Teori Evolusi Dan Iman Kristen

BISAKAH PENDUKUNG TEORI EVOLUSI SUNGGUH-SUNGGUH PERCAYA PADA YESUS?

Oleh Samson Hutagalung

Mungkin topik ini tidak banyak dibicarakan di kalangan komunitas Kristen. Namun ini hal penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini akan lebih penting lagi ketika menyadari bahwa setiap anak yang sedang menempuh pendiddikan formal mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, pemikiran teori evolusi telah ditanamkan dan diterima sebagai suatu fakta nyata. Setiap anak dipaksa mengerti dan menghafal hal-hal yang berhubungan dengan teori evolusi serta data-data fosil dan temuan-temuan arkeologi. Dalam hal ini, penulis tidak menentang arkeologis dan segala temuan ilmiah yang ditemukan selagi itu merupakan arkeologi alkitabiah (biblical archeology) dan tidak bertentangan dengan firman Allah atau mendiskreditkan Alkitab.

Namun yang menjadi pertimbangan, pengetahuan tentang teori evolusi yang dipelajari anak-anak di bangku sekolah akan sangat memberi pengaruh besar dalam pertumbuhan iman seorang Kristen. Mereka menghabiskan banyak waktu bahkan bertahun-tahun untuk mempelajari dan menghafal teori ini dan jika tidak diimbangi dengan pengetahuan firman Allah yang cukup, maka mereka akan lebih mempercayai apa yang dipaparkan para guru dan dosen di sekolah ketimbang apa yang dikhotbahkan dan diajarkan di gereja, terutama ketika topik seperti ini hanya  dipaparkan mimbar sekali atau dua kali dalam hidupnya. Fakta inilah yang menjadi titik awal kenapa begitu banyak ilmuan akhirnya menolak mempercayai Tuhan Yesus, bahkan tidak jarang seorang yang memiliki latarbelakang Kristen tidak luput dari ancaman ini.

Mengingat ancaman yang sedemikian besar di kalangan komunitas Kristen, sudah seharusnya gereja memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak keluarga Kristen agar nantinya tidak terpengaruh oleh teori yang sudah diterima semasa di bangku sekolah.

Yang menjadi pertanyaan besar di sini, bisakah seorang yang menerima teori evolusi sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus? Kelihatannya pertanyaan ini sederhana dan mungkin sebagian pembaca sudah memiliki jawabannya, tetapi yang pasti setiap jawaban harus memiliki dasar firman Allah, jika tidak demikian jawaban itu hanya menurut ide dan pemikiran manusia semata dan keseluruhannya bertentagan dengan apa yang diajarkan Kristus. Jadi ketika pembaca membaca pertanyaan ini, pasti ada yang menjawab, “Ya” dan sebagain berpendapat, “Tidak” atau sebagian lagi pembaca berpendapat “saya tidak tahu.” Untuk itu, mari pertimbangkan fakta-fakta di bawah ini.

TEORI EVOLUSI DAN PENGARUHNYA

Artikel ini tidak akan membahas panjang lebar seluk-beluk dan proses teori evolusi. Yang menjadi perhatian khusus adalah kesimpulan teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia memiliki asal mula dari kera atau siamang. Kesimpulan ini mengasumsikan bahwa manusia merupakan hasil terbaik teori evolusi. Dengan segala usaha atas nama “sains,” manusia dengan intelektual “hebat” merasa bangga bahwa para saintis telah menemukan sesuatu yang luar biasa dalam ilmu sains.

Alwal keyakinan ini timbul di Amerika, para saintis yang mempercayai teori evolusihanya memohon agar kurikulum pendidikan di sana memberikan sedikit ruang sebagai pilihan bagi para pelajar, bahwa ada yang namanya evolusi, dimana saat itu sekolah-sekolah hanya mengajar bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan. Pihak pendukung evolusi berusaha agar temuan mereka dimasukkan sebagai bagian mata pelajaran yang pada akhirnya berhasil menjadikan evolusi masuk sebagai satu topik pembahasan dalam mata pelajaran sains dan bukan menjadi satu mata pelajaran.

Namun dengan berkembangkanya sekularisme dan semakin banyaknya umat Kristen murtad dan meninggalkan gereja, pendukung teori evolusi semakin berkembang. Para saintis yang tadinya hanya menginginkan pelajaran teori evolusi sebagai satu opsi topik pembahasan di kurikulum sekolah, telah melakukan tekanan untuk menjadikan teori evolusi menjadi satu mata pelajaran di setiap sekolah. Itu semua terjadi setelah penganut dan pendukung teori evolusi semakin mendominasi di negara itu. Bukan hanya tujuannya menjadikan teori evolusi sebagai mata pelajaran berhasil, tetapi juga berhasil membuang dan menggantikan pendekatan semua sekolah di Amerika yang tadainya menyakini penciptaan menjadi evolusi. Keberjayaan saintis memasukkan evolusi menjadi mata pelajaran di sekolah, lambat laun berhasil membuang total pendekatan penciptaan dari sekolah-sekolah di Amerika. Hingga saat ini semua sekolah pemerintah di Amerika tidak lagi mengajarkan Tuhan sebagai Pencipta manusia, dan pemikiran itu telah disapu bersih para saintis dan digantikan dengan evolusi. Sangat mengerikan bukan!

Dengan semakin berjayanya pendukung teori evolusi di seluruh dunia, mereka berbangga telah menemukan asal mula manusia. Mereka menyangkal manusia sebagai ciptaan Tuhan, ciptaan Allah yang paling mulia. Lalu mereka menyimpulkan bahwa manusia sebagai hasil evolusi terbaik, setelah mengalami proses berjuta-juta tahun. Dengan bangganya para saintis berkata “KITA MEMILIKI NENEK MOYANG DARI KERA ATAU SIAMANG.”

Dampak teori evolusi bukan hanya terjadi di Amarika tetapi juga di seluruh dunia. Tidak ada satu Negara pun di dunia ini yang tidak menerima teori evolusi. Dengan demikian generasi manusia zaman sekarang telah dipengaruhi pemikiran-pemikiran evolusi dalam segala hal yang mereka perbuat dalam hidup dan kreativitas mereka, apakah itu tekhnologi dan games, keseluruhannya ditumpangi teori evolusi.

Beberapa tahun lalu radio BBC mewawancarai saintis tentang teori evolusi dan dia berkata bahwa orang-orang yang masih ada tumbuh bulu-bulu di dadanya adalah orang-orang yang masih dalam proses evolusi menuju kesempurnaan (karena sama seperti kera yang memiliki bulu di dadanya) dan nantinya semua bulu itu akan hilang dan bersih. Sangat lucu bukan!

Segala usaha saintis lakukan dan berjuang untuk mengingkari dan menolak bahwa manusia ciptaan Tuhan. Mereka beranggapan telah menemukan sesuatu yang luar biasa tentang asal-usul manusia.

Benarkah para saintis telah menemukan hal yang luar biasa dan membanggakan? Tentu tidak. Tetapi justru sebaliknya, mereka telah merendahkan diri mereka sendiri dan semua manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah, bukan dalam bentuk fisik karena Allah itu Roh, tetapi dalam hal moral, akal, karakater, kekudusan dan intelektual, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Manusia merupakan ciptaan Allah termulia dan dijadikan sebagai pribadi yang lebih rendah dari malaikat.

6bApakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehinga Engkau mengindahkannya? 7Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Ibrani 2:6b-7).

Ayat di atas sungguh menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat. Fakta ini juga menunjukkan bahwa manusia jauh lebih tinggi dari binatang-binang yang diciptakan Tuhan. Dan itulah sebab Yesus sendiri menjelma menjadi manusia demi menyelamatkan manusia dari hukuman kekal. Tetapi para saintis telah merendahkan diri mereka dan semua manusia dengan berkata bahwa manusia berasal dari kera atau siamang. Mereka telah merendahkan dan menyamakan diri mereka dengan binatang. Maka tidak mengherankan banyak para pendukung evolusi memiliki prilaku dan moral sama seperti prilaku binatang, karena mereka tidak mempercayai adanya Tuhan yang membenci dosa dan menghukum pelaku dosa.

Dengan fakta ini, maka sangat tidak mengherankan lagi jika di berbagai Negara manusia lebih perduli dan melindungi binatang dari pada manusia. Mereka menilai binatang lebih berharga dari manusia. Jika memang manusia sangat berharga, mereka tidak akan melakukan pembunuhan para bayi dengan melegalkan aborsi. Bukankah itu pembunuhan manusia? Mereka melegalkan pembunuhan bayi dan merasa tak merasa bersalah. Namun ketika ada orang yang membunuh dan menyakiti binatang, mereka menuntut orang itu dihukum dan dipenjara. Dunia ini memang edan! Manusia sudah kehilangan hati nurani.

Jika sering mendengar berita di televisi dan radio, tidak jarang terdengar, pembawa acara mengatakan bahwa kera adalah nenek moyang manusia. Pernyataan seperti ini sudah biasa dan tidak menjadi suatu masalah atau hal tabu lagi, dan sudah diterima secara umum sebagai fakta. Tetapi di sisi lain, ketika seseorang berbicara bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan, banyak orang menertawakan dan mengejeknya. Kepercayaan eksistensi Tuhan dianggap membatasi prilaku dan moral mereka. Dengan kata lain, jika mempercayai eksistensi Tuhan, mereka tidak bisa melakukan secara bebas apa yang mereka anggap baik dan menyenangkan, karena semua perbuatan dan keinganan daging mereka dikutuk Tuhan seperti dipaparkan dalam Firman Allah. Jadi manusia ingin bebas melakukan apa yang ia mau tanpa ada rasa bersalah atau berdosa.

Bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa beragama dan mengakui manusia sebagai ciptaan Tuhan, tetapi justru menjungjung tinggi teori evolusi demi wibawa kesarjanaan dan sains. Para pelajar di bangku sekolah dipekenalkan bahwa manusia sebagai produk evolusi, dan di ruang kelas agama, manusia diajarkan sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai akibatnya para pelajar dibentuk sebagai kaum muda kompromi yang tidak berpendirian, karena sesuatu yang sudah jelas diketahui salah, masih juga diterima dan tidak bisa dikatakan salah.

Namun demikian, gereja juga tetap tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa tentang hal ini. Para pelayan di gereja tidak merasa perlu memberikan perhatian khusus, dan tidak merasa takut jemaatnya mengikuti keyakinan teori evolusi dan meninggalkan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jika hal ini terus berlangsung, tidak perlu heran jika 20-30 tahun dari sekarang gereja-gereja di Indonesia akan sama dengan gereja-gereja di Eropa, Amerika dan Australia, dimana kaum muda meninggal gereja dan menolak mempercayai Kristus, dan memilih untuk sama dengan dunia ini dan segala keinginannya. Gereja-gereja akan tutup dan berubah menjadi tempat makan cepat saji seperti McDonald dan KFC karena tidak ada lagi orang ingin beribadah di gereja. Waktunya akan tiba dimana orang tidak memperdulikan lagi apa ajaran Tuhan.

“Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (1 Timotius 4:1).

1Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, 3tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, 4suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2 Timotius 3:1-4).

Selagi masih memiliki kesempatan, adalah tanggungjawab generasi saat ini untuk tetap “berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan keapda orang-orang Kudus” (Yudas 3).

Lihatlah disekitarmu! Gereja-gereja yang memiliki institusi sekolah, dipercaya mendidik para kaum muda, namun mereka juga turut terbawa arus meempelajari dan mengagungkan evolusi. Namanya Yayasan dan Sekolah Kristen, tetapi mereka tidak menjunjung tinggi apa yang diajarkan dan dikumandangkan Alkitab. Mereka mengesampingkan semua itu demi akreditasi dan reputasi sekolah. Tidak jarang Sekolah Kristen hebat di negeri ini menelan bulat-bulat dan mengadopsi pendekatan teori evolusi. Para siswa mungkin mendapatkan pengetahuan hebat yang nantinya bisa melanjutkan pendidikan di universitas-universitas ternama yang membuat sekolah asalnya populer dan harum, tetapi tanpa di sadari, iman para lulusannya hilang dan mengingkari Tuhan dan Alkitab.  Apa para guru perduli tentang hal ini? Hampir bisa dipastikan tidak ada yang perduli tentang hal ini. Penulis belum pernah mendengar ada guru yang mengeluh tentang iman anak didikya yang semakin melemah, bahwa para pendeta dan hamba Tuhan yang langsung menangani Yayasan gereja tidak melihat hal ini sebagai isu penting yang perlu mendapatkan perhatian. Mereka justru lebih memikirkan bagaimana menjadikan sekolahnya semakin populer dan memiliki jumlah murid yang semakin banyak, dan kemudian bisa menaikkan uang sekolah. Gereja yang memiliki Yayasan pendidikan pada umumnya sibuk memikirkan ketiga hal ini, dan bukan iman anak didiknya.

Pernahkah sekolah-sekolah Kristen membuat survei tentang iman para alumni? Berapa banyak alumninya yang sudah meninggalkan iman kekristenan dan murtad? Mungkin para pendeta dan hamba Tuhan yang menangani Yayasan pendidikan akan berkata, “itu bukan tanggungjawab saya” dan memberikan beragai alasan. Namun jika mau jujur, coba dilihat kembali apa sebenar visi dan misi sekolah itu ketika pertama sekali didirikan. Pada umumnya Yayasan pendidikan Kristen akan menuliskan bahwa mereka ingin menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa yang hilang dan membentuk anak didiknya memiliki karakter yang sama seperti Kristus sebagaimana dicatat dalam Alkitab. Namun kenyataannya, semua itu hanya formalitas dan tertera dalam tulisan saja. Bahkan gereja sebagai pemilik Yayasan pendidikan itu sendiri tidak bisa memastikan setiap pengajar di yayasannya sungguh-sungguh seorang yang telah lahir baru (percaya pada Yesus Kristus).

Sekarang ini, Sekolah pendidikan Kristen lebih memikirkan prestasi dan reputasimua tetapi mengabaikan ajaran Tuhan. Banyak Yayasan pendidikan Kristen telah mengabaikan tujuan awal berdirinya sekolah itu dan beralih pada fokus finansial. Bagi mereka yang penting uang dan uang. Apa pun akan dilakukan demi uang. Uang sudah menjadi tujuan utama dari suatu Yayasan dan Sekolah Kristen.

Banyak Yayasan pendidikn Kristen telah menjadi bagian yang mempopulerkan teori evolusi dan menyangkal manusia sebagai ciptaan Tuhan. Para pengajar bisa saja berdalih “saya tetap mempercayai manusia sebagai ciptaan Tuhan dan bukan hasil teori evolusi.” Tetapi dengan banyaknya waktu yang dihabiskan di sekolah bersama para pelajar membahas teori evolusi, sudah pasti mempengaruhi dan mengubah persepsi setiap pelajar tentang Allah Pencipta.

Pernahkah guru yang sama memberikan pemaparan tentang manusia sebagai ciptaaan Tuhan? Sudah tentu tidak. Lalu para pembaca mungkin menggrutu dan berkata bahwa yayasan dan sekolah Kristen tidak memiliki pelihan membuang teori evolusi dan berfokus pada penciptaan. Memang benar, mereka tidak memiliki pilihan karena akreditasi yang adopsi, tetapi tulisan ini paling tidak mengingatkan pembaca akan bahaya teori evolusi, dan gereja harus berperan penting untuk mengimbangi ajaran teori evolusi agar jiwa-jiwa para pelajar tidak hilang direnggut Setan. Semua Yayasan dan Sekolah Kristen merasa bersalah dalam hal ini, karena mereka melenceng dari tujuan awal berdirinya institusinya, terkecuali mereka memiliki Kurikulum sendiri seperti banyak Yayasan Kristen di Amerika. Namun hal ini sangat tidak mungkin terjadi di negera ini. Tetapi Tuhan bisa memberikan hikmat kepada umat percaya bagaimana mengimbangi hal ini agar generasi muda yang menjadi bagian dari gereja mendapatkan pengajaran yang cukup yang akan menuntun mereka kuat di dalam iman. Gereja perlu mendidik keluarga-keluarga Kristen agar setiap keluarga waspada akan bahaya teori evolusi dan mengajarkan kebenaran firman Allah melalui kebaktian-kebaktian keluarga dalam keluarga masing-masing.

PERCAYA PADA YESUS DAN EVOLUSI?

Percaya pada Yesus adalah mengakui  dalam hati dan mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan JuruselamatNya yang telah datang ke dunia untuk menggenapi segala tuntutan hukum Taurat demi penebusan manusia berdosa dengan mati di kayu salib (Roma 5:6, 8), dan dikuburkan (Matius 27:57-60), dan pada hari ketiga bangkit dari kematian (Markus 16:6-7), mengalahkan kuasa maut dan kubur, Ia hidup kembali bertemu dengan murid-muridNya dan orang percaya, serta naik ke sorga (Markus 16:19) untuk menyediakan tempat bagi mereka yang percaya kepadaNya, dan akan datang kembali untuk membawa umatNya ke tempat yang telah Ia sediakan (Yohanes 14:1-3). Oleh karena itu, Tuhan Yesus menuntut pengikutnya untuk melakukan, menaati dan mempercayai ajaranNya sebagai kebenaran mutlak firman Allah. Alkitab diberikan agar umatNya tahu apa yang harus dipercayai dan diikuti serta apa yang harus ditolak dan dihindari hidup ini sehingga boleh berkenan kepada Tuhan. Alkitab menjadi satu-satunya patokan bagi umat percaya dalam hidup, iman dan praktek kehidupan sehari-hari.

16Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17).

Hal penting di sini adalah bahwa orang percaya harus mentaati Tuhan Yesus dan firmanNya. Alkitab harus menjadi penentu dan penuntun hidup umat percaya, dan bukan salah satu pilihan di antara berbagai pilihan yang ditawarkan di dunia ini. Alkitab harus menjadi kesukaan seorang percaya dan menaatinya.

7Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 8Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”(Yohanes 15:7-8).

1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar” (Mazmur 1:1-5).

Intinya Alkitab adalah kebenaran mutlak yang dimiliki umat percaya. Alkitab menyediakan apapun yang dibutuhkan seorang percaya agar bisa bertumbuh secara rohani dan dewasa dalam iman. Alkitab memberitahukan Allah mengasihi dunia ini (Yohanes 3:16) dan Yesus Kristus adalah jalan masuk sorga (Yohanes 14:6) dan satu-satunya jalan keselamatan (Kisah 4:12). Alkitab juga memberitahukan manusia itu pembohong tetapi Tuhan selalu benar (Roma 3:4), dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Alkitab mencatat segala sesuatu tentang kehidupan, penyaliban, kematian, penguburan, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga (Efesus 4:8) serta janji kedatanganNya kembali ke bumi ini untuk membawa umatNya ke tempat dimana Ia berada (Yohanes 14:1-3).

Tiada kebohongan dalam Firman Allah karena Tuhan adalah Mahatahu, dan apa yang diberikan dalam Alkitab adalah informasi lengkap dan cukup untuk menuntun orang percaya hidup kudus dan berkenan kepada Kristus, serta membawanya masuk ke sorga. Dengan kata lain, apapun yang dicatat dalam Alkitab adalah kebenaran mutlak. Itulah sebabnya Yesus berkata,

17Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:17-18).

Di tempat lain Ia juga memberitahukan Alkitab adalah Firman Allah yang akan digenapi Allah sendiri pada waktu yang telah ditetapkanNya,

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24:35)

Jika Yesus begitu yakin akan kebenaran Alkitab sebagai Firman Allah, maka setiap umat Kristen yang mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus mempercayai Alkitab dan memiliki keyakinan seperti yang dimiliki Kristus. Tidak boleh ada keraguan terhadap perkataan Firman Allah karena Alktiab yang dimiliki umat percaya datang dari Tuhan yang tidak pernah berbohong dan tidak pernah melakukan kesalahan. Ia memberikan yang terbaik bagi umatNya agar mereka memiliki hidup kekal,

7Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 8Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”(Yohanes 15:7-8).

Sebagai bukti seseorang sungguh mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia harus memelihara dan menaati Firman Allah. Setiap orang yang ada di gereja bisa mengetahui apakah ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus dengan menguji kecintaan dan ketaatannya pada apa yang diajarkan dan diperintahkan Yesus. Ia tidak bisa menyangkal hati nuraninya. Ia bisa saja berbohong kepada orang lain dengan berpura-pura sebagai orang saleh tetapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam tahu apa ia seorang percaya atau tidak. Dalam hal ini Roh Kudus akan menolong seorang percaya untuk dengan yakin berkata bahwa ia sungguh mempercayai Yesus Kristus, dan Roh Kudus yang sama menanamkan kecintaaan untuk menaati dan mempercayai Firman Allah. Maka Yesus berkata,

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15)

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).

Apa hubungannya dengan teori evolusi? Jelas ada hubungannya. Ketika seseorang mempercayai teori evolusi, itu berarti ia menyangkal apa yang dicatat dalam Alkitab tentang asal mula manusia. Ia menyangkal bahwa TUHANlah yang menciptakan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Mereka bukan berasal dari hasil teori evolusi, tetapi karya agung Allah. Fakta ini sangat jelas dicatat dalam Alkitab. Yesus sendiri memberitahukan dan mengajarkannya.

Jadi, seperti judul artikel ini, bisakah seorang yang mempercayai teori evolusi juga menjadi seorang percaya di dalam Kristus? Dengan mengikuti penjelasan dan argumentasi di atas, pembaca tentu sudah mengetahui jawabanya. Namun untuk penegasan, penulis ingin menggarisbawahi bahwa SEORANG PENGANUT (PENDUKUNG) TEORI EVOLUSI TIDAK MUNGKIN MENJADI SEORANG PERCAYA DI DALAM KRISTUS. Apa yang melatarbelakangi kesimpulan ini? Penjelasannya sangat sederhana.

Pertama, karena ia tidak mempercayai apa yang Yesus Kristus percayai dan ajarkan. Yesus mempercayai Alkitab sebagai kebenaran mutlak, dan mempercayai apa yang diajarkan di dalamnya, tetapi penganut teori evolusi menolaknya.

Kedua, meskipun ia berkata bahwa ia sungguh mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, fakta membuktikan bahwa ia mempercayai teori evolusi, dan menolak Tuhan sebagai Pencipta manusia. Ia lebih memilih mempercayai “teori” para saintis yang tidak bisa dibuktikan dan mempercayai alasan-alasan para saintis daripada apa yang disampaikan Tuhan dalam Alkitab. Keyakinan seseorang seperti ini sangat diragukan. Bagaimana mungkin ia mempercayai ayat-ayat Alkitab yang mencatat Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tetapi menolak ayat-ayat Alkitab yang mencatat Allah sebagai pencipta manusia? Ia telah meragukan ayat-ayat yang mencatat tentang pencipataan manusia dan menolaknya sebagia firman Allah. Jika ia bersikap sedemikian, dari mana ia tahu bahwa ayat-ayat Alkitab yang mencatat Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sebagai kebenaran mutlak? Jika meragukan satu bagian firman Allah maka kecenderungannya juga meragukan bagian-bagian firman Allah yang lain. Jika hal itu terjadi, maka ia sesungguhnya meragukan keseluruhan firman Allah dan ia bukanlah seorang percaya.

Perlu diketahui bahwa ajaran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan ajaran penciptaan manusia, keduanya didasarkan dan berasal dari Firman Allah, yaitu Alkitab, sebagai kebenaran mutlak yang diberikan bagi umat percaya.