Dilahirkan Kembali Di Perjanjian Lama

DILAHIRKAN KEMBALI DI PERJANJIAN LAMA

Oleh Samson Hutagalung

Gereja injili adalah gereja yang berfokus pada berita keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus melalui hidup dan kematianNya di kayu salib. Secara rinci Paulus menjelaskan apa itu injil dalam 1 Korintus 15:3-4 dan hanya melalui Injil ini, manusia diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:10). Dengan keyakinan, Injil merupakan satu-satunya sarana untuk menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus, maka gereja memberikan waktu, perhatian, tenaga, diri dan dana dalam penyebarluasan berita injil. Gereja mempercayai, hanya melalui Yesus manusia bisa diselamatkan dan memperoleh hidup kekal (Yoh 14:6).

Dalam perkembangan kekristenan, ada banyak gereja yang tidak lagi memfokuskan penginjilan dalam programnya. Program penginjilan sering diabaikan. Kerinduan melihat seseorang diselamatkan telah pudar sehingga banyak keluarga Kristen tidak lagi memperhatikan anggota keluarganya atau anak-anaknya yang belum percaya Yesus. Banyak umat Kristen tidak lagi menyadari bahwa setiap manusia harus mengakui secara pribadi bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Ada suatu waktu dimana seseorang menyadari bahwa tanpa Kristus ia akan binasa. Dia sadar dengan kekuatan, hikmat dan perbuatannya, tidak akan bisa menyelamatkannya. Ia harus manyasadari bahwa ia seorang berdosa yang memerlukan Tuhan dan Juruselamat yang dapat menghapus segala dosanya agar terlepas dari kutuk dosa (Roma 6:23).

Ketidakperdulian gereja dalam hal penginjilan telah berimbas pada ketidakpekaan jemaat dalam hubungannya dengan Kristus. Sebagai akibatnya banyak jemaat mengikuti kebaktian Minggu tetapi sesungguhnya tidak tahu kemana mereka akan pergi ketika kematian menimpa dirinya. Mereka tidak memiliki kepastian hidup kekal, namun mereka hanya berharap bisa masuk sorga karena telah mengikuti berbagai kegiatan gereja. Mereka memiliki identitas diri sebagai umat Kristen tetapi tidak memiliki pengalaman peribadi bersama Kristus. Setiap orang dalam gereja harus menyadari bahwa ia perlu dilahirkan kembali dan kelahiran kembali ini hanya terjadi ketika ia sungguh-sungguh percaya pada Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang akan memimpin dan menahodai hidupnya.

Ajaran Dilahirkan Kembali

Banyak orang beranggapan ajaran ini mulai ada hanya di masa gereja atau sesudah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, namun fakta membuktikan bukanlah demikian. Pernyataan ajaran “dilahirkan kembali” ini diberitakan Kristus diawal pelayananNya. Secara khusus ajaran ini diungkapkan ketika Nikodemus datang dan bertemu dengan Yesus pada suatu malam. Jika ada beranggapan bahwa ajaran ini merupakan ajaran Perjanjian Baru atau ajaran di masa gereja saja, percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes 3 memberikan sanggahan dan penolakan pendapat itu. Perhatikan apa yang Yesus katakan kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3).

Sekilas ayat ini seakan memberi kesan bahwa ajaran “dilahirkan kembali” merupakan ajaran baru yang belum diketahui umat percaya sebelumnya. Tetapi jika ditelaah lebih dalam, ayat ini memberikan suatu kebenaran mutlak bahwa siapa yang tidak dilahirkan kembali “ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Tensis dan tata bahasa ayat ini memberikan suatu penegasan bahwa kebenaran yang terkandung di dalamnya merupakan kebenaran kekal yang tidak pernah berubah.

Namun untuk mengetahui lebih detil kekekalan kebenaran ini, satu pertanyaan penting yang perlu ditanyakan, “Kapankah Nikodemus bertemu dengan Yesus?” Jawaban pertanyaan ini memberi petunjuk penting dalam menelaah doktrin “dilahirkan kembali.” Kronologis pelayanan Yesus menunjukkan kejadian ini terjadi pada tahun pertama atau awal pelayanan Kristus. Fakta ini memberi dampak teologi yang sangat penting bagi gereja Kristus karena ajaran ini telah disampaikan jauh sebelum Kristus disalibkan dan sebelum Roh Kudus turun pada hari Pentakosta. Yang lebih penting lagi bahwa Yesus menuntu Nikodemus memahami dan mengerti apa itu yang dimaksud dengan dilahirkan kembali.

Jika Tuhan Yesus menuntut Nikodemus memahami doktrin kelahiran baru maka sudah barang tentu ajaran itu bukanlah ajaran baru. Lagi pula pada saat Tuhan Yesus bertemu dengan Nikodemus, Firman Tuhan yang dimiliki orang-orang percaya pada masa itu hanya kitab-kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru masih belum ada. Tetapi justru dari kitab-kitab Perjanjian Lama inilah Yesus mengharapkan Nikodemus memahami doktrin dilahirkan kembali.

Jika menyimak dan mempelajari kitab-kitab Perjanian Lama, dimanakah tersirat doktrin kelahiran baru? Adakah ajaran ekspilisit yang membicarakan doktrin kelahiran baru ini? Jawaban pertanyaan ini sangat penting untuk mematahkan pandangan kelompok tertentu yang beranggapan bahwa umat percaya di Perjanjian Lama tidak memiliki pengalaman dilahirkan kembali seperti di apa yang dialami umat percaya di Perjanian Baru atau umat percaya di masa gereja sekarang ini.

Beberapa ayat penting yang menjadi pertimbangan di sini akan memberikan mengukuhan bahwa apa yang dituntut Yesus dari Nikodemus bukanlah sesuatu yang mustahil tetapi ajaran yang seharusnya sudah diketahui jika memang ia sungguh-sungguh mempelajari apa yang dicatat dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama.

Pertama, Ulangan 30:6 memberi penegasan bahwa Allah sendirilah yang menyunat hati umat percaya sehingga mereka bisa mengasihi Tuhan sebagaimana dituntut Tuhan. Ini berarti bahwa Allah yang sudah bekerja di dalam hati umat percaya di Perjanian Lama sehingga setiap orang yang percaya bisa dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatannya mengasihi Tuhan. Ulangan 30:6 “Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.” Allah sendiri yang menganugerahkan iman di dalam hati seorang percaya di Perjanjian Lama. Sama seperti di Perjanjian Baru dan masa gereja sekarang ini, jikalau Tuhan tidak menganugerahkan iman di dalam hati orang berdosa, mereka tidak akan pernah memperoleh keselamatan. Itulah kelahiran baru bagi seorang percaya. Di saat Allah bekerja di dalam hati seseorang di Perjanjian Lama, maka Roh Allah berdiam di dalam hatinya dan dengan itulah ia bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya. Begitu jugalah orang percaya di Perjanjian Baru, ia bisa mengasihi Tuhan karena Tuhan memampukannya.

Kedua, Yeremia 31:31-34 berbunyi demikian, “31Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, 32bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. 33Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 34Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

Dalam ayat 33 Allah sendiri memberitahukan bahwa Ia akan menaruh tauratNya di dalam batin umat percaya dan menuliskannya di dalam hati mereka. Ini menegaskan bahwa seorang percaya memiliki kasih kepada Tuhan dan FirmanNya serta kerinduan untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Kemudian Allah sendiri berkata, “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Tentu Firman ini bukan hanya bagi orang-orang percaya di Perjanjian Baru dan masa sekarang ini tetapi juga bagi umat percaya di Perjanjian Lama. Siapa saja yang percaya di masa Perjanjian Lama adalah umat Tuhan. Pengampunan dari segala dosa bukan hanya diberikan bagi umat percaya di Perjanjian Baru dan masa gereja tetapi juga di Perjanjian Lama bahkan jauh sebelum Nabi Yeremia menuliskan Firman ini.

Ketiga, Yeremia 32:39-40 juga memberitahukan demikian, “39Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian. 40Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku.”

Tuhan memberitahukan kepada Nabi Yeremia bahwa orang yang takut kepada Tuhan adalah mereka yang sudah menerima satu hati dari Tuhan sehingga mereka memiliki hati untuk Tuhan dan mencintai Tuhan. Dengan hati yang diberikan Tuhan kepada umat percaya maka mereka tidak akan menjauh dari Tuhan karena Tuhan sudah memperbaharui hati mereka dengan hati yang mencintai Tuhan. Inilah kelahiran baru di Perjanjian Lama. Bisakah seseoang mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh tanpa pertolongan Roh Tuhan bekerja di dalam diri seorang percaya? Tentu sekali tidak! Tak seorang pun bisa melakukan itu. Hanya mereka yang sudah memiliki Roh Tuhan bisa menyenangkan hati Tuhan.

Keempat, Yehezkiel 11:19-20 berbunyi demikian, “19Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, 20supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Jika ketiga ayat di atas tidak bisa meyakinkan bahwa umat percaya di Perjanian Lama mengalami kelahiran baru maka apa yang disampaikan Nabi Ezekiel di atas akan mempertegas doktrin kelahiran baru. Allah sendiri memberitahukan bahwa Ia akan memberikan umat percaya hati yang lain, yang berbeda dari hati yang mereka miliki sebelumnya, yaitu hati yang baru did alam batin mereka. Tujuan dari pemberian hati yang baru ini adalah supaya umat percaya hidup menurut segala ketetapan Tuhan dan peraturan-peraturan yang ditetapkan Tuhan. Bisakah seseorang melakukan ini tanpa Tuhan memberikan kelahiran baru di dalam hatinya? Tentu tidak! Baik di Perjanjian Lam dan Perjanjian Baru serta di masa gereja sekarang ini, tak seorangpun bisa menuruti ketetapan dan peraturan Tuhan jikalau ia mengalami kelahiran baru dan Roh Kudus berdiam di dalam dirinya serta memampukannya untuk setia kepada Tuhan. Maka Tuhan juga menegaskan, “Mereka (umat percaya) akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka (umat percaya).” Inilah penegasan yang diberikan di Perjanian Lama.

Kelima, Yehezkiel 36:25-27 menjelaskan demikian, “25Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. 26Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. 27Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Ayat-ayat di atas sungguh merupakan inti dari pengajaran Perjanjian Baru. Setiap frasa ayat di atas menegaskan tentang janji Tuhan akan kelahiran baru bagi seorang percaya. Diawali dengan penyucian dan pengampunan dari segala kenajisan dan dosa, kemudian memperbaharuinya dengan hati yang baru, yaitu hati yang berbeda dari hati yang dimiliki sebelumnya yang selalu mencintai dosa dan kejahatan. Dengan hati yang baru ini, ia akan memiliki hati yang lemah lembut yaitu hati yagn mencintai perintah dan Firman Tuhan. Tuhan juga menegaskan bahwa Roh Tuhan, yaitu Roh Kudus akan berdiam di dalam batin umat percaya dan menolong mereka untuk menurut ketetapan dan peraturan Tuhan. Sungguh ayat-ayat ini menegaskan kelahiran baru bagi setiap orang percaya di Perjanian Lama meskipun frasa “dilahirkan kembali” secara eksplisit tidak ditemukan di Perjanjian Lama.

Nah, dengan mempertimbangkan ayat-ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa ajaran “dilahirkan kembali” telah ada sebelum kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan. Ajaran inilah yang diangkat dan diingat Yesus hampir sekitar 30 tahun sebelum kitab pertama Perjanjian Baru dituliskan. Fakta ini memberikan penegasan bahwa ajaran ini sudah ada sebelum kitab Perjanjian Baru dituliskan seperti yang sudah dipaparkan di atas.

Jika Yesus memberitahukan kepada Nikodemus, ia harus dilahirkan kembali supaya ia bisa masuk ke dalam kerajaan Allah, itu berarti Yesus mengasumsikan, Nikodemus sebagai pengajar Kitab Suci sudah sepantasnya menemukan dan memahami ajaran “dilahirkan kembali” dalam Kitab Perjanjian Lama. Jika Yesus sendiri menuntut demikian maka bisa disimpulkan ajaran “dilahirkan kembali” bukanlah ajaran Perjanjian Baru saja. Yesus sebagai Tuhan yang Agung mengetahui isi kitab-kitab Perjanjian Lama. Ia tidak mungkin memberikan suatu perintah atau ajaran yang tidak bisa ditemukan di Perjanjian Lama. Justru Ia mengetahui ajaran itu sudah ada, maka Ia memberitahukan kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan kembali agar bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.

Perhatikan sekali ayat ini, “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Berita dalam ayat ini tidak dibatasi waktu, karena memiliki nilai kebenaran kekal yang berlaku sepanjang masa. Inilah kebenaran mutlak. Jika tidak demikian maka tak satupun orang Perjanjian Lama yang bisa melihat Kerajaan Allah. Sementara Alkitab menegaskan bahwa umat percaya seperti Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa dan lain-lain (Ibrani 11) ada di sorga. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah mereka memiliki pengalaman dilahirkan kembali?” Mengacu pada pernyataan Yesus dalam Yohanes 3:5, tidak bisa disangkal bahwa setiap orang percaya yang ada di sorga memiliki pengalaman itu.

Jika secara seksama mempelajari dan mendalami peryataan Yesus ini, ayat ini memiliki bobot teologia atau kebenaran yang sama seperti tercantum dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebeneran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini menjelaskan Yesus adalah satu-satunya jalan masuk ke sorga di Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Jika umat Perjanjian Lama tidak percaya pada Kristus maka mereka tidak akan ada di sorga. Umat percaya Perjanjian Lama melihat dengan iman akan Mesias atau Kristus yang akan datang dan mati untuk menebus mereka. Melalui berbagai ritual dan simbol di Perjanjian Lama, mereka diingatkan dan dituntun mempercayai bahwa suatu saat di masa yang akan datang, pada waktu yang ditentukan Allah sendiri, akan datang seorang yang diurapi Allah yaitu Mesias Israel yang akan mati untuk menebus manusia dari dosa. Mereka beriman pada Mesias yang akan datang ini dan yang akan dikorbankan karena dosa-dosa mereka.

Salah satu ritual atau perayaan Perjanjian Lama yang menunjuk pada Mesias atau Kristus adalah perayaan Hari Raya Paskah yaitu perayaan memperingati keluarnya bangsa Israel keluar dari Mesir. Pada masa perayaan ini umat Israel diperintahkan menyembelih Anak Domba (Keluaran 12:21) yang merupakan lambang yang menunjuk pada Kristus sendiri yang adalah Anak Domba Allah. Yohanes Pembaptis dengan petunjuk Roh Kudus memberitahukan kepada murid-muridnya bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Anak Domba Allah, “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa manusia” (Yohanes 1:29). Paulus dengan tegas mangatakan Yesus Kristus adalah Anak Domba Paskah  (1 Korintus 5:7). Kristus adalah Anak Domba Paskah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia. Berita ini juga yang disampaikan malaikat Gabriel ketika bertemu dengan Yusuf dalam mimpi, “Ia [Maria] akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:23).

Bagaimana dengan umat percaya di Perjanjian Baru? Jika umat percaya Perjanjian Lama memandang ke depan, tentang apa yang Mesias AKAN LAKUKAN bagi mereka di kayu salib, maka dengan cara yang sama, umat percaya Perjanjian Baru melihat dengan iman akan apa yang Mesias atau Yesus Kristus TELAH LAKUKAN dengan mati di kayu salib untuk menebus mereka dari dosa. Jadi baik umat percaya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama membutuhkan iman pada Yesus Kristus dan ketika mereka percaya, saat itulah mereka memiliki pengalaman dilahirkan kembali. Tidak ada alasan bagi umat Kristen masa kini untuk berkata bahwa umat percaya Perjanjian Lama tidak memiliki pengalaman itu. Kristus adalah satu-satu jalan masuk sorga di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hanya iman di dalam Kristuslah yang membuat seseorang memiliki hidup yang kekal. Kelahiran kembali terjadi ketika seseorang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Jadi jika Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi umat percaya di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka ajaran “dilahirkan kembali” juga telah ada di Perjanjian Lama.

Pengalaman Abraham sebagai bapa orang beriman bisa menjadi pertimbangan umat Kristen saat ini. Abraham hidup ketika Tuhan belum memberikan FirmanNya yang tercatat yaitu Kitab Perjanjian Lama atau Alkitab seperti yang dimiliki umat Kristen saat ini. Tetapi iman Abraham adalah iman yang sejati karena sungguh-sungguh percaya pada apa yang Allah katakan. Ia tidak memiliki Firman Allah seperti umat Israel miliki di Perjanjian Lama dimana mereka bisa membaca dan merenungkan nubuat kedatangan dan kelahiran Kristus tetapi Abraham percaya pada apa yang Allah katakan. Itulah sebabnya ia dikatakan sebagai bapa orang beriman. Yesus memberikan penghargaan khusus akan iman Abraham, ketika Yesus menegur ketidakpercayaan orang-orang Farisi dan berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yohanes 8:56).

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Abraham bisa bersukacita dalam menantikan masa-masa (hari-hari) pelayanan Kristus? Ia tidak memiliki Kitab Suci untuk dibaca atau direnungkan. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Abraham memiliki iman bahwa Mesias yaitu Kristus akan datang dan menyelamatkannya. Ia tidak memiliki keraguan akan karya Kristus yang akan dilakukannya di kayu salib, meskipun pada masa itu ia tidak memiliki Firman Allah. Ia beriman pada Yesus Kristus yang adalah Mesias, Tuhan dan Juruselamatnya. Yohanes 8:56 merupakan perkataan Yesus sendiri. Ia tahu apa yang terjadi di Perjanjian Lama dan dalam hidup setiap orang termasuk Abraham. Ia tahu iman Abraham. Tak satupun umat Israel yang mengetahui iman sejati Abraham tetapi Yesus sendiri karena Ia adalah Tuhan. Oleh karena itu, ajaran dilahirkan kembali bukan hanya ajaran Perjanjian Baru tetapi ajaran kekal yang sudah ada sejak masa Adam dan Hawa.

Untuk mengokohkan pernyataan ini, perhatikan respon Nikodemus ketika ia mendengarkan perkataan Yesus. Ia seakan tidak percaya akan apa yang ia dengar. Ia sulit mencerna pernyataan itu dan berkata, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” (Yohanes 3:9). Menurutnya, dilahirkan kembali berarti ia masuk kembali ke rahim ibunya dan dilahirkan kembali (Yohanes 3:4). Nikodemus secara tidak langsung mengungkapkan pengertian teologianya yang dangkal karena apa yang disampaikan tidak berkaitan dengan apa yang Yesus maksudkan.

Yesus menanggapi pernyataan Nikodemus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (Yohanes 3:10). Pernyataan ini menghentak para teolog Farisi dan umat Kristiani masa kini yang memiliki pengertian “dilahirkan kembali” seperti Nikodemus serta para teolog yang menganggap Kekristenan sama dengan seperti agama-agama lain di dunia. Yesus dengan jelas mengasumsikan bahwa Nikodemus sebagai seorang pemimpin agama dan pengajar Israel, seorang Farisi yang dengan setia menghafal banyak ayat-ayat Perjanjian Lama dan belajar kitab Perjanjian Lama, sudah sepatutnya mengerti apa yang dimaksud dengan “dilahirkan kembali.” Yesus ingin menegaskan bahwa dengan kitab Perjanjian Lama yang dimiliki Nikodemus, ia bisa memiliki pengertian sempurna tentang ajaran ini. Yesus mengetahui bahwa doktrin kelahiran kembali sudah diajarkan di Perjanjian Lama. Oleh karaenaitu sudah sepatutnya ajaran itu diketahui umat Israel.

Sangat disayangkan, Nikodemus yang notabennya sebagai pengajar Israel bukanlah seorang yang sudah dilahirkan kembali. Ia belum menjadi orang percaya meskipun memiliki jabatan seorang pemimpin agama Yahudi. Namun ketidaktahuannya tentang ajaran ini tidak berarti pengabaian dan penghapusan ajaran ini di masa di masa hidup Yesus dan masa Perjanjian Lama. Doktrin ini sudah ada sejak dahulu kala, jika tidak demikian, maka tidak mungkin ada orang percaya Perjanjian Lama di sorga.

Namun pertemuan Nikodemus dengan Yesus telah membuatnya merenungkan dan memikirkan apa arti hidup yang sesungguhnya. Meskipun tidak dicatat kapan ia menjadi seorang percaya, Alkitab mencatat bahwa ia menjadi seorang percaya yang tidak perlu takut dan malu menyatakan diri sebagai pengikut Kristus. Ia bahkan membayar dengan harga mahal dengan menyatakan diri sebagai pengikut Kristus di hadapan Pilatus dan meminta tubuh Yesus diturunkan dari salib untuk dikuburkan (Yohanes 19:38-42). Sejak saat itu ia bukan lagi menjadi seorang Kristen rahasia tetapi yang berterus terang menyatakan imannya dihadapan semua orang termasuk koleganya dan para Farisi.

Melihat fakta di atas sangat jelas pengalaman dilahirkan kembali merupakan pengalaman yang akan dialami setiap orang percaya (tanpa kecuali) pada Yesus Kristus. Pengalaman ini terjadi di SAAT seseorang sungguh-sungguh percaya pada Yesus dan mengakui, ia seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri kecuali dengan percaya pada pembenaran dan penebusan Kristus di kayu salib.

Roh Kudus Berdiam Dalam Hati Orang Percaya

Suatu perdebatan sengit terus berjalan di kalangan teolog berkenaan dengan doktrin Roh Kudus. Ada teolog berpendapat bahwa umat percaya Perjanjian Lama tidak didiami Roh Kudus secara parmanen dan jika Roh Kudus mendiami umat percaya di masa itu sifatnya hanyalah sementara dan itupun tidak dialami semua umat percaya. Inilah pandangan dan pengertian kelompok teolog dispensasional. Dengan segala usaha dan kemampuan, mereka berusaha keras menjelaskan pendapat ini. Namun di sisi lain kelompok teolog Reformed atau yang dikenal dengan penganut Teologi Perjanjian (Covenant Theology) memiliki pandangan dan pengertian yang berbeda. Mereka percaya setiap orang percaya di sepanjang masa sungguh-sungguh didiami Roh Kudus secara parmanen.

Sebelum membahas lebih jauh tentang “pendiaman Roh Kudus dalam diri orang percaya” perlu diketahui bahwa Allah hanya menetapkan satu Juruselamat di sepanjang sejarah manusia, baik di masa dulu, sekarang dan masa yang akan datang yaitu Yesus Kristus (Kisah 4:12). Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan manusia dan tanpa Dia, tidak seorangpun yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga di masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Yohanes 14:6). Allah tidak memberikan dua jalan keselamatan: satu bagi umat Perjanjian Lama dan satu lagi bagi umat Perjanjian Baru. Tetapi Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan barangsiapa yang tidak percaya kepadaNya akan binasa (Yohanes 3:16). Banyak teolog mengakui kebenaran ini sebagai kebenaran mutlak tetapi tidak mempercayai pendiaman Roh Kudus di Perjanjian Lama atau jika memang ada yang didiami Roh Kudus seperti para hakim-hakim di Kitab Hakim-Hakim, mereka menganggap bersifat sementara.

Apakah umat percaya sungguh-sungguh didiami Roh Kudus secara parmanen? Pertanyaan ini tidak semudah menyatakan ya atau tidak. Hal ini juga merupakan perdebatan teologi para teolog di masa sekarang. Bahkan ada yang berpendapat di masa sekarangpun pendiaman Roh Kudus dianggap tidak bersifat parmanen tetapi bersifat kondisional yang artinya Roh Kudus akan mendiami hati seorang percaya jika ia hidup  benar, kudus dan berkenan kepada Allah. Tetapi ketika ia melakukan dosa, tidak setia dan tidak taat, Roh Kudus akan meninggalnya. Inilah pandangan keliru tentang pendiaman Roh Kudus. Pandangan ini menekankan pada kemampuan manusia menjaga dan memelihara Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya. Jika seorang percaya tidak mampu memelihara kehidupan yang benar dan kudus maka ia akan kehilangan Roh Kudus bahkan dianggap sebagai seorang yang tidak mengenal Yesus. Orang seperti ini sering dianggap sebagai orang yang telah kehilangan keselamatan. Sangat mengerikan bukan! Siapa diantara pembaca yang bisa berkata bahwa ia telah menjalani kehidupannya tanpa dosa dan noda sesuai dengan standar Tuhan? Oh betapa tidak layaknya hidup manusia dihadapan Allah!

Kelompok yang mempercayai ajaran ini mengatakan bahwa jika Roh Kudus telah meninggalkan seseorang, ia juga akan kehilangan keselamatan dan hidup kekal. Ajaran ini berfokus pada kemampuan manusia untuk memilihara imannya. Jika gagal maka ia akan kembali pada status seperti sebelum percaya. Itulah sebabnya di banyak gereja, ketika KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) diselenggarakan ada banyak orang yang ingin menerima Tuhan Yesus Kristus. Anehnya, banyak diantaranya yang telah menjadi pengurus dan majelis gereja dan sudah aktif melayani di gerejanya. Tetapi karena kepercayaan ajaran yang keliru, mereka dituntut menerima Kristus kembali sama seperti orang-orang yang belum mengenal Kristus. Bahkan ada orang tertentu yang dengan rajin menghadiri KKR yang diselenggarakan diberbagai gereja dan setiap ada ajakan percaya pada Kristus, ia akan selalu ikut di dalamnya.

Apa sebenarnya yang diajarkan Alkitab tentang pendiaman Roh Kudus dalam diri seorang percaya? Roma 8:9 merupakan ayat penting dalam pelajaran ini karena setiap orang yang telah diselamatkan tidak hidup dalam daging tetapi hidup dalam Roh. Paulus menegaskan demikian, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukanlah milik Kristus.” Jika Allah hanya memberikan satu Juruselamat yaitu Yesus Kristus, maka harus dipercayai bahwa Yesus jugalah Juruselamat di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Setiap orang percaya sungguh-sungguh milik Kristus yang ditebus melalui hidup dan pengorbananNya di kayu salib dan darahNya yang tercurah telah membayar lunas semua utang dosanya. Paulus berkata bahwa mereka yang telah dinyatakan menjadi milik Kristus memiliki Roh Kristus atau Roh Kudus dan jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus (Roh Kudus) maka ia bukanlah milik Kristus. Ia tidak akan pernah masuk dan melihat kerajaan sorga (Yohanes 3:5).

Dengan kata lain setiap orang yang ada di sorga saat ini dan masa yang akan datang adalah mereka yang di masa hidupnya memiliki Roh Kudus berdiam dalam dirinya (1 Korintus 3:16; 2 Kor 6:14). Roh Kudus menghibur, membimbing, menuntun dan menguatkan orang percaya dalam menjalani hidupnya. Kediaman Roh Kudus dalam diri seorang percaya membuatnya berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Yesus Kristus (1 Yohanes 4:4). Roh Kudus yang ada di dalam diri setiap orang percaya berdiam secara parmanen selama orang itu hidup. Paulus menegaskan demikian, “Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Efesus 1:13-14).

Keselamatan Bukan Hasil Usaha Manusia

Satu hal penting yang harus diketahui umat Kristen bahwa ia diselamatkan bukan karena hasil usaha atau perbuatannya. Paulus menegaskan hal ini demikian, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Keselamatan yang dimiliki seseorang murni karena kemurahan Allah dengan memberikan iman kepadanya sehingga Roh Kudus menggerakkan hatinya untuk mengaku dengan mulutnya dan percaya dalam hatinya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Itulah sebabnya Paulus juga berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran firman Kristus” (Roma 10:17). Ketika injil diberitakan lewat pemberitaan firman Tuhan, Tuhan melalui Roh Kudus bekerja dalam hati orang-orang yang dipilihNya sehingga mereka meresponi berita injil dan iman dianugerahkan. Itulah sebabnya Paulus memberitahukan tak seorangpun yang bisa mengatakan bahwa ia memperoleh keselamatan karena kemampuan atau usaha kerasnya.

Pertanyaan yang perlu ditelaah dengan sungguh-sungguh adalah, jika memang Tuhan yang menganugerahkan keselamatan oleh iman, apakah keselamatan bergantung pada kemampuan umat percaya dalam memelihara dan mempertahankannya? Jika untuk mendapatkan keselamatan saja bukan karena usaha keras manusia, apa mungkin ia mampu memelihara dan mempertahankannya dengan  segala keterbatasan, dan sifat berdosanya? Tentu tidak. Tuhanlah yang memberikan keselamatan dan itu bukan hasil usaha manusia. Dia tahu seluruh seluk-beluk pribadi dan kemampuan umat percaya. Dia tahu umat percaya akan melalui berbagai gelombang kehidupan dan kerohanian. Manusia tidak akan pernah bisa mendapatkan keselamatan dengan usahanya sendiri, jika memang demikian maka Kristus tidak perlu datang ke dunia ini dan menjelma menjadi manusia serta melakukan seluruh tuntutan Hukum Taurat dan mati di kayu salib (Galatia 2:21).

Jika ada satu orang saja yang bisa mendapatkan keselamatan dengan usahanya sendiri, itu berarti semua manusia memiliki kemampuan melakukan hal yang sama. Tetapi justru tidak ada yang bisa melakukannya sehingga Tuhan harus mengirimankan AnakNya, Yesus Kristus melakukan hal itu bagi manusia. Hanya Kristus satu-satunya yang bisa melakukan segala tuntutan Allah dengan sempurna. Dialah yang menjadi pengganti dan perwakilan manusia. Jadi jika seandainya keselamatan diperoleh karena usaha keras manusia maka tidak seorang pun yang bisa masuk sorga dan semua manusia akan binasa.

Oleh karena Tuhan yang menganugerahkan keselamatan, dan pendiaman Roh Kudus dalam diri umat percaya maka Tuhan berdaulat penuh atas keselamatan umat percaya. Dialah yang memilih setiap umat percaya dan pemilihannya mutlak sebagai wewenangNya. Karena Tuhan itu kekal dan tidak berubah, maka apa yang ditetapkanNya tidak akan pernah berubah. Keselamatan yang diberikan kepada umat percaya tidak akan pernah dicabut meskipun memiliki kelemahan sebagai umat Kristen. Setiap kesalahan dan dosa yang diperbuat akan diampuni jika mengakuinya kepada Kristus (1 Yohanes 1:9), tetapi konsekwensi perbuatannya akan ditanggung, namun ia akan tetap selamat (1 Korintus 3:10-15).

Mungkin ada yang bertanya bagaimana dengan umat Kristen yang dulunya begitu berdedikasi dan setia, tetapi sekarang meninggalkannya dan jauh dari Tuhan, apakah keselamatan yang diterima sebelumnya masih tetap dimiliki? Jawabannya, jika ia memang sungguh-sungguh percaya pada Yesus, meskipun saat ini begitu jauh meninggalkan jalan Tuhan karena berbagai alasan dan pergumulan hidup, ia akan berbalik kepada Yesus sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Ia akan menyadari segala perbuatannya dan bertobat serta diperbarui. Tetapi konsekwensi perbuatannya selama meninggalkan jalan Tuhan akan ditanggungnya. Namun jika pada awalnya ia tidak sungguh-sungguh percaya, hanya merasa percaya, ia akan hilang untuk selamanya. Ia tidak akan pernah kembali kepada Kristus karena ia bukan miliki Kristus. Jadi, sesungguhnya apa seseorang sungguh-sungguh percaya pada Yesus atau tidak, hanya bisa diketahui oleh Allah dan diri orang itu. Manusia bisa saja berpura-pura sebagai seorang percaya tetapi ia tahu isi hatinya. Para hamba Tuhan dalam gereja hanya bisa melihat perbuatan seorang percaya dan pengakuannya sebagai umat percaya tetapi sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu dan orang tersebut.

Roh Kudus dan Bahasa Lidah/Roh

Kekristenan abad ke 20 dibingungkan dengan suatu fenomena ajaran yang menekan pada bahasa roh. Fenomena ini bahkan dijadikan suatu dogma dalam gereja dimana bahasa roh menjadi satu bukti mutlak untuk mengetahui seseorang apa sungguh-sungguh percaya pada Yesus. Ada banyak gereja yang mengajarkan, jika seseorang sungguh-sungguh percaya Yesus ia akan bisa berbahasa lidah atau roh.

Artikel ini tidak akan membahas perdebatan akan keabsahan bahasa lidah tetapi ingin menjelaskan bahwa didiami Roh Kudus atau percaya pada Yesus tidak ada hubungannya dengan bahasa lidah atau roh. Sejarah gereja mencatat, pengalaman bahasa lidah atau roh bukanlah pengalaman para reformator ketika Roh Kudus membakar hati mereka untuk kembali kepada Alkitab dan keluar dari cengkeraman kelompok katolik Roma. Mereka berjuang demi iman dan Kristus dengan mempertaruhkan nyawa yang tidak takut mati. Inilah bukti mereka dilahirkan kembali dan Roh Kudus sungguh-sungguh ada di dalam hati mereka. Buah perjuangan mereka bisa dinikmati umat Kristen sekarang ini.

Ada juga kelompok Kristen yang berpendapat bahwa pendiaman Roh Kudus diartikan sebagai pengalaman yang terpisah dari percaya pada Yesus Kristus. Dengan kata lain, seorang percaya belum tentu memiliki Roh Kudus berdiam di dalam dirinya. Mereka mengartikan pendiaman ini akan menyusul kemudian ketika ia hidup dengan benar dan memiliki kemampuan berbahasa lidah atau roh. Inilah kekeliruan yang telah diterima luas oleh banyak gereja. Jika seseorang harus memiliki bahasa roh atau lidah, baru kemudian didiami Roh Kudus, itu berarti siapapun yang menyatakan diri sebagai orang percaya sebelum bahasa roh atau lidah ada, bukanlah orang percaya dan bukanlah milik Kristus (Roma 8:9). Sangat mengerikan bukan! Kenyataannya Alkitab tidak pernah mengajarkan itu.

Jika bahasa roh atau lidah yang menjadi patokan utama memastikan seseorang memiliki atau didiami Roh Kudus maka tak seorangpun umat Perjanjian Lama yang masuk sorga termasuk Abaraham, Ishak, Yakub dan Musa karena mereka tidak pernah memiliki pengalaman bahasa roh atau lidah. Oleh karena itu, sia-sialah orang-orang yang menyatakan diri percaya pada Kristus tetapi tidak mengalami bahasa roh atau lidah.

Tetapi bersyukurlah kepada Yesus karena bukan demikian yang diajarkan Alkitab sebagai pedoman tertinggi dalam iman dan praktek hidup. Alkitab menegaskan percaya pada Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar bagi setiap orang masuk ke dalam kerajaan sorga (Yohanes 3:16; 14:6). Setiap orang yang percaya memiliki dan dimeteraikan Roh Kudus (Efesus 1:13) dimana Roh Kudus berdiam untuk memimpin, menolong, menghibur dan menuntunnya (Yohanes 14:26; 15:26) ke jalan yang benar dan membantunya boleh mengerti firman dan kehendak Allah. Setiap orang percaya di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru didiami Roh Kudus, jika tidak demikian, ia bukan milik Kristus dan tidak memiliki bagian dalam kerajaan Allah.

Kesimpulan

Ajaran “dilahirkan kembali” bukanlah suatu ajaran baru tetapi ajaran yang sudah ada dari Adam dan Hawa, manusia pertama. Meskipun ajaran ini tidak dituliskan secara gamblang dalam Kitab Perjanjian Lama, umat percaya Perjanjian Lama mengalami pengalaman “dilahirkan kembali” jika tidak demikian, maka Yesus tidak akan mempersalahkan Nikodemus, seorang pemimpin Yahudi yang tidak mengerti ajaran ini. Tetapi justru karena ajaran ini sungguh-sungguh ada sehingga Yesus berkata kepada Nikodemus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (Yohanes 3:10).

Ajaran ini lebih diperjelas lagi ketika Yesus mengatakan bahwa Abraham sungguh-sungguh menantikan kedatangan Kristus meskip ia tidak memiliki Kitab Suci yang bisa menuntunnya mengetahui rencana dan kehendak Tuhan. Yesus mengokohkan ajaran ini ada di perjanjian Lama ketika Ia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yohanes 8:56).