Hidup Kekal Dan Perbuatan Baik

HIDUP KEKAL DAN PERBUATAN BAIK

oleh Samson H

Perbuatan baik adalah suatu tindakan yang diharapkan setiap orang karena bisa menyentuh hati, maka tidak heran jika perbuatan baik dijadikan kelompok tertentu sebagai alat atau sarana untuk memperoleh hidup kekal. Berbagai agama di dunia mengajarkan perbuatan baik sebagai sarana dan jaminan masuk sorga. Namun Alkitab tidak sependapat dengan keyakinan ini. Alkitab tidak membenarkan dan mengajarkan pekerjaan baik sebagai sarana untuk memperoleh hidup kekal.

Untuk menelusuri kebenaran ini, Efesus 2:8-9 merupakan bagian Firman penting yang berkaitan dengan topik ini. Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Ayat ini memberikan sanggahan kuat bahwa manusia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, segala perbuatan baik manusia sia-sia dan tidak memilik efek apapun dalam penyelamatan dirinya dari hukuman dosa. Sekalipun manusia menyiksa dirinya sendiri atau mengorbankannya untuk menolong orang lain, itu semua tidak memiliki nilai apapun dalam penyelematannya. Semua kebaikan manusia merupakan kekejian bagi Tuhan (ref. Yes 64:6). Manusia bisa saja menipu dirinya sendiri dan orang lain, tetapi Tuhan mengetahui isi hati dan segala perbuatan kejinya yang tidak pernah bisa dihapuskan oleh karena kebaikan yang dianggap cukup membawanya masuk sorga. Keselamatan atau hidup kekal bukan hasil usaha manusia tetapi pemberian cuma-cuma Tuhan bagi siapa yang percaya kepada Yesus Kristus.

Pada kesempatan lain, Paulus juga menguatkan apa yang disampaikan diatas, “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Titus 3:4-5). Kedua perikop ini menjelaskan keselamatan sepenuhnya karya Tuhan, dan manusia tidak melakukan satu perbuatan baik apapun untuk mendapatkannya.

Kesimpulan dari kedua perikop ini nunjuk pada “hidup kekal itu sepenuhnya anugerah Tuhan.” Namun demikian hal ini tidak serta merta bisa diterima para teolog Kristen. Ada kelompok Kristen yang mempercayai bahwa ada partisipasi manusia dalam memperoleh hidup kekal, dan tanpa partisipasi itu niscaya ia memperoleh hidup kekal. Pandangan ini pertama kali digagas oleh Arminius yang kemudian Lima Pokok Armenianisme dituliskan sebagai rangkuman ajarannya. Dalam rangkuman itu diuraikan bahwa karena manusia memiliki partisipasi dalam memperoleh keselamatan, oleh karena itu keselamatan juga bergantung pada tiap-tiap orang dalam memeliharanya. Dengan kata lain jika ia lalai, tidak setia dan taat, maka keselamatan yang dimiliki bisa hilang dari padanya. Ajaran ini menitik beratkan tanggungjawab manusia.

Di pihak lain ada kelompok yang sepenuhnya mempercayai apa yang Paulus katakan bahwa hidup kekal murni anugerah Allah melalui iman yang diberikan kepada manusia. Manusia merupakan penerima anugerah dan ia tidak memiliki setitik partisipasi pun untuk mendapatkannya. Kelompok yang mempercayai ajaran ini kemudian merangkum ajarannya sebagai respon pada lima pokok Arminianisme yang dinamakan sebagai Lima Pokok Kalvinisme. Sebenarnya Yahanes Kalvin bukanlah orang yang menggagas rangkuman ajaran ini. Yohanes Kalvin mencatat banyak pokok penjelasan Firman Allah yang tersebar dalam tulisannya, tetapi pengikut ajaran Kalvinisme merangkum tulisannya dan memberi judul Lima Pokok Kalvinisme. Kedua pandangan ini telah tersebar dan dianut berbagai gereja di seluruh dunia, baik di kalangan Reformed (Cavenant) dan Dispensasional dan ajaran ini telah mewarnai penjelasan Firman Allah yang diberitakan berbagai gereja.

PERBUATAN BAIK SEBAGAI BUKTI KESELAMATAN

Setelah membaca penjelasan diatas, mungkin timbul suatu pertanyaan, jika keselamatan murni karya Allah, apakah peran perbuatan baik dalam kehidupan orang Kristen? Kenapa orang Kristen diperintahkan melakukan perbuatan baik? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan ini akan memberikan fondasi penting dalam perjalanan kehidupan seorang Kristen. Namun sebaliknya, jika jawabannya keliru, akan membawa kehancuran pada perjalanan kerohaniannya.

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, ada hal penting yang perlu diketahui mengenai keberadaan manusia. Ketika Adam dan Hawa gagal menaati Allah di Taman Eden, yang akhirnya mereka jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-14), sesungguh waktu itu Adam dan Hawa berada pada keadaan dimana mereka memiliki kehendak bebas untuk memilih menaati Allah atau menolaknya (Kej 2:15-17). Jika mereka menaat perintah Allah maka akan memperoleh hidup kekal, tetapi sebaliknya jika gagal, mereka akan mati (Kej 2:17), dan tidak memiliki hidup kekal. Seperti apa yang dicatat dalam Alkitab, Adam dan Hawa memilih untuk tidak taat kepada Allah tetapi taat kepada Iblis. Karena mereka merupakan manusia pertama di dunia saat itu, mereka juga merupakan perwakilan manusia yang akan ada di dunia ini. Kejatuhan mereka ke dalam dosa telah menjerumuskan semua manusia ke dalam dosa dengan menurunkat sifat berbuat dosa. Berbuat dosa menjadi sifat dan kesukaan serta tabiat manusia yang diturunkan Adam dan Hawa kepada anak-anak dan keturunannya hingga saat ini, karena setiap manusia yang pernah hidup (kecuali Yesus Kristus) di dunia ini merupakan keturunan Adam dan Hawa. Dosa ini dikenal dengan istilah teologis sebagai “dosa asal.” Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, dosa telah menguasa manusia dan menjadi sifat natur manusia yang diturunkan turun termurun. Sebagai akibatnya, manusia tidak lagi memiliki kehendak bebas seperti yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Dengan demikian manusia hanya memiliki satu pilihan yaitu pilihan yang selalu berpihak pada dosa. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Tidak ada yang benar seorang pun tidak, Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah, Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Roma 3:10-12).

Banyak orang berpikir, manusia pada dasarnya dilahirkan baik, dan ia menjadi jahat akibat lingkungan yang telah mempengaruhinya. Benarkah pernyataan ini? Untuk mematahkan argumentasi ini, mari perhatikan apa yang terjadi pada keluarga Adam dan Hawa yang merupakan keluarga pertama di dunia saat itu. Mereka memiliki anak laki-laki yang bernama Kain dan Habel (Kej 4:1-16). Untuk beberapa waktu mereka hidup sebagaimana layaknya keluarga masa kini. Jika memang lingkungan yang mempengaruhi seseorang berbuat dosa, bisa dikatakan keluarga ini tidak memilki lingkungan dimana mereka bisa melihat kejahatan dan keboboran orang lain yang berakibat buruk pada mereka. Namun yang pasti tabiat berdosa seperti rasa cemburu dan dengki yang merupakan sifat alami atau tabiat yang diakibatkan kejatuhan Adam dan Hawa telah diturunkan kepada anak-anaknya. Sebagai akitabnya, pembunuhan pertama yang sangat tragis terjadi pada keluarga Adam dan Hawa dimana Kain membunuh adiknya sendiri, Habel, dan menguburnya sendiri (Kej 4:8). Dan ketika Allah mengkonfrontasi Kain tentang adiknya, ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Ia tidak merasa bersalah atau menyesal terhadap apa yang diperbuatnya. Ia membunuh adeknya sendiri, bukan karena ia berlaku buruk kepada Kain. Habel sama sekali tidak melakukan apapun kepad Kain sehingga ia menjadi marah dan membunuhnya. Inilah bukti manusia telah memiliki sifat dan tabiat berdosa, dan kejahatannya bukanlah akibat lingkungan yang buruk dan jahat, karena Kain dan Habel hidup ketika masih belum ada lingkungan yang mempengaruhinya.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikannya tidak lagi mampu melakukan perbuatan baik atau kebajikan sejati yang sesuai dengan standar Allah (Ini tidak berarti manusia tidak bisa berbuat baik kepada sesama manusia karena ia mampu melakukan itu, tetapi sebesar apapun pekerjaan baik yang diperbuat, tidak akan pernah menjadi kebajikan sejati yang bisa menyelamatkan dirinya).

Tuhan mengetahui, manusia tidak akan mampu mengerjakan perintahNya dengan sempurna sehingga Ia menjanjikan Mesias yang akan mati sebagai pengganti manusia untuk menebusnya dari dosa (Kejadian 3:15). Kristus adalah Mesias yang dijanjikan. Dialah yang mampu mengerjakan semua tuntutan perintah Tuhan agar manusia bisa diselamatkan dan memperoleh hidup kekal. Dan inilah yang Paulus katakan sebagai anugerah Allah kepada manusia melalui iman dalam Yesus Kristus. Mereka yang telah percaya pada Kristus sadar bahwa bukan karena usaha keras dan perbuatan baik yang dikerjakan sehingga mereka memperoleh hidup kekal tetapi karena Allah mengasihi dan menganugerahkan keselamtan itu (Yoh 3:16).

Setelah mengetahui fakta ini, tiba saatnya untuk menjawab pertanyaan diatas. Perhatikan kembali Efesus 2:8-9 dimana Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu sepenuhnya karya Allah. Tetapi dalam Efesus 2:10 ia menjelaskan lebih lanjut, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10). Apa maksud ayat ini? Ini menegaskan, setiap orang yang diciptakan (diselamatkan) dalam Kristus harus melakukan pekerjaan baik dan harus berusaha hidup di dalamnya. Dengan kata lain, setelah seseorang diselamatakan ia harus melakukan perbuatan baik yang harus menjadi bagian dari kehidupannya, bukan untuk menyelamatkannya tetapi sebagai bukti bahwa ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus.

Setiap orang percaya harus berkomitmen dan berdedikasi untuk itu. Semakin dewasa kerohanian seseorang akan semakin tinggi dedikasinya dalam melakukan perbuatan baik. Pekerjaan baik sedemikian merupakan suatu aplikasi ketaatan seseorang pada apa yang diterima dan dipelajari dari Firman Tuhan. Dengan sadar, sesulit apapun perintah itu ia harus belajar menaatinya sesempurna mungkin, dan Roh Kudus akan memampukannya untuk terus menaatinya. Ini merupakan buah pembaharuan dalam diri seorang percaya. Seperti Paulus berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah cipataan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17). Jika sebelumnya tidak pernah berkeinginan melakukan perbuatan baik, maka ia berubah dan menjadi berdedikasi untuk itu. Pengalaman seperti ini pasti dirasakan setiap orang percaya. Seorang yang tadinya jahat berubah menjadi pelaku kebaikan, tadinya pemarah berubah menjadi lemah lembut, tadinya kejam berubah menjadi penuh kasih, tadinya tidak memperdulikan orang lain berubah menjadi penuh perhatian dan pendoa yang luar biasa bagi orang lain. Semua ini merupakan pembaharuan dalam diri orang percaya.

Jika kamu seorang yang sungguh-sungguh percaya, tanyakanlah pertanyaan ini, perubahan apa yang telah kamu miliki setelah percaya pada Yesus? Perbuatan baik apa yang telah menjadi komitmen dan dedikasimu sebagai pengikut Kristus? Jawaban pertanyaan ini harus dimiliki setiap orang percaya. Paulus kembali menegaskan kepada Titus, “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia” (Tit 3:8).

Perkataan ini disampaikan Paulus setelah menegaskan keselamatan itu (hidup kekal) merupakan anugerah Allah melalui Yesus Kristus (Titus 3:5-7). Dalam 2 Timotius 3:16, ia menjelaskan manfaat Firman Tuhan yaitu untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, namun tujuan akhir manfaat ini adalah agar “tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim 3:17). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi umat Kristen untuk tidak melakukan pekerjaan baik. Setiap perbuatan baik harus dilakukan bagi kemuliaan Tuhan dan selain dari tujuan ini, semua pekerjaan baik tidak ada yang berkenan kepadaNya.

PERBUATAN BAIK: AJARAN PAULUS VERSUS YAKOBUS

Sekelompok orang beranggapan bahwa tulisan Paulus yang menekankan keselamatan merupakan anugrah Allah oleh iman, bertentangan dengan tulisan Yakobus yang menekankan perbuatan baik. Salah seorang tokoh reformasi, Martin Luther memiliki anggapan seperti ini. Seperti diketahui, sebelumnya Martin Luther merupakan seorang penganut ajaran Katolik Roma yang gigih dan setia. Ketika percaya pada Yesus, ia ingin meninggalkan kebiasaan dan pengertian yang dianut sebelumnya. Sebagai akibatnya ia melihat ada suatu kontradiksi antara tulisan Paulus dan Yakobus.

Apakah memang benar ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yakobus? Seperti yang telah dijelaskan diatas, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa keselamatan itu anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Namun, ia juga menegaskan bahwa perbuatan baik harus dilakukan sebagai bukti buah pembaharuan dan keselamatan yang telah diterima orang percaya (Ef 2:10; Tit 3:8). Di sisi lain, Yakobus menuliskan demikian, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkan iman itu menyelamatkan dia?” (Yak 2:14).

Ayat ini seakan-akan menekankan perbuatan baik lebih penting dari pada iman. Lebih jelas lagi ia berkata, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatny adalah mati” (Yak 2:17). “Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yak 2:20). Sepintas kelihatannya ayat-ayat ini menonjolkan perbuatan baik ketimbang iman yang menyelamatkan. Namun sesungguhnya tidaklah demikian, karena apa yang diutarakan Yakobus di sini ditujukan kepada mereka yang telah percaya pada Yesus Kristus. Ekspresi ini sering diungkapkan ketika ia berkata, “saudara-saudaraku” (Yak 1:2; 2:1, 14; 3:1, 12; 4:11; 5:7, 12, 19) atau “saudara-saudara yang kukasihi” (Yak 1:16, 19; 2:5). Jadi jika memang mereka telah percaya pada Yesus, maka hal yang dituntut dari mereka adalah perbuatan baik.

Jika memang demikian maka sangat jelas bahwa apa yang Paulus tegaskan dalam tulisannya tidak bertentangan dengan apa yang dituliskan Yakobus. Baik Paulus dan Yakobus sama-sama menekankan bahwa perbuatan baik itu merupakan bukti seseorang telah memiliki iman pada Kristus. Seorang Kristen tidak bisa berkata, “yang penting saya memiliki iman kepada Yesus dan itu sudah cukup, dan saya tidak memperdulikan hal perbuatan baik.” Maka Yakobus akan meresponi, jika memang demikian sebenarnya engkau tidak memiliki iman sama sekali atau engkau masih seorang yang belum percaya. Apa yang diutarakan Paulus dan Yakobus tidak mungkin bertentangan karena mereka menulis dibawah pimpinan Roh Kudus yang tidak mungkin melakukan kesalahan dan kekeliruan (2 Pet 2:20-21). Paulus menginginkan umat Kristen mengerti bahwa imanlah yang menyelamatkan, sementara Yakobus tekankan bahwa umat Kristen harus mengaplikasikan iman itu dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan perbuatan baik.

ORANG KRISTEN SEBAGAI TERANG DUNIA

Ketika umat Kristen telah mengetahui dengan benar bahwa keselamatan bukan hasil usaha atau perbuatannya, maka umat Kristen harus menyadari juga bahwa Allah yang sama memberikan perintah agar mereka melakukan perbuatan baik. Semakin dewasa iman dan kerohanian seseorang maka semakin mudah baginya untuk melakukan perbuatan baik bagi sesama jemaat maupun di luar jemaat. Seperti Paulus berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal 6:9-10).

Dengan latarbelakang pengertian ini, maka akan lebih mudah mengerti apa yang Yesus katakan tentang peranan orang percaya sebagai terang dunia. Yesus berkata demikian, “Kamu adalah terang dunia . . . Dengan demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:14-16). Melakukan perbuatan baik merupakan perintah Yesus, dan umat Kristen tidak bisa dengan alasan apapun menghindari pekerjaan baik. Ada suatu tuntutan dimana setiap umat Kristen harus terus bersinar dimanapun mereka berada. Mereka harus berani membuat suatu perbedaan di antara orang-orang yang tidak mengenal Kristus sebagai bukti pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus. Orang Kristen harus berlomba-lomba melakukan pekerjaan baik terutama di tengah-tengah jemaat Tuhan.

BEBERAPA CONTOH DALAM ALKITAB

Alkitab mencatat banyak contoh tentang mereka yang melakukan perbuatan baik sebagai bukti iman dan keselamatan yang dimiliki. Berikut ini ada tiga contoh yang bisa dipertimbangkan.

(1) Dorkas.

“Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kisah 9:36). Di masa itu, para janda merupakan kelompok orang-orang lemah dan kurang diperdulikan. Kematian suami seorang janda telah mengubah statusnya dan menjadi kurang dihargai dan diterima masyarakat. Dorkas melakukan perbuatan baik kepada para janda dimana ia membuatkan baju dan pakaian bagi mereka dan perbuatan ini baru diketahui orang banyak ketika ia meninggal dunia.

(2) Febe.

“Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri” (Roma 16:1-2). Para komentator mempercayai Febe sebagai seorang diakenes yang melayani Tuhan. Meskipun seorang wanita, namun ia dapat dipercaya. Banyak penafsir Alkitab mempercayai Febe adalah orang yang membawa surat Paulus kepada jemaat Roma. Febe menginginkan orang Roma memiliki kebenaran Firman Allah dan ia melakukan perjalanan yang begitu jauh dari Kengkrea menuju Roma.

(3) Epafras.

“Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. . . . , bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis” (Kol 4:12-13). Epafras adalah seorang pelayan yang memperdulikan pertumbuhan kerohanian orang lain. Dia mau bergumul dalam doa untuk orang lain. Ia seorang jemaat yang terbeban untuk pelayanan dan merindukan pertumbuhan iman umat Tuhan. Dia mau bersusah payah bagi orang lain yaitu jemaat Laodikia dan Hierapolis.

APLIKASI PERBUATAN BAIK

Semua orang Kristen sama seperti Dorkas, Febe atau Epafras, diselamatkan oleh karena iman percaya mereka pada Yesus. Mereka manusia biasa, namun berbeda dalam demonstrasi bukti imannya dengan melakukan pekerjaan baik bagi orang lain. Perbedaan mereka dengan banyak orang yang menamakan diri sebagai orang Kristen adalah bahwa mereka mau bersusah payah bagi orang lain, sementara banyak orang Kristen tidak pernah mau menunjukkan bukti keselamatannya, bahkan sebaliknya, banyak orang mengeluh terhadap prilaku dan perbuatannya, baik dilingkungan gereja dan masyarakat. Coba pikirkan, setelah bertahun-tahun menjadi pengikut Kristus, pekerjaan baik apa yang telah kamu lakukan dalam lingkungan gerejamu? Jika jujur pada diri sendiri, justru orang Kristen sering membuat orang Kristen lainnya tersandung dan meninggalkan persekutuan Kristen. Yang sepatutnya harus menjadi teladan dan motivator bagi orang lain, malah menjadi sumber masalah dalam lingkungan gereja dan kekristenan.

 

Terkadang ada orang Kristen bertanya dalam hatinya, perbuatan baik apa yang harus diperbuatnya bagi anggota jemaat atau orang lain. Sering orang Kristen mencoba memikirkan hal-hal besar, namun hal-hal kecil sekalipun tidak diperdulikan. Lihat disekitar kamu sendiri, jika kamu seorang pimpinan, apa kamu perduli dengan bawahanmu? Apa kamu memiliki komunikasi yang baik dengan mereka demi terciptanya suatu komunitas yang sehat dan harmonis sebagai umat Tuhan? Apa kamu sudah menjadi seorang teladan dan motivator bagi mereka yang bekerja dengan kamu sebagai teman sekerja? Anehnya mereka yang gagal sebagai teladan dan motivator sering mengharapkan orang lain menjadi teladan dan motivator dan terus mengkritisi orang lain tanpa melihat dirinya sendiri dan kesalahan serta kegagalan yang telah diperbuatnya. Terkecuali merendahkan diri dihadapan Allah dan sadar akan segala kesalahan dan kegagalannya sendiri, maka orang Kristen sedemikian tidak akan pernah berubah dan tidak akan bisa bersinar sebagai terang bagi orang-orang di sekitarnya.