Menjauhi Kejahatan

MENJAUHI KEJAHATAN

Oleh Samson H

Kejahatan (evil and wickedness) adalah kebiasaan yang disukai manusia alami. Siapapun orangnya, sadar atau tidak sadar, kejahatan (evil and wickedness) merupakan sifat alami yang dimiliki sejak ia terlahir ke dunia ini. Mungkin tidak semua pembaca setuju dengan pernyataan ini karena merasa ada orang-orang tertentu yang tidak melakukan kejahatan seperti yang dilakukan orang lain. Dengan demikian perbuatan kejahatan dilabelkan hanya kepada orang-orang tertentu yang dengan sangat mencolok melakukan kejahatan.

Apakah sifat jahat hanya dimiliki mereka yang melakukan kejahatan di depan publik? Bagaimana dengan mereka yang melakukan hal yang sama secara tersembunyi dan belum diketahui orang lain, apakah mereka tidak termasuk manusia jahat dan pelaku kejahatan? Bagaimana dengan perbuatan jahat dan dosa yang ditolerir masyarakat pada umumnya, haruskah mereka dilabel sebagai pelaku kejahatan? Lalu bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak pernah kepergok melakukan kejahatan dan dosa tercela sepanjang hidupnya, apakah mereka tidak memiliki sifat jahat sama sekali atau tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali?

Jika mempertimbankan pendapat dan penilaian manusia, maka manusia itu akan dikelompokkan ke dalam berbagai kategori setelah melakukan kejahatan dan dosa tercela. Mereka yang pernah mendekam dalam penjara dikategorikan sebagai pelaku kejahatan dan sering dikucilkan serta susah diterima masyarakat, seakaan-akan para mantan narapidana merupakan kelompok manusia buruk dan jahat serta tidak pantas berbaur dengan masyarakat lainnya. Orang-orang yang belum pernah mendekam di penjara akan merasa sebagai manusia yang lebih baik dan pantas daripada mereka yang sudah pernah masuk penjara. Inilah sifat kelicikan hati manusia. Padahal mereka yang belum pernah masuk penjara belum tentu lebih baik daripada mereka yang sudah pernah mendekam dalam penjara. Hanya saja perbuatan jahat mereka belum terkuak di muka umum.

Contoh sederhana saja yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pencuri ayam yang kepergok melakukan aksinya dihakimi massa dan kemudian dimasukkan ke dalam penjara karena terbukti melakukan perbuatan itu. Ia menjadi narapidana karena perbuatan jahat yang dilakukan. Namun di lingkungan masyaratkan itu sendiri ada begitu banyak orang yang melakukan kejahatan yang sama, mencuri ayam, kambing, tanam-taman, sayur-sayuran, buah-buahan, harta, perhiasan dan banyak lagi, hanya saja perbuatan-perbuatan mereka belum terkuak dan tidak diketahui orang lain.

Apakah mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat seperti itu tidak dikutuki oleh hati mereka sendiri dan menyatakan bahwa mereka adalah orang jahat dan pelaku dosa? Bisakah mereka membohongi hati mereka sendiri? Tentu tidak! Mereka bisa saja berlagak polos, lugu dan kudus di hadapan orang lain dan anggota keluarganya, tetapi apapun kejahatana dan dosa yang mereka lakukan tidak akan pernah terhapus dari hati mereka. Hati nurani mereka menjadi saksi atas segala perbuatan mereka dan hati nurani itu sendiri memberitahukan bahwa mereka adalah pelaku kejahatan dan dosa.

Masih ingat apa yang terjadi kepada Yusuf, anak Yakub yang dijual oleh saudara-saudaranya ketika ia masih berumur 17 tahun (Kejadian 37:2)? Saudara-saudaranya membencin dan menjualnya kepada orang Midian (Kejaidan 37:28) dan kemudian orang Midian itu menjualnya kepada pegawai Istana Firaun yang bernama Potifar (Kejadian 37:36). Ketika Yusuf menjadi Perdana Menteri kerajaan Mesir di umur 30 tahun, tujuh tahun kemudian, saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli makanan karena kelaparan melanda tanah Mesir dan Kanaan. Namun rasa bersalah saudara-saudaranya terhadap Yusuf karena menjualnya kepada orang asing selalu menghinggapi mereka. Meskipun pada akhirnya Yusuf sudah memaafkan dan memberitahukan bahwa semua itu adalah rencana Allah untuk menyelamatkan banyak orang, mereka masih tetap diselimuti ketakutan, jika sewaktu-waktu Yusuf akan balas dendam kepada mereka. Ketakutan dan rasa bersalah atas perbuatan jahat yang sudah mereka lakukan terus menghinggapi mereka bahkan hingga ayah mereka, Yakub meninggal dunia. Begitu Yakub dikebumikan di tanah yang dibeli Abraham di Kanaan, saudara-saudara Yusuf semakin takut karena perbuatan mereka di masa lampau. Karena ketakutan itulah maka mereka mengirimkan utusan kepada Yusuf sepulang penguburan ayah mereka,

15Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.” 15Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” 19Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya (Kejadian 50:15-21).

Tiga puluh delapan tahun sudah berlalu sejak perbuatan jahat yang diperbuat saudara-saudara Yusuf, namun rasa takut dan rasa bersalah tidak pernah hilang dari hati mereka semua. Tak seorangpun dari mereka yang berkata bahwa ia sudah melupakan perbuatan itu dan tidak membayang-bayanginya. Mereka semua sepakat untuk meminta ampun kepada Yusuf meskipun mereka sudah pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa perbuatan jahat yang dilakukan manusia meskipun itu tersembunyi tidak akan pernah membuat hatinya terbebas dari rasa bersalah atau menganggap hal itu tidak mempengaruhinya. Manusia bisa melupakan perbuatan baik yang dilakukan kepada banyak orang tetapi ia tidak bisa melupakan perbuatan jahat yang pernah dilakukan. Perbuatan itu akan selalu mengutuki hatinya dan memberitahukan bahwa ia adalah manusia jahat.

Sebagai manusia yang memiliki sifat alami berbuat jahat (evil and wickedness) dan dosa, ia tidak akan hanya dikutuki oleh hati nuraninya sendiri tetapi juga penghakiman dari Tuhan sedang menunggunya. Jika hatinya sendiri tidak bisa melupakan dosa yang sudah ia perbuat, maka Tuhan yang adalah Mahatahu tidak akan pernah melupakan dan menghapuskan dosa dan kejahatan yang diperbuat manusia. Meskipun manusia memiliki kecenderungan untuk selalu berbuat dosa, semua dosa yang dilakukannya akan selalu diingat Tuhan. Mereka yang suka berpura-pura, yang suka bersikap alim di depan banyak orang, tidak akan bisa berpura-pura di hadapan Tuhan karena di mata Tuhan segala sesuatu terbuka dan tak ada yang tersembunyi. Terkecuali orang berdosa bertobat dan datang kepada Yesus Kristus dan mempercayaiNya, ia tidak akan mendapatkan pengampunan dosa. Rasa bersalah dan kutukan hati nuraninya akan senantiasa menghinggapinya hingga akhir hanyatnya. Dan sesudah itu, ia akan diperhadapkan dengan penghakiman kekal karena setelah kematian tidak ada lagi jalan keselamatan.

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27).

Bagi mereka yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, engkau memiliki Roh Kudus yang diberikan Tuhan di dalam hatimu untuk mematikan kuasa dosa sehingga engkau tidak dibelenggu oleh dosa dan tidak lagi menjadi hamba dosa tetapi menjadi hamba Allah yang melakukan apa yang dikehendakNya. Namun demikian, engkau tidak secara otomatis bisa mengalahkan dosa dari dirimu sendiri sekalipun engkau sudah menjadi seorang percaya. Tuhan memerintahkan setiap pengikutNya untuk selalu tinggal di dalam Kristus dan tinggal di dalam FirmanNya (Yohanes 15:7). Mendekatkan diri kepada Tuhan senantiasa adalah kunci utama untuk bisa mengalahkan dosa (Yakobus 4:8). Merenungkan Firman Tuhan siang dan malam adalah formula sukses bagi seorang percaya (Mazmur 1:1-4).

Petrus memberitahukan kepada umat percaya untuk hidup kudus sebagaimana Kristus juga kudus,

Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Petrus 1:16).

Bagaimanakah umat percaya bisa hidup kudus? Saya tidak akan membahas banyak aspek kekudusan di sini tetapi secara khusus saya ingin mengangkat satu aspek saja yaitu menjauhkan diri dari kejahatan. Paulus menuliskan dalam 1 Tesalonika 5:22 demikian,

Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan (1 Tesalonika 5:22).

Dalam Alkitab bahasa Inggris ditulis demikian,

Abstain from all appearance of evil (1 Thessalonians 5:22 – KJV)

Apa sebenarnya maksud ayat ini? Ayat ini bukan hanya memberitahukan bahwa umat Kristen harus menjauhkan diri dari kejahatan itu sendiri tetapi juga menjuahkan diri dari hal-hal yang kelihatan jahat (evil and wicked). Kata “abstain” di sini adalah “menjauhkan diri dari” atau “menghindari diri dari” semua hal-hal jahat dan yang terlihat jahat. Kata kerja “abstain” atau “menjauhkan diri”, “menghindari diri” dalam bahasa Yunani ditulis dalam bentuk “imperatif” atau “perintah” yaitu “present middle imperatif 2 jamak” yang berarti bahwa perintah ini merupakan suatu perintah yang harus terus menerus dilakukan oleh setiap orang percaya. Ada suatu usaha sengaja untuk menghindari atau menjauhkan diri dari penampilan dan prilaku jahat. Bentuk tensis kata perintah ini juga menjelaskan bahwa kebiasaan menghindari atau menjauhkan diri dari perbuatan dan penampilan jahat tidak akan secara otomatis dimiliki orang percaya. Ia harus bergumul dalam dirinya antara keinginan daging yaitu segala kejahatan yang merupakan tabiat alami yang diwarisinya sebagai manusia dengan keinginan Roh yang dimilikinya setelah percaya kepada Yesus Kristus yang merupakan bukti pembaharuan dan ciptaan baru dalam dirinya.

Perintah untuk manjuahkan diri dari segala kejahatan atau penampilan jahat bukan semata-mata dikarenakan adanya niat jahat dari diri sendiri. Jika ia seorang percaya kepada Kristus, sudah sepatutnya ia memiliki kebencian terhadap dosa dan kejahatan dan berusaha hidup kudus di hadapan Tuhan. Ia memiliki kuasa untuk mengalahkan dosa dan kejahatan dalam dirinya. Tetapi keinginan untuk melakukan perbuatan jahat atau kejahatan bukan hanya datang dari diri sendiri, namun faktor eksternal sungguh sangat luar biasa yang dapat mempengaruhi diri sendiri. Inilah yang menjadi tantangan orang Kristen khususnya di masa modern ini dimana begitu mudah untuk mendapatkan pengaruh buruk dari orang lain dari apa yang dilihat dan dipertontonkan di berbagai media.

1 Tesalonika 5:22, dalam Alkitab bahasa Inggris ada perbedaan ekspresi dengan Alkitab bahasa Indonesia. Alkitab menuliskan “segala jenis kejahatan” sementara dalam bahasa Inggris ditulis “all appearance of evil” yang bisa diterjemahkan sebagai “segala penampilan jahat.” Saya akan mengambil terjemahan dalam bahasa Inggris ini karena dalam bahasa Yunani memang ada kata “appearance” atau “penampilan” yaitu “eidos ei[do”” yang bisa diartikan sebagai “penampilan, fashion, bentuk, pandangan.”

Apa yang disampaikan dalam Alkitab bahasa Inggris di sini melebihi dari apa yang disampaikan Alkitab bahasa Indonesia. Ekspresi Alkitab bahasa Indonesia untuk menjauh diri dari segala jenis kejahatan memberikan kesan bahwa umat Kristen sudah mengetahui segala jenis kejahatan. Firman Tuhan memang memberikan berbagai jenis kejahatan tetapi apa yang ada di dalam daftar belum tentu mencerminkan keseluruhan jenis kejahatan. Justru sebaliknya sering sekali kejahatan itu tidak menampakan diri sebagai kejahatan sehingga umat percaya tertipu dan diperdaya Iblis. Namun apa yang disampaikan Alkitab bahasa Inggris yaitu untuk menjauhkan diri dari segala penampilan jahat (evil) memberikan kesan bahwa Iblis sering mempertunjukkan kejahatan itu bukan seperti kejahatan dan Iblis tidak menyingkapkan jahatnya kejahatan itu.

Perlu diingat bahwa ayat 22 merupakan lanjutan dari apa yang sudah disampaikan di dalam ayat 21 yang berbunyi, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Paulus di sini memberikan suatu perintah untuk menguji segala sesuatu termasuk penampilan atau penampakan jahat (evil). Ketika umat Kristen menguji segala sesuatu dan mengetahui apa yang benar dan baik maka mereka harus menjauhkan segala kejahatan dan segala penampilan jahat (evil).

Umat Kristen harus menguji segala sesuatu termasuk hal-hal yang kelihatan dan kedengaran baik dan benar. Tidak seharusnya mereka langsung memeluk dan mengambil segala sesuatu yang kedengaran baik dan benar karena Iblis juga memakai kebenaran untuk menipu orang-orang percaya. Masih ingat apa yang dilakukan Iblis ketika mencobai Yesus dimana ia mengutip ayat-ayat Firman Tuhan yang adalah kebenaran tetapi ketika Iblis mengutip dan memakai kebenaran itu, ia tidak bermaksud untuk menuntun dalam mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, ia hanya ingin memperdaya dan menipu. Itulah yang dilakukan ketika ia menyampaikan ayat-ayat itu kepada Yesus Kristus. Ayat-ayat yang disampaikan Iblis adalah kebenaran yang diambli dari Kitab Suci tetapi kebenaran itu tidak dipakai untuk memulaikan Tuhan. Iblis tidak selalu menunjukkan kejahatan dan keburukan dari kejahaatan itu tetapi ia akan mengelabui orang-orang lemah dan memperdaya mereka.

Oleh karena itu penampilan jahat (evil) harus selalu diwaspadai setiap orang percaya agar tidak tertipu oleh Iblis. Bukan hanya penampilan jahat yang ada di sekitarnya tetapi juga penampilan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari yang mana bisa saja sudah terpengaruh oleh penampilan orang lain yang sudah dipengaruhi Iblis. Umat Kristen harus menunjukkan perbedaan dalam hal penampilan dengan mencerminkan adanya Tuhan di dalam hati dan mereka ingin sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Mereka tidak bisa mengikuti cara penampilan berpakaian orang-orang duniawi dengan menampakan aurat dan bagian tubuh hanya untuk menarik perhatian orang lain atau sekedar mendapatkan pujian “engkau seksi.” Banyak orang Kristen tidak menyadari apa itu arti “seksi” tetapi mereka ingin seperti itu. Inti dari “Seksi” adalah, ketika orang melihatnya bergairah secara seksual. Itu adalah pekerjaan Setan dan orang Kristen harus mejauhkan diri dari julukan seksi.

Oleh karena itu penampilan berpakaian orang Kristen harus diperhatikan sehingga tidak berpenampilan jahat yang mengakibatkan orang lain bergairah untuk berbuat dosa atau berimajinasi dosa. Janganlah berpakaian seperti seorang pelacur dengan menjajakan bagian tubuh untuk mencari mangsa. Jagalah kekudusan dirimu dan juga hindarilah diri sebagai obyek perbuatan dosa bagi orang lain. Paulus berakata, “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Roma 12:9), dan Amos berkata, “Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik” (Amos 5:15). Dan di tempat lain Paulus juga mengingatkan jemaat Roma, “Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13).

Paulus juga mengingatkan jemaat Korintus untuk tidak menjadi batu sandungan atau pelanggaran bagi siapapun orangnya dan bukan hanya bagi orang percaya saja tetapi juga bagi orang asing. Ia berkata demikian,

32Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 33Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat (1 Korintus 10:32-33).

Kata “syak” dalam ayat 32 sesungguhnya adalah “offence” dalam bahasa Inggris. Maka ayat di atas bisa dilihat dalam Alkitab bahasa Inggris seperti di bawah ini.

32Give none offence, neither to the Jews, nor to the Gentiles, nor to the church of God: 33Even as I please all men in all things, not seeking mine own profit, but the profit of many, that they may be saved (1 Corinthians 10:32-33).

Kata “offence” bisa diartikan sebagai “ pelanggaran”, “kejahatan”, “kesalahan” dan banyak lagi. Intinya adalah sebagai orang percaya jangan menjadi sumber dosa bagi orang lain. Setiap orang Kristen semampunya harus berusaha untuk melakukan segala yang baik bagi orang lain. Paulus berkata, “Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Roma 12:17). Tidak ada pilihan bagi pengikut Kristus selain dari berbuat baik bagi semua orang sekalipun mereka bukan pengikut Kristus. Justru ketika mereka melakukan perbuatan baik mereka bisa melihat kesempatan untuk menyaksikan siapa itu Kristus. Mereka berbeda dari orang lain karena Kristus ada di dalam mereka dan bukan karena hikmat dan pendidikan formal yang dimiliki.

Paulus tidak henti-hentinya untuk menasihat jemaat gembalaannya untuk selalu berbuat baik dan jangan membuat diri mereka sebagai batu sandungan bagi orang lain. Dalam suratnya kepada gereja Korintus ia kembali menuliskan kalimat ini,

Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela (2 Korintus 6:3).

Ia dan tim sepelayanannya dijadikan sebagai contoh bagi jemaat Korintus bahwa mereka tidak memberi kesempatan atau membuat orang lain tersandung agar pemberitaan Injil Kristus Yesus tidak sampai dicela orang lain karena kesaksian mereka yang buruk. Hal yang sama dituntut bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman. Jadi sebagai pengikut Kristus inilah yang perlu dipikirkan, seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat Filipi,

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).

Jikalau hal-hal diatas selalu dipikirkan oleh pengikut Kristus maka ia tidak akan membuat orang lain tersandung atau tergoda melakukan kejahatan oleh karena penampilan jahat yang dipertontonkan. Berpakaian modis dan sopan sudah sepatutnya ciri khas pengikut Kristus.

Nasihat Salomo kepada orang muda adalah berpegang pada didikan dan jangan mengikuti jalan orang fasik. Fasik di sini adalah “ungodly” “tidak rohani”, “tidak saleh”, “berdosa.” Ketika orang Kristen mengikuti ajaran Tuhan maka akan banyak cemooh, hinaan, cercaan dan ketidaksukaan dari orang-orang di sekitar bahkan dari anggota keluarga sendiri. Jangan perdulikan mereka dan berpeganglah pada ajaran Firman Tuhan karena mereka tidak akan pernah membawamu ke sorga atau memberikan keselamatan kepadamu. Firman Tuhanlah yang akan memberikan hidup bagimu dan penuntun dalam setiap langkahmu di bumi ini untuk hidup berkenan kepada Kristus.

13Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu. 14Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. 15Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus (Amsal 4:13-15).

Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma memberitahukan bahwa mereka yang percaya kepada Yesus Kristus harus mematikan perbuatan-perbuatan daging dalam dirinya agar mereka memperoleh hidup. Ia tidak memberitahukan suatu usaha pribadi dalam memperoleh hidup yang kekal tetapi ketika seorang percaya dengan sengaja mematikan perbuatan daging yang ia miliki sebagai orang berdosa, maka ia akan memperoleh keyakinan kokoh bahwa ia adalah seorang percaya (anak Allah) yang sudah memiliki keselamatan di dalam Kristus karena hanya orang yang memiliki Roh Kudus yang memiliki kuasa untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging dalam dirinya.

13Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. 14Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” 16Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:13-16).

Paulus dengan tegas memberitahukan bahwa anak-anak Allah memiliki Roh Allah dan dipimpin oleh Roh Allah. Oleh karena itu mereka harus melakukan segala keinginan Allah dan bukan keinginan daging dengan demikian mereka membuktikan diri sebagai orang-orang yang sudah menerima Roh Kudus yang menjadikan mereka sebagai anak-anak Allah. Roh Allah yang ada di dalam hati mereka akan memberikan kesaksian yaitu keyakinan kokoh dalam hati bahwa mereka anak-anak Allah, yaitu umat pilihan Allah.

Hal yang sama diberitahukan Paulus kepada Jemaat Kolose bahwa mereka harus mematikan segala perbuatan daging yang mereka warisi sebagai orang-orang berdosa. Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, karakteristik manusia baru harus nyata dalam hidup mereka.

5Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Kolose 3:5-11).

Dalam bahasa Inggris ayat-ayat ini ditulis demikian,

5Mortify therefore your members which are upon the earth; fornication, uncleanness, inordinate affection, evil concupiscence, and covetousness, which is idolatry: 6For which things’ sake the wrath of God cometh on the children of disobedience: 7In the which ye also walked some time, when ye lived in them. 8But now ye also put off all these; anger, wrath, malice, blasphemy, filthy communication out of your mouth. 9Lie not one to another, seeing that ye have put off the old man with his deeds; 10And have put on the new man, which is renewed in knowledge after the image of him that created him: 11Where there is neither Greek nor Jew, circumcision nor uncircumcision, Barbarian, Scythian, bond nor free: but Christ is all, and in all (Colossians 3:5-11 – KJV).

Jika memperhatikan uraian dan rincian yang dicatat dalam ayat-ayat di atas, keseluruhannya bisa disimpulkan sebagai perbuatan jahat (evil dan wickedness). Kata “matikanlah” (mortify) dalam ayat 5 ditulis dalam bentuk tensis “Aorist Aktif Imperatif 2 jamak” yang memberi implikasi bahwa perintah ini ditujukan kepada para pembaca kitab Kolose termasuk umat percaya di sepanjang jaman. Tensis kata perintah “matikanlah” di sini berbeda dengan tensi kata perintah “menjauhkan atau menghindari diri” yang dicatat dalam 2 Tesalonika 5:22. Meskipun keduanya ditulis dalam bentuk “imperatif 2 jamak” karena kata “matikanlah” ditulis bukan dalam bentuk tensis “present” tetapi bentuk “aorist.” Ini berarti bahwa semua anak-anak Allah, yaitu mereka yang memiliki Roh Allah sesungguhnya sudah harus mematikan keinginan daging dan duniawi dalam tubuh mereka ketika mereka pertama sekali percaya pada Yesus Kristus. Mereka sudah diberikan kemampuan dan kuasa untuk bisa mematikan segala keingian duniawi tersebut. Namun demikian ada begitu banyak anak-anak Allah tidak menyadari dan melakukan perintah ini. Oleh karena itu Paulus menuliskan dan mengingatkan jemaat Kolose untuk mematikan hal-hal duniawi dari hidup mereka. Mereka sepatutnya sudah meninggalkan semua perbuatan-perbuatan daging yang biasa dilakukan sebelum mengenal Kristus dan tidak lagi mewarisi dan melakukan perbuatan tersebut.

Dalam ayat 7 Paulus mengingatkan jemaat Kolose dengan berkata, “Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.” Ini mengindikasikan bahwa perbuatan daging merupakan warisan dari kehidupan sebelum mengenal Kristus yang adalah tabiat alami setiap manusia. Tetapi dalam ayat 8 Paulus juga berkata, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini” yang menunjuk pada perbuatan daging tersebut. Kata kerja imperatif (perintah) “buanglah” memiliki tensis yang persis sama seperti dimiliki kata imperatif “matikanlah.” Jadi karena ini merupakan perintah yang sepatutnya sudah dilakukan pada saat pertama kali percaya pada Yesus Kristus maka adalah hal kontradiksi atau bertolakbelakang jika dalam perjalanan kehidupan kekristenan, umat Kristen masih memiliki kecenderungan mengikuti keinginan daging dan keduniawian karena semua itu adalah perbuatan jahat.

Bisa saja tidak melakukan kejahatan secara langsung tetapi jikalau berpenampilan jahat atau evil yang berakibat orang lain berbuat dosa dan jahat karena penampilan diri sendiri juga merupakan dosa dan harus dihindari.