Apakah Israel Sudah Digantikan Gereja?

 APAKAH ISRAEL SUDAH DIGANTIKAN GEREJA?

Oleh Samson Hutagalung

11Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. 12Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. 13Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, 14yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka. 15Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? 16Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus. 17Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, 18janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. 19Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. 20Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! 21Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. 22Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. 23Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. 24Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri. 25Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka” (Roma 11:11-27).

PENDAHULUAN

Topik tentang gereja dan Israel merupakan perdebatan para teolog di mas dulu hingga sekarang ini dan hal itu akan terus berlangsung hingga kedatangan Yesus Kristus kembali. Secara khusus topik ini perdebatan antara kelompok Roformed atau Kovenan dengan kelompok dispensasionalisme seperti gereja-gereja baptis dan persaudaraaan serta gereja-gereja yang menganut ajaran dispensasionalisme. Memang ada banyak kelompok gereja yang tidak begitu memperdulikan hal ini bahkan jarang atau tidak pernah mengkhotbahkan topik ini. Padahal salah satu akar permasalahan, perdebatan dan perbedaan pandangan eskatologi yang dianutt berbagai kelompok teologi dan gereja didasarkan pada pengertian masing-masing kelompok tentang Gereja dan Israel. Apa yang dipercayai suatu gereja tentang Israel akan berdampak pada penjabaran dan pemahamannya tentang janji-janji Tuhan tentang Israel khususnya nubuat-nubuat yang belum digenapi bagi Israel.

Namun saya perlu garisbawahi bahwa dasar perbedaan antara penafsiran kelompok Reformed (Presbyterian) dan kelompok Dispensasionalisme (Baptist) tentang Gereja dan Israel tidak bermula dari penafsiran Roma 11 ini. Semua bermula dari bagaimana masing-masing kelompok menafsiran akan janji-janji Tuhan kepada Abraham yang terdapat dalam Kejadian 12:1-3, 7; 15:5, 18; 17:6-8 dan juga ayat-ayat lain yang berkaitan dengan itu. Penafsiran masing-masing kelompok pada ayat-ayat ini menjadi fondasi berdirinya sistem teologi yang dianut masing-masing. Tetapi dalam hal yang sama saya juga ingin menekankan bahwa dalam membangun dan membentuk suatu sistem teologi seperti Kovenantalisme (Reformed) dan Dispensasionalisme tidak semata-mata karena pola penafsiran tetapi lebih kepada prasuposisi yang dianut masing-masing.

Apa yang dimaksud dengan prasuposisi di sini? Prasuposisi adalah praduga awal. Saya memberi suatu contoh. Kelompok Kovenantalisme mempercayai bahwa dalam sejarah manusia yang dicatat dalam Kitab Suci, Tuhan berkomunikasi dengan cara perjanjian atau kovenan, maka kovenantalis memberkenalkan Kovenan Perbuatan baik (covenant of works) dan Kovenan Anugerah (covenant of grace). Ini adalah prasuposisi mereka.

Sementara kelompok Dispensasionalisme juga mempercayai suatu prasuposisi bahwa dalam sejarah manusia yang dicatat dalam Kitab Suci, Tuhan berkomunikasi dengan cara dispensasi (zaman), maka dispensasionalis memperkenalkan tujuh dispensasi (zaman) mulai dari awal penciptaan hingga hari penghakiman yaitu, (1) Zaman (dispensasi) Tanpa Dosa (Kejadian 1:1–3:7), sebelum Kejatuhan Adam; (2) Zaman Hati Nurani (Kejadian 3:8–8:22), Adam hingga Nuh; (3) Zaman Pemerintahan (Kejadian 9:1–11:32), Nuh hingga Abraham; (4) Zaman Perjanjian atau Pemerintahan Para Leluhur (Kejadian 12:1–Keluaran 19:25), Abraham hingga Musa; (5) Zaman Hukum Musa (Keluaran 20:1–Kisah para Rasul 2:4), Musa hingga Kristus; (6) Zaman Anugerah (Kisah 2:4–Wahyu 20:3 – kecuali untuk Hiperdispensasionalis), zaman Gereja yang sekarang; (7) Zaman Kerajaan 1.000 tahun (Milenium) yang masih akan datang namun akan terjadi segera (Wahyu 20:4–20:6).

Demikian juga dalam menafsirkan Perjanjian yang Tuhan buat dengan Abraham, masing-masing kelompok menerapkan prasuposisi yang berbeda-beda. Untuk ini saya ingin mengutip ayat-ayat yang saya sebut di atas di sini.

1Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:1-3).

Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya (Kejadian 12:7).

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu (Kejadian 15:5).

18Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat (Kejadian 15:18).

6Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. 7Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. 8Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka (Kejadian 17:6-8).

Harus diingat bahwa masing-masing kelompok mamakai ayat-ayat yang sama dalam membangun pemahaman yang selaras dengan prasuposisi sebelumnya, jika tidak demikian maka akan terjadi pertentangan ketika tiba pada pembahasan eskatologi. Nah, sekarang mari bagaimana masing-masing kelompok menafsirkan dan memprasuposisikan ayat-ayat di atas.

Dalam memahami Perjanjian Allah dengan Abraham ada dua hal yang perlu diketahui dan diterapkan masing-masing kelompok teologi. Pertama, Kovenantalis (teolog Reformed) mempercayai bahwa Perjanjian Allah dengan Abrahaam bersifat berkelanjutan (continuity). Artinya apa yang Tuhan sudah janjikan kepada Abraham akan terus belanjut kepada keturunannya dan perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham merupakan fondasi untuk perjanjian yang dibuat Allah dengan Musa, Daud dan juga Perjanjian Baru. Sekali lagi ini adalah prasuposisinya. Dan saya sebagai kelompok Kovenantalisme mempercayai hal ini sebagai kebenaran karena ketika Tuhan membuat perjanjian dengan Musa dan Daud, janji-janji yang diberikan Tuhan kepada Abraham dijadikan sebagai fondasinya. Namun bagi kelompok Dispensasionalis mempercayai sebaliknya. Mereka berkata bahwa Perjanjian Alalh dengan Abraham bersifat tidak bekelanjutan (discontinuity). Maka mereka mempercayai bahwa ketika Allah membuat perjanjian kepada Abraham itu berakhir hanya di Abraham sendiri. Lalu Tuhan membuat lagi pernjanjian yang baru kepada Musa dan kemudian kepada Daud dan akhirnya Perjanjian Baru.

Kedua, Kovenantalis (teolog Reformed) mempercayai bahwa Perjanjian Allah denan Abraham bersifat Bersyarat (condisional). Artinya, bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada Abraham tidak serta merta akan dimiliki oleh Abraham dan keturunannya. Ada suatu syarat yang harus dipenuhi oleh keturunan Abraham yaitu kesetiaan mereka kepada Tuhan. Sementara kelompok Dispensasionalis mempercayai bahwa Perjanjian Allah dengan Abraham bersifat Tanpa Syarat (unconditional) dimana Tuhan akan menggenapi apa yang dijanjikan Allah kepada Abraham meskipun keturunannya tidak setia kepada Tuhan karena Tuhan sendiri sudah mengetahui semua kelemahan dan ketidaksetiaan keturunan Abraham sebelum perjanjian itu dibuat. Hal ini dipertegas dalam kejadian yang dicatat daalm Kejadian 15:7-21.

7Lagi firman TUHAN kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” 8Kata Abram: “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” 9Firman TUHAN kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” 10Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. 11Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. 12Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. 13Firman TUHAN kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. 14Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 15Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. 16Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.” 17Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: 19yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, 20orang Het, orang Feris, orang Refaim, 21orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu (Kejadian 15:7-21).

Sangat jelas bahwa perjanjian tersebut bukanlah perjanjian antara dua kelompok yang seimbang. Di masa itu ketika dua kelompok orang melakukan perjanjian mereka akan mengambil binatang lalu membelah duanya kemudian kedua kelompok orang yang melakukan perjanjian itu akan berjalan bersama-sama di antara dua belahan tubuh binatang itu. Prosesi ini dilakukan untuk menunjukkan keseriusan kedua belah pihak terhadap perjanjian yang dibuat. Dan jika ada salah satu yang dari mereka mengingkari perjanjian itu maka ia akan mati seperti binatang yang dibelah dua tersebut.

Namun ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, semua elemen perjanjian yang dibutuhkan disiapkan Abraham sebagaimana sepatutnya diperbuat. Tetapi Abraham tidak turut berjalan di antara binatang yang dibelah dua itu. Hanya Allah sendiri yang berjalan di antara dua belahan tubuh binatang tersebut. Ayat 17-18 memberitahukan, “17Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.

Maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu” menunjukkan Allah sendirilah yang berjalan di antara potongan-potongan daging itu dan Abraham tidak turut melakukannya. Ini berarti bahwa Allahlah yang membuat perjanjian dengan Abraham and Allah sendirilah yang akan menggenapinya. Perjanjian ini bukanlah perjanjian di antara dua kelompok orang yang memiliki status yang sama. Allahlah yang sepenuhnya bertanggungjawab dalam penggenapan janji-janji yang terkandung dalam perjanjianNya dengan Abraham. Abraham dan keturunannya tidak didasarkan pada kesetiaan mereka dalam penggenapan perjanjian ini.

Oleh karena itu janji-janji Allah kepada Abraham seperti yang dimuat dalam ayat-ayat di atas akan tetap sebagai janji bagi umat Israel diman Tuhan sendiri akan menggenapinya bagi Israel di masa yang akan datang. Allah masih memiliki rencana bagi Israel dan akan menggenapi janji-janiNya. Dengan demikian Allah memiliki dua rencana yaitu satu untuk Israel dan satu lagi untuk Gereja. Kedua program Allah ini berjalan bersama-sama tanpa ada yang menggantikan satu dengan lainnya.

Saya mempercaya hal ini bahwa Perjanjian Allah dengan Abraham bersifat Tanpa Syarat (unconditional). Dengan pemahaman ini juga maka posisi sistem teologi yang saya anut adalah Covenant Premillennialism (Kovenan Pramilenialisme) dimana saya mempercayai bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui suatu pernjanjian (kovenan) yang berkelanjutan (continuity) tetapi juga perjanjian itu bersifat Tanpa Syarat (unconditional).

Dengan pemahaman latarbelakang teologi yang saya sudah paparkan diatas, sekarang tiba saat untuk masuk pada eksposisi Roma 11:11-27).

APAKAH ISRAEL SUDAH DIGANTIKAN GEREJA?

Bagi kelompok Reformed (Covenant) yaitu kelompok Amilenium, dan paskamilenium akan dengan cepat menjawab bahwa Israel sudah digantikan gereja karena ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan dengan menyalibkan Mesias, maka posisi Israel diambil alih oleh gereja. Semua janji-janji Allah yang belum digenapi kepada Israel akan digenapi kepada Gereja. Karena Israel sudah digantikan Gereja maka Allah tidak lagi memiliki program bagi Israel di masa ini dan di masa yang akan datang.

Kenapa kelompok Reformed umumnya memiliki pandangan seperti ini? Semua bermula dari pemahaman yang dimiliki bahwa pernjanjian Allah dengan Abraham bersifat Bersyarat, dimana keturunan Abraham yaitu Israel dituntut untuk setia dalam mengenapi janji-janj yang diberikan Tuhan kepada Abraham. Oleh karena mereka tidak setia dengan menyalibkan Yesus maka mereka menganggap Tuhan sudah membuang Israel dan mereka tidak lagi dalam program Allah. Berdirinya Gereja dianggap sebagai pengganti Israel yang akan menerima semua berkat-berkat yang sepatutnya diberikan kepada Israel. Dalam hal ini prasupisisi sangat menentukan arah dari suatu penafsiran dan itulah yang terlihat baik dalam Kovenantalisme dan juga Dispensasionalisme.

Siapakah kelompok Reformed Amilenium di Indonesia? Gereja-gereja yang menganut sistem teologi Kovenantalisme (Teologi Perjanjian) di Indoensia tidak selalu melampirkan nama Reformed, atau Kovenan atau Presbyterian dalam nama gerejanya. Berbeda dengan gereja-gereja di Amerika atau Inggris dimana banyak mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah gereja Reformed dan dengan sengajar melampirkannya dalam nama gerejanya. Namun secara umum bisa dilihat dari asosiasi mereka dengan berbagai Sekolah-Sekolah Teologi yang menganut pandangan Reformed Amilenum. Beberapa di antara sekian banyak Sekolah Teologi tersebut adalah, SAAT, STTRI, STT Bandung, STT Salem, STT Amanat Agung, STT Aletheia, Institute Reformed, dll. Sekolah-sekolah ini satu kelompok dalam satu hal yaitu memiliki pandangan yang sama tentang doktrin Israel dan Gereja. Mereka ini adlah Sekolah Teologi yang tidak mempercayai doktrin AMILENIUM (Wahyu 20:1-6) yaitu “tidak mempercayai adaya kerajaan seribu tahun dan doktrin-doktrin yang berkaitan dengan itu seperti Pengangkatan dan kesusahan besar.

Lalu siapakan kelompok Dispensasionalisme di Indonesia? Gereja-gereja yang mengadopsi sistem teologi Dispensasional di Indonesia adalah gereja-gereja Baptis, gereja Persaudaraan, gereja Karismatik, dan gereja Pentakosta. Gereja-gerjea ini meskipun tidak semua memahami apa itu sistem teologi Dispensasinalisme, namuan dalam prakter sehari-hari mereka lebih condong pada pemahaman teologi Dispensasionalisme. Kelompok ini juga bisa dilihat dari asosiasi mereka dengan sekolah-sekolah Teologi seperti STII, STT Baptis Medan, STT Baptis, STTIP, STT Graphe (GITS) dan banyak lagi. Mereka ini mempercayai bahwa Allah memiliki dua program, satu untuk Israel dan satu Gereja. Mereka juga memiliki pandangan eskatologi sebagai Pramilenium dimana mempercayai bahwa Yesus akan datang mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi (Wahyu 20:1-5).

Nah ketika dua kelompok ini mencoba mempelajari kitab Roma 11 yang membahas tentang Israel dan Gereja maka kedua kelompok ini akan memiliki pandangan yang bertolak belakang. Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa kedua sistem teologi yang dianut akan menyelaraskan penafsiran mereka dengan prasuposisi yang dimiliki yang dijadikan sebagai fondasi penafsiran. Jadi dari prasuposisi yang dianut kelompok Reformed, bahwa perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham tidak berlaku lagi bagi Israel karena mereka sudah gagal setia kepada Tuhan (bersyarat – conditional). Sementara bagi kelompok Dispensasionalis menyakini bahwa perjanjian yang dibaut Allah dengan Abraham masih tetap berlaku dan akan menggenapi semua janji-janji kepada Israel. Untuk bisa menggenapi semua janji-janji itu maka eksistensi Israel di bumi ini masih dibutuhkan dan kehadiran Gereja di bumi ini tidak menggantikan Israel dan tidak mempengaruhi janji-janji Tuhan kepada Israel. Israle dan Gereja adalah Dua Program Allah yang berjalan bersama-sama.

Ketika Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Ia akan mendirikan GerejaNya, pada saat itu Negara Israel masih tetap berdiri dan Yesus sendiri tidak mengindikasikan bahwa kehadiran Gereja yang akan didirikanNya sebagai akibat dari ketidaksetiaan Israel kepada Tuhan. Tetapi pernyataan itu adalah pernyataan rencana program Tuhan yang dirahasiakan dari manusia sebelumnya.

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Maitus 16:18).

Apa Allah Telah Membuang Israel Karena Menyalibkan Yesus?

Tuhan itu Maha Tahu, Ia telah merencanakan segala sesuatu dengan sempurna sebelum dunia dijadikan. Apa yang telah direncanakanNya akan berjalan sebagaimana mestinya dan tidak ada satu hal pun yang tidak sesuai dengan rencanaNya.

Satu hal penting yang termasuk dalam rencana Allah adalah pemilihan Israel sebagai bangsa. Allah mengetahui kesetiaan dan kegagalan Israel sebelum dipilih sebagai bangsa. Allah juga mengetahui bahwa Israel akan menolak Mesias dan menyalibkanNya di kayu salib. Segala sesuatu telah diketahui juah sebelum semuanya terjadi karena Dia yang menetapkan dan merencanakannya.

Dalam sejarah Israel khususnya sejak Allah membawa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian, tanah Kanaan hingga pada masa sekarang ini, Israel telah melakukan banyak kesalahan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan. Masih ingat ketika Israel dipimpin Musa keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan? Perjalanan yang sepatutnya 40 hari menjadi 40 tahun. Itu adalah hukuman dari Tuhan. Ketika mereka sudah tiba di tanah Kanaan mereka tidak setia dan menyembah berhala, dan Tuhan menghukum Israel bagian Utara dan membiarkan mereka dijajah kerajaan Ashur (Assyria) dan membuang mereka ke berabagai negara.

Namun kesalahan ini tidak diperdulikan Israel bagian Selatan. Mereka tidak lebih baik dari Israel bagian Utara, dan akhirnya mereka juga dibuang ke Babylonia di bawah penjajahan Nabukadnezzar, selama 70 tahun. Setelah kembali dari Babylon mereka bukan menjadi lebih baik. Hingga pada masa Tuhan Yesus, Israel selalu memberontak terhadap Tuhan. Dan punjaknya, Israel menyalibkan Mesias, Yesus Kristus di kayu salib. Inilah perbuatan keji di hadapan Allah. Israel telah melakukan dosa besar. Sebagai akibatnya, seperti Yesus nubuatkan dalam Matius 24-25 bahwa kota Yerusalem akan dihancurkan dan satu batupun tidak akan ada bertindi dengan batu lainnya di Bait Allah. Kota Yerusalem dan Bait Allah akan dihancurkan dan bangsa Israel akan bercerai-berai ke berbagai penjuru dunia.

Kejahatan Israel akan tetap mendapatkan hukuman dari Tuhan. Kapan itu terjadi? Pada tahun 70 Masehi di bawah pimpinan Jenderal Titus, orang Roma menghancur luluhkahn kota Yerusalem dan Bait Allah. Umat Israel melarikan diri ke berbagai penjuru dunia untuk menyelamat diri. Israel terpencar ke seluruh bagian dunia hingga tanah Israel itu sendiri hampir kosong, tak berpenghuni. Mulai masa itulah bangsa-bangsa Arab memasuki tanah Israel dan menetap di tanah Israel. Sedangkan bangsa Israel sudah tersebar di berbagai Negara Eropa, Afrika, Amerika bahkan Asia dan Australia. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang namanya negera Israel.

Pertanyaan sekarang, apakah Allah telah membuang Israel karena menyalibkan Yesus? Hingga pada awal abad ke 20 atau hingga tahun 1900 an, jawaban para teolog umumnya adalah Israel telah dibuang dan Allah tidak tertarik lagi dengan Israel. Namun pandangan ini sebenarnya merupakan pandangan yang tidak didasarkan dengan Firman Allah. Apakah Alkitab mencatat bahwa Israel sudah dibauang Allah? Jawabannya tidak! Namun karena pada masa itu Negara Israel sudah tidak ada, dan para teolog beranggapan bahwa jika Allah ingin menggenapi janji-janjiNya kepada Israel seperti yang diberikan kepada Abraham, Negara Israel harus dipulihkan kembali. Tetapi saat itu tanda-tanda pemulihan Israel tidak ada ,maka cenderung jawaban teolog adalah Israel sudah dibuang Allah dan digantikan oleh Gereja.

Tetapi Paulus dalam kitab Roma menjelaskan bahwa Allah tidak pernah berencana membuang Israel. Allah memang menghukum siapa saja yang telah melakukan kesalahan dan dosa termasuk Israel. Tetapi rencana Agung Allah tidak akan pernah gagal. Allah akan menggenapi janji-janjiNya dengan sempurna.

Inilah penjelasan Paulus dalam Roma 11:11-12,

11Maka aku bertanya: Adakah mereka [Israel] tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka [Israel], keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain [Gereja], supaya membuat mereka [Isarel] cemburu. 12Sebab jika pelanggaran mereka [Israel] berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka [Israel] kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka [Israel].”

Paulus bertanya, “Adakah mereka [Israel] tersandung dan harus jatuh”? Kata “tersundung” dan “jatuh” di sini bukan seperti yang diartikan sehari-hari dimana seseorang tersandung dan terjatuh dan kemudian bangkit dan berdiri. Tetapi di sini istilah ini adalah istilah yang diperhalus.Frasa ini sebenarnya bisa diartikan demikian, “apakah rencana Allah akan Israel secara total akan membuang Israel dan tidak dipulihkan lagi karena melakukan dosa? Kalimat ini juga merupakan suatu pernyataan objection (instruksi dalam sebuah pengadilan). Dengan menyadari bahwa Israel telah menolak Mesias dan tersandung, apakah Allah merencanakan Israel dibuang dari kasih karunia? Paulus menjawab, sekali-kali tidak.

Kelompok tertentu beranggapan bahwa Israel yang dimaksud dalam ayat ini bukan bangsa Israel tetapi gereja karena anggapan Israel telah digantikan gereja. Namun konteks ayat tersebut tidak mengindikasikan arti sedemikian karena frasa selanjutnya tidak menunjukkan hal itu, “Tetapi oleh pelanggaran mereka (Israel), keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya mereka (Israel) cemburu” (ayat 11b). Jika Israel memang benar-benar sudah digantikan gereja, dan Israel sudah tidak ada lagi dalam rencana Allah, untuk apalagi membuat Israel cemburu? Tetapi justru sebaliknya, ayat ini memberikan pengukuhan bahwa Israel itu sedang berada dalam penghukuman Allah. Namun dalam ayat yang sama juga terdapat suatu petunjuk akan rencana Allah untuk bangsa-bangsa lain selain dari bangsa Israel yang dikenal dengan gereja (terdiri dari berbagai suku-suku bangsa dan bahasa).

Karena Israel telah melakukan kesalahan dan pelanggaran, maka Allah menyatakan rahasiaNya yaitu memberikan keselamatan kepada bangsa-bangsa lain. Apa tujuan Allah untuk semua ini? Supaya membuat Israel cemburu. Inilah yang dikatakan Yesus di masa pelayananNya dalam Matius 16:18 ketika Israel masih berdiri sebagai bangsa.

“Aku akan mendirikan jemaat-Ku (gereja lokal) dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Ketika Yesus menyampaikan pernyataan ini, gereja lokal belum berdiri karena pendirian jemaat Kristus ini akan terjadi dikemudian hari dan belum berdiri gereja lokal pada masa Kristus. Dengan pemberontakan Israel terhadap Tuhan dan penyaliban Kristus di kayu salib, Tuhan menyatakan rencanaNya dengan memberikan rencana keselamatan kepada bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa-bangsa kafir (bangsa di luar Israel).

Paulus memberitahukan awal mula dari gereja lokal dalam Efesus 3:5-6

5Yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus.”

Apa yang tidak diberitahukan di zaman dulu, di masa Israel? Jawabnya ada di ayat 6,

6yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi (gereja lokal), karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.”

Apa yang diberitakan di sini? Allah tidak membuat rencana baru di sini karena Allah telah merencanakan segala sesuatu sebelum dunia dijadikan. Tetapi Allah merahasikannya atau tidak memberitahukannya kepada siappun di Perjanjian Lama.

Ayat ini juga tidak mengatakan bahwa Allah hanya memperdulikan Israel di Perjanjian Lama dan bangsa-bangsa lain tidak memiliki keselamatan. Fakta dalam Alkitab dicatat bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi. Ada dua nama perempuan bukan Yahudi yang dicatat dalam silsilah Tuhan Yesus dalam Matius 1:1-17 yaitu “Rahab” perempuan sundal dan “Rut” perempuan Moab. Mereka adalah sebagai contoh dalam catatan Alkitab bahwa Allah menyelamatkan bangsa-bangsa bukan Yahudi di Perjanjian Lama. Namun harus diketahui bahwa bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Tuhan mereka harus menjadi bangsa Yahudi (Israel) dalam beberapa aspek yaitu mereka harus mengikuti cara ibadah Israel, ritual Israel, di sunat dan menyembah di Bait Allah umat Israel. Ini adalah pola yang diatur di Perjanjian Lama. Tetapi sekarang apa yang dicatat dalam kitab Efesus sungguh-sungguh memberitahukan sesuatu yang belum pernah terjadi yaitu bangsa lain menjadi (1) turut ahli-ahli waris, (2) anggota-anggota tubuh, (3) peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Inilah gereja, tubuh Kristus.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, kapan berdirinya jemaat Kristus atau gereja lokalini? Jawabannya adalah pada hari Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus. Hari itulah awal mula berdirinya gereja lokal dimana dari berbagai bangsa, orang-orang dengan mendengarkan Injil dan dengan dorongan Roh Kudus mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ribuan orang memberi diri dibaptis dan tiap-tiap hari mereka berkumpul memuji Allah, belajar Firman Tuhan dan memecah-mecahkan roti (perjamuan). Kegiatan ini adalah suatu kegiatan baru bagi orang-orang Yahudi seperti para rasul dan lainnya karena hal seperti itu tidak dialami ketika mereka masih di bawah agama Yahudi.

Dengan kegagalan dan kekurangan atau dosa Israel, bangsa-bangsa lain dapat mencicipi anugerah Allah dan memperoleh keselamatan di dalam Kristus Yesus. Pertanyaannya kembali, apakah Allah sudah membuang Israel untuk selamanya? Jawabannya tidak. Tuhan menghukum mereka dan Tuhan memfokuskan rencana kepada Gereja. Dengan kata lain adalah Allah memiliki dua rencana: satu kepada Israel dan satu lagi untuk gereja.

Apa Gereja Telah Menggantikan Israel?

Perhatikan Roma 11:13-25 dimana ayat-ayat ini menjelaskan dengan tegas akan rencana Allah bagi Israel dan bagi Gereja.

Dalam ayat 13-14 Paulus mengatakan suatu kemuliaan pelayanannya jika ia bisa membangkitkan cemburu orang Yahudi dengan menjadi Rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.

13Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, 14yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka.

Dalam ayat 15 Paulus mengatkaan penolakan Yahudi akan Mesias menjadi perdamaian bagi dunia (manusia berdosa diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus yang mati di kayu salib).

15Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati?

Dalam ayat 16 Paulus memberikan dua ilustrasi “jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus” karena roti itu sendiri dibuat dari adonan itu. “Jikalau akar (suatu pohon zaitun) adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus” karena cabang itu sendiri mendapatkan kehidupan dari akarnya.

16Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.

Dalam ayat 17-25 Paulus kembali memberikan suatu ilustrasi atau kiasan untuk menggambarkan Israel dan gereja. Dalam Yeremiah 11:6 bangsa Israel dikatakan sebagai Pohon Zaitun dan kiasan ini juga diungkapkan Paulus di sini. Jikalau akar pohon ziatun itu adalah kudus yang mungkin menunjuk kepada Abraham sebagai bapa orang beriman, orang yang dipilih Allah sendiri, dan Israel adalah keturunannya, maka sepatutnyalah seluruh cabang-cabangnya yaitu keturunan Abraham menghasilkan buah-buah dalam kekudusan. Namun jika cabang-cabang dari pohon zaitun kudus itu sendiri tidak menghasilkan buah, maka mereka  akan dipotong dan dibuang.

Dalam kesempatan ini juga Paulus memberitahukan bahwa bangsa-bangsa lain (selain bangsa Israel) diilustrasikan sebagai pohon zaitun liar atau “tunas liar.” Tunas liar atau cabang pohon zaitun liar dengan pasti tidak akan pernah menghasilkan buah-buah dalam kekudusan karena memiliki akar dari pohon yang liar tetapi dosa-dosa dan kekejian. Namun cabang pohon zaitun liar ini dicangkokkan ke pohon zaitun kudus tadi pada tempat cabang-cabang pohon zaitun yang tidak berbuah, yang sudah dipotong dan dibuang. Dengan demikian cabang pohon zaitun liar yang ditempelkan atau dicangkokkan itu mendapatkan makanan dan kehidupan dari akar atau pohon zaitun kudus itu.

Singkatnya, Allah telah memberikan jalan keselamatan bagi Israel tetapi mereka tidak perduli dan menyia-nyiakannya serta memberontak terhadap Allah. Iman seperti yang dimiliki Abraham tidak ditemukan di Israel bahkan Mesias yang dijanjikan sejak masa Adam, ditolak dan disalibkan. Dengan kegagalan dan kekurangan bangsa Israel, Allah membuka jalan keselamatan bagi bangsa-bangsa lain yaitu Gereja.

Namun Paulus berkata bahwa kepada cabang pohon zaitun liar yang telah dicangkokkan itu (Gereja),

“Janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itulah yang menopang kamu” (ayat. 18).

Ini berarti, gereja jangan bermegah dan jangan meremehkan Israel karena akar pohon zaitun kudus itulah (Abraham) gereja bisa menikmati berkat anugrah Allah.

Paulus kembali menjelaskan dalam ayat 20,

“Mereka (Israel) dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu (gereja) tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu (gereja) sombong, tetapi takutlah!”

Gereja jangan sombong terhadap Israel, tetapi bersikap takut kepada Tuhan. Kenapa?

“Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli (Israel), Ia juga tidak akan menyayangkan kamu (geeja)” [jika melakukan kesalahan] (Ayat 21).

“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu (gereja) kemurahan-Nya, yaitu jika kamu (gereja) tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu (gereja) pun akan dipotong juga” (ayat 22).

Dalam ayat 23 Paulus memberitahukan kedaulatan Allah atau hak prerogative Allah.Ia berkata, jika Israel bertobat dan berpaling dari ketidakpercayaan mereka, mereka pun akan dicangkokkan kembali ke pohon zaitun kudus semula. “Sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.”

23Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.

Dalam ayat 24, diberitahukan, jika bangsa-bangsa lain yang merupakan cabang pohon zaitun liar bisa dicangkokkan meskipun sebenarnya bertentangan dengan keadaan dan kebiasaan bangsa-bangsa lain itu dan tetap dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, maka akan lebih mudah lagi jika cabang-cabang pohon zaitun sejati yang dipotong dan dibuang itu dicangkokkan kembali pada pohon zaitun aslinya.

24Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.

Hingga pada ayat ini terdapat dua hal penting yaitu, pertama, bahwa Allah mengabaikan Israel untuk sementara waktu dan jika mereka bertobat Allah akan mengampuni mereka dan memulihkan mereka kembali. Kedua, bahwa Allah tidak membuang Israel untuk selamanya. Mereka seperti cabang pohon zaitun sejati yang tidak menghasilkan buah-buah lalu dipotong dan dibuang. Tetapi Allah punya hak untuk mencangkokkan mereka kembali.

Perhatikan kembali ilustrasi tentang pohon zaitun sejati ini. Dan coba tanyakan pertanyaan ini. Sampai kapan cabang pohon zaitun liar itu tetap menempel atau dicangkokkan pada pohon zaitun sejati itu? Dan kapan cabang pohon zaitun asli akan dicangkokkan kembali?

Pertama, ketika Israel menolak Kristus sebagai Mesias dan menyalibkanNya, saat itulah Israel dipotong dari pohon zaitun sejati. Israel berada dalam penghukuman Allah. Israel masih tetap dalam rencana Allah tetapi untuk semantara Allah membiarkan mereka mengalami segala macam hukuman termasuk pembunuhan yang dilakukan Hitler dan penderitaan yang dialami mereka hingga saat ini. Ini merupakan hukuman dari Tuhan. Tetapi hukuman itu akan berakhir suatu saat nantinya. Kapan itu terjadi?

Lihat Roma 11:25, Paulus memberikan suatu rahasia penting bagi umat manusia. Siapa yang memiliki teliga biarlah ia mendengar.

“Sebab, saudara-saudara, supaya kamu [gereja] jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu [gereja] mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.

Ayat ini memberikan petunjuk bahwa di mata Tuhan jumlah orang-orang percaya (gereja) itu telah ditetapkan dan tidak ada yang tahu jumlahnya. Jika jumlah itu sudah genap atau terpenuhi maka rencana Allah terhadap gereja akan berakhir di bumi ini. Itu berarti jumlah bangsa-bangsa lain yang ditempelkan atau dicangkokkan ke pohon zaitun sejati itu terbatas dan memiliki masa waktu tertentu. Dan setelah waktunya tiba dan jumlahnya cukup maka Israel akan dicangkokkan kembali ke pohon zaitun sejati itu. Namun salama masa-masa gereja, Israel akan tetap menjadi bangsa yang tegar hati, dan melawan dan memberontak kepada Tuhan. Sangat sulit untuk menginjili mereka dan mereka menolak untuk membaca Injil dan menerima Yesus sebagai Mesias.

Ketika jumlah bangsa-bangsa lain sudah genap maka masa gereja akan berakhir dan mereka akan diangkat dari bumi ini (1 Tesalonika 4:13-18; 1 Korintus 15:51-52). Inilah yang dikenal dengan rapture atau pengangkatan. Setelah gereja terangkat maka Israel akan menjadi fokus rencana Allah kembali di bumi ini. Hal ini terjadi selama masa KESUSAHAN BESAR selama 7 tahun. Pada masa itulah Israel akan menjadi pusat perhatian dunia. Keselamatan akan derikan kembali meskipun dalam kesulitan dan penderitaan.

26Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka” (Roma 11:26-27).

Jadi sangat jelas Israel tidak digantikan oleh gereja dan Tuhan akan menggenapi janji-janji yang diberikan kepada Abraham. Allah tidak akan berbohong tetapi Ia akan menggenapinya dengan sempurna.

Apa Israel Sekarang Masih Termasuk Bangsa Pilihan Allah?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak semudah yang dibayangkan, seperti jawaban ya dan tidak. Pernahkan engkau bayangkan suatu bangsa tidak memiliki tanah, Negara, penduduk selama hampir 2.000 tahun dan tiba-tiba bisa terbentuk kembali sebagai bangsa? Apakah ada suatu Negara di dunia yang seperti ini? Memang benar ada bangsa dan Negara-negara baru berdiri di belahan bumi ini tetapi mereka tidaklah seperti Israel. Israel sejak tahun 70 Masehi ketika Jenderal Titus membakar dan menghancurkan Yerusalem dan membuang serta membunuh orang-orang Israel, Israel telah tiada. Penduduknya meninggalkan Negara itu karena ingin menyelamatkan diri. Lambat laun Negara-negara Arab dan penduduk di sekitar Israel memasuki daerah dan tanah Israel serta mendirikan Negara-negara baru termasuk Jordan, Libanon, Yaman dan Palistina yang memperluas wilayahnya ke tanah Israel.

Meskipun hampir selama 2.000 tahun Israel tidak memiliki identitas sebagai bangsa dan Negara, namun karekteristik dan identitas mereka sebagai orang Yahudi tetap terpelihara dengan adanya pendirian sinagoge-sinagoge dimana orang-orang yahudi berkumpul. Sinagoge ini menjadi tempat mereka belajar bahasa dan tradisi mereka. Meskipun saat ini banyak orang-orang Yahudi menjadi free-thinker atau tidak memiliki agama sama sekali namun identitas mereka sebagai orang Yahudi tetap terpelihara dari abad ke abad.

Pada masa diaspora, orang-orang Yahudi ini memang bukanlah suatu bangsa karena ada tiga syarat penting untuk berdirinya suatu bangsa: (1) Memiliki tanah, tempat penduduk tinggal, (3) Memiliki penduduk, (4) Diakui Negara lain. Israel tidak memiliki itu selama hampir 2.000 tahun. Tetapi pada tanggal 14 Mei 1948 Israel dengan resmi berdiri kembali sebagai suatu bangsa dan Negara. Ini adalah sesuatu yang luar biasa dan di luar rencana dan kemampuan manusia. Hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam sejarah dunia ini. Israel adalah bangsa yang khusus. Kenapa semua ini terjadi? Karena Allah akan menggenapi janji-janji yang diberikanNya kepada Abraham. Meskipun berbagai Negara mengecam dan berusaha membumi haguskan Israel di berbagai zaman dan Negara, tetapi Allah masih tetapperduli dengan Israel.

Tahukah engkau ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya nanti Dia akan menginjakkan kakiNya di tanah tepat Ia naik ke sorga seperti yang diutarakan nabi Zakaria dalam Zakaria 14:4? Kembalinya Israel ke tanah perjanjian merupakan rencana Allah meskipun orang Israel sendiri membenci Kristus saat ini. Sangat sedikit orang Yahudi yang percaya pada Kristus. Mereka tegar hati dan terus memberontak terhadap Allah.

Kembalinya Israel ke tanah perjanjian adalah merupakan langkah awal dari penggenapan janji-janji Allah. Ini merupakan penggenapan dari Kitab Yesaya 11:11-12,

11Pada waktu itu Tuhan akan mengangkat pula tangan-Nya (kedua kalinya) untuk menebus sisa-sisa umat-Ny yang tertinggal di Asyur dan di Mesir, di Patros, di Etiopia dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di pulau-pulau di laut. 12Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpukan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi.”

Yang pertama Israel kemblai ke tanah perjanjian ketika kembali dari pembuangan di Babylon. Dan yang kedua adalah kembalinya mereka untuk mendirikan bangsa Israel seperti terjadi sekarang ini. Namun kembalinya Israel ke tanah mereka bukanlah sesuatu yang akan mereka nikmati dengan mudah. Negara-negara disekitar yang selama ini mendiami tanah Israel mengklaim bahwa tanah Israel adalah miliki mereka dan milik nenek monyang mereka. Peperangan terus berjalan sejak pertama kali Israel menyatakan diri sebagai bangsa kembali. Orang-orang Arab melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kembali tanah Israel dan hal itu adalah hal yang wajar karena mereka sudah berad di sana berates-rataus tahun.

Tentu engkau mengetahui apa sedang terjadi di Israel saat ini bukan? Itu merupakan penghukuman bagi Israel karena mereka menolak Kristus. Israel akan menjadi BARO METER kedamaian dunia. Jika ingin melihat dunia keadaaan dunia, damai atau kacau, lihatlah Israel. Jika ada kekacauan di Israel semua dunia akan ikut bicara. Namun sesuatu terjadi di Negara lain, tidak aka nada yang perduli meskipun ratusan orang terbunuh. Namun seorang bayi terbunuh di Israel, akan menjadi berita dunia. Dan hal ini akan terus terjadi hingga gereja terangkat dari bumi ini. Ketika hal itu terjadi maka dunia akan mamasuki masa yang dikenal dengan masa KESUSAHAN BESAR selama 7 tahun. Tujuh tahun ini dibagi dua bagian 3,5 tahun pertama akan dikenal dengan masa damai dan 3,5 tahun kedua akan dikenal dengan kesusahan atau perang di dunia ini (Wahyu 4:1-19:10 ).

Namun pada awal gereja terangkat dari bumi ini, Israel akan mengalami kedamaian yang tidak pernah dialami selama ini. Seorang pemimpin dunia akan membuat perjanjian dengan Israel dan ia akan mempelopori perdamaian dunia. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena pemimpin tersebut adalah Antikristus, yang memiliki simbol 666. Pada pertengahan kesusahan besar itu, Antkristus akan mengingkari perjanjiannya dengan Israel. Peperangan akan terjadi dan Israel akan menjadi pusat peperangan saat itu. Pada masa sulit itulah umat Israel akan memperoleh keselamatan. Mereka akan bertobat (Roma 11:26).