Keselamatan Dibalik Kematian Bayi

KESELAMATAN DIBALIK KEMATIAN BAYI

Oleh Samson H

Tidak banyak orang Kristen yang ingin mengerti keselamatan dibalik kematian bayi. Hanya ketika suatu keluarga kehilangan bayi mereka, maka timbul suatu keinginan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, “apakah bayi saya selamat?” “Apakah bayi saya ada di sorga sekarang?” “Apakah saya akan bertemu dengan bayi saya nantinya?” Dengan keinginan mendapatkan jawaban dan kepastian atas pertanyaan-pertanyaan diatas, maka keluarga-keluarga Kristen yang mengalami peristiwa itu mencoba mencari jawaban dari para hamba-hamba Tuhan. Harapan besar untuk mendapatkan kepastian atas keselamatan bayi yang meninggal seluruhnya ditujukan pada pemimpin rohani keluarga tersebut. Semoga para hamba Tuhan benar-benar menggali Firman Allah dan memberikan jawaban alkitabiah.

Definisi Bayi

Sebelum melanjutkan pembahasan ini, pertanyaan berikut perlu di telusuri: Pada usia berapakah seorang anak meninggalkan ketidakdewasaan moral dan spiritualnya? Atau pada usia berapakah batas kategori seorang bayi? Jawaban pertanyaan ini sangat penting karena begitu seorang anak meninggalkan ketidewasaan moral dan spiritualnya, ia berada pada kondisi sama seperti seorang dewasa yang akan bertanggungjawab atas segala sesuatu yang diperbuatnya dalam hidup.

Harus diakui bahwa kematangan anak-anak terjadi pada usia yang berbeda-beda. Faktor-faktor lingkungan keluarga, pelatihan religius, pendidikan, dan karakter masyarakat di sekitar tempat tinggalnya memilik peran penting dalam pembentukan kematangan anak. Ada teori yang berpendapat bahwa anak-anak lebih cepat matang dalam lingkungan keluarga Kristen. Ada juga teori lain berkata, anak-anak lebih cepat matang di masa sekarang ini karena pengaruh televisi, hubungan mereka dengan anak-anak lainnya, dan segi-segi lain dari masyarakat yang semakin rusak. Bahkan ada orang yang juga berpendapat bahwa ada begitu banyak anak-anak yang sudah meninggalkan ketidakdewasaannya pada usia tiga tahun. Jadi ada anak sudah matang pada usia empat atau lima tahun namun ada juga anak-anak lain mungkin sedikit lebih lambat. Tiap-tiap anak berbeda. Oleh karena itu tidak ada ukuran umur yang dapat diterapkan dalam menentukan kedewasaan moral dan spiritual anak. Banyak juga orang berpendapat bahwa anak perempuan lebih cepat dewasa dalam pemikirannya dibanding dengan anak laki-laki. Tentu pendapat seperti ini didasarkan pengalaman dan pengamatan masing-masing. Namun yang terpenting adalah ada suatu gambaran bahwa kategori usia bayi itu sekitar 0-5 tahun merupakan suatu ukuran yang logis.

KONDISI KEROHANIAN BAYI

Ada dua pandangan tentang kondisi kerohanian seorang bayi. Pertama, Pandangan Arminianisme. Armenianisme mengajarkan bahwa keselamatan yang diperoleh oleh seorang percaya merupakan hasil usaha dan partisipasi manusia itu sendiri dalam mendapatkan keselamatan. Usaha keras manusia menjadi penentu untuk memperoleh keselamatan. Dengan kata lain manusia itu harus senantiasa menjadi pemrakarsa aktif dalam memperoleh keselamatan seperti bertobat, percaya dan taat. Oleh karena manusia merupakan pemeran utama dalam memperoleh keselamatan, maka Tuhan itu tidak bisa menolong dan berbuat apa-apa jikalau manusia itu tidak ingin diselamatkan. Arminianisme mempercayai bahwa manusia memiliki kekuatan untuk menolak panggilan keselamatan dari Allah.

Jika memang keselamatan itu merupakan hasil kerja keras dan usaha manusia, maka dapat disimpulkan bahwa tak seorang pun bayi meninggal yang akan memperoleh keselamatan karena mereka tidak mampu melakukan suatu tindakan seperti orang dewasa. Namun kelompok Arminianisme menolak kesimpulan ini. Arminianisme berdalih dengan mengatakan bahwa setiap bayi yang lahir ke dunia ini lahir dalam keadaan kerohanian tanpa dosa. Mereka mempercayai bahwa manusia lahir tanpa dosa dan sifat dosa itu ada pada manusia akibat lingkungan sekitar yang telah mempengaruhinya. Oleh karena itu jika ada bayi yang meninggal akan otomatis memperoleh keselamatan karena ia tidak memiliki dosa. Tentu kesimpulan tidak selaras dengan apa yang Alkitab ajarkan dimana manusia itu dilahirkan dan hidup dalam dosa. Setiap manusia yang pernah lahir ke dunia ini memiliki sifat alami berdosa. Di mata Tuhan setiap manusia itu berdosa (Roma 3:10).

Kedua, Pandangan Kalvinisme. Pandangan Kalvinisme bertolak belakang dengan Arminianisme. Jika Arminianisme mengatakan bahwa manusia itu lahir tanpa dosa, Kalvinisme mempercayai bahwa manusia itu lahir dengan konidisi kerohanian yang sudah rusak total. Manusia dilahirkan dengan sifat berbuat dosa. Bibit dan tabiat berdosa itu sudah menjadi sifat alami seorang manusia. Dan inilah yang merupakan akibat dari dosa asal yang diturunkan Adam kepada setiap manusia di dunia ini. Dosa asal ini tidak akan dipertanggungjawabkan di hari penghakiman nantinya (Ibr 9:27), namun sifat berdosa yang dimiliki setiap manusia menunjukkan bahwa manusia tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena ia akan cenderung melakukan dosa. Namun dosa yang akan dipertanggungjawabkan setiap orang dihadapan Allah adalah dosa-dosa yang diperbuat manusia itu sendiri.

Pada kenyataannya semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Jika ada satu orang saja manusia yang hidup tanpa dosa, maka Kristus tidak perlu datang ke dunia ini dan menjelma menjadi manusia. Dan yang terpenting lagi adalah sia-sialah kematian Kristus di kayu salib untuk menyelamatkan manusia, karena jika ada satu orang yang bisa hidup tanpa dosa itu berarti semua manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama. Justru karena tidak ada yang benar dihadapan Allah maka Paulus berkata, “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak, Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. . . .” (Roma 3:10-18). Beberapa ayat Alkitab yang menegaskan bahwa semua orang melakukan dosa:

“Tidak ada manusia yang tidak berdosa” (1 Raja 8:46)

“Di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu [Allah]” (Maz 143:2)

“Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku’?” ( Amsal 20:9)

“Sesungguhnya di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa” (Pengkh 7:20)

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yoh 1:8).

Dengan kata lain, jika manusia itu dibiarkan untuk memilih apa yang baik dan yang jahat, pilihan manusia itu akan selalu jatuh pada yang jahat atau yang baik menurut pikiran dan kesukaannya serta mendatangkan keuntungan pada dirinya. Inilah kerusakan total manusia yang telah menjadi tabiat manusia. Tidak terkecuali, bayi kecil dan mungil yang kelihatan begitu polos lahir dengan sifat berdosa ini. Seperti raja Daud akui, “sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Maz 51:7). Oleh sebab itu Kalvinisme mempercayai bahwa keselamatan itu bukan hasil usaha dan kerja keras manusia tetapi semata-mata karena kemurahan dan kasih Allah. Allahlah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya. Ayat-ayat berikut akan sangat membantu dalam hal ini:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap  orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16)

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).

“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan  baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Titus 3:4-5).

Tidak ada yang bisa dibanggakan manusia dari dirinya sendiri dalam memperoleh keselamatan. Allah yang mengasihi manusia dan Allah jugalah yang membukakan jalan agar manusia itu dapat memperoleh keselamatan. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri karena sifat alami dan tabiat berdosa yang ada dalam dirinya sehingga ia tidak mampu melakukan dengan sempurna apa yang Allah perintahkan. Tetapi justru karena tidak ada manusia yang bisa melakukan apa yang Allah perintahkan sehingga Allah sendiri harus mengirimkan Anak-Nya, Yesus Kristus agar Ia menjadi perwakilan manusia untuk melakukan dengan sempurna apa yang Allah kehendaki dan perintahkan. Itulah sebabnya Kristus dikatakan sebagai Pengantara antara Allah dan manusia, dan pendamaian bagi Allah.

Jadi jika manusia dewasa saja memperoleh keselamatan karena kemurahan Allah maka bayi yang baru lahir sekalipun hanya dapat diselamatkan karena kemurahan Allah semata. Semua anak-anak sama statusnya dengan orang dewasa yaitu sebagai obyek pemilihan Allah yang penuh kemurahan, yang tidak didasarkan pada kebaikan atau usaha manusia. “Bayi bisa menerima pemilihan Allah Bapa, penebusan Allah Anak, dan regenerasi Allah Roh Kudus.” Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan aspek iman dan pertobatan? R. A. Webb menjawab, “Iman dan pertobatan bukan dasar yang mendatangkan keselamatan. Keduanya hanya sarana, penghubung, yang membuat kita menyadari manfaat dari penebusan Kristus. Tugas mereka bukan menyelamatkan, tetapi untuk menyatakan keselamatan dalam pengalaman manusia.” Dalam hal bayi yang meninggal, ia bisa memperoleh keselamatan meskipun ia belum mampu untuk percaya dan bertobat, karena keselamatan itu adalah kemurahan Allah.

Pada umumnya ada dua kelompok Reformed yang memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan keselamatan dibalik kematian bayi. Kebanyakan kelompok Reformed mempercayai bahwa setiap bayi yang meninggal sebelum akal balik atau mencapai kematangan moral dan spiritual akan memperoleh keselamatan. Biasanya kelompok ini akan mengutip firman Allah dari kisah Nabi Yeremia yang Allah telah berkati dan pilih sebagai nabi ketika ia masih dalam rahim ibunya. “Firman TUHAN” datang kepadanya dan berkata, “Sebelum aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5). Kisah Yohanes Pembaptis juga tidak akan dilewatkan dalam mendukung pandangan ini dimana sebelum ia lahir telah diberitahukan bahwa ia akan dipenuhi oleh Roh Kudus. “Ia akan penuh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).

Namun dipihak lain ada kelompok Reformed yang mempercayai bahwa hanya bayi keluarga Kristen yang meninggal sebelum mencapai kematangan moral dan spiritual yang akan memperoleh keselamatan. Kelompok ini akan selalu mengambil contoh anak Raja Daud yang meninggal dari hasil perzinahannya dengan Bethsyeba, dimana Raja Daud sangat bersedih dan berkabung ketika anak itu masih sakit tetapi ketika ia mengetahui bahwa bayi itu telah meninggal, ia meninggalkan semua kesedihan itu dan berkata, “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku” (2 Samuel 12:22-23). Dengan jelas ayat ini memberikan penegasan bahwa anak raja Daud itu diselamatkan dan ada di sorga, dan raja Daud tahu bahwa ia akan berjumpa dengannya di sorga.

Jika dicermati dengan saksama kelompok pertama yang mengambil contoh Yeremia dan Yohanes Pembaptis sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kelompok yang mengambil contoh anak Raja Daud yang meninggal karena orangtua tua mereka (Yeremia dan Yohanes Pembaptis) adalah orang-orang percaya. Namun jika seandainya kelompok pertama diatas mengutip contoh-contoh dari keluarga yang tidak percaya namun dinyatakan sebagai orang-orang yang diberkati Allah, maka pandangan pertama ini akan memiliki kekuatan teologis yang luar biasa. Bagi kelompok ini setiap bayi yang meninggal apakah ia anggota keluarga orang percaya atau tidak akan diselamatkan. Hal ini didasarkan karena ketika hari penghakiman, Allah hanya menuntut pertanggungjawaban dari setiap manusia atas apa yang telah ia perbuat semasa hidupnya. Sementara bayi yang meninggal, semasa hidupnya belum mampu melakukan kebaikan atau kejahatan moral meskipun ia memiliki tabiat atau sifat berdosa. Dengan pertimbangan ini maka pandangan ini masih banyak diterima kelompok Reformed. Sementara pandangan bayi keluarga orang percaya (Kristen) yang meninggal akan ada di sorga menjadi suatu penghiburan yang luar biasa bagi keluarga Kristen yang sedang berduka. Kepastian keselamatan bayi yang meninggal akan menjadi suatu obat yang ampuh untuk menghibur dan mengobati luka dan duka keluarga yang kehilangan bayi mereka.

AJARAN SESAT DAN KELIRU TENTANG KESELAMATAN BAYI

Dalam perjalanan sejarah kekristenan ajaran Alkitab selalu dibayang-bayangi dengan ajaran sesat dan keliru. Bahkan setiap doktrin yang terdapat dalam Alkitab selalu ada yang disalahartikan baik sengaja maupun tidak. Berikut ini beberapa pandangan yang sesat dan keliru yang perlu dicermati umat Kristen dan bermanfaat sebagai informasi dan peringatan:

Kelompok Universalisme

Dalam lingkungan komunitas Kristen terdapat suatu kelompok yang memiliki  pengertian berbeda dari apa yang ada dalam Alkitab. Mungkin kelompok ini tidak mau mengakui dirinya sebagai kelompok Universalisme, tetapi pada kenyataannya pandangan dan ajaran mereka menunjuk pada universalisme. Apa itu universalisme? Universalisme adalah suatu ajaran yang mempercayai bahwa semua manusia yang pernah hidup di dunia ini akan diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan sorga, apakah ia baik atau jahat semuanya akan ada di sorga karena Allah sangat mengasihi dunia dan orang-orang berdosa. Oleh karena itu apakah seseorang itu meninggal di saat usia bayi atau dewasa, ia akan ada di sorga.

Namun jika secara jujur kelompok ini menyelidiki Alkitab, tidak bisa dielakkan bahwa mereka telah mempercayai suatu ajaran yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, karena dengan tegas Alkitab menegaskan akan adanya penghakiman bagi mereka yang tidak percaya. Khotbah Yesus di bukit sangat relevan di sini: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14). Dengan jelas ayat ini menegaskan bahwa tidak semua orang akan masuk sorga dan diselamatkan. Bahkan mereka yang memanggil nama Yesus sekalipun belum tentu memperoleh hidup yang kekal dan hal ini ditegaskan Yesus sendiri ketika Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi namu-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23). Berhati-hatilah dengan kelompok universalisme!

Kelompok Katolik Roma

Suatu ajaran yang tidak pernah lepas dari kelompok ini adalah ajaran (doktrin) regenerasi melalui baptisan (baptismal regeneration). Menurut doktrin ini, Allah memakai baptisan air untuk menghasilkan perubahan dalam hati manusia, yang oleh para teolog disebut sebagai regenerasi (kelahiran kembali). Anak-anak atau orang dewasa yang belum dibaptis tidak dapat diselamatkan, mereka belum lahir baru, dan dosa mereka belum diampuni. Baptisan air merupakan kondisi yang disyaratkan bagi kelahiran baru. Dengan kata lain baptisan air itu sendiri merupakan suatu sarana satu-satunya untuk menjadikan seseorang itu menjadi seorang yang diselamatkan. Gereja Katolik Roma merupakan suatu badan agama terbesar yang mengajarkan regenerasi melalui baptisan. Doktrin gereja ini menegaskan bahwa penghapusan dosa manusia bergantung pada sakramen baptisan dan jika seorang anak atau dewasa tidak dibaptis ia tidak dapat diselamatkan. Kesimpulan seperti ini diambil dari Kanon dan Ketetapan Dokmatis dari Konsili Trent (1563) dimana keselamatan bayi hanya didasarkan pada baptisan Roma Katolik. Pada tahun 1951, Paus Pius XII juga mengajarkan bawha “tidak ada jalan lain selain baptisan yang dipandang sebagai pemberi kehidupan Kristus kepada anak-anak.” Pada Ensiklopedi Katolik yang berjudul “New Catholic Encyclopedia” menegaskan, “Dengan baptisan Kristen, seseorang memasuki kerajaan Allah dan memasuki wilayah karya Kristus yang menyelamatakan.”

Namun pada kenyataannya Alkitab tidak mendukung ajaran diatas. Justru sebaliknya Alkitab mengajarkan bahwa baptisan itu tidak menyelamatkan.

Kelompok Luteran

Suatu organisasi gereja protestan yang sepatutnya harus bertolak belakang dengan kepercayaan dan ajaran Roma Katolik dimana Protestan keluar dari Katolik Roma karena perbedaan-perbedaan yang sangat fundamental. Namun kelompok ini sepertinya masih mengikuti pandangan Katolik Roma dalam pengertian akan manfaat baptisan air. Kelompok ini masih mengajarkan regenerasi melalui baptisan. Gereja-gereja Luteran tentu mengakui secara mutlak tulisan Martin Luther dimana ia telah menuliskan banyak ringkasan ajaran-ajaran penting dalam ajaran protestan. Tidak terkecuali tentang isu baptisan, dalam Katekismus Martin Luther bagian IV, 2 terdapat penjelasan ini, “Baptisan mengerjakan pengampunan dosa, membebaskan dari kematian dan iblis, dan memberi keselamatan kekal bagi semua yang percaya, sebagaimana dinyatakan oleh Firman dan janji Allah.” Pada Augsburg Confession bagian I pasal 9 [pengkuan iman Lutheran], Lutheranisme juga mengajarkan hal yang sama, “Tentang baptisan, mereka (kaum Lutheran ini) mengajarkan bahwa hal ini merupakan keharusan untuk beroleh keselamatan, dan bahwa melalui baptisan, yang mana oleh baptisan itu, mereka dipersembahkan kepada Allah dan diterima dalam kemurahan Allah.”

Berdasarkan kutipan di atas, para pembaca dapat mengerti sekarang kenapa kelompok Lutheran selalu membaptis anak yang sudah sakit keras dan hampir meninggal dunia, karena mereka mempercayai baptisan itu menyelamatkan jiwa bayi itu. Dalam hal ini baptisan berperan seperti suatu tindakan magis dimana dengan baptisan air para anggota keluarga mengetahui bahwa bayi itu selamat dan ada di sorga. Tetapi ini adalah suatu ajaran dan keyakinan yang keliru dan Alkitab tidak mengajarkannya.

Ada beberapa kelompok Protestan yang masih mengikuti pengertian ini atau hampir mirip dengan pandangan ini termasuk kelompok gereja Anglikan yang juga mengajarkan regenerasi melalui baptisan.

Pelagianisme

Ajaran pelagianisme telah dinyatakan oleh semua sidang gereja sebagi bidat setelah kematian pemerkasa ajaran ini yaitu Pelagius. Namun beberapa ajaran telah merembes masuk ke dalam teologis kekeristenan termasuk pandangan dan ajarannya tentang kondisi kerohanian bayi. Menurut pelagianisme setiap bayi yang lahir ke dunia ini, ia lahir tanpa dosa. Ajaran ini sebenarnya merupakan penolakan akan adanya dosa asal yang dimiliki oleh setiap manusia. Oleh sebab itu pelagianisme mengajarkan bahwa anak-anak itu tidak memiliki kecenderungan berdosa yang membuat mereka jauh dari Allah dan manusia itu dilahirkan netral secara moral, bukan orang berdosa dan juga bukan orang kudus. Oleh karena itu setiap anak dapat diselamatkan karena sifat natur mereka tidak memiliki satu hal pun yang bisa membangkitkan penghakiman Allah. Kepolosan mereka sudah cukup untuk membuat mereka diselamatkan dan setiap anak dapat diselamatkan karena tidak ada alasan yang membuat mereka dihukum.

PADA USIA BERAPAKAH SEORANG ANAK BISA MENGERTI KESELAMATAN DALAM KRISTUS?

Mengacu pada usia kematangan moral dan spiritual seorang anak dimana ia mampu melakukan kebaikan atau kejahatan moral adalah usia yang dapat mencerna dan mengerti siapa itu Tuhan Yesus. Jika benar bahwa usia kematangan seorang bayi sekitar empat dan lima tahun maka pada usia ini, seorang anak sesungguhnya telah dapat menentukan dan memutuskan untuk percaya pada Tuhan Yesus. Meskipun anak-anak seusia itu masih kelihatan begitu polos namun telah cukup dewasa untuk mengerti siapa itu Yesus dan apa yang telah diperbuat Yesus. Inilah usia yang paling baik untuk memperkenal Yesus dan menantang anak-anak untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Mungkin ada kebiasaan yang salah dimana di sebuah gereja ada suatu anggapan bahwa pada usia remajalah usia yang paling baik untuk ditantang percaya pada Yesus, tetapi ini merupakan pandangan yang keliru. Perhatikan apa yang terjadi di setiap gereja sekarang ini. Tanyakan pertanyaan ini, berapa banyakkah anak-anak sekolah minggu yang terus rajin ke gereja hingga masa remajanya? Pada umumnya jumlah anak-anak di kelas remaja semakin berkurang dan semakin jauh dari hal kerohanian. Ini adalah fakta di setiap gereja. Jika berita keselamatan itu baru diberitakan ketika usia remaja maka akan sangat sedikit yang akan mendengarkan Injil.

Puji syukur kepada Yesus karena memang injil itu dapat diberitakan kepada anak-anak pada umur 4-5 tahun. Berdasarkan kesaksian dan pengamatan banyak pemimpin rohani dan keluarga-keluarga Kristen yang memperdulikan kerohanian anak-anak mereka, menyimpulkan bahwa ada banyak anak-anak keluarga Kristen yang percaya pada Kristus pada usia empat dan lima tahun. Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa mengerti ajaran tentang keselamatan? Di sinilah terlihat keagungan dan kedautalan Allah. Allah menyelamatkan manusia itu bukan karena pengertiannya yang lengkap dan sempurna atau karena ia telah mengerti seluruh isi Alkitab dan semua perdebatan teologis, tetapi justru sebaliknya ada banyak orang percaya pada Yesus dan sungguh-sungguh percaya meskipun tidak tahu membaca dan tidak mengerti banyak hal tentang kekristenan.

Jika ada orang bertanya tentang Tritunggal Allah dan meminta kita menjelaskannya, mungkin ada banyak orang Kristen tidak bisa menjelaskannya, khususnya dalam hal Allah memiliki tiga pribadi (oknum) tetapi satu Allah. Ini bukanlah suatu doktrin yang mudah dijelaskan. Tetapi sekalipun tidak bisa dimengerti dengan baik, kita percaya, itu adalah kebenaran, karena Allah menyatakan itu dalam Firmannya. Kita harus menerimanya dengan iman meskipun belum mendapatkan pengertian dan penjelsan yang lengkap. Dalam hal keselamatan, Roh Kudus memiliki peran yang luar biasa dalam menggerakkan dan menuntun hati manusia di saat Injil diberitakan. Dalam cara yang sama Allah bisa melakukan hal yang sama pada setiap anak di usia muda. Justru pada usia muda seperti inilah anak-anak tidak memiliki banyak pertimbangan-pertimbangan tetapi mereka mengikuti apa yang ada dalam hati mereka dan apa yang mereka dengar tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun harus diakui bahwa perlu pembinaan kerohanian yang baik agar kelak anak itu semakin nyata sebagai seorang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus. Jadi jangan sekali-kali memiliki pemikiran bahwa anak-anak sekolah minggu di kelas balita belum mampu mengerti injil Kristus sehingga banyak waktu yang dipakai hanya untuk kegiatan-kegiatan menggambar dan mewarnai. Ini adalah kekeliruan, mereka bisa percaya pada Yesus seperti seorang dewasa percaya. Pergunakanlah setiap kesempatan untuk memberitakan injil pada anak-anak kamu.

APA MANFAAT MENGETAHUI KESELAMATAN BAYI YANG MENINGGAL?

Bagi mereka yang belum memiliki pengalaman dimana bayi mereka meninggal, mungkin isu ini tidak begitu penting. Tetapi sebagai anggota gereja dimana setiap jemaat memiliki peran dan partisipasi dalam setiap program dan kegiatan dalam gereja, tidak ada salahnya untuk mendalami topik ini dengan baik. Jika dirasa hal itu tidak begitu berhubungan dengan diri sendiri, jadikan ini sebagai suatu pelajaran untuk bisa menghibur anggota jemaat yang memiliki pengalaman seperti ini nantinya. Perkataan dan nasihat dari firman Allah akan sangat dibutuhkan keluarga yang berduka.

Bagi mereka yang kehilangan bayi kesayangan mereka, untuk beberapa waktu mereka akan selalu ingin bertemu dengan anak itu. Rasa rindu dan ingin melihat dan memeluknya menjadi suatu pergumulan yang akan terus ada selama beberapa bulan pertama kepergiannya. Dan selama masa-masa itulah keluarga ini akan mencoba mencari informasi tentang keadaan anaknya yang telah mendahuluinya. Mereka ingin tahu dimana anaknya saat ini, apakah ia ada di sorga atau di tempat lain? Apakah mereka bisa bertemu dengannya kelak? Dan sebagainya. Keingintahuan keluarga yang kehilangan ini tentu merupakan hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang terbeban untuk menghibur mereka yang berduka atau mereka yang memiliki talenta untuk melayani dan menghibur mereka yang berduka harus mengetahui apa yang harus ia sampaikan kepada keluarga yang berduka. Perkataan yang salah dapat membuat keluarga yang berduka menjadi semakin sedih dan berduka. Dalam hal ini, bukan berarti hanya menjaga perasaan tetapi suatu fakta alkitabiah yang harus disampaikan bahwa bayi yang meninggal akan diselamatkan dan ada di sorga bersama Yesus Kristus. Suatu hari kelak orangtuanya bisa bertemu dengannya di sorga. Ia pergi mendahului mereka yang mengasihinya. Fakta ini akan sangat menghibur keluarga yang berduka.

KESIMPULAN

Meskipun ada banyak pandangan dan ajaran yang berbeda-beda dalam komunitas kekristenan, setiap ajaran itu harus diuji kebenarannya secara Alkitabiah. Sama halnya dengan keselamatan bayi yang meninggal bahwa bayi keluarga percaya akan diselamatkan dan ada di sorga. Namun jika ada suatu pertanyaan apakah setiap bayi yang meninggal dari keluarga bukan orang percaya akan diselamatkan juga? Jawabannya, hanya Tuhan yang tahu dengan pasti. Orang Kristen perlu mengetahui bayi keluarga Kristen yang meninggal diselamatkan karena gereja perlu menghibur keluarga yang berduka. Keluarga yang tidak percaya tidak butuh penghiburan dan kepastian keselamatan anak mereka dari ajaran Alkitab meskipun ada banyak teolog yang perpendapat bahwa setiap bayi yang meninggal akan diselamatkan dan masuk sorga.