Bagaimana Mengetahui Tafsiran Yang Benar?

BAGAIMANA MENGETAHUI SUATU TAFSIRAN ALKITAB ITU BENAR?

oleh Samson Hutagalung

Tidak mudah untuk mengetahui kebenaran suatu tafsiran. Harus diakui, ada bagian Alkitab yang mudah dimengerti dan ditafsirkan, bahkan orang awam sekalipun bisa memahaminyai dengan mudah, tetapi ada banyak bagian Alkitab yang sulit dipahami dan menuntut pembelajaran serius dan saksama. Fakta ini mengingatkan setiap umat Kristen untuk berhati-hati dalam memberikan arti suatu perikop Alkitab.

Petrus memberikan peringatan penting agar umat Kristen jangan sembarang bicara dalam memberikan arti tafsiran perikop Alkitab tetapi harus mempelajarinya dengan seksama dan dalam doa yang sungguh-sungguh karena ada perikop Alkitab yang sulit dimengerti. Kesalahan dalam memberi tafsiran atau arti perikop Alkitab akan membinasakan dan menyesatkan diri sendiri dan orang yang dipimpinnya. Apakah mereka gembalaan, anggota keluarga dan bahkan teman-temannya, semua bisa menjadi tersesat karena ajaran yang tidak benar.

“15Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagaimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. 16Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (2 Pet 3:15-16).

Ayat di atas jelas-jelas memberitahukan, ada orang-orang yang sembarangan memberikan tafsiran Alkitab tanpa memperdulikan akibatnya. Perilaku ini telah terjadi bukan hanya di masa modern sekarang ini tetapi sudah terjadi sejak awal berdirinya gereja mula-mula. Inilah yang diamat Petrus masa pelayanannya. Dan masa kini tentu telah terjadi dalam skala besar. Jika masa dulu perbuatan semacam itu dilakukan perorangan, namun masa kini dilakukan dalam skala organisasi, institusi dan denominasi gereja. Hal ini jelas-jelas diungkapkan Paulus sebagai peringatan kepada Timotius dan berkata,

“2Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan snasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 3karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan teliganya. 4Mereka akan memalingkan teliganya dari kebenaran dan memukanya bagi dongeng” (2 Tim 4:2-4).

Setiap umat percaya harus berhati-hati dan selalu kembali kepada Alkitab dalam mengetahui suatu ajaran itu benar atau salah, sekalipun pengajar atau pengkhotbah itu merupakan orang yang sudah dikenal sejak lama, karena tidak jarang terjadi orang yang setia selama puluhan tahun, namun kemudian meninggalkan kebenaran menjelang masa akhir pelayanannya (ref. Roma 3:4a).

TINGKAT PENGETAHUAN YANG BERVARIASI

Bagi umat Kristen yang baru percaya pada Yesus, isi Alkitab merupakan hal asing yang harus dibaca dan didalami. Hampir bisa dikatakan keseluruhan isi Alkitab belum dimengerti. Baginya buku-buku Alkitab dari Kejadian hingga kitab Wahyu memiliki tingkat kesulitan yang merata, meskipun ia bisa membacanya tetapi tidak dimengerti apa maksud yang dibaca. Sayangnya, ada banyak umat Kristen yang mengklaim sebagai pengikut Kristen tetapi tingkat pengetahuannya terhadap Firman sama seperti seorang Kristen pemula, yang baru percaya pada Yesus. Bahkan ada begitu banyak umat Kristen tidak pernah membaca Alkitab secara teratur dan menyelesaikan pembacaan keseluruhan Alkitab. Di sisi lain, ada banyak umat Kristen tidak memiliki Alkitab yang bisa dibaca dan dipelajari dan sekalipun memilikinya, belum tentu dibaca dan seringkali hanya disimpan dalam rak buku atau di laci meja. Fakta ini memberikan gambaran tingkat pengetahuan Alkitab yang bervariasi yang dimiliki umat Kristen.

Bagi umat Kristen pemula diharapkan bisa bertanya kepada pemimpin rohaninya untuk bisa membaca kitab-kitab tertentu dalam Alkitab sebagai dasar awal dalam membangun suatu fondasi pengenalan pengertian Alkitab. Hamba Tuhan yang menjungjung tinggi Alkitab akan dengan senang hati menuntun gembalaannya dalam pertumbuhan pengetahuan akan Kitab Suci. Dia akan dengan bersemangat membantu setiap jemaat yang ingin bertumbuh dalam Kristus.

Bagi umat Kristen yang telah lebih dewasa dalam kerohanian, yang memiliki kerinduan mengetahui Firman lebih baik perlu diketahui bahwa hal itu bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Ia bisa dibimbing oleh hamba-hamba Tuhan melalui kelas khusus seperti pendalaman Alkitab atau Bible Study, Bible Class atau kuliah malam tergantung pola apa yang bisa ditawarkan gembalanya. Pendekatan ini bisa dikatakan lebih aman dan progresif karena dituntun dan dibina oleh seorang yang paham Alkitab.

Namun setelah beberapa waktu, tiap-tiap umat Kristen akan berusaha menggali bagi dirinya sendiri Firman yang diilhamkan Tuhan yaitu Alkitab. Ia akan mempelajari dan menelaah Firman bagi dirinya sendiri dan melatih diri mempelajari maksud Firman itu. Umat Kristen yang melakukan hal ini akan mengalami pertumbuhan yang dasyat dalam pengenalan dan pengetahuannya akan Firman Allah. Pola ini bisa dilakukan pada saat melakukan perenungan Firman setiap harinya. Buku renungan harian yang dimiliki bukan segalanya tetapi melakukan pendalaman yang lebih luas dan dalam dari nats Firman yang dipelajari pada pagi dan malam hari itu. Intinya, pembelajaran seperti ini membutuhkan waktu yang cukup dan merasakan pentingnya mendalami Firman Allah.

“Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Maz 1:2).

“Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup” (Maz 42:2a).

Pembelajaran Firman Allah tanpa didasari rasa kerinduan dan kesukaan yang dalma akan pengenalan Allah dan FirmanNya akan menjadi pengetahuan kepala belaka saja (head knowledge) dan bukan pengetahuan yang mengubah hati semakin sempurna dan kudus (heart knowledge).

TINGKAT KESULITAN YANG BERVARIAS

Meskipun Alkitab dimaksudkan bagi umat percaya, tidak berarti semua kitab-kitab dalam Alkitab memiliki tingkat kemudahan yang sama. Ada kitab yang mudah dibaca namun bukan berarti mudah untuk dimengerti. Ada kitab yang sulit untuk dibaca karena sepertinya kurang relevan dengan kehidupan masa kini. Dengan kata lain, tingkat kesulitan Firman Allah itu berbeda-beda, terkadang ada yang mudah dan ada juga yang tidak bisa dimengerti sama sekali atau kita bisa mendapatkan maksud yang pasti dari perikop atau ayat tertentu. Tetapi sekalipun demikian, bukan berarti Allah memberikan FirmanNya dengan tidak memiliki maksud atau pengertian yang mengambang. Bagi Allah apa yang disampaikan sangat jelas dan pasti. Ketidak-jelasan bagi manusia merupakan faktor yang disebabkan keterbatasan manusia dalam mengerti perkataan Tuhan.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9Seperti tingginya langit dari bumi, demikinalah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33)

Terkadang umat Kristen bertanya, kenapa Allah tidak menyusun Alkitab sedemikian agar mudah dimengerti? Bukankah lebih baik bagi umatNya jika sistem teologia disusun dengan sistematis agar lebih mudah dimengerti manusia? Bagi mereka yang pernah sekolah teologia, mungkin pertanyaan ini  pernah terlontar dalam pemikirannya tetapi Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya. Dia memberikan FirmanNya untuk ditelaah dan digali dan semakin digali dan dipelajari semakin ditemukan maksud Allah yang kaya dan dalam serta tidak habis-habisnya. Belum pernah pengkhotbah yang diurapi dan dipenuhi Roh Kudus berkata, “Tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan dari Alkitab karena semuanya sudah saya sampaikan kepada jemaat.” Tetapi sebaliknya, semakina ia pelajari maka semakin ia sadar begitu dalam dan luas serta kayanya Firman Allah yang bisa diaplikasikan dalam hidup manusia.

Namun ketika sauatu perikop atu nats Firman sulit dimengerti, janganlah sekali-kali berkata bahwa Alkitab itu salah atau mengandung kesalahan. Tetapi justru harus menyadari keterbatasannya sebagai manusia biasa, lemah dan berdosa. Bagaiaman mungkin manusia berdosa mengerti keseluruhan maksud Allah yang agung dan kudus? Dalam hal ini dituntut dedikasi dan doa yang sungguh-sungguh agar Roh Kudus memberikan penerangan dan pengertian akan Firman tersebut. Dalam pembelarajan Alkitab setiap umat Kristen diuntut memiliki kerendahan hati agar bisa melihat apa yang Allah maksudkan. Yohanes Kalvin memberitahukan tiga rumus penting dalam mempelajari Firman yaitu,(1) Kerendahan hati, (2) Kerendahan hati dan (3) Kerendahan hati. Jika ketiga hal ini tidak dimiliki maka sikap lebih hebat dan pintar dari Allah akan timbul dalam dirinya. Dia akan mengatakan Alkitab itu salah dan akan meremehkan Alkitab. Dia akan bersikap sebagai orang genius dan meremehkan Allah dan FirmanNya.

Harus diakui bahwa ada bagian-bagian Alkitab yang sulit dimengerti seperti yang dikatakan Petrus. Namun bukan berarti Alkitab, sesuatu yang tidak bisa dimengerti umat Kristen. Alkitab diberikan agar umat Allah bisa membaca, mempelajari dan mendalami FirmanNya serta mengerti apa rencana dan tuntutan Allah bagi setiap manusia. Meskipun Alkitab adalah perkataan Tuhan, kitab-kitab di dalamnya mengikuti norma penulisan seperti tulisan-tulisan lainnya. Kata benda menunjuk pada benda tertentu, kata kerja menunjuk pada suatu pekerjaan atau tindakan. Kalimat dalam Alkitab masih sama sebagai pernyataan, pertanyaan atau perintah seperti lazimnya suatu tulisan. Aturan-aturan normal sebuah tulisan tetap berlaku. Sama seperti buku-buku lain, jika ingin mengerti isinya, maka harus memulai suatu proses pemahaman teks atau nats dengan mengambil makna alami kata dalam hubungannya satu sama lain, menafsirkannnya sesuai dengan aturan normal tata bahasa dan sintaks. Dengan kata lain, umat Kristen harus memahami kata-kata dalam konteks kalimat, kalimat dalam konteks alinea atau paragraf, paragraf dalam konteks bab, bab dalam konteks buku dan sebagainya.

Untuk mempermudah pemahaman pembaca dalam hal ini, mungkin contoh berikut akan sangat menolong. Misalkan kamu menerima sebuah surat cinta dari orang yang sangat dikasihi. Surat itu merupakan ungkapan hati dan perasaan penulis. Penulis menuliskan surat cinta itu begitu indah dan menarik dengan memakai berbagai kiasan atau metafora “kamulah bulan, bintang dan matahariku” untuk menggambarkan keseriusan dan pentingnya dan kesetiaannya. Kamu sebagai penerima, harus memahaminya dalam konteks maksud penulis bahwa apa yang diungkapkan semata-mata buat kamu, bukan untuk orang lain. Dengan demikian, kamu akan menafsirkannya dan mencoba memahami maksud kata-kata kiasan atau metafora itu sesuai dengan maksud penulisnya. Kamu harus mengartikan isi surat itu secara harfiah jika memang menuntu pengertian harfiah. Beginilah bahasa itu bekerja ketika dipakai sebagai alat berkomunikasi. Kita harus mencoba memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan penulis.

Salah satu hal penting untuk mengetahui suatu tafsiran itu benar atau tidak adalah dengan memperhatikan bagaimana penafsir menjelaskan tafsirannya. Apakah ia menafsirkannya sesuai dengan konteks ayat, alinea, bab dan buku itu? Atau apakah ia memberikan penasirannya keluar dari konteksnya.

Untuk memperjelas hal ini, contoh pertama yang perlu diangkat adalah 2 Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?.” Bagian pertama ayat ini, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya” sering ditafsirkan  sebagai larangan menikah dengan orang yang tidak seiman atau larangan untuk tidak menikah dengan orang yang bukan Kristen. Mungkin hal ini disebabkan karena adanya kata “pasangan” dalam kalimat itu. Oleh karena itu banyak buku-buku komentari atau tafsiran memberikan pengertian seperti ini. Sebagai akibatnya, dalam upacara pernikahan, ayat ini sering dikutip dan dianggap sebagai ayat relevan. Namun jika memperhatikan konteksnya dalam ayat, alinea dan babnya, sangat jelas bahwa tidak ada satu indikasi yang mengarah tentang hal pernikahan.

Yang perlu ditanyakan setiap penafsir adalah, “Apakah maksud Paulus ketika menyampaikan perkataan itu? Apakah ia mengisyaratkan hal pernikahan di dalam konteks tulisan tersebut?” Jika memperhatikan konteks atau pokok pembahasan dalam 2 Korintus 6:11-7:1 sangat jelas berkaitan dengan ibadah atau penyembahan umat Kristen yang tidak bisa dicampur-baurkan dengan berhala dan ketikpercayaan karena mereka umat Allah yang kudus. Jadi jika ayat ini ditafsirkan sebagai penjelasan tentang larangan pernikahan beda agama, itu keliru dan tidak sesuai dengan apa yang disarankan konteksnya.

Contoh kedua adalah adanya kelompok gereja tertentu yang mengajarkan bahwa, “Jika seseorang tidak dipenuhi Roh Kudus dengan berbahasa roh maka ia tidak memiiliki keselamatan atau belum sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus.” Pernyataan ini bukanlah sesuatu yang  asing sekarang ini. Meskipun tidak diketahui siapa pertama kali memproklamirkan ajaran ini, namun yang pasti pernyataan ini tidak memiliki fondasi dari Firman Allah. Tidak ada satu ayat Firman Allah yang menyatakan ajaran ini. Untuk memastikan suatu ajaran itu benar atau salah, Alkitab harus menjadi pedoman dan fondasi satu-satunya. Setiap ajaran harus memiliki ayat-ayat pendukung. Jika suatu ajaran tidak memilikinya, maka ajaran itu sesat dan keliru. Siapa yang mempercaya ajaran yang tidak didasarkan pada Firman akan menjerumuskannya semakin jauh dari Firman Allah dan tidak menutup kemungkinan semakin banyak ajaran-ajaran baru yang akan diterima meskipun tidak ditemukan dalam Alkitab.

Jadi, untuk memahami suatu tafsiran itu benar atau tidak, kita harus mencari tahu dulu ayat-ayat pendukung yang dipakai sebagai fondasi. Setelah mendapatkannya, baru kemudian mencoba mempelajari ayat-ayat itu sesuai dengan konteks ayat, alinea, bab, buku dan keseluruhan Alkitab. Di sinilah letak keunikan Alkitab dibanding dengan buku-buku lain, bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan dan kekeliruan. Alkitab itu sempurna karena penulis Alkitab itu satu yaitu TUHAN. Meskipun pada kenyataannya Alkitab ditulis oleh banyak orang-orang kudus (40 orang) tetapi ada satu penulis agung yang menuntun setiap penulis manusia yaitu Roh Kudus. Itulah sebabnya, meskipun Alkitab mencakup sejarah, budaya dan geografis yang berbeda-beda, namun Alkitab memiliki wahyu yang benar-benar konsisten. Oleh karena itu, tidak ada satu bagian Alkitab bertentangan dengan apa yang diajarkan bagian-bagian lain Alkitab. Prinsip konsistensi dan koherensi merupakan prinsip paling penting ketika menafsirkan nats-nats Alkitab. Suatu tafsiran harus diperiksa dan diperbandignkan dengan apa yagn dikatakan Alkitab dan jika ada suatu konflik atau pertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab, maka tafsiran atau interpretasi itu salah dan keliru.

Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika memberikan penafsiran Alkitab dan jangan asal mengambil kesimpulan. Ingatlah perkataan Petrus, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:20-21).  Alkitab itu diilhamkan atau dinafaskan Allah (2 Timotius 3:16). Ingatlah, ketika menafsirkan firman Allah, yang dicari bukan apa menurut kita maksud ayat firman Allah itu, tetapi apa sebenarnya arti ayat itu ketika pembicara pertama menyampaikan perkatakaan itu kepada penerima tulisan itu. Inilah tugas para penafsir firman Allah.

Selidikilah Alkitab dengan seksama dan dengan sikap kerendahan hati dan berdoa!