Kontroversi Baptisan Kudus

BAPTISAN KUDUS: KONTROVERSI POLA BAPTISAN SELAM DAN PERCIKAN

Oleh Samson H

Doktrin Baptisan merupakan salah satu doktrin yang terus diperdebatkan sejak masa reformasi. Jika pada awalnya perdebatan terfokus pada pola baptisan, akhir-akhir ini perdebatan melebar pada arti baptisan. Penulis ingin memaparkan secara singkat perdebatan dan pertentangan ajaran ini dan dasar-dasar perdebatannya. Namun demikian perlu digarisbawahi bahwa perbedaan pengertian ajaran baptisan telah berlangsung selama 500 tahun lebih dalam sejarah Kekristenan. Meskipun demikian hingga saat ini tidak ada titik temu antara penganut pola baptisan selam dan percikan dan bisa dipastikan hal ini akan terus berlangsung hingga pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus.

Yang menjadi pertanyaan mendasar, apa yang membuat perbedaan ini tidak kunjung terselesaikan? Untuk pertanyaan ini tentu tidak mudah, dibutuhkan waktu yang panjang dan jumlah halaman artikel yang lebih banyak untuk mengutarakan semua alasan yang menjadi dasar perbedaannya. Namun demikian, pertanyaan ini juga bisa dijawab dengan cukup dua kata saja, yaitu SISTEM TEOLOGIA.

Sistem teologia merupakan dasar perbedaan dan pertentangan yang terjadi sekarang ini. Jika ada beranggapan perbedaan timbul karena ketidakmahiran kelompok tertentu tentang bahasa asli Alkitab, itu keliru. Tidak bisa disangkal baik pendukung pola baptisan selam dan percikan sama-sama memiliki pakar di bidang bahasa Yunani dan Ibrani yang mampu menelaah arti Firman Tuhan. Perbedaan pengertian doktrin baptisan yang dimiliki berbagai gereja semata-mata bukan karena minimnya pengertian bahasa asli Alkitab tetapi perbedaan timbul karena mengadopsi Sistem Teologia yang berbeda antara satu dengan lainnya. Itulah sebabnya kelompok yang mengadopsi pola baptisan selam akan ngotot dengan pola penafsiran dan penjelasannya sebagai pola yang paling benar dan Alkitabiah. Sementara kelompok yang mempercayai pola baptisan percik di sisi lain juga mempertahankan apa yang dipercayai sebagai kebenaran. Sangat jelas keduanya saling mempertahan kepercayaan dan keyakinannya dan akan terus sedemikian adanya.

POLA PENAFSIRAN DAN POLA BAPTISAN

Terlepas dari perdebatan yang terus berlangsung di kalangan teolog, yang menjadi pertimbangan, pola baptisan apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia memerintahkan murid-muridNya membaptis, “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”? (Matius 28:19). Ketika para Rasul mendengarkan perkataan ini, mereka telah memiliki pengertian yang pasti tentang bagaiaman mereka membaptis nantinya. Pola baptisan yang akan diterpaka sangat jelas dan mereka tidak memiliki perdebatan dan keraguan. Namun dalam semua tulisan para Rasul, tidak terdapat pernyataan mutlak tentang pola baptisan telah diterapkan dan harus diterapkan gereja. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan gereja-gereja khususnya setelah masa reformasi.

Dengan melihat contoh-contoh kejadian pembaptisan umat percaya dalam kitab Perjanjian Baru maka para teolog bertanya, apa sebenarnya arti kata “baptizo”? Apakah benar kata “baptizo” dalam bahasa Yunani Alkitab selalu berarti selam? Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan ini dibutuhkan pembelajaran seksama kejadian-kejadian mencatat kata “baptizo” dalam Alkitab. Semua langkah-langkah yang dibutuhkan untuk pembelajaran ini tentu telah dilakukan berbagai kelompok teologia demi mendukung pandangan yang mereka percayai.

Melangkah dari arti kata menurut leksikon Yunani, tidak sulit untuk menjawabnya karena Leksikon Yunani tertua akan memberikan arti yang dibutuhkan. Namun arti Leksikon saja tidak cukup untuk menemukan arti suatu kata dalam Alkitab karena sangat dibutuhkan pada pola penafsiran yang benar. Hal ini berlaku bukan hanya untuk kata “baptizo” tetapi juga untuk keseluruhan Alkitab. Arti suatu firman adalah satu, dan bukan dua atau lebih. Konsep ini harus menjadi suatu pedoman penting bagi setiap penafsir Alkitab. Dengan demikian, ketika perintah membaptis diberikan, pola baptisan yang dimaksud Yesus pasti satu dan yang dapat dimengerti murid-muridNya saat itu dimana mereka membaptis tidak dengan menerapkan pola yang berbeda-beda satu dengan lainnya tetapi menerapkan satu pola saja sebagai pola yang benar.

Jika seandainya perkataan Yesus memiliki banyak arti, maka Kekristenan tidak memiliki kebenaran mutlak dan tidak ada yang bisa mengatakan orang lain salah dan keliru karena ada kemungkinan apa yang diartikan orang lain merupakan salah satu arti yang dimaksudkankan. Tetapi karena arti Firman hanya satu maka kekristenan memiliki kebenaran mutlak dan berdasarkan kebenaran mutlak inilah sesuatu bisa dinilai benar, keliru atau sesat.

Sebagai contoh, Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Ayat ini menjadi kebenaran mutlak jika artinya hanya satu yaitu Yesus satu-satunya jalan masuk ke Sorga dan tidak ada yang lain. Jika ayat ini memiliki arti dua atau lebih, misalnya “Yesus adalah salah satu jalan menuju sorga dan masih ada banyak jalan lain,” itu berarti ayat ini tidak memiliki kebenaran mutlak dan tak satupun yang bisa mengatakan Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dunia. Jadi sangat penting dimengerti bahwa arti suatu firman itu hanya satu.

Mengacu pada penjelasan di atas, ini memberikan suatu petunjuk bahwa pola baptisan yang dimaksud ketika Yesus memerintahkan murid-muridNya membaptis pasti satu dan tidak mungkin dua atau lebih. Jika saat ini dikalangan Kekristenan terdapat dua pola baptisan popular yaitu baptisan selam dan percikan atau penumpahan maka bisa dipastikan hanya satu dari kedua pola ini yang sesuai dengan apa yang dimaksudkan Yesus atau mungkin kedua-duanya salah karena pola yang dimaksudkan belum diketahui umat Kristen. Pandangan kedua ini tentu hanya suatu kemungkinan saja dan penulis memiliki keyakinan hanya satu dari dua pola ini yang merupakan pola Alkitabiah dan sesuai dengan apa yang dimaksudkan Yesus.

SISTEM TEOLOGIA

Sekarang marilah membicarakan sistem teologi yang dimiliki penganut pola baptisan selam dan percikan saat ini. Ada dua sistem teologia popular di masa kini yaitu sistem teologia DISPENSASIONAL dan sistem TEOLOGIA PERJANJIAN (Covenant Theology). Kedua sistem inilah yang mendominasi Kekristenan sekarang ini. Oleh karena itu kedua sistem akan menjadi pokok bahasan artikel ini karena para teolog yang penganut system inilah yang selalu memperdebatkan pola baptisan Alkitabiah. Namun demikian, penulis tidak bermaksud mengabaikan atau mengesampingkan sistem teologia lain yang dianut denominasi lain.

Teologia Dispensasional Dan Baptisan Selam

Jika pembaca mencoba menyelidiki kelompok-kelompok yang mengadopsi dan mempercayai pola baptisan selam, maka pembaca pada akhirnya akan menyimpulkan bahwa mereka merupakan kelompok yang mengadopsi sistem teologia Dispensasionalisme. Sangat jarang penganut sistem Teologia Perjanjian (covenant theology) yang mempercayai pola baptisan selam (meskipun ada). Perlu diketahui bahwa sistem teologia ada karena suatu pola penafsiran dan prasuposisi tertentu. Ini berlaku untuk setiap sistem teologia di sepanjang masa. Dengan kata lain, sistem teologia Dispensasional ada karena penganutnya mengadopsi suatu pola penafsiran dan prasuposisi yang selaras untuk menghasilkan sistem itu. Demikian juga dengan sistem teologia Perjanjian dimana penganutnya mengadopsi suatu pola penafsiran yang dipercayai sebagai pola penafsiran terbaik.

Yang menjadi pertanyaan, apa pengaruh sistem teologia Dispensasionalisme pada pola baptisan selam? Jika mencoba menyelidi sistem teologia ini, maka pembaca juga akan diperhadapkan dengan 7 periode atau rangkaian pengaturan administrasi yang dipercayai sebagai program Tuhan bagi umat manusia. Adapun ketujuh periode ini adalah,

(1) Zaman (atau dispensasi) TANPA DOSA (Kejadian 1:1–3:7), sebelum KEJATUHAN Adam.

(2) Zaman HATI NURANI (Kejadian 3:8–8:22), Adam hingga Nuh.

(3) Zaman PEMERINTAHAN (Kejadian 9:1–11:32), Nuh hingga Abraham.

(4) Zaman PERJANJIAN atau PEMERINTAHAN PARA LELUHUR (Kejadian 12:1–Keluaran 19:25), Abraham hingga Musa.

(5) Zaman HUKUM MUSA (Keluaran 20:1–Kisah para Rasul 2:4), Musa hingga Kristus.

(6) Zaman ANUGERAH (Kisah 2:4–Wahyu 20:3 – kecuali untuk Hiperdispensasionalis), zaman Gereja yang sekarang.

(7) Zaman harafiah Kerajaan 1.000 tahun (MILENIUM) yang masih akan datang namun akan terjadi segera (Wahyu 20:4–20:6).

Kesuluruhan sistem ini beranjak dari ketujuh pengaturan atau administrasi ini yang dijadikan sebagai kerangka penafsiran memahami alur Alkitab. Menurut penganut dispensasionalisme, masing-masing zaman yang disebut di atas mewakilkan suatu cara yang berbeda dari Allah dalam menangani manusia yang mana hal itu seringkali terjadi dalam bentuk ujian. Dengan kata lain masing-masing zaman yang dimaksud selalu diawali dengan ujian bagi manusia di zamannya dan diakhiri dengan kegagalannya. Karena kegagalan itulah Allah membuat zaman baru yang juga tetap mengikuti pola sebelumnya: ujian bagi manusia dan diakhiri dengan kegagalannya, begitu seterusnya.

Artikel ini tidak akan membahas semua aspek sistem teologia dispensasionalisme ini (mungkin bisa dilihat di artikel-artikel lain). Namun yang menjadi perhatian khusus yang dirasa perlu adalah hal yang berhubungan dengan aspek sakramen Perjanjian Lama yaitu zaman (periode) keempat dispensasionalisme, Zaman PERJANJIAN atau PEMERINTAHAN PARA LELUHUR (Kejadian 12:1–Keluaran 19:25), Abraham hingga Musa. Zaman ini menjadi sangat penting karena sakramen Sunat dan Paskah Israel ditetapkan pada periode ini.

Perlu diketahui bahwa secara esensial, dispensasionalime mempercayai tiap-tiap dispensasi (zaman) berbeda dari semua dispensasi yang lain. Karena setiap dispensasi berbeda dan tidak memiliki unsur kelanjutan (kesinambungan) dari dispensasi sebelumnya maka semua elemen yang terkandung dalam satu dispensasi tidak berhubungan dengan dispensasi berikutnya. Kegagalan manusia pada dispensasi tertentu menjadi penyebab Allah membuat dispensasi baru.

Apa dampak bagi penganut pengertian seperti ini? Dengan mengadopsi pengertian program Allah seperti di atas maka penganut sistem ini tidak melihat program Allah di Perjanjian Baru merupakan kelanjutan Perjanjian Lama sebagai satu kesatuan utuh. Inilah yang menjadi pergolakan dan perdebatan para teolog di sepanjang masa. Bukan hanya semata-mata tentang perdebatan pola baptisan tetapi juga mencakup perdebatan tentang KESELAATAN, JURUSELAMAT, PENDIAMAN ROH KUDUS dan ISI IMAN (content of faith) DI PERJANJIAN LAMA (kesemuanya ini menjadi isu dan perdebatan sengit antara kelompok teologia dispensasional dan teologia perjanjian (kovenan).

Berdasarkan penelitian tentang sistem teologia dispensasional, terlihat jelas ada suatu indikasi bahwa dispensasionlisme memiliki kepercayaan berbeda tentang Keselamatan, Juruselamat, Pendiaman Roh Kudus dan Isi Iman (content of faith) di Perjanjian Lama. Keempat aspek ini menjadi sorotan para teolog kovenan (teologia perjanjian) khususnya pandangan dispensasional Klasik yang dicap sesat atau bidat akibat memiliki keyakinan bahwa Allah memberikan dua cara keselamatan: keselamatan di Perjanjian Lama berbeda dengan keselamatan di Perjanjian Baru. Namun kelompok penerusnya yang dikenal dengan Dispensasional Revisi (Revised) mencoba meluruskan pengertian para pendahulunya dan demikian juga Dispensasional Modern (Progressive Dispensational) dan penjelasan mereka bisa mereda gejolak ini.

Karena sistem teologia dispensasionalisme mempercayai suatu dispensasi berbeda dengan dispensasi lainnya dan bukan merupakan kelanjutan yang sebelumnya, sangat jelas berdampak pada pengertian isu sakramen Perjanjian Lama karena sakramen yang terdapat pada dispensasi (zaman) PERJANJIAN atau PEMERINTAHAN PARA LELUHUR dianggap tidak memiliki kelanjutan ke zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya sistem teologia ini tidak mengakui sakramen Perjamuan Kudus sebagai pengganti sakramen Paskah Israel Perjanjian Lama dan sakramen Baptisan Kudus sebagai pengganti sakramen Sunat. Hal ini terjadi oleh karena tuntutan penafsiran yang menyimpulkan bahwa apa yang diberikan pada suatu dispensasi tidak berkesinambungan ke dispensasi selanjutnya. Dalam hal ini, sakramen Sunat dan Paskah Israel yang diberikan di masa dispensasi Pemerintahan Para Leluhur akan berhenti dengan sendirinya dan tidak bisa digantikan oleh dispensasi Perjanjian Baru.

Berdasarkan analisa diatas, terlihat jelas bahwa sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus tidak pernah dipandang kelompok teolog dispensasional sebagai kelanjutan dari sakramen Perjankjian Lama yaitu Sunat dan Paskah Israel. Perdebatan, pertentangan dan penolakan penganut sistem teologia ini terhadap baptisan bayi disebabkan kegagalan mereka melihat hubungan sakramen sunat dan sakramen baptisan. Penganut sistem ini selalu bersikukuh mengatakan tidak ada dasar Alkitabiah untuk membaptis bayi karena hanya melihat sistem Perjanjian Baru (yang mempercayai semua baptisan di Perjanjian Baru dilakukan dengan pola selam dan bayi tidak mungkin diselam – penjelasan ini bisa dilihat di bagian bawah artikel ini).

Jadi, yang membuat penganut pola baptisan selam dan percikan tidak memiliki kesepakatan atau titik temu dalam setiap debat dan diskusi disebabkan oleh keduanya mengadopsi sistem teologia yang berbeda. Masih banyak aspek krusial yang menjadi perbedaan antara sistem teologia dispensasional dan sistem teologia perjanjian (covenant theology). Namun apa yang dipaparkan di sini mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan di atas dan memberikan pengertian dan pandangan yang jelas bagi para pembaca tentang kemelut yang terjadi dikalangan umat Kristen.

Teologia Perjanjian Dan Pola Baptisan Percik

Penganut sistem teologia Perjanjian (Covenant Theology) memiliki pandangan berbeda dari dispensasionalisme. Mereka melihat perjanjian Allah dengan Abraham berlanjut kepada Musa, Israel, Daud dan Perjanjian Baru sebagai satu kesatuan. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Musa, perjanjian itu merupakan pembaharuan perjanjian yang diberikanNya kepada Abraham. Begitu juga perjanjian yang diberikan kepada Daud dan seterusnya. Kesemaunya perjanjian itu merupakan satu kesatuan progresif yang merupaka kesinambungan perjanjian Allah kepada umatNya. Jadi Allah tidak menghapuskan Perjanjian yang diberikan sebelumnya ketika Ia memberikan yang baru tetapi justru pernjanjian yang baru itu merupakan kesinambungan dan pengembangan perjanjian sebelumnya.

Perhatikan perjanjian yang diberikan Allah kepada Musa yang dikenal dengan Mosaic Covenant. Apa yang Musa terima merupakan pembaharuan dan pengembangan perjanjian yang Abraham terima sebelumnya dan bukan pengganti janji Allah kepada Abraham.

4Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, 5tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. 6Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. 7Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. 8Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN” (Keluaran 6:4-8).

Musa sangat mengerti, kemurahan dan pengampunan Allah bagi kejahatan dan dosa-dosa umat Israel sesungguhnya didasarkan atas janji atau sumpah Allah kepada Abraham. Doa Musa ini memberitahukan bahwa janji-janji Allah kepada Abraham merupakan dosa permohonannya untuk menyelamatkan umat Israel (Keluaran 32:13-14).

13Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” 14Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.”

Hal yang sama terjadi ketika Allah memberikan perjanjian dengan Daud yang dikenal dengan Davidic Covenant. Tuhan tidak membatalkan janji yang diberikan Allah kepada Musa dan Abraham tetapi menjadikan menjadi fondasi perjanjian yang diberikan kepada Daud. Kembalinya tabut perjanjian Allah dari tanah Filistin dimengerti Daud sebagai tindakan kemurahan Allah yang didasarkan pada perjanjian Allah kepada Abraham. Dalam pengucapan syukur Daud, ia memberitahukan hubungan kemurahan Allah dengan pernjanjian yang diberikan kepada Abraham.

15Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 16yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak, 17diadakan-Nya bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal, 18firman-Nya: “Kepadamu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu”  (1 Tawarikh 16:15-18).

Jadi sangat jelas ada kesinambungan pernjanjian Allah kepada Abraham dan tidak dibatalkan sama sekali karena telah memberikan perjanjian kepada Musa dan Daud. Demikian juga untuk janji Allah dalam Perjanjian Baru. Penjabaran ini memberikan gambaran bagaimana sistem teologia Dispensasional bertolakbelakang dengan sistem teologia Perjanjian (Covenant Theology) dimana kedua sistem ini memiliki pola tafsir dan prasuposisi yang berbeda yang akhirnya menghasilkan pengertian dan teologia yang berbeda dan aplikasi teologia yang berbeda pula seperti terlihat di beragai gereja saat ini.

Karena Perjanjian Lama dan Baru merupakan satu kesatuan maka penganut teologia Perjanjian (Covenant Theology) mempercayai, Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dialah satu-satunya jalan masuk ke sorga di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi Abraham, Musa dan para nabi ada di sorga karena mereka percaya pada Yesus dan memiliki iman pada Tuhan Yesus. Pernyataan ini tentu ditentang oleh penganut sistem teologia dispensasional. Mereka tidak mempercayainya karena percayai bahwa orang-orang kudus Perjanjian Lama hanya percaya kepada Tuhan dan bukan kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi apa yang Alkitab sampaikan berbeda dengan apa yang menjadi kenyakinan mereka.

6Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yohanes 8:56).

58Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58).

Dengan kata lain, jika orang-orang kudus Perjanjian Lama diselamatkan karena percaya pada Yesus sama seperti umat percaya di Perjanjian Baru, maka pengalaman kelahiran kembali dan pendiaman Roh Kudus yang dialami umat percaya Perjanjian Baru juga dialami umat percaya Perjanjian Lama. Itulah sebabnya ketika Yesus menjelaskan ajaran kelahiran kembali kepada Nikodemus, Yesus berkata, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (Yoh 3:9). Yesus di sini mengasumsikan Nikodemus sudah seharusnya mengerti ajaran “dilahirkan kemali” atau “lahir baru” meskipun hanya memiliki kitab Perjanjian Lama karena doktrin ini merupakan kebenaran kekal.

Harus dimengerti bahwa ketika Yesus menyampaikan perkataan ini, semua orang Israel juga belum memiliki kitab Perjanjian Baru seperti yang dimiliki gereja saat ini. Dengan kata lain, tuntutan Yesus pada Nikodemus untuk mengerti doktrin lahir baru memberikan penegasan bahwa ajaran ini bukanlah ajaran baru karena dialami oleh orang-orang kudus di Perjanjian Lama dan mereka mengalaminya seperti yang dialami umat percaya di Perjanjian Baru. Jika tidak demikian Yesus tidak memiliki dasar meminta Nikodemus mengerti doktrin ini. Justru karena Yesus adalah Tuhan, Dia tahu isi kitab Perjanjian Lama dan Nikodemus sebagai pengajar, dituntut mengetahui ajaran itu.

Penganut Teologia Perjanjian melihat dengan jelas bahwa Yesus satu-satunya Juruselamat dunia di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka juga melihat, Tuhan menetapkan dua sakramen di Perjanjian Lama, Sunat dan Paskah. Dalam Perjanjian Baru kedua sakramen ini telah digantikan dengan kedua sakramen, baptisan dan perjamuan kudus.

Mungkin para pembaca tidak bisa menerima fakta ini. Tetapi cobalah perhatikan firman Tuhan yang dicatat dalam Lukas 22:14-20. Saat itu Yesus bersama murid-muridNya sedang merayakan Paskah Israel. Sementara mereka makan Paskah, tiba-tiba Yesus melakukan suatu hal yang berbeda dari perayaan-perayaan Paskah sebelumnya. Perayaan Paskah ini bukanlah perayaan pertama yang diikuti Yesus dan murid-muridnya tetapi pada Paskah terakhir ini, Yesus menekankan suatu hal yang baru yang akan dilanjutkan murid-muridNya.

19Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” 20Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Lukas 22:19-20).

Tidak bisa disangkal bahwa Yesus di sini sedang mengganti Paskah dengan Perjamuan Kudus, terutama ketika Ia berkata ini adalah “Perjanjian Baru” menggantikan ketatapan lama yang diberikan dalam Keluaran 12:24, “Kamu harus memegang ini [paskah] sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.”

Jika memperhatikan isi ayat ini, ketetapan perayaan Paskah harus dilakukan untuk selama-lamanya, tetapi kenyataannya tidak demikian. Perayaan ini berakhir pada saat Yesus dan murid-muridNya makan Paskah bersama murid-muridNya pada malam sebelum Yesus ditangkap. Inilah perayaan paskah terakhir. Kenapa harus berakhir? Bukankah Allah menetapkan perayaan ini harus dilakukan untuk selama-lamanya? Jawabannya adalah karena Allah yang menetapkannya dan Allah jugalah yang menggantinya dengan yang baru. Yesus sendiri memberikan ketetapan baru “perjanjian baru” yang menggantikan Paskah dengan Perjamuan Kudus. Itulah sebabnya murid-murid Yesus tidak lagi merayakan Paskah setelah kematian Yesus. Malam terakhir bersama Yesus merupakan perayaan Paskah terakhir.

Jika Paskah telah digantikan Perjamuan Kudus sebagai ketetapan baru maka sunat juga sudah harus digantikan, karena sepanjang penyelidikan Perjanjian Baru, perintah sunat tidak diajarkan lagi di masa Gereja. Lalu apa pengganti sunat? Mengamati apa yang dilakukan gereja, dengan mudah bisa disimpulkan bahwa sunat telah digantikan Baptisan karena inilah satu dari dua sakramen Perjanjian Baru. Inilah yang dilihat penganut teologia perjanjian seperti diungkapkan Paulus kepada jemaat Kolose.

11Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, 12karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kolose 2:11-12).

Dalam ayat ini diberitahukan bahwa umat percaya tidak lagi disunat karena telah disunat dalam sunat Kristus melalui baptisan. Dengan kata lain, baptisan telah menggantikan sunat sehingga gereja tidak lagi mengajarkannya.

Penganut teologia perjanjian melihat, sunat dan Paskah merupakan ketatapan Allah yang harus dilakukan umat Allah selama-lamanya, dan perubahan terjadi karena Allah sendiri mengubahnya dengan baptisan dan perjamuan kudus.

Sakramen sunat di Perjanjian Lama

Sakramen sunat ditetapkan bagi Abraham dan keturunannya sebagai perintah yang harus dilakukan turun temurun. Sunat menandakan dan memeteraikan perjanjian anugerah Allah kepada Abraham. Perhatikanlah ayat-ayat dibawah ini ketika ketetapan sunat diberikan,

10Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. 13Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal” (Kejadian 17:10-13).

Perhatikan kata “perjanjian” dalam ayat di atas dimana kata itu muncul sebanyak lima kali. Ayat di atas jelas menekankan bahwa perintah sunat yang diberikan kepada Abraham merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham. Sunat bukan untuk keselamatan (jaminan masuk sorga) Abraham dan keluarganya karena ia sudah terlebih dahulu percaya.

“Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6).

Paulus mengutip ayat yang sama ketika ia menjelaskan bahwa Abraham diselamat karena iman percayanya,

“Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Roma 4:3).

“Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Galatia 3:6).

Jadi sunat diberikan setelah Abraham percaya (Kejadian 17).

Di samping itu perhatikan juga kata “turun temurun” yang mengindikasikan bahwa perintah sunat harus dilakukan sepanjang keturunan Abraham ada di atas bumi ini sebagai perintah mutlak. Tetapi kenyataannya, pada keturunan Yahudi yang percaya pada Yesus Kristus di masa Gereja, khususnya setelah kematian Yesus Kristus, gereja tidak lagi mengajarkan sunat dalam Gereja bahkan dalam Perjanjian Baru, sunat dilihat sebagai ajaran yang pertentangan dengan ajaran kebenaran Firman Allah.

“Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi” (Galatia 5:11).

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa” (Kolose 2:11).

Jika memperhatikan sifat natur perintah yang diberikan kepada Abraham, sangat jelas bahwa sunat diberikan kepada seorang percaya. Melihat konteksnya, hanya Abraham dan keluarganya yang telah percaya pada saat itu karena ialah yang memiliki pengalaman pribadi dengan Allah. Namun demikian perintah sunat bukan hanya bagi Abraham tetapi juga keturunannya bahkan perintah ini harus dilakukan bagi setiap anak laki-laki keturunan Abraham pada saat berusia 8 hari. Tidak bisa disangkal bahwa anak berumur 8 hari tidak bisa mengerti apa-apa tentang sunat atau siapa Allah yang disembah orangtuanya. Penerapan sunat bagi anak laki-laki seumuran ini bukan karena ia telah percaya seperti orangtuanya percaya sehingga ia harus disunat atau bukan juga karena sudah diketahui bahwa ia nantinya akan bertumbuh menjadi keturunan Abraham sejati yang memiliki iman seperti iman Abraham. Tetapi sebaliknya, sunat diberikan sebagai perintah yang harus dilakukan keturunan Abraham turun temurun karena janji Allah bukan hanya bagi Abraham tetapi juga bagi keturunannya.

10Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. 13Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku” (Kejadian 17:10-14).

Namun demikian sunat juga diberikan bagi setiap orang dewasa yang bukan keturunan Abraham yang telah mengaku dan percaya pada Allah yang disembah Abraham.

Demikian juga baptisan di Perjanjian Baru. Perintah baptisan diberikan kepada setiap orang percaya yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ketaatannya pada baptisan merupakan langkah awal ketaatannya pada perintah Yesus dan merupakan suatu bukti  kepercayaannya pada Yesus Kristus. Baptisan sedemikian dialami orang percaya dewasa karena telah mengerti siapa Yesus dan apa yang telah diperbuatNya baginya.

Namun demikian sebagai seorang percaya, seperti janji Allah kepada Abraham bahwa anak-anaknya juga turut mewarisi janji Allah. Maka dengan memperbandingkan sakramen sunat di Perjanjian Lama dan sakramen baptisan di Perjanjian Baru terlihat bahwa anak-anak keluarga orang percaya juga harus menerima baptisan kudus meskipun belum mengerti siapa Yesus dan belum percaya pada Yesus Kristus. Dalam hal ini baptisan bukan untuk keselamatan anak itu, tetapi merupakan tindakan ketaataan, janji dan kerinduan orangtuanya agar anak itu nantinya percaya pada Yesus Kristus sama seperti mereka.

Hubungan Sunat Dengan Paskah Perjanjian Lama

Pelaksanaan sakramen perjamuan kudus sekarang ini terlihat begitu bebas dimana sakramen bisa diikuti siapa saja. Kesan ini begitu menonjol diberbagai gereja khususnya yang mengadopsi sistem teologia dispensasional. Salah satu alasan kenapa hal ini terjadi, karena sebagian penganut sistem ini mempercayai bahwa Yudas Iskariot juga turut mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus yang dilakukan Tuhan Yesus pada malam sebelum Yesus ditangkap. [Tetapi fakta sesungguhnya Yudas Iskariot hanya mengikuti perayaan Paskah dan bukan Perjamuan Kudus yang dilakukan setelah Perayaan Paskah. Yudas Iskariot meninggalkan kumpulan itu sebelum Perjamuan Kudus diselenggarakan]. Namun asumsi keikutsertaannya mengikuti Perjamuan Kudus telah berdampak luas bagi gereja dimana mengizinkan siapa saja bisa menjadi peserta perjamuan kudus termasuk anak balita sekalipun. Namun jika menerima Perjamuan Kudus merupakan pengganti Paskah di Perjanjian Lama, maka harus memperhatikan terlebih dahulu syarat yang harus dimiliki seseorang yang ingin mengambil bagian dalam perayaan Paskah.

Salah satu syarat peserta perayaan Paskah yang diatur dalam Kitab Suci Perjanjian Lama adalah bahwa seorang laki-laki sudah harus disunat. Ini syarat mutlak yang harus dimiliki siapapun yang ikut merayakan Paskah mulai dari ketika bangsa Israel ingin keluar dari Mesir atau ketika Allah pertama kali menetapkan sakramen Paskah (Keluaran 12:43-49).

43Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: “Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorangpun dari bangsa asing boleh memakannya. 44Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia. 45Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya. 46Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan. 47Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya. 48Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorangpun yang tidak bersunat boleh memakannya. 49Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu.”

Namun demikian, memperhatikan catatan firman Allah, seorang keturuanan Abraham yang telah disunat di saat berumur 8 hari tidak serta merta menjadi peserta dalam sakramen Paskah. Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan Yesus. Meskipun Ia dibesarkan dilingkungan umat Israel, keikutsertaanNya merayakan Paskah dimulai ketika sudah berumur 12 tahun, maka untuk pertama kalinya Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem dalam rangka perayaan Paskah (Lukas 2:41-50).

41Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. 42Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. 43Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. 44Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. 45Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. 46Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. 47Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. 48Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” 49Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” 50Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. 51Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”

Dengan memperbandingkan Paskah dan Perjamuan Kudus, penganut teologia Perjanjian melihatnya sebagai petunjuk bahwa umur seusia itu merupakan momen penting dimana seseorang sudah mengetahui dengan jelas dan pasti siapa Allah yang disembahnya dan bisa memberikan alasan kenapa harus percaya pada Yesus Kristus. Bila sudah dibaptis semasa bayi, pada usai remaja ia sudah bisa memutuskan untuk mengikuti dan mempercaya Yesus atau sebaliknya. Maka ketika sungguh-sungguh percaya pada Yesus dan mengaku segala dosa-dosanya, ia harus menyatakan hal itu dihadapan jemaat Allah dengan mengikuti ibadah pengukuhan iman. Orang Indonesia suka memakai istilah SIDI (meskipun penulis tidak setuju dengan istilih ini karena tidak mencerminkan hakekat yang sesungguhnya dan lebih memilih memakai istilah pengukuhan iman). Dengan kata lain, seorang peserta Perjamuan Kudus harus sudah terlebih dahulu dibaptis [bagi orang percaya dewasa] atau dikukuhkan imannya jika dibaptis semasa bayi, dan sungguh-sungguh percaya pada Yesus, maka kemudian bisa menjadi peserta dalam sakramen Perjamuan Kudus. Kenapa harus demikian? Karena perjamuan kudus hanya bisa diikuti setiap orang yang sudah sungguh-sungguh percaya pada Yesus dan dibuktikannya dengan baptisan atau pengukuhan imannya. Perjamuan Kudus bukan upacara main-mainan tetapi upacara sakral yang memiliki arti rohani penting. Janganlah kiranya ada orang yang bermain-main dengan sakramen perjamuan kudus atau meremehkannya (1 Korintus 11:29-32).

SEBERAPA PENTINGKAH BAPTISAN ITU?

Mungkin banyak orang tidak begitu memperdulikan hal ini, khususnya mereka yang merupakan generasi kedua dan ketiga Kristen dalam keluarga. Mereka beranggapan baptisan sautu ritual atau serimonial biasa yang dilakukan di gereja atau bahkan ada yang menganggapnya sebagai kegiatan turun-temurun atau kegiatan gereja semata. Tetapi bagi banyak orang Kristen sesungguhnya baptisan kudus merupakan momen terpenting dalam hidupnya dimana mereka mendeklarasikan iman percayanya di hadapan jemaat dan Tuhan, terutama bagi mereka yang merupakan generasi pertama Kristen dalam keluarga. Momen itu begitu berarti karena erat hubungannya dengan pembaharuan yang terjadi dalam hidupnya sebagai seorang yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus. Mereka selalu mengingat waktu dan saat mereka dibaptis.

Namun bagi mereka yang memberi diri dibaptis dengan tanpa pengalaman kelahiran kembali dan pembaharuan terutama mereka yang datang dari keluarga Kristen tidak akan pernah melihat faedah serimonial baptisan. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah menghargai sakramen baptisan. Mereka menganggap baptisan hanya sekedar mengikuti kegiatan gereja karena orangtuanya orang Kristen atau pengurus gereja dalam gereja dan persekutuan. Meskipun para hamba Tuhan dan penatua telah menguji setiap kandidat baptisan untuk memastikan setiap kandidat benar-benar seorang percaya kepada Yesus Kristus yang telah mengalami pertobatan dan kelahiran baru, seringkali gereja tertipu. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak orang yang telah dibaptis di dalam gereja namun sesungguhnya mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus. Bahkan banyak orangtua Kristen tidak memperdulikan kerohanian anak-anaknya, apa benar mereka telah percaya Yesus dan memiliki pengalaman kelahiran baru. Mereka cenderung melihat kedewasaan jasmani dan umur anak-anaknya dan sangat jarang membicarakan aspek keselamatan dan kelahiran baru dengan anak-anaknya. Para orangtua seakan mempercayakan gereja sebagai institusi yang bertanggungjawab untuk memastikan anak-anak percaya pada Yesus padahal waktu yang mereka miliki jauh lebih banyak dibanding dengan waktu yang dimiliki gereja bersama anak-anaknya. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang menjadi permasalahan terbesar yang dialami gereja-gereja saat ini sehingga gereja sering tertipu dengan membaptis orang-orang yang sesungguhnya tidak percaya pada Yesus Kristus.

Tidak terkecuali apa gereja itu denominasi Baptis atau Presbyterian kesalahan-kesalahan seperti ini selalu terjadi. Bahkan kesalahan paling besar terjadi di gereja-gereja tradisional atau gereja-gereja yang memiliki jemaat umat Kristen turun-temurun, baptisan dianggap sebagai keharusan bukan karena telah percaya pada Yesus tetapi karena umur yang semakin dewasa dan sudah siap untuk menikah. Bagi gereja Presbyterian atau Reformed atau sejenisnya bahaya ini semakin besar disebabkan oleh keluarga-keluarga Kristen di dalamnya telah membaptiskan anak-anaknya semasa masih bayi. Meskipun diketahui bahwa baptisan tidak menyelamatkan namun mereka gagal untuk untuk mengklaim janji anugrah Allah untuk anak-anaknya. Mereka gagal mendidik anak-anaknya di dalam Tuhan dan menuntun mereka untuk percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Alhasil ketika serimonial pengukuhan iman (SIDI) diselenggarakan di dalam gereja, hal ini dianggap hanya sebagai upacara biasa yang tidak memiki dampak dan pengaruh dalam hidup anak-anaknya. Padahal sepatutnya serimonial pengukuhan iman hanya bisa diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya serta telah bertobat dan mengalami pembaharuan dalam diri dan hidupnya. Tetapi kenyataannya para orangtua dan gereja-gereja gagal melihatnya dan hanya menerapkan serimonial ini sebagai keharusan bagi setiap anggota gereja yang telah mencapai umur tertentu. Sepanjang pengamatan dan pengetahuan penulis belum pernah ada kadidat pengukuhan iman (SIDI) yang gagal hanya karena hasil wawancara dengan yang bersangkutan diketahui bahwa ia belum percaya pada Yesus Kristus. Namun di gereja-gereja Reformed Presbyterian di Singapura hal seperti sering ditemukan, meskipun telah mengikuti kelas katekisasi selama beberapa bulan sebagai persiapan untuk pengukuhan iman, jika pada akhir pembelajaran di sesi wawancara akhirnya diketahui bahwa kandidat yang bersangkutan tidak percaya pada Yesus maka pengukukan iman akan dibatal dan hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang ingin pindah keanggotaan gereja. Setiap anggota gereja harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan gereja harus berusaha untuk memastikan setiap jemaat sungguh-sungguh percaya pada Yesus meskipun pada kenyataannya gereja sering tertipu. Orang yang kelihatan menunjukkan diri sebagai orang percaya tetapi kenyataannya bukanlah orang percaya. Orang yang kelihatanya sungguh-sungguh telah bertobat dan berubah tetapi kenyataannya lebih buruk dari penganut agama lain. Semua ini akan terjadi di dalam gereja menjelang akhir zaman dan itu merupakan tanda-tanda yang diberikan dalam Alkitab sebagai tanda-tanda akhir zaman. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

28Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. 29Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 30Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 31Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. 32Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya” (Kisah 20:28-32).

Paulus menjelaskan bahwa pengajar-pengajar palsu (mereka yang tidak percaya pada Yesus) akan datang ke tengah-tengah jemaat menunjukkan diri seperti seorang yang pantas jadi hamba Tuhan dan pengajar yang akan mengesankan semua jemaat sehingga menerimanya sebagai pengajar di gereja. Tetapi juga berkata, “bahkan dari antar kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka” (Kisah 20:30). Pernyataan ini sangat menakutkan karena Paulus berbicara kepada para penatua-penatua gereja yang ia sendiri tetapkan sebagai penilik jemaat di gereja Efesus. Jika hal seperti itu bisa terjadi di gereja Efesus, maka di gereja-gereja sekarang ini akan lebih banyak lagi.

Yudas juga menjelaskan hal yang sama dalam suratnya. Ia mengungkapkan bahwa gereja telah disusupi oleh orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum Tuhan. Mereka adalah orang-orang fasik yang tidak percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

3Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.4Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus(Yudas 1:3-4).

Maka tidak mengherankan jika gereja-gereja sekarang ini juga tertipu oleh kejahatan dan kefasikan orang-orang di dalam gereja tentang baptisan, dimana ketika wawancara dengan para kandidat baptisan, mereka mengaku sebagai orang percaya tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Namun ada begitu banyak gereja yang tidak melakukan tugasnya sebagai gereja. Para hamba Tuhan di dalamnya hanya memikirkan jumlah jemaat yang harus bertambah dan semakin besar, tetapi tidak memperhatikan iman dan keselamatan orang-orang yang masuk menjadi anggota gerejanya.

Jika seandainya survei diselenggarakan di berbagai gereja untuk mencari tahu akan tanggapan jemaat tentang pandangan mereka akan pentingnya baptisan bagi mereka, maka tidak akan mengherankan jika kebanyakan jemaat di bergagai gereja tidak akan melihat manfaat baptisan kudus yang telah mereka terima. Tidak banyak umat Kristen yang melihat penerimaan Baptisan Kudus sebagai suatu bukti ketaatan seorang percaya pada Yesus.

Mengacu pada ajaran Firman Allah, Baptisan Kudus merupakan fondasi utama untuk bisa mengikuti sakramen perjamuan kudus. Setiap orang Kristen sudah seharusnya mengerti apa arti kedua sakaremen ini dan apa makna dan manfaatnya bagi kehidupan seorang percaya. Jika seorang percaya mengetahui arti sakramen ini maka ia tidak akan bermain-main dengan sakramen ini atau memiliki pemikiran keliru. Ia akan menghargai baptisan kudus dan berpartisipasi dalam perjamuan Tuhan dengan khidmat dan penuh penyerahan diri. Ia tidak akan beranggapan bahwa Baptisan dan Perjamuan Kudus hanya sekedar upacara keagamaan belaka.

Karena berbagai kesalahan dan kekeliruan tentang sakramen di kalangan kekristenan sekarang ini maka hal krusial yang harus dilakukan adalah menggali kebenaran firman Allah demi mengetahui apa sesungguhnya yang diajarkan Alkitab. Namun sebelum beranjak pada pembahasan yang lebih penting lagi, perlu diketahui bahwa Perjanjian Lama merupakan fondasi dari Perjanjian Baru, maka setiap orang yang ingin mengerti ajaran firman Allah harus melihat Perjanjian Lama dan Baru sebagai satu kesatuan.

Arti Baptisan

Dalam pengakuan iman yang dipercayai Gereja Presbyterian [Reformed] yaitu Pengakuan iman Westminster pasal XXVII ayat 1 dan 4 memberikan rangkuman sebagai berikut:

1Baptisan adalah suatu sakramen Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus. Maksudnya bukan hanya agar pihak yang dibaptis diterima ke dalam Gereja yang kelihatan dengan upacara yang khidmat, melainkan juga supaya baginya baptisan menandakan dan memetraikan perjanjian anugerah, pencangkokannya pada Kristus, kelahiran kembali, pengampunan dosa, dan penyerahan diri kepada Allah, melalui Yesus Kristus, untuk menempuh hidup yang baru. Menurut pesan Kristus sendiri, sakramen ini harus diteruskan dalam Gereja-Nya sampai akhir dunia.”

4Yang harus dibaptis bukan hanya mereka yang nyata-nyata mengikrarkan iman dan kepatuhannya kepada Kristus, melainkan juga kanak-kanak, bila satu orang tua atau keduanya adalah orang percaya.

Baptisan adalah suatu pernyataan umum dihadapan jemaat dan Tuhan bahwa seseorang itu telah sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dan memiliki hidup baru serta Roh Kudus berdiam dan mengerjakan pembaharuan serta pengudusan dalam dirinya. Sedangkan bagi bayi yang dibaptis merupakan pernyataan iman dan penyerahan orangtuanya kepada Kristus bahwa mereka berkeinginan agar anak-anaknya suatu saat nantinya percaya pada Yesus Kristus sama seperti mereka percaya.

Untuk mencapai keinginan ini, para orangtua berjanji dihadapan Tuhan Yesus dan jemaat untuk mendidik anak-anaknya dalam takut akan Kristus dengan mengikutsertakannya dalam berbagai kegiatan rohani seperti Sekolah Minggu, Pendalaman Alkitab, membaca Alkitab, berdoa dan persekutuan-persekutuan dalam gereja karena semua ini akan menuntunnya mengenal dan percaya pada Yesus. Jika tidak menepati janji seperti diikrarkan saat membaptiskan anak-anaknya, maka besar kemungkinan anak-anaknya tidak akan percaya pada Yesus meskipun memiliki identitas sebagai orang Kristen. Inilah yang menjadi pergumulan dan permasalahan keluarga Kristen masa ini. Sebaliknya jika janjinya dipegang teguh dan dilaksanakan, bisa dipastikan dengan kemurahan Allah anak-anaknya akan mengenal dan percaya Kristus.

Baptisan Sebagai Tanda Dan Meterai

Sekarang marilah melihat tentang sakramen sebagai TANDA dan METERAI. Perlu diketahui bahwa BAPTISAN TIDAK MENYELAMATKAN tetapi merupakan SUATU TANDA pekerjaan Allah dalam diri orang yang dibaptis bahwa ia telah percaya pada Tuhan Yesus Kristus dan mengalami pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus. Ia telah bertobat dan memiliki pembaharuan pikiran dan tujuan hidup yang hanya bagi kemulian Kristus.

Baptisan juga merupakan METERAI karena BAPTISAN itu sendiri mengesahkannya sebagai orang percaya karena “ia telah mengenakan Kristus” (Galatia 3:27). Meskipun baptisan tidak menyelamatkan, namun itu merupakan salah satu sakramen yang ditetapkan Kristus agar setiap orang percaya menerima Baptisan Kudus (Matius 28:19). Tidak ada alasan apapun untuk menolak baptisan kudus jika memang sudah benar-benar percaya pada Yesus. Roh Kudus yang ada dalam dirinya akan mendorong dan memotivasinya untuk menerima baptisan kudus. Sebagai bukti ketaatan seorang percaya, ia harus tunduk pada perintah Yesus dengan menerima baptisan kudus dan menaati Yesus seumur hidupnya serta berjanji meninggalkan jalan hidup lama dan mengikuti jalan hidup baru yang diajarkan Kristus.

Singkatnya, baptisan sebagai METERAI berarti mengukuhkan dan mengesahkan iman percaya seseorang pada Yesus di hadapan Allah dan jemaatNya. Itulah sebabnya Baptisan tidak bisa dilakukan tersembunyi atau diam-diam. Baptisan harus dilakukan dihadapan jemaat atau dihadiri beberapa saksi jemaat yang ikut menghadiri upacara sakramen baptisan itu bila orang itu sedang sakit keras di Rumah Sakit. Itu jugalah sebabnya baptisan dilakukan oleh gereja Kristus dan bukan perorangan. Seorang pendeta tidak bisa membaptis dengan sembarangan atau membaptis sesukanya disembarang tempat karena setiap orang yang dibaptis harus menjadi anggota sebuah gereja Kristus. Jadi gereja yang menyelenggarakan baptisan bagi seseorang yang berbaring di rumah sakit harus mengundang beberapa jemaat dan pengurus gereja untuk menghadiri upcara baptisan tersebut dan mereka bertindak sebagai saksi bahwa orang itu telah percaya pada Yesus Kristus dan menjadi anggota jemaat gereja tersebut. Tidak bisa membaptis seseorang lalu kemudian membiarkannya begitu saja tanpa memiliki ikatan keanggotaan gereja karena ketika seseorang menerima baptisan kudus, ia juga berjanji mengikuti ibadah dan kegiatan rohani dalam gereja Kristus bagi pertumbuhan dan kedewasaan imannya.

Perdebatan Tentang Arti BAPTIZO

Setiap denominasi gereja memiliki rangkuman pengakuan iman yang dipercayai. Dalam rangkuman tersebut tertuang penjelasan doktrin atau ajaran yang dipercayai. Meskipun hanya merupakan suatu rangkuman, bukan berarti hanya sebuah tulisan asal-asalan belaka tetapi sesungguhnya merupakan tulisan yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan keyakinan denominasi gereja tersebut berdasarkan pengertiannya tentang ajaran Firman Allah. Itulah sebabnya setiap pengakuan iman yang disusun berbagai denominasi gereja memiliki penekanan yang berbeda-beda dan memiliki pengertian ciri khas denominasi gereja tersebut.

Kali ini kita akan melihat ajaran baptisan kudus dari sudut pandang pengakuan iman Westminister yang merupakan rangkupan pengakuan iman gereja-gereja Presbyterian/ Reformed dimana mayoritas (tidak semua) keyakinan dan kepercayaan mereka tertuang dalam pengakuan ini. Pada Pengakuan Iman Westminster XXLII ayat 3 terdapat penegasan tentang pola baptisan yang dipercayai, berbunyi demikian:

“Menyelamkan orangnya ke dalam air tidak perlu. Cara pelayanan yang tepat ialah dengan mencurahkan atau memercikkan air atas orang itu.”

Kesimpulan ini bukanlah suatu pernyataan tanpa dasar. Kelompok gereja Presbyterian/ Reformed sangat kokoh dalam hal ini. Namun para teolog kelompok denominasi gereja lain tentu menentang dan menolak kepercayaan ini. Seperti telah diungkapkan diawal artikel ini salah satu alasan perbedaan itu didasari pada sistem teologia yang dianut berbeda-beda.

Pada umumnya kelompok yang menentang keyakinan denominasi Presbyterian akan mengambil tulisan T. J Conant tentang BAPTIZEIN dalam mendukung argumentasinya dengan mengatakan bahwa kata “baptizo” dalam bahasa Yunani klasis selalu memiliki arti “Selam.” Penekanan ini bukan hanya terjadi di masa sekarang tetapi sudah terjadi paling sedikitnya 500 tahun terakhir. Namun pada kenyataannya kesimpulan T. J Conant bukan merupakan akhir dari perdebatan pola baptisan karena fakta membuktikan bahwa beberapa kejadian dalam Alkitab kata “baptizo” tidak selalu berarti SELAM tetapi juga bisa berarti MENCUCI, MEMBASUH, MENCURAHKAN dan MEMERCIKKAN.

Sebagai pertimbangan, para pembaca bisa melihat beberapa contoh dibawah ini dan menelitinya dengan segala kerendahan hati.

Pertama, SEPTUAGINTA (Alkitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani sekitar tahun 200 SM) dalam 2 Raja-Raja 5:14

“Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir” (2 Raja-Raja 5:14).

Konteks ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Elisa meminta raja NAAMAN yang sakit kusta untuk pergi ke sungai Yordan mencuci tubuhnya tujuh kali. Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkannya dengan “membenamkan” namun dalam bahasa Yunani, kata “baptizo” yang dipakai di sini bukan hanya “menyelamkan” tetapi juga dengan pengertian MENCUCI TUBUHNYA YANG BERPENYAKIT KUSTA. Sesungguhnya kita tidak tahu bagaimana sebenarnya kebiasaan orang mencuci tubuh di masa itu. Karena itu, tidak bisa disimpulkan bahwa BAPTIZO dalam konteks ayat diatas hanya berarti selam. Meskipun Septuaginta hanya sebagai kitab terjemahan, namun hal ini memberikan suatu gambaran penggunaan kata BAPTIZO di masa itu.

Kedua, Dalam Lukas 11:38 kita juga menemukan kata “baptizo” di mana orang-orang Farisi melihat Yesus tidak mem-BAPTIZO tangannya sebelum makan.

“Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heren karena Yesus tidka mencuci tangan-Nya sebelum makan” (Lukas 11:38)

Kata “baptizo” di sini tentu bukan berarti hanya sekedar mencelupkan atau menyelamkan tangan ke dalam air sebelum makan. Namun arti kata “baptizo” di sini adalah “MENCUCI atau MEMBERSIHKAN” dan bukan menyelamkan semata. Bagaimana pola mencuci atau membersihkan tangan sebelum makan pada masa itu? Tak seorangpun yang tahu secara pasti dan detil. Namun yang bisa disampaikan, tangan harus dicuci hingga bersih dan tidak ada kotoran menempel pada tangan ketika mau makan. Hingga saat ini, kebiasaan ini juga dilakukan berbagai lapisan masyarakat dunia. Hanya saja, masa modern sekarang ini, kebanyakan orang tidak lagi makan menggunakan tangan tetapi menggunakan alat bantu seperti sedok, garpu dan sumpit.

Ketiga, Dalam Markus 7:4 kata “baptizo” kembali ditemukan.

“Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.”

Pada ayat diatas ada dua kali kata “baptizo” dipakai yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia dengan dua kata berbeda yaitu “membersihkan” dan “mencuci.” Pemakaian kata “baptizo” pertama diterjemahkan dalam arti umum dimana hanya diberikan penjelasan untuk “membersihkan” dan tidak memberikan penjelasan bagaimana pola yang dipakai untuk “membersihkan” diri.

Sementara untuk pemakaian kata “baptizo” kedua berhubungan dengan membersihkan cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan kata ini dengan “mencuci.” Sekali lagi mencuci atau membersihkan kendi dan perkakas-perkakas tembaga tidak hanya sekedar mencelupkan atau menyelamkan perkakas tersebut ke dalam aiar tetapi melibatkan cara dan tekhik membersihkan. Dengan kata lain kata “baptizo” tidak secara eksplisit berarti “selam” di sini karena kita juga tahu hingga sekaragn ini, tidak semua hal bisa dibersihkandengan cara mencelupkan atau menyelamkan saja. Ada suatu tindakan yang lebih dari itu agar mencapai maksud dan tujuan yang diinginkan.

Keempat, Dalam Galatia 3:27 kata “baptizo” di ayat ini jelas-jelas sangat tidak mungkin berarti SELAM atau CELUP karena tidak ada orang percaya diselamkan ke dalam Kristus Yesus.

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Galatia 3:27).

Kelima, dalam 1 Korintus 10:2 kata “baptizo” juga dipakai dan bisa dipastikan bahwa umat Israel yang menyeberang laut merah tidak mungkin diselam tetapi justru pasukan tentara Mesir diselam dan binasa. Umat Israel yang melewati laut merah tidak diselam tetapi kena percikan air laut merah tersebut.

“Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut” (1 Korintus 10:2).

Keenam, dalam Ibrani 9:10 kata “baptizo” juga dipakai dan tidak mungkin memiliki arti selam.

“Karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan” (Ibrani 9:10).

Ayat-ayat di atas memberikan petunjuk bahwa kata “baptizo” tidak selalu memiliki arti selam tetapi juga berarti “mencuci,” “membersihkan,” dan “memercikkan.”

PENYIMPANGAN ARTI BAPTISAN

Sepertinya perdebatan tentang pola baptisan bukan hanya sekedar perbedaan tafsiran atau pandangan tentang bagaimana seseorang dibaptis. Hal ini terbukti dari sikap kelompok gereja tertentu terhadap kelompok gereja yang mengadopsi pola baptisan berbeda dengan yang dianutnya. Apa yang menjadi inti perdebatan sesungguhnya?

Hampir semua kelompok gereja yang mengakui Alkitab sebagai Firman Allah mempercayai bahwa baptisan tidak menyelamatkan karena Alkitab tidak pernah memberikan indikasi bahwa baptisan menyelamatkan orang yang dibaptis. Namun ironisnya, pada kenyataan sehari-hari, ada kelompok gereja yang beranggapan jika seseorang tidak dibaptis dengan pola yang mereka anut, orang itu bukan orang percaya, ia masih hidup dalam dosa dan belum memiliki Kristus. Ketika seseorang pindah keanggotaan gereja dari satu gereja yang tidak mempraktekkan selam misalnya, ke gereja yang mengadopsi selam, orang itu diharuskan dibaptis ulang walaupun sudah menjadi seorang Kristen dewasa dan sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen setia. Dia dibaptis ulang bukan karena belum percaya pada Yesus tetapi karena dibaptis dengan pola berbeda.

Secara tidak langsung kelompok gereja seperti ini sebenarnya mempercayai bahwa baptisan itu menyelamatkan, dan pola baptisan yang dianut juga menyelamatkan. Jauh dalam hati mereka yang paling dalam mereka mempercayai bahwa baptisan itu menyelamatkan meskipun pada kenyataannya demi menghindari olokan sebagai kelompok “sesat” dengan terpaksa harus menyatakan bahwa baptisan tidak menyelamatkan. Tidak ada salahnya mengadopsi pola baptisan selam atau percikan, tetapi akan menjadi salah dan sesat jika mempercayai baptisan atau pola baptisan bisa menyelamatkan karena tak satupun ayat Alkitab yang mendukung ajaran ini. Jika sebelumnya seseorang itu tidak percaya pada Yesus meskipun sudah dibaptis di gereja asalnya, adalah hal yang benar jika harus dibaptis kembali karena baptisan sebelumnya tidak memiliki makna meskipun mengatasnamakan Yesus Kristus.

Biasanya pada kelas katekisasi/peralihan keanggotaan, fakta seseorang itu percaya pada Yesus atau tidak akan terungkap dalam diskusi dan wawancara. Namun jika sudah percaya dan dibaptis pada gereja Kristus, akan sangat tidak beralasan membaptisnya kembali hanya karena pola baptisan yang diterapkan berbeda. Gereja yang menerapkan pola seperti akan lebih baik mengumumkan kepada jemaatnya bahwa baptisan selam menyelamatkan dan jika tidak dibaptis selam tidak akan masuk sorga!

Jadi bisa disimpulkan bahwa pola baptisan selam atau percik adalah dua pola baptisan yang dipraktekkan gereja Kristus. Yang terpenting adalah orang itu percaya pada Yesus dan dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19), maka orang itu harus diterima bahwa baptisannya benar meskipun dibaptis dengan pola selam atau percik. Tetapi mengingat sebuah gereja harus memilih pola yang paling dipercayai, maka sebuah gereja tidak bisa mengadopsi dua pola baptisan sekaligus. Biasanya suatu denominasi gereja akan mencantumkan dalam rangkuman pengakuan iman mereka tentang pola baptisan yang dianut.

PERBANDINGAN POLA BAPTISAN DAN POLA PERJAMUAN KUDUS

Seperti diketahui baptisan kudus merupakan satu dari dua sakramen yang ditetapkan Kristus namun di sepanjang sejarah gereja pola baptisan kudus selalu memperdebatkan. Penulis merasa perlu untuk memperbandingkan pola baptisan dengan pola perjamuan kudus yang dianut gereja saat ini. Hal ini dirasa penting karena baik baptisan dan perjmuan kudus merupakan dua sakramen yang ditetapkan Allah dimana memiliki kesetaraan bobot dan manfaat. Gereja-gereja yang menganut baptisan selam tidak henti-hentiknya memperdebatkan pola baptisan dengan alasan mereka menganut pola baptisan Yesus, meskipun sebenarnya tidak mengetahui dengan pasti pola baptisan yang terima Yesus saat Dia dibaptis. (Lihat pembahasan topik ini di bagian bawah artikel ini).

Perbedaan pola baptisan sering dijadikan gereja tertentu menjadi tolak ukur gereja Alkitabiah. Ada gereja yang beranggapan semua penganut baptisan percik sesat dan hanya penganut baptisan selam yang benar dan akan masuk sorga, sehingga ia menghimba semua orang percaya harus meninggalkan gereja-gereja penganut percik dan bergabung dengan gerejanya sebagai satu-satunya gereja yang benar dan Alkitabiah. Gereja seperti ini dengan mudahnya menuduh gereja-gereja lain sesat hanya karena tidak sepaham dengannya seakan-akan pelayan-pelayan gerejanya sebagai penafsir agung dan sempurna yang tidak akan pernah melakukan kesalahan atau kekeliruan. Sikap kerendahan hati sangat dibutuhkan bagi setiap penafsir firman Allah. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kehati-hatian dalam memberikan kesimpulan karena kesimpulan yang dibuat pemimpin gereja akan diikuti oleh jemaatnya.

Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan pola sakramen Perjamuan Kudus? Bisa dipastikan, pola Perjamuan Kudus diberbagai gereja berbeda-beda. Ada gereja yang menyelenggarakan Perjamuan Kudus satu atau dua kali dalam setahun. Ada juga gereja yang menyelenggarakannya satu kali dalam sebulan seperti kebanyakan gereja Presbyterian/ Reformed. Namun ada juga gereja yang menyelenggarakannya setiap hari minggu seperti gereja-gereja Brethren (Persaudaraan).

Mungkin bagi banyak orang Kristen, seberapa sering pelaksanaan Perjamuan Kudus bukanlah suatu permasalahan. Namun bagiamana dengan pola pelaksanaannya? Apakah juga harus mengikuti pola Perjamuan Kudus yang dilakukan Yesus? Bagaimana sebenarnya pola Perjamuan Kudus yang dilakukan Yesus saat itu? Jika diadakan suatu penjajakan di berbagai gereja bisa dipastikan pola pelaksanaan Perjamuan Kudus pasti berbeda antara satu dengan gereja lainnya. Gereja Presbyterian/ Reformed pada umumnya melihat perlunya suatu efisiensi dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus sehingga yang dilakukan tiap peserta perjamuan menerima cawan masing-masing dan kemudian secara bersama-sama meminumnya sesuai dengan petunjuk dari hamba Tuhan yang memimpin perjamuan itu.

Pada gereja tertentu pelaksanaan Perjamuan Kudus ditetapkan jumlah cawan yang dipakai harus 12 cawan sesuai dengan jumlah murid Tuhan Yesus. Keduabelas cawan ini dipakai secara bergilir oleh seluruh jemaat. Coba bayangkan jika jumlah jemaatnya sebanyak 3.000 orang dan harus mengikuti Perjamuan ini secara bergilir dengan 12 cawan, berapa banyak waktu yang harus dipakai? Apakah gereja ini juga beranggapan telah mengikuti pola yang dilakukan Yesus? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mungkin yang perlu ditanyakan adalah apakah murid-murid Yesus memiliki cawan masing-masing atau hanya memiliki satu cawan yang dipakai secara bergilir ketika melakukan Perjamuan Kudus? Jika tidak memiliki jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini, maka tak satu pun yang bisa mengatakan pola Perjamuan Kudus yang dikakukan suatu gereja merupakan pola yang dipakai Yesus. Yang jelas, tidak ada yang tahu dan tidak ada catatan dan rekaman kegiatan pola Perjamuan Kudus yang dilakukan Yesus saat itu. Alkitab hanya mencatat bahwa Tuhan menetapkan sakramen Perjamuan Kudus untuk dilakukan gerejaNya sesering mungkin. Tentang pola pelaksanaannya, sepenuhnya merupakan kebijakan dan keyakinan suatu gereja. Namun yang terpenting inti dan makna sakramen perjamuan kudus itu harus sama meskipun diselenggarakan dengan cara atau pola yang berbeda. Makna perjamuan kudus jangan sekali-kali melenceng dari apa yang ditetapkan dalam Firman Allah.

Bagaimana dengan jenis anggur (minuman) yang dipakai, apakah harus sama seperti yang dipakai Yesus dan murid-muridNya? Ada kelompok gereja tertentu beranggapan dan menekankan untuk memakai jenis anggur murni beralkohol dengan alasan Yesus memakai jenis anggur seperti itu. Ada juga yang memakai minuman anggur tidak beralkohol dengan alasan anggur masa itu merupakan minuman sehari-hari yang diperas dari buah anggur. Banyak perbedaan pola pelaksanaan Perjamuan Kudus saat ini dan pasti memiliki perbedaan dengan pola yang dilakukan Yesus.

Bagaimana pula dengan roti Perjamuan Kudus yang pakai masa Tuhan Yesus, apakah masih harus sama hingga sekarang ini? Jika semua harus sama dengan jenis bahan roti yang dipakai, maka gereja saat ini akan mengalami kesulitan dan pergumulan serta bisa dipastikan gereja di berbagai Negara tidak akan bisa mengikutinya karena berbagai kendala dan keadaan. Suatu gereja miskin yang terletak di pedalaman dan jauh dari beradapan, kemakmuran dan kemewahan kota hanya memakai air putih sebagai pengganti anggur dalam perjamuan kudus. Hal-hal seperti ini akan selalu ditemukan di berbagai daerah. Namun yang terpenting, meskipun cara gereja-gereja melakukan Perjamuan Kudus berbeda-beda, gereja Kristus harus memastikan bahwa Perjamuan Kudus itu memiliki arti dan makna yang sama seperti yang diajarkan Yesus dalam Kitab Suci.

Jika pola Perjamuan Kudus yang diselenggarakan gereja-gereja tidak dipermasalahkan, kenapa pola Baptisan menjadi suatu perdebatan sengit selama 500 tahun terakhir? Kenapa ada gereja yang merasa pola baptisan yang dianutnya merupakan pola yang paling alkitabiah dan pola lain salah dan sesat? Bukankah bobot dan nilai kedua sakramen: baptisan dan perjamuan kudus itu sama di mata Tuhan? Dengan penuh keyakinan, kita harus menyimpulkan bahwa kedua sakramen ini memiliki bobot dan nilai yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi dan penting dari yang lainnya, keduanya merupakan perintah Kristus yang harus dilakukan gereja. Jika memang demikian, kenapa banyak gereja mempermasalahkan pola baptisan namun tidak mempersoalkan pola Perjamuan Kudus yang juga memiliki banyak perbedaan di berbagai gereja? Janganlah menonjolkan yang satu dan mengabaikan yang lain.

Perdebatan pola baptisan yang terjadi dalam sejarah gereja hanyalah menunjukkan bahwa gereja-gereja itu terdiri dari orang-orang berdosa yang hanya diselamatkan oleh anugerah Allah semata. Ada keegoisan dan kesombongan yang menguasai diri setiap manusia.

Perlu disimpulkan bahwa kita harus mempercayai bahwa Baptisan Kudus harus diberikan kepada orang-orang yang sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya apakah melalui pola selam atau percik (sesuai dengan keyakinan gerejanya) tidak menjadi soal, asalkan dibaptis dengan air dan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, Baptisannya sah dan benar. Namun suatu gereja harus memilih satu pola yang paling dipercayai untuk dianut dalam setiap upacara sakramen baptisan kudus dengan tanpa mempersoalkan pola yang dianut gereja lain.

POLA PENYUCIAN DAN PENGUDUSAN DI PERJANJIAN LAMA

Untuk mengetahui pola baptisan yang diterapkan Yohanes Pembaptis kepada ribuan orang Israel, perlu mengetahui latarbelakang singkat kebiasaan pola pengudusan atau penyucian yang dilakukan umat Yahudi di Perjanjian Lama hingga masa Yohanes Pembaptis. Dalam hal ini tentu tidak bisa mengabaikan tata bahasa, konteks sejarah dan kultural masa penulisan suatu ayat. Jika mengabaikannya, maka arti suatu ayat bisa beragam, sementara yang diinginkan adalah arti ayat itu ketika disampaikan penulis/pembicaranya dan yang bisa dimengerti penerima berita itu. Mari menerapkan konsep ini dalam menyelidiki pola baptisan yang dipakai Yohanes Pembaptis.

Jika membaca catatan firman Allah tentang Yohanes Pembaptis, kita tidak menemukan ada sanggahan atau larangan tentang pembaptisan yang dilakukannya baik dari pihak ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka sepertinya menerima pengajaran itu dan tidak mempermasalahkan pembaptisan yang dilakukan meskipun ada ribuan orang datang untuk dibaptis. Apa yang membuat Yohanes Pembaptis bisa diterima umat Yahudi? Jawabannya adalah karena Yohanes Pembaptis memberitakan berita pertobatan dan mengajar mereka kembali kepada ajaran Firman Allah. Itu berarti apa yang dipraktekkannya bukan sesuatu yang bertentangan dengan pola yang diajarkan di Perjanjian Lama. Yohanes Pembaptis ingin menegakkan ajaran dan kebenaran firman Allah. Namun harus diakui, ia juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk menegur siapa saja yang melakukan dosa tak terkecuali seorang raja sekalipun, Ia memintanya untuk bertobat.

Berdasarkan fakta di atas, baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis merupakan baptisan pertobatan. Oleh karena itu baptisan melambangkan penyucian atau pengudusan. Yang perlu diketahui, bahwa kebiasaan dan tradisi pola penyucian dan pengudusan bagi orang Yahudi di Perjanjian Lama hanya melalui percikan atau pencurahan. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel tidak mengenal pola selam untuk melambangkan penyucian/pengudusan tetapi dengan percikan atau penumpahan dari atas kepala turun ke seluruh tubuhnya. Ketika seorang Imam Besar mempersembahkan korban bakaran, ia juga mengambil dan memercikkan darah domba yang disembelih itu untuk tujuan upacara penyucian.

Coba perhatika beberapa nats Alkitab yang memberikan gambara penyucian di Perjanjian Lama.

5Imam harus memerintahkan supaya burung yang seekor disembelih di atas belanga tanah berisi air mengalir. 6Tetapi burung yang masih hidup haruslah diambilnya bersama-sama dengan kayu aras, kain kirmizi dan hisop, lalu bersama-sama dengan burung itu semuanya harus dicelupkannya ke dalam darah burung yang sudah disembelih di atas air mengalir itu. 7Kemudian ia harus memercik tujuh kali kepada orang yang akan ditahirkan dari kusta itu dan dengan demikian mentahirkan dia, lalu burung yang hidup itu haruslah dilepaskannya ke padang” (Imamat 14:5-7).

“Beginilah harus kaulakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa, kemudian haruslah mereka mencukur seluruh tubuhnya dan mencuci pakaiannya dan dengan demikian mentahirkan dirinya” (Bilangan 8:7).

13Setiap orang yang kena kepada mayat, yaitu tubuh manusia yang telah mati, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, ia menajiskan Kemah Suci TUHAN, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari Israel; karena air pentahiran tidak disiramkan kepadanya, maka ia najis; kenajisannya masih melekat padanya. 14Inilah hukumnya, apabila seseorang mati dalam suatu kemah: setiap orang yang masuk ke dalam kemah itu dan segala yang di dalam kemah itu najis tujuh hari lamanya; 15setiap bejana yang terbuka yang tidak ada kain penutup terikat di atasnya adalah najis. 16Juga setiap orang yang di padang, yang kena kepada seorang yang mati terbunuh oleh pedang, atau kepada mayat, atau kepada tulang-tulang seorang manusia, atau kepada kubur, orang itu najis tujuh hari lamanya. 17Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. 18Kemudian seorang yang tahir haruslah mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam air itu dan memercikkannya ke atas kemah dan ke atas segala bejana dan ke atas orang-orang yang ada di sana, dan ke atas orang yang telah kena kepada tulang-tulang, atau kepada orang yang mati terbunuh, atau kepada mayat, atau kepada kubur itu; 19orang yang tahir itu haruslah memercik kepada orang yang najis itu pada hari yang ketiga dan pada hari yang ketujuh, dan pada hari yang ketujuh itu haruslah ia menghapus dosa orang itu; dan orang yang najis itu haruslah mencuci pakaiannya dan membasuh badannya dengan air, lalu ia tahir pada waktu matahari terbenam. 20Tetapi orang yang telah najis, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, orang itu harus dilenyapkan dari tengah-tengah jemaah itu, karena ia telah menajiskan tempat kudus TUHAN; air pentahiran tidak ada disiramkan kepadanya, jadi ia tetap najis” (Bilangan 19:13-20).

Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mazmur 51:7).

“Aku akan mencurahkan (memercikkan – sprinkle) kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu” (Yehezikiel 36:25).

Ayat-ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru juga memberikan penjelasan tentang penyucian:

“Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5).

5Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 6yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita” (Titus 3:5-6).

13Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, 14betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” (Ibrani 9:13-14).

“Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat” (Ibrani 9:19).

“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan [spinkle] dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh [baptized] dengan air yang murni” (Ibrani 10:22).

Apa hubungan kebiasaan pola penyucian yang dilakukan orang Yahudi dengan pola baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis? Jika Yohanes mengerti firman Allah Perjanjian Lama maka pola penyucian atau pengudusan yang dilakukannya adalah pola percikan atau penumpahan air ke atas kepala orang yang dibaptis.

Kita juga harus mengingat bahwa Yohanes Pembaptis merupakan keturunan Lewi yang tinggal di lingkungan para imam-imam dan mengikuti semua kegiatan Bait Allah termasuk ritual penyucian/pengudusan yang merupakan kebiasaan dan tradisi orang Yahudi yang dipraktekkan di Bait Allah ketika ia tinggal bersama orangtuanya. Bisa dipastikan, ia sangat mengerti apa yang merupakan perintah Allah yang dicatat dalam Perjanjian Lama. Kita juga mengetahui bahwa ayah Yohanes Pembaptis seorang mantan imam besar di Bait Allah. Jika apa yang dilakukannya bertentangan dengan kebiasaan Perjanjian Lama di masa itu maka pemimpin-pemimpin agama di masa itu pasti melakukan perlawanan seperti yang mereka lakukan kepada Yesus Kristus. Para pemimpin agama: Farisi, saduki dan ahli-ahli Taurat masa itu menilai Yesus Kristus telah melakukan dan mengajarkan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan agama Yahudi.

PEMBAPTISAN YESUS: SELAM ATAU PERCIK

Seperti diketahui, pola baptisan selam sering digembor-gemborkan sebagai pola alkitabiah karena pola itulah yang dilakukan Yohanes Pembaptis ketika membaptis Tuhan Yesus. Tetapi yang menjadi pertanyaan, adakah ayat mutlak yang menjelaskan pola baptisan yang diterapkanya? Apa benar ia membaptis dengan menyelamkan ke sungai Yordan? Ataukah ia membaptis dengan memercikkan atau menumpahkan air ke atas kepala? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tentu tidak terlepas dari catatan-catatan kejadian di saat pembaptisan Yesus seperti yang dicatat dalam keempat Injil (Mat 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yoh 1:32-34).

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pembaptisan Yesus.

Pertama, Yohanes pembaptis adalah anak Zakaria, mantan Imam Besar (Lukas 1:5) pada saat kelahiran Yesus. Dia keturunan Lewi, yang mana hidup dan berada dalam lingkungan Bait Allah yang setiap saat bisa melihat dan mengamati apa yang dilakukan pemimpin agama saat itu dan orang-orang Israel ketika datang ke Bait Allah untuk disucikan dan dikuduskan dihadapan Allah. Bagi orang Lewi dan suku Israel, pola penyucian seperti yang disampaikan raja Daud dalam Mazmur 51:9 merupakan kebiasaan dan tradisi di Perjanjian Lama.

“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir.”

Ayat di atas tidak ada hubungannya dengan menyelamkan atau mencuci tubuh seseorang. Kata “bersihkan” tidak berarti diselam, atau dicuci tetapi menunjuk dan melambangkan suatu pola penyucian atau pengudusan yang dilakukan dengan memercikkan hisop. Melihat latarbelakang Yohanes sebagai orang Lewi, sangat tidak mungkin membaptis umat Israel dengan cara selam karena pola selam bukan pola penyucian yang biasa diterima umat Israel.

Satu hal penting yang perlu diketahui bahwa umat Israel yang dibaptis Yohanes saat itu masih terus beribadah di Bait Allah dan di Sinagoge (rumah ibadah). Dengan kata lain, praktek penyucian yang dilakukannya merupakan sesuatu yang bisa diterima para pemimpin agama Yahudi dan Bait Allah masa itu. Penyucian yang diterima umat Israel tidak pernah menjadi persoalan bagi orang Yahudi. Jika pola itu bisa diterima umat Yahudi dan Bait Allah, maka satu-satunya pola yang bisa disimpulkan adalah pola percikan atau penumpahan air.

Kedua, kita perlu memperhatikan Matius 3:15-16 yang mencatat saat-saat Yesus dibaptis. Secara khusus, perhatikan ayat 16, berbunyi demikian,

“sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air.”

Di sinilah letak perdebatan dan perbedaan tafsiran para teolog. Baik pendukung pola selam dan percikan memberikan penjelasan masing-masing tentang ayat ini. Namun harus diakui, jika ayat diatas dibaca seseorang yang netral (yang tidak memiliki posisi pada pola baptisan tertentu) atau yang tidak memiliki prasupposisi tentang baptisan, ia akan melihat bahwa ayat di atas sungguh-sungguh tidak memberikan atau mengajarkan suatu pola baptisan tertentu. Ayat itu hanya memberitahukan bahwa setelah Yesus dibaptis (entah itu selam atau percik), Ia segera keluar dari air. Artinya pernyataan di atas hanya memberitahukan apa yang dilakukan Yesus sesuah Ia dibaptis.

Namun karena adanya suatu asumsi (prasupposisi) keyakinan seseorang tentang pola baptisan, maka frase “keluar dari air” dianggap menjadi frase penting untuk mendukung keyakinannya. Kelompok yang mendukung pola baptisan selam akan berkata bahwa frase “keluar dari air” itu menunjuk pada saat Yesus keluar dari dalam air (baptisan selam) dimana tadinya kepala dan tubuhNya terbenam di dalam air lalu kemudian Ia berdiri dan keluar dari dalam air. Biasanya argumentasi seperti ini hanya diutarakan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengertian teologi mapan atau mereka yang tidak mencicipi pendidikan teologia secara sistematis.

Kedengarnya penjelasan seperti diatas sepintas sangat masuk akal dan siapapun yang membacanya akan mencoba membayangkan proses pelaksanaan baptisan tersebut. Namun pengertian atau tafsiran “keluar dari air” sedemikian tidak memberikan arti sesungguhnya frase itu. Penjelasan sedemikian akan semakin mempersulit penganut pola selam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul berikutnya.

Seperti yang sudah disampaikan diawal artikel ini, untuk mengerti suatu ayat Firman Allah dengan baik harus diartikan menurut konteks ayat itu. Konteks menentukan arti (Context determines the meaning). Oleh karena itu, perhatikanlah pernyataan atau kalimat sebelumnya, “Yesus segera keluar dari air.” Ada kalimat yang berbunyi, “sesudah dibaptis.” Apa arti pernyataan ini? Bukankah kalimat ini memberitahukan bahwa upacara baptisan sudah selesai, baru kemudian Tuhan Yesus bergegas “keluar dari air”? Inilah kronologis yang masuk akal. Namun jika mempertahankan pola penafsiran diatas, maka pertanyaan selanjutnya adalah, kapankah suatu baptisan bisa dikatakan sudah selesai? Penganut pola selam bisa menjawab dan kemudian melihat urutan kejadian yang disampaika ayat di atas.

Pertimbanan lain bisa dilihat dari bahasa Yunani untuk frase “keluar dari.” Ada 2 jenis kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan “from” atau “dari, keluar dari.” Kata pertama adalah, “ek” yang diterjemakan dalam bahasa Inggris sebagai “from” dan “out of” dan kata kedua, “apo” diterjemahkan sebagai “from” dan “away from.” Sekilas kedua kata ini memiliki persamaan apalagi dalam pemakaian sehari-hari sering hanya diterjemahkan dengan kata “from.” Namun faktanya kedua kata ini memiliki perbedaan signifikan. Kata “ek” memiliki ekspresi dimana keluar dari satu tempat, titik, dan ruang menuju tempat lain. Sementara kata “apo” memiliki ekspresi dimana keluar atau menjauh dari satu tempat menuju tempat lain. Matius dalam Matius 3:16 tidak memakai kata “ek” tetapi kata “apo” untuk kata “keluar dari.” Ini memberikan implikasi bahwa ketika Matius menuliskan ayat ini, “sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air” itu berarti Yesus keluar dari air meninggal sungai tempat Ia dibaptis dan bergegas menuju daratan.

Berdasarkan analisa di atas bisa disimpulkan bahwa pernyataan, “Yesus segera keluar dari air” menunjuk pada kejadian dimana Yesus meninggalkan sungai Yordan itu setelah upacara baptisan selesai. Dengan kata lain, pola baptisan selam bukanlah sesuatu yang ditekankan di sini karena ayat diatas tidak memberitahukan pola baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis.

Perlu diketahui bahwa Yohanes Pembaptis memakai sungai Yordan sebagai tempat membaptisan bukan semata-mata agar bisa menyelamkan orang-orang yang mau dibaptis tetapi karena memang ia melakukan pelayanan di sekitar gurun pasir dekat sungai Yordan dan orang banyak datang kepadanya. Itulah kuasa kebangunan rohani yang dimiliki Yohanes Pembaptis, dimana Roh Kudus menggerakkan hati manusia berdosa untuk datang kepadanya dan mendengarkan Firman Allah. Di samping pelayanannya berdekatan dengan sungai Yordan, sugai Yordan juga dipakai karena merupakan satu-satunya sungai di Israel yang memiliki volume air cukup untuk membaptis ribuan umat Israel.

Mengingat banyaknya (ribuan) orang Israel yang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis, menumpahkan atau memercikkan air ke atas kepala merupakan pola yang masuk akal. Pola ini juga tidak bertentangan dengan pola penyucian yang dilakukan di Perjanjian Lama. Lagi pula harus diingat bahwa Yesus tidak memiliki dosa untuk disucikan atau dikuduskan. Untuk itu kita perlu perhatikan apa disampaikan Yesus dalam Matius 3:15,

“Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah.”

Apa yang dimaksud dengan “menggenapi seluruh kehendak Allah”? Kehendak Allah yang mana yang dimaksud di sini namun tetap berhubungan dengan konteks baptisan dan penyucian? Jika mempertimbangkan keseluruhan kejadian itu kita hanya bisa menyimpulkan bahwa kehendak Allah yang dimaksud di sini berhubungan dengan ajaran yang dicatat dalam Perjanjian Lama yaitu penyucian atau pengudusan, karena Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat.

Namun yang menjadi pertanyaan, adakah ayat spesifik dalam kitab Perjanjian Lama yang berbica tentang penyucian atau pengudusan Mesias? Secara eksplisit Alkitab tidak mencatat hal ini, namun demikian satu hal yang perlu diketahui bahwa kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk menggenapi hukum Taurat dan sekaligus menggenapi perananNya dalam menegakkan hukum Taurat. Apa peranan Yesus dalam menegakkan hukum Taurat? YESUS adalah IMAM BESAR. Untuk menjadi imam besar satu hal yang harus dilakukan adalah peresmian (innaugration) atau pentahbisanNya sebagai Imam Besar. Pemangku jabatan Imam Besar harus memiliki umur 30 tahun dan Yesus memenuhi syarat itu. Deklarasi Keimaman Yesus diberitahukan keapda umat Israel melalui pengurapanNya sebagai Imam Besar. Jika Yesus tidak memiliki dosa yang harus diakui sehingga Ia harus dibaptis maka, pembaptisan Yesus SESUNGGUHNYA HANYA BERHUBUNGAN DENGAN PENTAHBISAN DAN PERESMIANNYA SEBAGAI IMAM BESAR.

Jika pembaptisan Yesus merupakan pentahbisan seorang Imam Besar untuk memangku jabatan itu, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seorang Imam Besar ditahbiskan? Melihat tradisi Pernjanjian Lama (dan masa Yesus dibaptis juga masih dikategorikan masa Perjanjian Lama) maka pentahbisan dilakukan dengan menumpahkan minyak atau air dari atas kepala turun ke seluruh tubuhnya. Bisa diasumsikan ketika Yohanes membaptis Yesus ia melihat peranan Yesus sebagai Imam Besar dan bukan seperti seseorang yang sama dengan orang Yahudi lainnya. Pentahbisan seorang Imam Besar tidak pernah diselam. Setelah menerima pentahbisan sebagai Imam Besar maka Yesus memulai pelayanan di bumi ini sebagai utusan Allah.

Oleh karena itu, berdasarkan analisa diatas bisa disimpulkan bahwa pola baptisan kudus yang dipakai Yohanes Pembaptis ketika membaptis Yesus dan orang-orang Israel tidak memakai pola baptisan selam tetapi justru sebaliknya, pola baptisan percik atau penumpahan air merupakan pola yang lebih tepat dan masuk akal karena berhubungan erat dengan pola penyucian atau pengudusan yang diajarkan dan dipraktekkan di Perjanjian Lama.

Murid-Murid Yesus Membaptis

Tahukan bahwa Yohanes 4:1-2 mencatat bahwa murid-murid Yesus pada masa pelayananNya juga melakukan pembaptisan? Perhatikan ayat ini,

“Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes – meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya.”

Ayat ini menjelaskan murid-murid Yesus membaptis orang-orang Israel pada masa itu bahkan orang-orang Farisi mendengar bahwa orang-orang yang dibaptis murid-murid Yesus jauh lebih banyak dibanding dengan orang yang dibaptis Yohanes Pembaptis. Namun demikian Alkitab tidak mencatat pola baptisan mana yang diadopsi murid-murid Yesus. Alkitab juga tidak menjelaskan dimana mereka melakukan baptisan dan yang pasti kita tidak pernah menemukan satu ayat firman Allah yang menyatakan bahwa murid-murid Yesus membaptis di sungai Yordan.

Satu hal yang bisa disimpulkan bahwa hal ini memberikan petunjuk bahwa murid-murid Yesus membaptis di mana saja ada air yang cukup untuk membaptis. Jika memperhatikan kronologis pelayanan Yesus, Alkitab tidak pernah mencatat suatu kejadian dimana Yesus bersama murid-muridNya berhenti di Sungai Yordan untuk melakukan pembaptisan meskipun kita menemukan beberapa kali Yesus menyeberangi sungai Yordan bersama murid-muridNya. Oleh karena itu, pola baptisan percik atau penumpahan air sangat mungkin sebagai pola baptisan yang dipakai saat itu jika pembaptisan dilakukan di tempat yang berbeda dari sungai Yordan (karena sungai Yordan merupakan satu-satunya sungai yang memiliki volume air cukup untuk menyelamkan orang).

Baptisan Kudus Pada Hari Pentakosta

Kisah yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah gereja mula-mula adalah pertobatan 3.000 orang pada hari Pentakosta. Kisah Para Rasul 2:41 mencatat demikian,

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”

Jika memperhatikan catatan hari Pentakosta, Petrus berkhotbah dengan penuh kuasa Roh Kudus dan orang-orang Israel yang mendengarnya bertobat. Hari itu juga jumlah orang percaya bertambah menjadi 3.000 jiwa. Ayat di atas juga memberitahukan bahwa mereka yang bertobat memberi diri dibaptis pada hari itu juga. Jika pembaptisan 3.000 jiwa dilakukan oleh 11 rasul dengan pola selam, akan sangat tidak mungkin selesai dalam satu hari. Lagi pula, catatan Firman Allah dalam Kisah Para Rasul tidak pernah memberikan suatu indikasi bahwa ke 3.000 jiwa tersebut dibaptis di sungai Yordan (satu-staunya sungai yang bisa menyelamkan orang). Kita tidak menemukan ayat yang memberitahukan mereka berbondong-bondong menju sungai Yordan untuk dibaptis. Seperti diketahui jarak Yerusalem ke sungai Yordan lebih kurang 70 KM dan itu bukan jarak yang dekat, belum lagi Yerusalem berada pada ketinggian ribuan kaki diatas sungai Yordan. Pembaptisan 3.000 jiwa dalam sehari merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan jika masih harus pergi ke sungai Yordan untuk diselamkan. Tetapi hal yang masuk akal jika pembaptisan 3.000 jiwa itu dilakukan di tempat dimana mereka berkumpul dan dibaptis dengan pola percik atau penumpahan air ke atas kepala.

Pembaptisan Sida-Sida Dari Etiopia

Bagaimana dengan seorang sida-sida dari tanah Etiopia yang percaya pada Yesus Kristus, apakah juga dibaptis dengan pola baptisan selam? Coba baca Kisah Para Rasul 8:26-40 untuk mengerti kejadian tersebut. Namun secara khusus kita akan mengutip ayat 36 di sini karena ayat ini memberitahukan saat-saat sida-sida itu dibaptis Rasul Filipus.

“Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis”? (Kisah 8:36).

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan Rasul Filipus bersama sida-sida dari Etiopia yang baru percaya pada Yesus melihat ada air dan sida-sida itu meminta Filipus untuk membaptisnya. Sangat jelas sida-sida itu tidak melihat suatu sungai tetapi air yang dirasa cukup untuk membaptiskan dirinya. Lagi pula pada saat itu mereka tidak berada pada daerah berdekatan dengan sungai Yordan karena berada di daerah Gaza, daerah yang jauh dari sungai. Ini memberikan petunjuk bahwa ia dibaptis dengan pola baptisan percik atau penumpahan air.

Pembaptisan Saulus atau Paulus

Masih ingatkah bagiamana Saulus bertobat? Kejadian itu dicatat Kisah Para Rasul 9:1-19. Kita tidak akan menjelaskan kronologis pertobatannya tetapi melihat lebih dekat saat-saat Saulus atau Paulus dibaptis. Untuk lebih jelasnya, kita akan cantumkan ayat itu di sini.

“Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis” (Kisah 9:18).

Saulus saat itu sedang buta dan berada di rumah seorang yang bernama Yudas (Kisah 9:11). Tuhan meminta Ananias untuk mengunjunginya dan berdoa buat Saulus (Kisah 9:17). Apa yang dicatat dalam ayat 18 di atas merupakan kejadian yang terjadi setelah Ananias menumpangkan tangannya atas Saulus. Namun yang perlu diperhatikan adalah kalimat terakhir dari ayat itu, “Ia bangun lalu dibaptis.”

Jika memperhatikan keseluruhan kejadian itu, Saulus saat itu dibaptis di rumah Yudas dan bukan di sungai Yordan seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Ini menunjukkan kembali bahwa pembaptisan Saulus atau Paulus tidak dilakukan dengan pola selam karena rumah di masa itu tidak memiliki bak air yang bisa diperuntukkan untuk menyelamkan tubuh manusia.

Pembaptisan Kepala Penjara Filipi

Bagaimana dengan kepala penjara Filipi yang bertobat? Kisah 16:33 mencatat demikian:

“Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dipatis.”

Jika memperhatikan kejadian ini, sebenarnya hal itu terjadi di malam hari. Perlu dicatat bahwa di masa itu tidak ada lampu jalan menuju sungai terdekat dimana kepala penjara itu bisa diselamkan. Namun pembaptisan dilakukan di rumahnya dengan cara penumbahan air atau percikan. Frase “seketika itu juga” memberikan penekanan bahwa tidak ada penundaan pembaptisan atau menunggu menemukan sungai yang bisa dipakai untuk menyelamkan tubuhnya. Tetapi pembaptisan dilakukan sesegera mungkin di rumahnya sendiri. Bukan hanya kepala penjara itu yang dibaptis tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Pola baptisan yang dilakukan adalah percikan atau penumpahan air.

Perlu diketahui bahwa seusai membaptis kepala penjara dan keluarganya, Paulus kembali masuk penjara dan tidak ada waktu untuk jalan-jalan mencari sungai. Lagi pula Filipi saat itu merupakan daerah yang baru saja mendengarkan Injil Kristus Yesus. Kekristenan belum ada di daerah itu. Injil tiba di sini atas pemberitaan Paulus dan timnya.

Penetapan Baptisan

Apakah kita ragu dengan pola baptisan yang sudah diterima? Buang segala keraguan tentang pola baptisan. Selagi kita sudah sungguh-sungguh percaya pada Tuhan Yesus Kristus, dan baptisan yang dilakukan dengan menggunakan air dan dibaptis atas nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, dan baptisan itu dilakukan dengan percikan atau selam, sah di hadapan Allah. Pola baptisan bisa saja berbeda dan kita tidak bisa mempersalahkan dan menganggap kelompok tertentu tidak memiliki baptisan yang sah hanya karena pola baptisan yang dianutnya berbeda dengan kita.

Namun sebagai suatu gereja tidak bisa menganut dua pola baptisan sekaligus. Biasanya suatu gereja harus memilih satu keyakinan yang dirasa paling benar dan Alkitabiah. Gereja Presbyterian/Reformed mempercayai pola baptisan PERCIK merupakan pola baptisan yang paling tepat dan Alkitabiah namun kelompok ini tidak mempersoalkan pola baptisan selam yang dipraktekkan gereje-gereja lain, asalkan baptisan dilakukan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Demikian jugalah sepatutnya kelompok gereja yang menganut baptisan selam untuk tidak mempersoalkan pola baptisan percik yang dipercayai kelompok gereja tertentu.