ia menyadari bawha Yesus adalah Tuhan yang mengetahui isi hatinya, dan ia menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus menerima pengakuan Petrus dengan memberikan tugas mulai sebagai Rasul yang dipanggil Tuhan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Pernyataan ini memiliki arti yang sangat penting bagi Petrus karena pernyataan itu mengindikasikan pemulihannya kepada kerasulan Kristus. Pernyataan itu jugalah membuktikan bahwa Yesus sudah mangampuninya dari penyangkalan yang ia lakukan sebelumnya.

Ada hal yang perlu diperhatikan dari pertanyaan Yesus dan pengakuan Petrus ini. Ketika Yesus melontarkan pertanyaan kepada Petrus, Ia memakai kata kerja “mengasihi” yang berasal dari kata kerja “agapaō” dimana “kasih agape” diambil dari akar kata ini. Tipe kasih ini sering disebut sebagai kasih tanpa syarat, atau kasih yang penuh pengorbanan. Ketika Paulus menuliskan perintah kepada para suami untuk mengasihi isterinya, ia memakai kata “agapaō” seperti terdapat pada Efesus 5:23 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”  Gambaran kasih Kristus kepada Gereja atau umat percaya harus juga menjadi gambaran kasih seorang suami kepada isterinya. Inilah kasih agape, kasih tanpa syarat.

Tetapi ketika Petrus memberi jawaban, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, ia tidak menjawab dengan memakai kata “agapaō” untuk kata “mengasihi.” Ia justru memakai kata lain yaitu kata “phileō” dimana kata “kasih fileo” berasal dari akar kata ini. Tipe kasih ini sering disebut sebagai kasih yang setingkat manusia, kasih antar sesame, kasih terhadap seorang sahabat atau kasih bersaudaraan.

Pada kedua pertanyaan dalam ayat 15 dan 16, Yesus memakai kata kerja yang sama untuk kata “mengasihi” yaitu agapaō dan Petrus juga konsisten menjawab dengan kata yang sama “mengasihi” [phileō].  Ketika Tuhan Yesus memberikan perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia dalam Markus 12:30-31, Ia memerintahkan untuk mengasihi dengan kasih agape “30Kasihilah [agapaō] Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah [agapaō] sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Dalam kedua perintah itu, Yesus memakai kata kerja agapaō untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

Kenapa Petrus tidak menjawab Yesus dengan memakai kata kerja “mengasihi[agapaō] seperti yang dipakai Yesus? Kenapa ia menjawab dengan kata berbeda yaitu kata kerja “mengasihi” [phileō]? Satu hal yang pasti bahwa apa yang Petrus sampaikan menunjukkan bahwa ia sudah berubah dan bertobat. Ia tidak lagi sama seperti sebelumnya, yang suka menyombongkan diri bahwa ia memiliki kasih yang besar bagi Yesus. Sekarang ia sadar betapa besar kasih Yesus yang rela mati baginya. Ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa membalas cinta kasih Kristus yang tanpa syarat itu. Ia takut gagal dalam mengikut Yesus. Meskipun ia masih memiliki kasih yang besar bagi Yesus tetapi ia tidak mau lagi mengungkapkannya dengan kata-kata yang berlebihan. Ia sungguh sudah merendahkan diri. Ia sadar bahwa ia hanyalah manusia yang diselamatkan oleh karena anugerah Tuhan sendiri. Maka dalam menjawab pertanyaan Yesus ia memilih kata “mengasihi” yaitu kata kerja phileō untuk mengekspresikan bahwa ia sebagai manusia, memiliki keterbatasan dan kelemahan. Ia hanya bisa mengasihi sebatas kemampuannya sebagai manusia, yaitu kasih seorang sahabat.

Sebagai seorang yang sudah berubah dan bertobat, ia tidak lagi menjawab melebihi apa yang diminta. Ia menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Yesus. Meskipun pertanyaan pertama dan kedua sama, sudah barang tentu Petrus menjawab dengan perasaan dan hati yang penuh kesadaran bahwa ia adalah manusia lemah yang membutuhkan kekuatan dari Tuhan dalam mengikutiNya. Sudah pasti Petrus tidak menunjukkan ekspresi marah dalam jawabannya tetapi sebaliknya, perasaan sedih karena pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan kegagalannya. Ia tidak bisa menghapus ingatannya atas segala dosa-dosa dan penyangkalannya. Tetapi Ia menyadari bahwa Ia sudah berubah dan bertobat. Inilah yang menyakinkannya untk bisa menjawab pertanyaan Yesus apa adanya. Dengan kerendahan hati, kejujuran dan ketulusan, ia menjawab Yesus, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Perasaan lega memenuhi hatinya karaena ia sudah mengungkapkan isi hatinya dihadapan Yesus dan murid-murid lain.

Ketika engkau menghadap Tuhan dalam doa dan penyembahan, bagaimanakah sikapmu? Apakah engkau merasa seperti seseorang yang pantas mendapatkan apa yang engkau inginkan? Apakah engkau dengan menyombongkan diri dan memaksa Tuhan memberikan apa yang engkau inginkan? Ataukah engkau memohon kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan ketulusuan agar kehendak Tuhan yang jadi dalam hidupmu? Jikalau engkau adalah seoang yang sudah diselamatkan maka sesungguhnya engkau harus menyadari bahwa engkau membutuhkan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan agar engkau hidp berkemenangan dalam perjalanan kehidupanmu. Janganlah beranggapan bahwa engkau adalah seoarang Kristen yang kuat dalam menghadapi segala cobaan dalam hidupmu. Ketika engkau merasa hebat, maka Setan sedang menunggu di pintu rumahmu untuk menjatuhkanmu. Ia akan selalu mencari kesempatan untuk menghancurkanmu sehingga engkau jatuh dan tergeletak. O betapa engkau membutuhkan Tuhan dalam setiap detik hidupmu.

8Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:8-10).