Peranan Perempuan Dalam Gereja

PERANAN PEREMPUAN DALAM GEREJA

Oleh Samson H

Apa ajaran Alkitab tentang peranan perempuan dalam pelayanan gereja? Ketika membaca tulisan ini, pembaca sudah barang tentu memiliki pandangan dan pengertian sendiri tentang pelayanan perempuan. Penulis tidak bermaksud mengabaikan pandangan itu, namun yang dipaparkan di sini merupakan suatu ajaran yang sepenuhnya berpatokan pada Alkitab dimana setiap argumentasi didasrkan pada firma Allah. Penulis juga tidak menawarkan pandangan suatu denominasi tetapi semata-mata menganalisa dan menafsirkan ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan peranan perempuan dalam gereja. Mungkin pembaca memiliki pandangan yang berbeda, namun demikian penulis mengajar pembaca untuk menelusiri penjelasan dalam tulisan ini agar bisa melihat dengan jelas apa pandagan yang dimiliki saat ini benar-benar berdasarkan firman Allah karena setiap pandangan yang tidak memiliki dasar firman Allah maka pandangan itu keliru dan tidak sepantasnya dipercayai. Untuk itulah penulis mengangkat topik ini agar pembaca lebih berpihak pada firman Allah yang adalah pedoman satu-satunya dalam hidup dan iman.

Hal ini didasari atas pengamatan di berbagai gereja yang hampir semua denominasi menerima perempuan dan laki-laki memiliki kesetaraan jabatan kepemimpinan. Bagitu banyak denominasi telah menerima perempuan sebagai pendeta atau gembala sidang, dan pengajar yang disetarakan dengan laki-laki. Kebanyakan umat Kristen telah menerimanya sebagai fakta dan menjadi bagian sejarah kekristenan di berbagai Negara. Namun demikian, ini bukan berarti suatu fakta kebenaran. Tindakan manusia tidak selalu membenarkan suatu ajaran. Untuk itulah pembelajaran firman Allah dibutuhkan.

Yang menjadi pertanyaan, adakah pernyataan eksplisit firman Allah yang memberikan peluang perempuan menjabat sebagai pendeta atau gembala dan memiliki kesetaraan jabatan dengan laki-laki? Atau adakah pernyataan eksplisit firman Allah yang membatasi wewenang seorang perempuan dalam kepemimpinan gereja? Apa yang dikatakan Alkitab tentang peranan perempuan dalam gereja? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dituntut pembelajaran firman Allah dengan serius dan teliti.

AJARAN ALKITAB TENTANG PERANAN PEREMPUAN DALAM GEREJA

Secara umum gereja-gereja Liberal menerima keberadaan perempuan sebagai pemimpin dan menempatkan kesejajarannya dengan laki-laki. Tidak bisa disangkal dunia saat ini gencar menuntut kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai akibat konsekwensi implimentasi demokrasi. Namun sehebat apapun demokrasi di suatu Negara, demokrasi tidak bisa mengubah dan menghancurkan kebiasaan dan budaya suatu daerah dalam hal kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Contoh sedehana, setiap suku dan bangsa mengakui suami dalam rumah tangga adalah pemimpin dalam rumah tangga itu. Semoderen apa pun peradapan manusia di suatu Negara, anggapan ini selalu melekat dalam diri setiap anggota keluarga.

Contoh lain adalah stradisi suku Batak dan masih banyak suku-suku lain di Indonesia. Dalam tradisi daerah ini, posisi perempuan tidak pernah bisa menggantikan laki-laki dalam adat istiadatnya meskipun perempuan itu memiliki jabatan hebat di pemerintahan atau memiliki pendidikan setingkat professor. Ia akan selalu menjadi seorang perempuan yang tidak memiliki hak bicara ketika berhadapan dengan laki-laki dalam adat istiada. Ia hanya bisa duduk dan mendengar suatu diskusi yang diselenggarakan. Jika ingin mengungkapkan pendapatnya, ia harus menyampaikan melalui perantaraan laki-laki yang ada. Demokrasi tidak bisa mengubah tradisi ini karena jika perubahan terjadi sistem budaya suku ini akan hancur. Jaid jika demokrasi tidak bisa menghancurkan suatu tradisi budaya yang merupakan buatan manusia, maka akan lebih tidak mungkin lagi mengubah apa yang tertulis dalam firman Allah.

Mungkin ada yang yang menyela dan memeberikan pendapat, bukankah laki-laki dan perempuan sama di hadapan Tuhan? Ya, tentu, tidak ada sanggahan dengan fakta ini karena Allah memang memandang laki-laki dan perempuan sama. Namun sebelum melihat topik ini lebih lanjut, ada baiknya memperhatikan daftar di bawah ini yang menjelaskan beberapa persamaan laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan. Namun juga harus digarisbawahi bahwa ada ayat-ayat Alkitab yang menekankan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda dalam hal kempimpinan karena Allah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin perempuan.

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27).

“Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Matius 19:4).

“Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,” (Markus 10:6).

  • Allah memberkati laki-laki dan perempuan

“Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Kejadian 5:2).

  • Perempuan juga dipanggil sebagai nabi

“Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari” (Keluaran 15:20).

“Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel” (Hakim-hakim 4:4).

“Maka pergilah imam Hilkia, Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tikwa bin Harhas; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka memberitakan semuanya kepadanya” (2 Raja-raja 22:14).

“Maka pergilah Hilkia dengan orang-orang yang disuruh raja kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tokhat bin Hasra, penunggu pakaian-pakaian; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka berbicara kepadanya sebagaimana yang diperintahkan” (2 Tawarikh 24:22).

“Ya Allahku, ingatlah bagaimana Tobia dan Sanbalat masing-masing telah bertindak! Pun tindakan nabiah Noaja dan nabi-nabi yang lain yang mau menakut-nakutkan aku” (Nehemia 6:14).

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14).

  • Perempuan juga bernubuat dan dipenuhi Roh Kudus

“Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat” (Kisah 2:18).

“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:8-11).

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama memberikan persembahan

“Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN” (Keluaran 35:22).

“Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan–mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN” (Keluaran 35:29).

  • Perempuan menyanyi di hadapan Tuhan

“Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing” (1 Samuel 18:6).

“Yeremia membuat suatu syair ratapan mengenai Yosia. Dan sampai sekarang ini semua penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan menyanyikan syair-syair ratapan mengenai Yosia, dan mereka jadikan itu suatu kebiasaan di Israel. Semuanya itu tertulis dalam Syair-syair Ratapan” (2 Tawarikh 35:25).

“Selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus penyanyi laki-laki dan perempuan” (Ezra 2:65).

“Selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan” (Nehemia 7:76).

“Pada hari itu mereka mempersembahkan korban yang besar. Mereka bersukaria karena Allah memberi mereka kesukaan yang besar. Juga segala perempuan dan anak-anak bersukaria, sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh” (Nehemia 12:43).

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa mengerti hukum Taurat

“Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti” (Nehemia 8:2).

  • Perempuan melakukan perbuatan baik

“Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua” (Amsal 31:29).

  • Perempuan bisa memiliki iman yang hebat

“Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Matius 15:28).

  • Perempuan sebagai penyembah yang hebat

“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Matius 26:10).

“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus” (Markus 14:3).

  • Perempuan sebagai pengajar bagi para perempuan dan anak-anak

Maka dengarlah firman TUHAN, hai perempuan-perempuan, biarlah telingamu menerima firman dari mulut-Nya; ajarkanlah ratapan kepada anak-anakmu perempuan, dan oleh setiap perempuan nyanyian ratapan kepada temannya” (Yeremia 9:20).

“Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya” (Titus 2:4).

“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik” (Titus 2:3).

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama dipenuhi Roh Kudus

“Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yoel 2:29).

  • Perempuan sebagai pendukung/pelayan dalam pelayanan Kristus

“Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia” (Matius 27:55).

“Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayani-Nya waktu Ia di Galilea. Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus” (Markus 15:41).

“Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Lukas 8:3).

  • Perempuan, orang pertama yang melihat Kristus bangkit

“Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Matius 28:8).

“Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5).

  • Perempuan dan laki-laki berdoa bersama-sama

“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kisah 1:14).

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama dibaptis dengan air

“Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah 8:12).

  • Laki-laki dan perempuan menjadi pelayan Paulus

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia” (Kisah 17:34).

  • Para perempuan beriman sangat menonjol dalam gereja

“Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka” (Kisah 17:4).

  • Para perempuan bekerja keras untuk Tuhan

“Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan” (Roma 16:12).

  • Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki keselamatan dalam Kristus

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).

Ayat-ayat di atas memberikan penjelasan aspek-aspek kesetaraan laki-laki dan perempuan seperti dalam keselamatan, berkat, kepenuhan Roh Kudus dan pelayanan. Masih banyak lagi yang bisa digali dari Alkitab tentang kesetaraan ini.

Meskipun kelihatannya begitu banyak persamaan yang bisa dipaparkan, satu hal yang pasti bahwa Allah membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kepemimpinan. Allah telah menetapkan laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan sejak masa penciptaan Adam dan Hawa, “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18), dan dalam keluarga Kristen, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh” (Efesus 5:23) dan dalam gereja, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2:12).

Dengan sederhana, dalam dua institusi yang didirikan Tuhan yaitu Rumah Tangga (Keluarga) dan Gereja, Tuhan menetapkan bahwa laki-laki harus menjadi pempimpin dan bukan sebaliknya. Namun demikian, pembatasan ini bukan untuk mengurangi tugas dan pelayanan para perempuan yang percaya pada Yesus Kristus. Mereka bisa tetap melayani Tuhan seperti yang terlihat di bawah ini.

PEREMPUAN DALAM PELAYANAN YESUS

Jika melihat pada pelayanan Yesus, perempuan memiliki peran penting selama pelayananNya. Sahabat dan pengikut setia Yesus banyak yang perempuan seperti dicatat dalam Matius 27:55-56; dan Lukas 23:49, 55. Tidak diragukan bahwa para perempuanlah yang terakhir meninggalkan salib Yesus dan juga yang pertama melihatNya bangkit (Lukas 23:55; 24:1-12). Semasa hidupNya para perempuan selalu mengikuti dalam setiap perjalanan pelayanan dan membantuNya dan murid-muridNya (Lukas 8:1-3). Dia juga menginginkan perempuan untuk mendengarkan pengajaranNya dan mengesampingkan semua kesibukan rutinitasnya demi pendengaran firman (ref. Lukas 10:38-42).

Jika memperhatikan pelayanan perempuan semasa hidup Yesus, bisa dipastikan, tak satu ayat Alkitab atau kejadian yang mengindikasikan perempuan melakukan pelayanan, “mengajar” dan “berkhotbah,” Para perempuan selalu ada di sekitar Yesus dan murid-muridNya tetapi mereka tidak melakukan pelayanan khotbah dan pengajaran.

Di samping fakta di atas, Yesus juga tidak memilih perempuan menjadi bagian dari kedua belas murid-muridNya. Ia tidak mengirim perempuan dalam misi khusus untuk mengajar, berkhotbah atau menyembuhkan. Jika memperhatikan Lukas 10:1-12, di sana Yesus mengutus 70 murid berdua-duaan dalam misi penginjilan. Jumlah ini tentu bukan hanya terdiri dari kedua belas muridNya tetapi juga melibatkan orang lain. Namun perempuan tidak turut serta didalamnya.

Sepanjang pengetahuan dan pengamatan penulis, Yesus juga tidak mengikutikan perempuan dalam perjamuan malam dalam Matius 26:20 (meskipun tidak berarti perempuan tidak bisa ikut dalam Perjamuan Kudus yang diselenggarakan gereja saat ini, karena hal ini bisa dijelaskan dari penjabaran aspek teologia lainnya). Bahkan ketika Yesus memberikan Amanat Agung yang dicatat dalam Matius 28:16-20 tidak dihadiri perempuan tetapi hanya diterima laki-laki atau rasul-rasul Yesus. Coba perhatikan ayat-ayat berikut:

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:16-20).

Kenapa ketika Amanat Agung diberikan hanya dihadiri laki-laki atau murid-muridNya? Alasan kuat bisa ditemukan pada ayat di atas dimana isi Amanat Agung itu menuntut suatu tugas penginjilan atau pengajaran (“jadikan semua bangsa murid-Ku”), pembaptisan (“baptislah mereka”) dan pengajaran/khotbah (“ajarlah mereka”) yang sebenarnya harus dilakukan laki-laki. Singkatnya, para perempuan melayani Yesus dan melayani bersama Yesus tetapi melayani tidak pada kapasitas sebagai pemimpin, pengajar dan pengkhotbah. Yesus sangat menghargai pelayanan dan perhatian mereka dalam pelayananNya dan sepatutnya demikian juga di masa gereja sekarang ini.

PEREMPUAN DALAM PELAYANAN GEREJA

Ajaran Rasul Paulus tentang peranan perempuan dalam pelayanan gereja merupakan kelanjutan ajaran Yesus. Seperti diketahui para penulis Alkitab tidak menuliskan kitabnya sesuka hati mereka tetapi dengan pertolongan dan dorongan Roh Kudus sehingga tulisannya tidak mengandung kesalahan dan kekeliruan meskipun menceritakan kehidupan dan pelayanan mereka sendiri. Kitab mereka merupakan bagian firman Allah yang diilhamkan Allah (2 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:20-21). Tulisan para Nabi dan Rasul adalah firman Allah yang dimiliki gereja sekarang dan merupakan pedoman satu-satunya dalam hidup, iman dan pelayanan.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus memberikan petunjuk pelayanan yang harus diimplimentasikan dalam pelayanan gereja. Peranan perempuan dalam gereja secara khusus tidak luput dari perhatian. Ia memberikan regulasi yang mengatur pelayanan mereka. Meski demikian ia tidak pernah merendahkan pelayanan perempuan. Ia justru sangat menghargai pelayanan mereka dalam gereja dan pelayanannya (Roma 16), namun Ia menempatkannya sesuai dengan ketentuan dan kapasitas mereka sebagaimana diatur dalam firman Allah.

Di bawah ini ada dua bagian Alkitab yang menjadi fokus pembelajaran penting tentang peranan perempuan dalam pelayanan gereja.

PERANAN PEREMPUAN DALAM 1 TIMOTIUS 2:8-15

Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya mengutip ayat-ayat ini demi mempermudah pembelajaran pembaca.

“Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan. Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan” (1 Timotius 2:8-15).

Pada umumnya gereja-gereja dan para teolog beranggapan ayat-ayat ini tidak relevan bagi gereja sekarang ini dan menganggap ayat-ayat ini diberikan khusus bagi jemaat Efesus yang digembalakan Timotius saat itu. Mereka menganggap tradisi Efesus masa itu tidak memperbolehkan perempuan berbicara dalam perkumpulan atau ibadah dimana laki-laki turut hadir. Karena anggapan inilah maka ayat-ayat di atas dianggap tidak relevan bagi gereja. Inilah pemikiran dan tafsiran yang diadopsi banyak gereja yang menerima perempuan ditahbiskan menjadi pendeta dan gembala sidang dalam gereja.

Ada juga gereja yang beralasan menerima perempuan menjadi pemimpin karena semua orang, laki-laki dan perempuan sama di hadapan Tuhan dan ayat yang dipakai untuk mendukung argumentasinya adalah Galataia 3:28,“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Namun pernyataan ini merupakan argumentasi lemah dan tidak didasari fondasi yang kuat.

Seperti dijelaskan sebelumnya ada begitu banyak ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Mereka memiliki hak yang sama dalam hal keselamatan. Apa yang dicatat dalam Galatia 3:28 berbicara tentang keselamatan dimana laki-laki dan perempuan sama di hadapan Allah. Tetapi yang menjadi pertimbangan, adakah ajaran Alkitab yang menganjurkan perempuan menjadi pemimpin dalam gereja? Adakah ajaran Alkitab yang menjelaskan perempuan sebagai pemimpin bagi laki-laki?

Untuk menanggapi kedua pertanyaan di atas, marilah mencermati nats Alkitab dan mencoba mengerti sesuai dengan konteks perikopenya. Jika memperhatikan 1 Timotius 2:8-15, sangat jelas Paulus tidak menyinggung soal tradisi daerah Yunani atau Efesus saat itu. Perhatikan kalimat yang ia sampaikan,

“Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (ayat 12).

Coba perhatikan keseriusan Paulus dalam menyampaikan ajaran ini. Jika ayat-ayat ini dilihat dalam konteks, sebenarnya 1 Timotius 2:1-7 membahas tentang “Doa jemaat” dan tentu berhubungan dengan ibadah. Jadi ketika ingin mengartikan maksud 1 Timotius 2:8-15, tidak bisa terlepas dari apa yang disampaikan pada ayat 1-7. [Perlu diketahui bahwa nomor ayat-ayat Alkitab merupakan tambahan yang disisipkan agar lebih mudah dimengerti pembagian kalimat-kalimat dalam Alkitab. Namun pada mulanya ketika penulis menuliskannya, tidak memakai nomor ayat-ayat tetapi kalimat-kalimat sebagaimana mestinya sebuah surat].

Jadi jika ingin mengerti suatu bagian Firman Allah, jangan mengabaikan konteks (pokok pembahasan) ayat-ayat sebelum dan sesudahnya karena kesemuanya saling berkaitan. Dengan menerapkan pengertian ini, maka bisa dimengerti bahwa 1 Timotius 2:8-15 harus diartikan dalam konteks ibadah sebagai lanjutan 1 Timotius 2:1-7. Dengan demikian, sangat jelas Paulus tidak membicarakan tentang tradisi atau kebiasaan daerah (Efesus) tetapi berhubungan dengan ibadah, doa dan kebaktian berjemaat. Ia dengan tegas mengatakan perempuan tidak memiliki tempat dalam kepemimpinan suatu ibadah.

Alasan kedua yang menjadi pertimbangan bahwa ayat-ayat ini tidak ada kaitannya dengan tradisi setempat karena apa yang Paulus sampaikan dalam ayat 13, “Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.” Ia mengatakan perempuan tidak bisa mengajar dan memimpin laki-laki dalam pertemuan jemaat karena Adam yang terlebih dahulu diciptakan. Urutan dalam penciptaan yang dikutip di sini memberikan suatu penegasan bahwa Adam adalah pemimpin bagi Hawa. Dalam Kejadian 2:18, Allah memberitahukan bahwa Hawa merupakan PENOLONG bagi Adam dan bukan sebaliknya. Allah menetapkan Adam sebagai pemimpin.

Ada baiknya pembaca diingatkan kembali akan kejadian kejatuhan manusia di Taman Eden. Ketika perintah larangan memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat diberikan kepada Adam dan Hawa (Kejadian 2:17) dan kemudian tidak dipatuhi (Kejadian 3:6). Pada saat Hawa tergoda melihat buah pohon itu dan diperdaya oleh Iblis untuk memakannya, Allah tidak langsung menghukum mereka, meskipun Hawa telah melanggar perintah itu. Perasaan malu dan takut terjadi ketika Adam telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah pohon yang diberikan Hawa (Kejadian 3:7). Adam yang sepatutnya memimpin isterinya dan tidak sepatutnya membiarkan isterinya melanggar perintah Allah. Tuhan bertindak ketika Adam telah jatuh ke dalam dosa dan bukan ketika Hawa melanggar perintah itu.

Disamping itu ketika Adam dan Hawa menyadari perbuatannya, mereka bersembunyi dari hadapan Allah. Pada saat itu, Allah memanggil nama Adam (Kejadian 3:9) dan bukan Hawa, karena dialah yang harus bertanggungjawab akan apa yang terjadi (Kejadian 3:10-12). Inilah bukti bahwa Adam adalah pemimpin bagi Hawa.

Tuhan menciptakan Hawa sebagai penolong bagi Adam, “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikakn penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Hawa bukan pemimpin dalam keluarganya dan dia harus tunduk kepada suaminya, Adam karena dialah yang ditetapkan Tuhan menjadi kepala rumah tangga.

Jadi Paulus dengan jelas melarang perempuan memimpin dan mengajar laki-laki bukan karena tradisi. Ia tidak menyingung suatu tradisi tetapi justru memberikan alasan dari kehidupan manusia pertama yang hidup sebelum adanya tradisi. Lagi pula isu yang dikaitkan di sini berkaitan dengan kegagalan Adam dan Hawa di Taman Eden, yang terjadi tidak lama setelah mereka diciptakan. Perhatikan kata “karena” dalam ayat 13. Ini menunjukkan suatu alasan kenapa Paulus melarang perempuan mengajar dan memerintah laki-laki.

Alsan ketiga tentang larangan perempuan menjadi pengajar dan pemimpin dalam gereja karena perempuan memiliki kelemahan.

“Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (ayat 14).

Kejatuhan manusia ke dalam dosa terjadi karena kelemahan Hawa yang gampang tergoda. Paulus melihat hal yang sama bagi semua perempuan, mereka tidak bisa menjadi pemimpin atau pengajar karena mudah tergoda, yang dipandang bisa merusak ketatagerejaan dalam gereja. Ini bukanlah tradisi tetapi perintah.

Mungkin pembaca tidak setuju jika dikatakan perempuan memiliki kelemahan mudah tergoda. Para perempuan akan mencoba membela dan membenarkan diri bahwa mereka juga sama dengan laki-laki, bahkan akan menunjuk jari pada laki-laki sebagai kaum yang paling mudah tergoda berbuat dosa. Tidak bisa disangkal bahwa laki-laki juga mudah tergoda dan jatuh dalam dosa tetapi konteks yang disampaikan Paulus adalah konteks manusia rohani dan bukan manusia pada umumnya. Dalam hal ini tidak bisa disamaratakan dengan semua laki-laki yang tidak percaya Yesus karena mereka tidak pernah memiliki memiliki keinginan hidup memuliakan dan berkenan kepada Tuhan. Yang selalu dipikirkan dan dilakukan hanya memuaskan hasrat dosa dalam hati dan pikirannya.

Namun berbeda dengan mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Yesus karena mereka telah diubahkan menjadi manusia baru (Roma 12:1-2). Mereka memiliki kerinduan untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Jika laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki keinginan hidup berkenan dan memuliakan Tuhan, dan dalam konteks seperti ini, di hadapan Tuhan, perempuan lebih mudah tergoda jatuh ke dalam dosa.

Coba perhatikan hidup keluarga Ayub. Dia orang saleh dan selalu berdoa buat keselamatan anak-anaknya tetapi Tuhan mengizinkan cobaan datang dan merenggut semua anak-anak dan kekayaannya. Ia hanya tinggal bersama isterinya. Awalnya mungkin isterinya sangat tabah dan setia mengikut Tuhan dan memiliki keyakinan yang sama dengan Ayub, tetapi begitu melihat penderitaan penyakit yang dialami Ayub yang tidak kunjung sembuh, ia tergoda mengutuk Tuhan dan meminta suaminya meninggalkan dan mengutuk Tuhan. Perhatikan ayat berikut,

“Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayub 2:9-10).

Dalam keadaan sulit, Ayub masih bisa bersikap sebagai suami dan pemimpin dengan menegur isterinya. Isteri dan ketiga sahabatnya mungkin menganggapnya sebagai orang bodoh yang tidak memiliki akal sehat tetapi Ayub tahu siapa yang ia sembah dan ia tidak bisa menyangkal imannya.

Perempuan dan laki-laki memang sama-sama memiliki sifat berdosa yang mudah tergoda melawan Tuhan dan melakukan dosa tetapi Tuhan memberikan petunjuk dalam Alkitab yang harus diikuti karena Tuhan tahu segala isi hati manusia dan kelemahannya. Dia menetapkan laki-laki sebagai kepala perempuan dan perempuan tidak bisa berkata bahwa Tuhan tidak adil karena ia merasa pantas sebagai pemimpin laki-laki. Jika pergolakan seperto ini terjadi dalam hati pembaca, satu hal yang harus diperhatikan, saudara belum menerima Alkitab sebagai Firman Tuhan yang sempurna dan tidak mengandung kesalahan dan yang menjadi patokan dalam iman dan praktek kehidupan umat Kristen. Janganlah tertipu oleh kepicikan hati manusia (Roma 3:4a) tetapi tunduklah kepada apa yang Tuhan sampaikan dalam firmanNya.

Alasan keempat yang juga penting bahwa Alkitab menjelaskan suami adalah kepala dalam rumah tangga dan isteri. Perhatikan ayat ini,

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. . . .” (Efesus 5:22-23).

Semua lapisan masyarakat dunia mengakui laki-laki segagai kepala rumah tangga dan isteri. Laki-laki atau suami keluarga Kristen memiliki tanggungjawab memimpin anak-anak dan isterinya. Kita harus mengakui fakta ini bukan hanya karena tradisi tetapi karena Alkitab mengajarkannya. Suami harus menjadi pemimpin dalam keluarga bukan hanya sekedar pemimpin yang bertanggungjawab mencukupi kebutuhan anggota keluarga tetapi juga menjadi pemimpin rohani bagi seisi rumahnya. Suami memiliki tanggungjawab untuk mengajar anak-anak dan isterinya mengerti firman Allah dan menjadi keluarga rohani yang mencintai Kristus. Suami bertanggungjawab dalam memastikan keselamatan dan pertumbuhan kerohanian anak-anak dan isterinya. Dialah pemimpin jasmani dan rohani seisi anggota keluarga.

Namun firman Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Paulus juga menjelaskan bahwa kepala dari laki-laki adalah Kristus dan kepala dari Kristus adalah Allah Bapa. Perhatikan ayat ini,

“Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus adalah Allah (1 Korintus 11:3).

Apa yang disampaikan di sini merupakan suatu hirarki kepemimpinan dimana Tuhan menciptakan laki-laki sebagai pemimpin. Kegagalan Adam di taman Eden merupakan kegagalannya sebagai pemimpin karena menuruti perkataan isterinya, Hawa. Apa yang ditawarkan Hawa, diterimanya yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam dosa. Tidak ada ayat dalam Alkitab yang mengajarkan perempuan bisa menjadi pemimpin rohani bagi laki-laki atau suaminya. Oleh karena itu adalah suatu yang bertentangan dengan ajaran Alkitab jika perempuan menjadi pemimpin rohani dalam gereja dan menjadi seorang pendeta atau gembala sidang.

Bagaimana mungkin seorang isteri (sebagai pendeta) harus tunduk kepada suaminya di rumah, namun ketika beribadah di gereja, sang isteri menjadi pemimpin bagi suaminya atau para suami dalam gereja? Ingatlah Efesus 5:23, “kepala gereja adalah Kristus” maka logikanya, yang memimpin gereja itu adalah laki-laki karena gereja terdiri dari keluarga-keluarga dimana suami-suami dan isteri-isteri hadir.

Jika mengakui suami sebagai kepala isteri, namun juga mengakui perempuan bisa menjadi pemimpin gereja (gembala sidang yang memimpin keluarga-keluarga Kristen), bukankah itu berarti telah menempatkan institusi rumah tangga di atas institusi gereja? Tetapi fakta sesungguhnya gereja merupakan institusi tertinggi yang ditetapkan Tuhan dalam kehidupan umat Kristen. Itulah sebabnya gereja merupakan tempat perkumpulan keluarga-keluarga Krisen dalam pembinaan kerohanian dan tempat mereka meminta dan mendapatkan berkat rohani seperti pemberkatan nikah.

Fakta membuktikan baik masa pelayanan Yesus dan Paulus, para perempuan selalu ada bersama mereka dalam membantu pelayanan tetapi mereka melakukan pelayanan sesuai dengan kapasitasnya seperti ditetapkan dalam Alkitab. Mereka tetap bisa melayani meskipun tidak menjadi seorang pengkhotbah, pengajar dan pemimpin. Dalam hal yang sama, perempuan masa kini bisa menempatkan diri dalam pelayanan gereja. Masih banyak jenis pelayanan yang bisa dilakukan para perempuan dalam gereja meskipun tidak menjabat sebagai pengkhotbah, pengajar dan pemimpin. Janganlah sekali-kali berpikir ketidaksetaraan perempuan dengan laki-laki sebagai kendala dalam pertumbuhan gereja atau dianggap merendahkan dan meremehkan perempuan. Jangan pernah berpikir bahwa pelayanan-pelayanan selain berkhotbah dan mengajar memiliki nilai yang lebih rendah. Tiap-tiap umat Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap karunia rohani yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

PERANAN PEREMPUAN DALAM 1 KORINTUS 14:34-35

Satu lagi bagian firman Allah yang membahas tentang peranan perempuan dalam gereja terdapat dalam 1 Korintus 14:34-35

“Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.”

Dalam ayat ini terdapat persamaan ajaran yang disampaikan Paulus kepada Timotius yang sedang melayani di Efesus saat itu. Jarak antara daerah Efesus dengan Korintus sangat jauh dan sudah barang tentu tradisinya juga berbeda. Tetapi karena perintah ini merupakan kebenaran abadi, larangan perempuan mengajar laki-laki berlaku di semua gereja yang tersebar di berbagai daerah dan Negara. Kebenaran firman Allah tidak pernah dibatasi suatu wilayah.

Jika memperhatikan ayat-ayat di atas, perintah yang terkandung di dalamnya sangat mudah dipahami. Tidak ada perkataan yang membingungkan dalam ayat itu. Namun untuk lebih mendapatkan arti sesungguhnya, penulis merasa perlu memperbandingkan 1 Korintus 14:34 dalam Alkitab bahasa Inggris karena penulis merasa Alkitab bahasa Indonesia kurang memberikan penekanan. Di samping itu dalam Alkitab bahasa Inggris, apa yang terdapat dalam ayat 34 (Alkitab bahasa Indonesia) sebenarnya merupakan bagian dari 1 Korintus 14:33b.

Alkitab bahasa Indonesia berbunyi demikian:

“Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.”

Dan Alkitab bahasa Inggris (King James Version) berbunyi demikian:

“As in all churches of the saints. Let your women keep silence in the churches: for it is not permitted unto them to speak; but they are commanded to be under obedience, as also saith the law” (1 Corinthians 14:33b-34).

Yang perlu diperhatikan adalah kalimat pertamanya, “As in all churches of the saints.” Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkannya sebagai berikut, “Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus.” Meskipun terjemahan ini telah memberikan arti yang dibutuhkan tetapi penekanan sangat kurang karena frase “all churches in the saints” tidak diterjemahkan sebagai “semua gereja [gereja-gereja] orang-orang kudus.”

Terjemahan ini lebih memberi penekanan bahwa perintah agar perempuan berdiam diri dalam pertemuan ibadah orang-orang kudus bukanlah merupakan alasan tradisi karena perintah ini juga dimiliki dan dikethui “semua gereja-gereja orang-orang kudus.” Itu berarti Paulus mengindikasikan pernyataannya tentang perempuan berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat sebagai kebenaran abadi yang telah dimiliki dan diimplimentasikan semua gereja orang-orang kudus di masa itu. Ini menunjukkan keseragaman ajaran gereja-gereja orang-orang kudus. Mereka tidak diperbolehkan mengajar dan memimpin dalam gereja.

Hal kedua yang diungkapkan Paulus dalam ayat 34, bahwa para perempuan, “harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan oleh hukum Taurat.” Jika ada argumentasi yang mengatakan bahwa larangan perempuan mengajar, memimpin dan berbicara dalam pertemuan-pertemuan jemaat sebagai alasan tradisi semata, maka kalimat di atas menjelaskan sebaliknya. Paulus berkata bahwa perintah itu telah ada dalam Hukum Taurat. Tidak bisa dipastikan ayat mana yang mencatat larangan ini, namun bagi Paulus perintah yang disampaikannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh hukum Taurat.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah dengan adanya LARANGAN seperti diatas benar-benar mengurangi peranan wanita dalam pelayanan gereja? Apakah gereja tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan perempuan fulltime dalam gereja? Jawabannya, TIDAK, karnea BERKHOTBAH BUKANLAH SATU-SATUNYA JENIS PELAYANAN DALAM GEREJA. Mereka yang mengerti sIstem pelayanan alkitabiah dan mengerti bagaimana seluk beluk pelayanan dan pengembangannya akan mengetahui bahwa perempuan juga dibutuhkan dalam pelayanan.

Ada begitu banyak jenis pelayanan yang bisa dilakukan perempuan dalam gereja. Itulah sebabnya di berbagai gereja perempuan masih tetap bisa menjadi bagian tim pelayan meskipun mereka bukan pendata atau pemimpin dalam gereja. Tetapi jika berpandangan sempit yang hanya melihat berkhotbah adalah satu-satunya pelayanan dalam gereja maka gereja tidak akan pernah berkembang dan mengalami kemajuan. Kemajuan akan ada jika melihat pelayanan dari sundut pandang yang luas dan memberikan perhatian besar.

JENIS  PELAYANAN  BAGI PEREMPUAN DALAM GEREJA

Seperti penjelasan sebelumnya, Alkitab menegaskan bahwa perempuan tidak diizinkan mengajar dan memimpin laki-laki. Namun demikian perempuan memiliki tempat dalam pelayanan gereja. Apa saja jenis pelayanan yang bisa dilakukan perempuan dalam gereja? Kategori berikut merupakan pelayanan bisa dikembangkan lebih detil. (1) Sekolah Mingg anak-anak, (2) Persekutuan Wanita, (3) Persekutuan Remaja, (4) Penginjilan, (5) Kunjungan, (6) Pembinaan kaum remaja, wanita, ibu muda, (7) KTB atau Pendalaman Alkitab jemaat, kampus, lingkungan. Masih banyak jenis pelayanan yang bisa disebut.

Harus diakui bahwa jenis-jenis pelayanan diatas merupakan pelayanan-pelayanan yang berkelanjutan hingga pada kedatangan Yesus kembali. Dibutuhkan kaum perempuan penuh waktu untuk menangani pelayanan-pelayanan tersebut. Banyak gereja yang menunjuk dan menempatkan satu staf penuh waktu sebagai penanggungjawab setiap jenis pelayanan ini karena ada begitu banyak hal yang bisa dikerjakan.

Penulis mencoba memparkan apa saja yang bisa dilakuan untuk masing-masing kategori pelayanan diatas tanpa harus berkhotbah.

  • Sekolah Minggu

Sekolah minggu sering dianggap hanya salah satu kegiatan pelayanan yang melibatkan hamba Tuhan dan jemaat menjadi satu tim. Tetapi jika dilihat dari potensi pelayanan, sekolah minggu sama seperti sebuah gereja yang disebut dengan gereja di dalam gereja. Setiap komisi pelayanan harus diperlakukan seperti sebuah gereja dimana berbagai pelayanan bisa dilakukan di dalamnya, seperti kunjungan penggembalaan anak-anak, penginjilan anak-anak, Camp anak-anak, Sekolah Alkitab Liburan, retreat, paduan suara anak-anak, perpustakaan sekolah minggu anak-anak, dan masih banyak yang bisa dilakukan dalam pelayanan sekolah minggu.

Asumsikan seorang perempuan penuh waktu (lulusan sarjana teologia) menangani komisi sekolah minggu anak-anak, apa yang bisa dilakukan dalam pelayanan ini?

  • Ia akan menanggungjawabi pelayanan sekolah minggu dan mengajar anak-anak. Ia berperan sebagai pengawas dan pengevaluasi pelayanan sekolah minggu setiap minggu.
  • Ia harus memikirkan dan menyusun kurikulum dan bahan mengajar sekolah minggu untuk setiap tingkatan umur bukan sekedar membeli buku pelajaran yang sudah diterbitkan gereja lain yang mana sering tidak mencerminkan keyakinan gereja yang dilayani. Oleh karena itu ia harus membaca, membeli dan mensurvei semua bahan mengajar sekolah minggu yang sekarang ini diterbitkan di Indonesia dan melihat mana yang baik dan borbobot sesuai dengan ajaran gereja sendiri. Jika memungkinkan akan sangat baik menyusun kurikulum sendiri.
  • Ia harus mengevaluasi setiap guru-guru sekolah minggu dan memberikan saran bagaimana meningkatkan mutu pengajaran.
  • Ia harus memikirkan penataran-penataran guru-guru sekolah minggu secara berkala hingga mereka mahir membuat materi bahan pelajaran sekolah minggu. Untuk mencapai kemampuan ini dituntut ketekunan dan komitment dalam pelayanan. Tentu setiap guru-guru sekolah minggu dituntut memiliki pengetahuan teologia yang didapat melalui penataran, khotbah, pembacaan teologia di perpustakaan gereja, diskusi dan rapat-rapat. Hal ini dibutuhkan agar setiap guru sekolah minggu memiliki kemampuan bukan hanya sekedar memakai buku materi yang sudah ada tetapi ia mampu menjabarkan dengan baik yang akhirnya ia mampu menyusun materi pelajaran. Ini semua akan menjadi tanggungjawab hamba Tuhan perempuan penuh waktu.
  • Ia harus memotivasi setiap guru menjadi teladan rohani bagi anak-anak sekolah minggu dan menjadi gembala bagi murid-muridnya.
  • Ia harus menyusun jadwal kunjungan anak-anak sekolah minggu setiap minggu khususnya mereka yang sakit, tidak hadir atau lainnya.
  • Ia harus menyusun jadwal kunjungan bagi anak-anak yang berasal dari gereja lain atau bukan Kristen.
  • Ia harus memikirkan pola penginjilan anak-anak sekolah minggu agar di masa mudanya percaya pada Yesus. Dengan sengaja ia harus membentuk suatu tim penginjilan setiap minggu untuk menginjili anak-anak yang datang setiap minggu dan memastikan semua anak-anak percaya pada Yesus. Biasanya guru-guru sekolah minggu hanya mengajarkan materi tanpa memperdulikan apakah anak-anaknya sudah percaya pada Yesus atau belum. Kebanyakan mereka hanya memikirkan bagaimana menyelesaikan materi pengajaran. Tetapi dari sekian banyak anak-anak yang mengikuti sekolah minggu, banyak dari mereka hanya ikut-ikutan meskipun mereka berasal dari keluarga Kristen. Harus ada suatu usaha terprogram untuk menginjili setiap anak.
  • Ia harus memikirkan dan menyusun program untuk retreat dan camp guru-guru sekolah sekaligus penaratan rutin secara berkala.
  • Ia harus memikirkan dan menyusun program retreat anak-anak sekolah minggu.
  • Ia harus membuat program khusus untuk anak-anak sekolah minggu.
  • Ia harus memimpin rapat-rapat dan persekutuan doa guru-guru sekolah minggu.
  • Ia harus menyusun materi saat teduh anak-anak dan pembacaan Alkitab setiap harinya.

Masih banyak lagi yang bisa dilakukan di sekolah minggu. Untuk mencapai tujuan di atas, besar kemungkinan dibutuhkan lebih dari satu hamba Tuhan perempuan penuh waktu. Kesemuanya tergantung banyaknya anak-anak yang ditangan dan besarnya jumlah jemaat gereja.

  • Persekutuan Wanita

Seorang perempuan penuh waktu dibutuhkan untuk menangani pelayanan komisi wanita, maka yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Ia menjadi penanggunjawab persekutuan komisi wanita dan memikirkan bagaimana mengembangkan pelayanan ini. Ia harus membaca buku-buku rohani yang berkaitan dengan pelayanan kaum wanita agar bisa mendelegasikan tugas pelayanan ini.
  • Ia harus menyelenggarakan pelayanan rutin komisi wanita.
  • Ia harus berkhotbah dan mengajar di komisi wanita serta memikirkan pola pelayanan terbaik untuk komisi wanita.
  • Ia bersama tim kunjungan mengunjungi para anggota komisi wanita dan pendatang baru.
  • Ia bersama tim harus menginjili anggota komisi wanita yang belum percaya pada Yesus
  • Ia bersama tim harus mengunjungi mereka yang sakit, malas, dan sebagainya
  • Ia harus memimpin rapat persekutuan wanita
  • Ia harus menggembalakan setiap anggota komisi wanita dan menunjukkan perhatiannya.
  • Ia harus menyusun program retreat dan seminar sesuai dengan kebutuhan anggota komisi wanita.
  • Ia harus menyusun topik-topik khotbah sesuai dengan kebutuhan komisi wanita.
  • Ia harus mendidik anggota komisi wanita untuk bisa berdoa dan bersaat teduh.
  • Ia harus menyusun kelompok Pendalaman Alkitab wanita menurut kebutuhan dan wilayahnya.
  • Ia harus bertanggungjawab dalam pelayanan paduan suara komisi wanita.

Daftar ini masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan gereja itu sendiri. Masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk persekutuan wanita.

  • Penginjilan

Dalam poin ketiga ini dibutuhkan partisipasi jemaat untuk turut terlibat dalam belajar dan melayani. Seorang perempuan penuh waktu yang menanggungjawabi pelayanan ini dituntut bisa memikirkan dan menjadikan jemaat memiliki jiwa penginjilan. Coba bayangkan kapan terakhir kali gereja saudara pergi memberitakan Injil atau penginjilan khusus di luar lingkungan gereja. Banyak hamba Tuhan dan pendeta gagal dalam hal penginjilan, apalagi para guru injil yang memegang gelar sebagai guru injil (Ev) tetapi tidak pernah melakukan penginjilan.

Dibawah ini beberapa tugas yang bisa dipertimbangkan.

  • Ia harus mengadakan pelatihan-pelatihan rutin untuk mendidik jemaat agar bisa melakukan penginjilan pribadi. Program ini tidak bisa dilakukan satu atau dua kali tetapi harus terus menerus dan berkala. Untuk bisa menginjili ia harus bisa memastikan siapa yang harus dibina yaitu mereka yang sudah sungguh-sungguh percaya Yesus, jika tidak, ia tidak layak menjadi tim penginjilan karena Tuhan tidak akan pernah memakai orang yang belum percaya menjadi pemberita Injil. Ia tidak akan pernah bisa membawa orang lain percaya pada Yesus. Orang buta tidak bisa menuntun orang buta karena mereka akan sama-sama masuk lobang.
  • Ia harus membuat seminar penginjilan.
  • Ia harus menyusun dan menyelenggarakan tim penginjilan setiap minggu.
  • Ia harus pergi penginjilan setiap harinya.
  • Ia bersama tim harus merencanakan dan mengadakan malam penginjilan atau yang sering dikenal dengan KKR. Program ini akan effektif jika penginjilan mingguan dan harian berjalan dengan baik. Tujuan dari malam penginjilan atau KKR dimaksudkan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya pada Yesus dan bukan mempengaruhi jemaat gereja lain pindah ke gereja saudara.
  • Ia bisa melakukan penginjilan rutin untuk orang-orang tertentu.

Pelayanan ini tetap masih bisa dikembangkan dalam berbagai bentuk tergantung lokasi dan kebutuhan lingkungan gereja tersebut.

  • Kunjungan

Pelayanan kunjungan merupakan pelayanan penting dalam gereja. Pelayanan ini bukan hanya sekedar berkunjung dan bertanya kenapa tidak hadir dan sebagainya tetapi ada berita firman Allah yang bisa dibagikan untuk menguatkan dan menegur jemaat yang dikunjungi. Ada suatu kesalahan besar terjadi diberbagai gereja dimana tim kunjungan hanya datang ngobrol dan ujung-ujungnya gosip, tidak ada doa dan pembacaan Firman Tuhan. Pola seperti ini bukan kunjungan tetapi ngobrol dan gosip.

Pelayanan kunjungan juga sering diasumsikan hanay ditujukan kepada mereka yang tidak hadir dalam ibadah, sakit atau malas. Jika pola pemikiran seperti ini masih ada, itu kesalahan besar. Kunjungan bukan hanya bagi mereka yang termasuk dalam kategori sakit dan tidak hadir dalam ibadah tetapi pelayanan kunjungan adalah penggembalaan dan keperdulian gereja terhadap jemaat. Pelayanan kunjungan untuk orang sakit, malas, zompo merupakan keharusan tetapi harus lakukan sebagai penggembalaan bukan ngobrol-ngobrol semata.

Seringkali gereja sibuk dalam pelayanan kungjungan tetapi hanya ditujukan bagi jemaat yang tidak hadir ibadah minggu. Lalu bagaimana dengan mereka yang rajin beribadah, apa mereka harus diabaikan? Apa gereja menunggu hingga mereka tidak hadir lalu kemudian dikunjungi? Ini namanya keterlaluan tetapi itulah fakta yang terjadi.

Jadi jangan sekali-kali beranggapan pelayanan kunjungan dalam arti sempit tetapi kunjungan itu harus diperuntukkan untuk semua jemaat. Paling tidak sekali dalam setahun, jemaat secara bergilir harus dikunjungi hamba Tuhan atau gembala sidang setempat. Kegagalan pelayanan ini biasanya berdampak buruk. Para hamba Tuhan gereja kadang heran kenapa seseorang yang begitu rajin beribadah tiba-tiba hilang dan pergi ke gereja lain. Hal seperti ini sering terjadi karena gereja tidak memperhatikan jemaatnya yang sudah aktif dalam gereja. Begitu pelayan gereja lain memberikan perhatian khusus kepadanya, jemaat dengan mudah meninggalkan gereja asalnya. Sekarang dengan mengetahui latarbelakang ini, yang menjadi pertanyaan, apa yang bisa dilakukan seorang yang bertanggungjawab dalam pelayanan ini.

  • Ia memotivasi jemaat ikut terlibat dalam tim kunjungan secara bergilir.
  • Ia membuat jadwal kunjangan mingguan dan harian
  • Ia membuat program pelatiahan tim kunjungan. Seseorang yang berperan sebagai tim kunjungan harus bisa memberikan nasihat dari firman Allah.
  • Ia mengunjungi mereka yang sakit, lemah, malas dan lainnya
  • Ia mengarahkan jemaat yang dikunjungi bergabung dengan persekutuan yang ada.
  • Ia membentu tim kunjungan khusus bagi pendatang baru dalam gereja. Jika tertarik, pendatang baru bisa diarahkan mengikuti kelas-kelas khusus pembinaan kerohanian dan kelas katekisasi bagi mereka yang sudah percaya serta ingin mengalihkan keanggotaannya.
  • Kunjungan bisa dilakukan setiap hari untuk pembinaan dan pendewasaan rohani jemaat.
  • KTB atau Pendalaman Alkitab

Kelas KTB (Kelompok Tumuh Bersama) atau PA (Pendalaman Alkitab) merupakan jenis pelayanan yang selalu diabaikan di berbagai gereja. Pelayanan ini sangat penting dalam membina pertumbuhan kerohanian jemaat tetapi fakta gereja sering gagal melaksanakannya. Jika ada yang berhasil itupun hanya beberapa kelompok saja. Padahal begitu banyak yang bisa dilakukan dengan pelayanan ini. Kelompok PA bisa dilakukan untuk semua kalangan: wanita menikah, wanita tidak menikah, muda-mudi, pria belum menikah, pria menikah, zompo, supir taksi, hakim, dosen, guru sekolah, mahasiswa, wiraswasta dan sebagainya. Setiap jenis profesi bisa menjadi satu kelompok pendalaman Alkitab yang dipimpin oleh pelayan Tuhan. Jika anggotanya laki-laki maka dimpin oleh laki-laki dan jika anggotanya perempuan bisa dimpin oleh perempuan.

Jika ingin melihat pertumbuhan dan perkembangan kerohanian jemaat, para pelayan tidak bisa hanya duduk-duduk di kantor dan berharap orang-orang di sekitar gereja dantang berbondong-bondong ke gereja. Tuhan Yesus memerintahkan untuk pergi memberitakan injil, dan mengajar orang banyak agar mereka bisa mengenal dan percaya Kristus. Seorang pemimin harus bisa menggerakkan dan memobilisasi jemaat untuk bersama-sama mengerjakan talenta masing-masing dalam pelayanan.

Apa yang diutrakan diatas hanya sekedar contoh dalam pelayanan gereja dimana perempuan memiki peran yang penting di dalamnya. Berkhotbah dan mengajar dari mimbar gereja bukanlah satu-satunya jenis pelayanan di dalam gereja. Yang terpenting bagi seorang pelayan yang dipanggil Allah adalah menggenapi panggilan yang diberikan Tuhan kepadanya.